
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
Waktu telah menunjukkan Xiawu, sudah 2 jam lamanya mereka menetap dan sudah cukup mengenal keadaan kubu Xin Qian. Populasi manusia yang jauh dari kerumunan atau sosialita di luar dari Desa He Ping, yang artinya desa perdamaian yang berada di bawah air terjun Ping Jing, kedamaian hati. dipercaya oleh penduduk sekitar jika Air terjun Ping Jing dapat menyembuhkan penyakit Yali Da, dengan hanya berendam di bawah kedinginan air yang membasahi tubuh dan pikiran maka uneg-uneg juga akan terhapus mengikuti aliran air terjun.
Xiawu\= pukul 1 Pm sampai 4 Pm
Yali Da\= stress berat/ tekanan pikiran
“Da Jie, perlu saya bantu?” ujar Jie Ru menawarkan bantuan.
Senyuman wanita yang menghangatkan hatinya terasa akrab bagi Jie Ru, seperti ia sedang bercermin dalam kaca yang sama.
“Silahkan,” balas wanita yang meneruskan cangkulan tanah nya pada Jie Ru.
“Jie Ru, tolong kamu cangkul tanah ini.”
“Da Jie, galian tanah ini buat apa?” tanya Jie Ru.
“ini, buat tanam ini,” tunjuk wanita tersebut yang sedang memilih bibit Tudou.
Tudou\= kentang/ nama latin Solanum Tuberosum
“Setelah Tudou ini tumbuh, Xin Qian akan menjualnya ke pusat kota,” ujar wanita tersebut.
Goyangan kepala Jie Ru menandakan jika ia sudah mengerti “Da Jie kenapa kita tidak menanam Zhang Dou, Saya dan Wei Di sangat menyukai Zhang Dou.”
Zhang Dou\= kacang panjang/ nama latin Vigna Sinensis
“Ohh Yahh, Tapi kami dan para warga desa hanya mencoba menanam Tudou, tidak pernah mencoba sayur lain selain Tudou,” papar Da Jie berucap dengan ragu.
Tak jauh dari belakang sana, seseorang sedang mengintai percakapan antara kedua manusia yang berada di bawah perlindungan cahaya matahari, Dia terlihat lebih baik jika bertemu dengannya, Apakah mungkin jika wanita itu adalah masalah yang selalu membebani nya?.
“Hmm, apakah masih ada pupuk sisa Tudou? Aku yang akan menjadi orang pertama yang menumbuhkan Zhang Dou di tanah He Ping.
__ADS_1
“Ada, Kamu ingin mencobanya? Di pojok itu saya meletakkan sisa pupuk itu, Ambilah jika kamu mau,” tutur Da Jie dengan senyuman.
Akan lebih baik saya mencari bantuan dari kedua manusia gila itu, jika saya sendiri yang menanamnya, Bisa-bisa saya kehabisan nafas duluan Hahaha. Kemana dua bocah dungu itu ya, Batin Jie Ru.
“ Jie Ru, pupuk nya ada di sana , kamu sudah kelewatan,” unjuk arah wanita dibawah sinar matahari yang tidak terlalu terik.
“Ya Da Jie saya sudah tahu dimana letak pupuknya, tapi akan lebih baik saya mencari kedua saudaraku untuk membantuku, daripada mereka tidak punya kerjaan hanya berdiam diri didalam kamar, itu tidak baik untuk kesehatan,” papar Jie Ru dengan senyum licik.
Ohhh Tidak, Saya sudah tahu siasat liciknya, Saya harus beranjak ke kamar membangunkan Wei Heng yang sedang bertapa, Perlarian dari seorang kakak senior yang mulai mengenal sifat Jie Ru.
“Wei, Bangun, Jie Ru sudah mengarah kemari,” panggil Li Wei menggoyangkan tubuh Wei Heng yang sedang melakukan pertapaan.
“Apa yang terjadi Li Xiong? Apa yang perlu ditakutkan dengan kedatangan A Ru,” tanya Wei Heng dengan santai.
“ckckck, Apa Kamu tidak tahu? Dia datang kemari bermaksud menyuruh kita membantunya menanam Zhang Dou.
“Apa! Cepat! Cepat! Sembunyi, sebelum dia menemukan kita,” ujar Wei Heng yang lebih panik dari Li Wei.
Setelah sekian lama, manusia yang sedang dilanda kepanikan itu menemukan tempat persembunyian yang tepat untuk menutupi tubuh besar dan jangkung dari keduanya.
“Wei, sana di kolong ranjang itu,” tunjuk Li Wei yang merasa kolong tersebut mampu menampung.
“Cepat! Cepat!”
Tok Tok Tokk, ketukan pintu dari posisi luar.
“Eiii, Kemana kedua manusia dungu itu, bukannya tadi Wei Di bilang dia akan bertapa, dan Li Xiong ada dimana? Bahkan batang hidungnya yang bengkok itu tidak kelihatan sejak tadi.”
“Apa! Dia bilang batang hidungku bengkok?” bisik Li Wei dengan suara yang sangat kecil.
“Shutt… Diam! Sebelum dia mendengar suaramu, telinganya cukup tajam,” papar Wei Heng dengan suara yang tak kalah kecil.
Dibalik badan Jie Ru, Xin Qian ikut mengintai kamar kecil itu mengikuti pengedaran penglihatan Jie Ru yang seperti sedang mencari seseorang.
“Apa yang kamu cari?” ujar Xin Qian tiba-tiba.
“Haiyo, Wo Hen Jingya. Tolong Da Ge jangan tiba-tiba berdiri dibelakangku, umurku masih panjang, jangan karena kejahilanmu saya menjadi berumur pendek,” ujar Jie Ru mengelus dadanya.
Wo Hen Jingya\= Saya sangat terkejut.
Xin Qian sendiri lebih menyukai jika pemuda tersebut memanggil nya Da Ge yang artinya seorang kakak laki-laki daripada Da Shu, seorang paman tua yang sudah berjenggot putih, tubuh kurus berjalan bungkuk yang diperkirakan Xin Qian seperti seorang kakek tua.
“Hahaha, lantas apa yang kamu cari? Dari tadi saya hanya melihat mu mengintai sana-sini tak jelas.”
“Oohhh saya mencari kedua saudaraku. Dimana mereka, dari tadi saya tidak melihatnya,” papar Jie Ru.
__ADS_1
“Kamu mencari mereka berdua? Bukannya mereka ada di sana ya,” tutur Xin Qian mengarahkan terlunjuk kearah kolong ranjang yang berwarna coklat
“Eii Hahaha, Apa yang kalian lakukan disana?” tanya Jie Ru yang mengerti arti dari persembunyian mereka.
“AKHHH Xin Qian sialan, kenapa dia harus memberitahunya!” gelak Li Wei dengan muka mesam.
“Aãã, Hahaha, kami mencari hmm… Ha iya kami mencari ini, gantungan giok milik Li Xiong jatuh di bawah ranjang,” jawab Wei Heng dengan terbata-bata.
“Aãã, Hahaha, Iya iya gantungan giok ku terjatuh, Hahaha, matamu jeli Wei,” timpal Li Wei memberikan jempolnya.
Pemuda berambut sanggul tinggi masih menyimpan keraguan dalam benaknya “Jadi, kenapa kau ikut dengan Li Xiong bersembunyi dibawah kolong, kan bukan gantungan giok mu yang terjatuh.”
“it-itu ahahaha, Saya membantu mencarinya hahaha.”
“Ooo jadi kalian sudah menemukan gantungan nya kan? Sekarang kalian ikut denganku ke ladang itu,” pinta Jie Ru.
Wei Heng dan Li Wei yang mencoba untuk menghindari diri melontarkan berbagai macam alasan “aiyooo pinggangku sakit, dari tadi bertapa sudah cukup lama, Sekarang pinggang ku sangat sakit,” tolak Wei Heng dengan laknat memegang pinggangnya yang sedang kesakitan.
“Aiyoyo pinggangmu sakit ya, sini Wei biar kubantu dirimu sebagai rasa terima kasihku telah menemukan gantungan giok ku,” ujar Li Wei mencari seribu alasan.
“Hahaha akting kalian sangat bagus, kalian sudah cukup pantas tampil di depan istana sebagai pemain karakter,” sindir Jie Ru.
“Sudah, Sudah Wei Di nanti saya yang akan mengurut pinggangmu dan untuk mu, Li Xiong sebaiknya simpan saja ya bantuanmu itu, mungkin suatu saat bantuan mu akan lebih dibutuhkan,” ucap Jie Ru menarik kedua tangan manusia yang sedang mengeluh.
“Aiyahhh, bisa tidak kami tidak perlu menanam Zhang Dou, melelahkan bukan?” tanya Li Wei pada Wei Heng yang berharap akan sepakat dengan dirinya.
Jie Ru menangkas ucapan Shi Xiong nya “Eii, kau tidak mungkin makan gratis kan disini, sebagai ganti ruginya kita harus membantu penduduk disini.”
“Haaa… betul juga,” ujar Wei Heng dengan lemas.
“Apa! Jadi kau setuju dengan bocah dungu ini,” tanya Li Wei.
“Apa boleh buat?” gidik Wei Heng memutar bola matanya.
Pemuda tersebut melangkah ke jalan tanah yang berbatu dan lumayan sulit untuk dilalui.
Dengan raut wajah yang penuh keterpaksaan, Li Wei berjalan ditarik-tarik oleh Jie Ru seperti seekor sapi yang dipaksa jalan oleh petaninya.
“Da Jie saya sudah membawa bala bantuan,” pekik Jie Ru melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Ohhh Yasudah silahkan bergabung,” balas Da Jie membuka tangan nya dengan lebar.