The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 30 - Huakui Telah Kembali


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


“Li Xiong? Bagaimana kamu bisa ada disini?” tanya Wei Heng yang melihat sosok pemuda berkipas yang berjalan dari balik gerbang kayu.


“Kebetulan Saya bertemu dengan Chen Fei di kota She Hua."


“Ohh Dimana mereka sekarang?” papar Jie Ru yang ikut menyahut.


Ketiga pemuda melirik dibalik gerbang kayu yang membatasi  jembatan Gang Jiang, tak jauh dari sana mereka melihat dua dewi yang ayu dan rupawan berjalan mendekati mereka.


Di Wilayah Han, Ada seorang wanita cantik. Baca puisi dibawah sinar rembulan, jika puisimu bagus, wanita cantik akan memberikan mu sekuntum bunga. Aroma bunga tetap hidup dan tidak akan layu. ujar Jie Ru dengan puitis.


“Siapa wanita yang disamping Afei?” tanya Jie Ru yang masih merogoh penglihatannya.


Dengan perasaan yang masih malu-malu. Xi Xi berjalan menundukkan kepalanya dan tersenyum manis melipat kedua tangannya.



Kedua wanita berjalan tampak bahagia setelah mengubah diri dengan bekal hadiah yang dibawa dari kota seberang “Haiii, ada apa dengan kalian berdua? Apa kalian tidak pernah melihat wanita cantik?”


“Kami tidak melihatmu, Kami melihat wanita yang ada disampingmu, Siapa dia?” tutur Jie Ru yang mengusir Chen Fei dari penglihatannya.


“Sialan kau Jie Ru, ini Xi Xi apa kalian tidak mengenalinya?”


Kedua pemuda itu hanya menatap dan menggelengkan kepalanya.


“Ha? Xi Xi? Apakah anakku sudah pulang?” muncul sosok wanita tua dari balik pintu kayu.


“A Niang, Xi Xi sudah pulang,” ujar Xi Xi berlari kearah ibunya.


“A Niang ini untuk mu , pemberian dari Chen Jie Jie."


“Xie Xie untuk semua pemberian dari kalian, penduduk desa ini teramat senang dapat menikmati kembali kenangan indah yang sudah lama hilang,” ujar A Niang.


“Tak apa A Yi, Kami disini akan membantu desa ini seperti sedia kala,” ujar Wei Heng dengan nada penuh tekad.


Penglihatan A Niang setajam mata elang yang dapat menembus penghalang, Ketika seorang pemuda yang baru menanjakkan kakinya di desa kepemilikannya “Siapa pemuda itu?” unjuknya pada tatapan pemuda yang juga menimpalinya.


“A Yi, Maaf saya membawa orang lain masuk ke desa, Ini senior seperguruan kami Li Wei,” ujar Chen Fei.

__ADS_1


“Ya tak apa jika pemuda ini hendak tinggal disini, Tapi jangan merasa aneh dengan desa ini, sebab beginilah keadaan yang sudah terjadi."


“Ahh Xie A yi,” ujar Li Wei dengan ramah.


“Jika berkenan, untuk sementara waktu kami berempat akan tinggal disini, sembari mengamati kemajuan desa ini,” ujar Wei Heng.


A Niang merasa terhibur dengan penyataan Wei Heng yang dapat mengangkat desa ini menjadi lebih baik. Dengan segera, Tubuh rungkuhnya menyiapkan kamar untuk empat orang yang akan bertamu dirumahnya.


“A Yi, rumahmu cukup nyaman meskipun di pinggiran jembatan Gangjiang,” lontar Chen Fei melihat sekelilingnya


Terdapat sebuah patung dewa yang terletak diatas meja dan sebuah patung naga kecil yang berada di sampingnya, sebagai pembuktian bahwa desa ini masih menyimpan balas budi pada penolongnya.


“Para pria bisa tidur disini dan Xiao Jie kamu bisa tidur dengan Xi Xi,” ucap A Niang.


“Silahkan beristirahat.”


Xi Xi mengarahkan Chen Fei ke kamarnya dengan langkah senang ia melompat-lompat, sedangkan Jie Ru yang masih penasaran dengan seisi rumah itu masih berjalan melihat pernak-pernik kuno yang dipajang di tembok kuning. Sebuah lukisan dengan gambaran perdesaan damai tenteram yang berada di bawah lembah gunung seperti gambaran desa ini yang dibawah lembah gunung.



Tanpa ia sadari, Semakin ia terlena dengan barang kuno milik A Niang. Hingga ia melupakan sebuah pijakan tinggi menunggunya di lantai atas. Pemuda itu masih tidak menyadarinya yang sudah begitu serius menatap barang-barang itu.


PLAKKK, Sebuah tamparan keras pada bokongnya hingga ke tulang punggungnya, terduduk tak bersuara hanya merasakan sakit yang luar biasa, Sedangkan manusia lain yang tengah berdiri menatapnya tak ikut bersuara. Sampailah sosok wanita berponi itu yang mengintip dari bilik kamarnya tengah melihat sebuah atraksi yang menggegerkan pemainnya.



Qingwa \= kodok


Seiring berjalannya waktu, Manusia lain baru tersadar dari lamunannya melihat kejadian besar yang menimpa Jie Ru “Hahahaha Hahahahaha Hahahaha,” timpal tawa keras dari lainnya.


Wei Heng yang melihat kejadian barusan ikut tertawa gelak sembari berjalan kearah pemuda yang tak bisa berkata-kata itu “Apa yang kau lakukan A Ru? ternyata kau begitu menyukai lantai ini,” ujar Wei Heng yang ikut mengejek.


Dua lontaran kata yang dibisikan Jie Ru ke telinga Wei Heng “SIALAN KAU”


“Hahaha buat apa kau memakiku? Bukankah ini kesalahan mu? Hahahaha,” ujar Wei Heng yang tengah memapah Jie Ru kedalam kamar.


Kegelapan hampir mengelumuni jalanan desa, ditambah dengan nyanyian serangga yang menghinggap di pohonnya, cahaya rembulan yang minim memancarkan sinarnya ke dalam bilik kamar Wei Heng.


Ketiga sosok pemuda itu, masih duduk berkonsentrasi melatih kemampuan peningkatan energi qi dengan bantuan Li Wei yang telah memahami ilmu peningkatan.


Dengan posisi bersila dan jari telunjuk yang melekat dengan jempolnya, menutup kedua mata dan memusatkan pikiran dengan tenang seolah-olah mengikuti air yang mengalir pelan di sebuah aliran sungai yang sangat tenang. Menyerap energi alam yang diberikan oleh mahakuasa, peningkatan yang dilakukan bertahap oleh ketiga pemuda itu menghabiskan waktu semalam yang teramat panjang.



Dengan tahapan yang makin sulit, Sebuah benih-benih masalah mulai muncul di Benak masing-masing pemuda yang masih mengikuti alurnya.


Kestabilan Wei Heng yang mulai terjadi, hingga ia mulai dapat mengontrolnya dengan tenang meskipun sebuah ingatan buruk yang sedang menimpa dirinya saat ini, sedangkan Jie Ru masih terngiang sebuah ingatan yang mengacaukan pikirannya, yang membuatnya hilang konsentrasi dengan nafas yang masih tergesa-gesa ia membukakan kedua matanya.


“Apa yang terjadi padamu?” ujar Li Wei yang terheran

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Lanjutkan,” balas Jie Ru dengan penuh tekad.


“Tidak, mungkin ini masih terlalu awal bagimu. Sebaiknya hari ini kita sudahi peningkatan qi, esok akan kita lanjutkan,” tutur Li Wei yang menyudahi pengajarannya.


“A Ru, Ada apa denganmu?” ujar Wei Heng memegang pundak Jie Ru.


Jie Ru yang masih belum bisa melepaskan ingatan kenangan  buruknya, terduduk dipinggir ranjang memegang kepalanya sambil berkata “Aku mengingat masa buruk ku."


“Bisakah kau ceritakan kepadaku.”


Jie Ru hanya menggeleng kepalanya dan membaringkan badannya ke ranjang, berbalik arah menutupi wajahnya dengan selimut tebal.


Wei Heng yang merasa iba dengan kondisi Jie Ru yang kelihatannya menyimpan kenangan buruk tanpa ia sadari. Selama ini, Ia hanya berpikir jika seorang Jie Ru adalah sosok yang ceria di luar tanpa adanya beban yang selalu menghantuinya, ternyata ia juga seseorang yang penuh tekanan batin.


Ia berjalan kearah dapur, dengan menyeduhkan secangkir Meigui Cha yang dapat membantunya menenangkan pikiran Jie Ru.



Meigui Cha\= teh mawar yang dapat membantu menenangkan pikiran


“Ini minumlah,” ujar Wei Heng menyodorkan cangkir tehnya.


“Xie”


Tiba-tiba terdengar suara PANGGG yang timbul dari kamar sebelah. dengan sengan beranjak sergap, keduanya  berlari kencang ke asal suara itu.


Seorang wanita yang sedang bertekuk lutut memegang kakinya dengan tubuh yang bergetar hebat dan disampingnya seorang wanita yang tak lain adalah Chen Fei yang sedang menarik sebuah panah penuh darah dengan kertas yang dilipatkan gulungan kecil serta coretan yang menggambarkan jejak tangan darah.


Li Wei yang baru tiba dari halaman belakang yang menghirup angin malam, juga ikut tercengang melihat sebuah surat yang tertancap di tembok kamar.


Chen Fei menyerahkan surat peringatan itu kepada Wei Heng dan langsung berjongkok menenangkan Xi Xi.


“Ulah siapa ini? Sungguh memalukan,” ujar Jie Ru yang sudah sadar sepenuhnya.


Wei Heng yang masih meneliti maksud dibalik tanda peringatan ini, tiba-tiba keluarkan ucapan tak terduga dari mulut Xi Xi "Ulah wanita itu.'


“Siapa wanita itu?” ujar Li Wei yang ikut menimpali.


“Wanita yang menyuruhku untuk bekerja sebagai pelayan di istana Maiyingong, itu pertanda darinya jika saya mengundurkan diri sebagai budaknya,” sanggah Xi Xi yang masih duduk dilantai.


Huakui, Qiong ji begitu laknat perbuatanmu, Belum puas kau rupanya mencari tumbal, Akan kubuat perhitungan denganmu. Kita akan lihat kamu yang akan tunduk padaku atau Aku yang akan tunduk padamu.


”Tenanglah Xi Xi, tidak ada yang akan menggangumu selagi kita masih ada disini,” ujar Jie Ru yang memegang bahu Xi Xi.


Sedangkan pemuda berambut putih itu sedari hanya terdiam tak bersuara, seolah sedang merencanakan sesuatu yang tak diketahui orang lain. Begitu kesal hingga meremas surat peringatan itu hingga hancur lebur.


Wei Heng berbalik badan meninggalkan yang lain dan kembali kekamarnya dengan perasaan yang bercampur aduk, Li Wei yang mengikutinya mencoba bertanya kepadanya “Ulah Huakui?”


Wei Heng hanya menganggukan kepalanya, kedua pemuda itu menyusun taktik untuk menarik Huakui mendekati desa ini kemudian mereka akan menyergapnya. Tak mungkin hanya dengan seorang diri, Huakui dapat melarikan diri segampang itu, apalagi Huakui yang akan melemah dengan kekuatan batu giok Wei Heng yang sudah mengalami tempaan besar.

__ADS_1


__ADS_2