The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 62 - Iblis Baru


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


“Kami pamit Shen Xian, sampai jumpa di lain waktu,” pamit bersamaan tamu yang sudah akan pergi dari tumpangannya.


“Yahh hati-hati diperjalanan,” sambut pemilik rumah pohon itu.


Tiba-tiba dari belakang, orang tua yang iseng ini menarik tangan Wei Heng dengan menyusuk, spontan tubuh Wei Heng terjengkang ke belakang.


“Hei… apa kau tak waras!!!” mendadak Wei Heng mengumpat dengan keras.


Ketiga manusia lainnya yang baru berlangsur pamit, mendadak berhenti ketika mendengar cacian Wei Heng kepada seorang Dewa yang lebih pantas untuk dihormati. Sudah yang keberapa kalinya, manusia berambut putih itu mencaci maki seorang dewata agung.


“Wei, apa kamu tidak kelewatan mengatai seorang dewa junjungan,” resik senior seperguruannya.


“Dewa yang pantas dijadikan junjungan adalah dewa yang punya akal sehat bukan dengan sembarangan menarik dan mencampakkan orang,” ujar Wei Heng.


Hahaha temanku ini terlalu pandai memutar balikkan fakta, sekarang semuanya tahu siapa yang suka menyiasati dan siapa yang dibodohi.


Sudah pasti disini Saya yang menyiasati dan kamu yang dibodohi.


Hahaha...Kamu terlalu pandai membodohi manusia, hingga sampai Jie Ru ikut terjerumus dalam siasatmu.


Hahaha…Kau iri padaku? Karena kau terus menjadi orang bodoh di dunia mu. Sudahlah sebaiknya kuingatkan dirimu, berbaik hatilah kepada Shan Shen, mungkin suatu hari kalian akan berteman bagai burung merpati yang saling bergandeng sayap.


Munafik.


Pertengkaran yang baru usai dilakukan, anggota pendekar yang sudah kehilangan satu temannya kembali menjalankan misi awalnya.


Gelora membara tak sabar ingin segera turun gunung menempati rumah kenangan yang sudah dirindukan, tetapi baru satu langkah kaki menginjak tanah ini, keadaan pemukiman Desa He Ping sudah rata dengan tanah, bahkan air terjun Ping Jin sudah bagai api yang membakar luas tanahnya.


Siapa yang melakukan hal keji seperti itu, itu yang masih diperbincangkan. Tak ada saksi mata ataupun barang bukti yang dapat dipastikan. Hanya bersisa tulang rusuk tengkorak dan gumpalan asap hitam yang membakar kediaman para pemuda tersebut.


“lihatlah, asap itu masih belum basah artinya pelaku nya tidak jauh darisini,” duga Jie Ru.

__ADS_1


Tanpa tanggapan yang lebih jauh, Wei Heng melambung tinggi segera mencari pelaku yang meratakan seluruh rumah pemukiman itu.


“hari ini kau cukup cermat,” papar Li Wei yang tak disahuti oleh Jie Ru.


Karena Jie Ru sudah ikut beringsut meninggalkan kedua manusia pasangan yang masih menetap diri.


“Jie… Tunggu kami!” panggil Li Wei yang akan meninggalkan Xiao Jing.


Saya tidak dapat meninggalkan Xiao Jing sendirian disini, bagaimana terjadi sesuatu hal yang tak diduga, batin Li Wei yang sudah menjadi budak cinta.


“Kamu tidak mengikutinya?” anjur Xiao Jing yang sedang mencari barang bukti didekat sisi rumahnya.


“tidak, mereka berdua sudah cukup untuk menghadapinya,” terang Li Wei.


Sebongkah batu besar yang menahan pintu depan yang sudah hampir ambruk, tinggal bersisa tompangan kayu panjang diantara sudut siku rumah.


Tanpa disadari oleh Xiao Jing, ternyata kayu panjang tersebut sudah tidak mampu menahan reruntuhan batu. Alhasil dalam waktu singkat bangunan rumah tingkatan itu menjadi pecahan batu beserta isi-isinya menjadi tak berbentuk.


“Xiao Jing!” panik Li Wei menghampiri dirinya.


“bagaimana kondisimu? Apa ada yang terluka?” ruah Li Wei dengan risau.


“tidak, tenanglah, runtuhan itu tak akan mampu menyakitiku,” jawab santai Xiao Jing.


“Xie Xin Qian, Saya tahu ini adalah kehendakmu,” Duga Xiao Jing.


Sementara itu, kedua tokoh itu bersikeras mencari sosok pembunuh yang telah berani menyentuh wilayah kekuasaannya. Bahkan jika diharuskan ke ujung dunia pun, maka kedua pemuda tersebut akan senantiasa menjemput ajalnya sebelum waktunya tiba.


Wujud bayangan hitam dengan sisa percikan api melintasi Kawasan hutan yang baru ditempuh oleh nya, penutup wajah yang menutupi setengah wajahnya yang tidak terlalu besar dan sosok figur pria yang hampir menyerupai tinggi badan Jie Ru, berlari kencang memutari seluruh Kawasan hutan dengan kolam ikan yang sudah tidak ada makhluk hidupnya.



“Wei itu pelakunya!” pekik Jie Ru yang menyoroti sosok pelarian dari pelaku itu.


pembunuh tersebut melarikan diri dengan sekuat tenaga, meski tubuhnya sudah menyala api besar yang menyelimuti seluruh raganya. Akhirnya dengan tarikan energi batu giok, gerak pelaku itu menjadi seperti terjadi tarikan magnet yang langsung menempel dengan tubuh Wei Heng.


Pertikaian sengit atas kedua pemuda melawan pelaku pembunuhan, Sebagian wilayah hutan tropis terbakar dengan api pria bertopeng itu.


Pertarungan saling mengimbangi, pasalnya api yang diciptakan oleh pembunuh berantai itu tak kalah hebat dari kemampuan Wei Heng yang sudah melonjak tinggi.



Seluruh Kawasan hutan terbakar api dan angin pertarungan yang semakin hebat, makhluk hidup yang masih berhinggap di sekitarnya menjadi sasaran atas pengaduan energi itu.

__ADS_1



terpapar jelas di sela kabut asap yang diciptakan nya tercetak gambaran makhluk serigala besar serta bayangan cahaya putih yang memantul dari arah dalam.


“Aru, hentikan! Lihat kondisi sekitar,” tandas Wei Heng mengeratkan pegangan nya pada sebuah pohon tumbang yang hampir mengenai bahu Jie Ru.


“Wei lepaskan! Bahumu sudah berdarah!” panik Jie Ru ketika menatap baju luar Wei Heng sudah berdarah dengan luka bakar yang dibuat oleh pembunuh tersebut.


Sedangkan Jie Ru yang diposisi menangguhkan energi melawan manusia berdarah dingin itu, tak lepas tatapan nya dari posisi Wei Heng yang masih menanggung beban pohon tua yang jatuh tumbang.


Alhasil Jie Ru mengakhiri pertarungan dan meloloskan kepergian manusia bertopeng tersebut. oleh sebab, Ia sudah tak dapat menanggung kepedihan yang ia lihat saat ini.


“Lepaskan tanganmu itu bodoh!!! Apa kau tuli!!!” pekik Jie Ru memarahi teman sohibnya.


Wei Heng hanya berdehem kecil dan berkata “jika kulepas, pohon ini akan menimpamu, sama dengan kau mati sia-sia sebelum memberantas pembunuh itu.”


“Hmmm… Haaa…Ahhh sudahlah mana tanganmu,” Hardik Jie Ru.


“tunggu disini, saya akan mencari kan obat,” pinta Jie Ru.


“Apa ini yang dinamakan balas budi akan selalu dikenang,” ujar Wei Heng menanyakan padanya.


“Diam! Tunggu disini! Jangan kemana-mana!”


Tak lama kemudian, berlangsung pencarian membuahkan hasil, alhasil Daun Bidalaye yang pernah Wei Heng bawakan untuknya ketika ia terjatuh di ketinggian lantai batu. Ia oleskan dengan pelan di bahu bekas luka yang sudah menghitam itu.


KREKKK, Koyakan pinggiran baju Jie Ru dengan sengaja ia robekan dan membungkus tangan yang sudah diselimuti tumbukan obat yang dicampur dengan berbagai daun obat lainnya.


“Eii… bajumu!” sanggah Wei Heng menarik tangan Jie Ru yang menghilangkan kewibawaannya demi dirinya.


“Shuttt… diam! Bagaimana? Apakah masih sakit,” ujar Jie Ru.


“Sakit? Hahaha ini tidak sakit sama sekali,” ucap Wei Heng.


Kedua manusia tersebut masih membuang waktu di hutan dengan saling membahas untaran yang tidak penting, sampai lupa dengan jati Li Wei dan Xiao Jing yang masih panik dan risau menunggu jawaban dari mereka.


“Kemana dua bocah itu, apakah sudah mati?” risau Li Wei memetik buku jarinya sembari berjalan bolak balik.


“Duduklah, mungkin mereka sedang mencari pembunuh itu,” ujar Xiao Jing dengan menenangkan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2