
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
Apakah Kau tahu, Persahabatan bukanlah tentang siapa yang Kau kenal paling lama, Tetapi tentang Ia yang datang di kehidupanmu dan berkata “Aku ada disini untukmu, lalu membuktikannya. Aku menganggapmu sebagai teman terbaikku. Kukira dulu ‘Teman’ hanyalah sebuah kata. Tidak kurang dan tidak lebih. tapi setelah bertemu denganmu, saya sadar bahwa yang penting adalah makna didalamnya. Bahkan kayu yang berada di sungai selama puluhan tahun pun tak akan berubah menjadi buaya, begitu juga dengan diriku, mau dipengaruhi segi manapun, Saya tetap masih akan ingat dengan dirimu.
Pemandangan yang begitu luar biasa, Ketika Jie Ru bangun dari mimpinya yang indah. sosok manusia yang berada tepat dibawah pantulan sinar matahari yang menerangi sebelah sisi wajahnya dan berdiri pada posisi di samping ranjangnya, dengan membawa nampan makanan yang berisi sarapan pagi untuknya.
Mimpi dan kenyataanya tak jauh berbeda indahnya, pemuda itu masih memakai baju Hanfu yang diberikannya. Dengan senyuman tulusnya yang menyampaikan jika ialah teman terbaik yang pernah ada.
Tapi tersimpan beribu maaf yang harus Jie Ru sampaikan kepadanya, ia harus tetap memainkan peran hingga ceritanya berakhir menjadi akhir yang manis.
“A Ru ini buburnya dimakan, ini Saya meminta pelayan dapur yang memasakkan nya khusus untukmu," ujar Wei Heng yang menaruh nampan nya di atas meja.
Sulit dikatakan dalam penyampaian kata, Jie Ru yang tak dapat bersuara harus bagaimana ia bertindak. Jika ia terlarut dalam kebahagiaannya maka saat ini juga cerita akan berakhir.
“Tidak, Saya tidak menyukai bubur itu, panggil Wu Hui untukku," ucap cuek Jie Ru.
“Ada apa dengan bubur ini? bukankah Kau begitu menyukai bubur nya?" ujar Wei Heng yang merasa aneh dengan sikapnya.
“Tidak, Saya sudah tidak menyukai bubur itu, sekarang Saya sudah tidak nafsu. Panggil Wu Hui sekarang juga," gelak emosi Jie Ru dengan melipatkan kedua tangannya.
“Yasudah Lah, terserah padamu," ucap Wei Heng yang hanya bisa menyanggupi permintaannya.
Hancur rasanya hati Wei Heng, Ketika mendengar lontaran nama yang dicari oleh pemuda yang masih tertidur resuh di ranjang itu. Dengan langkah gontai nya, Ia berjalan keluar dari kamar, sedangkan pemuda yang masih terbaring di ranjang itu juga ikut merasa terpukul dengan perkataan terpaksa yang keluar dari mulutnya.
“Maaf beribu maaf," ucap Wei Heng dalam hati.
Tak berselang dalam waktu yang lama, sosok pemuda yang dipanggil Jie Ru dengan gilangnya ia melangkah ke kamar.
“Kau memanggilku? Ada apa?" lontar Wu Hui yang mendekati Jie Ru.
“Tak apa, bersiaplah kita akan ke pasar," ujar Jie Ru dengan senyum kepalsuan.
“Siap, Saya akan membawa mu ke suatu tempat, ingat pakailah pakaian yang lebih bangsawan mungkin nanti akan ada yang tertarik padamu," papar Wu Hui Dengan gilang.
__ADS_1
“Baiklah”.
Hahaha mungkin energi pengacau pikiran telah menyatu dengan pikirannya hingga kau menjadi bodoh, Kau akan lupa dengan si dungu rambut putih itu. Bersabarlah, sebentar lagi Saya akan mencapai tujuanku.
“Jie Ru, Cepat ikut Aku, akan kubawa Kau ke istana yang sesungguhnya," ujar Wu Hui menarik tangan Jie Ru.
“Apa yang Kau lakukan? Tempat apa ini? ," ucap Jie Ru yang bergidik geli Ketika banyak wanita penggoda yang menyentuhnya.
“Maiyingong?" gumam Jie Ru sembari membaca papan nama yang tertempel di atas atap rumah besar itu, “Tidak tidak Saya tidak mau, Saya mau pulang”.
Maiyingong \= Istana bunga, tempat wanita penghibur menunjukkan bakatnya.
“Ayolah, hidup hanya sekali jangan kau habiskan hidupmu bersama si dungu rambut putih itu," tarik ulur dari mulut Wu Hui
“Gongzi, mari masuk, mari masuk," ujar beberapa ji nu yang menarik-narik tangan Jie Ru.
Gongzi\= sebutan untuk tuan muda atau pria bangsawan yang masih muda.
Ji nu\= wanita penggoda dengan kata yang lebih halus
SIALAN!!! Akan kubuat hidupmu hancur, BEDEBAHH!!! Berani sekali dirimu mengajak diriku melangkahkan kaki disini, akan kujadikan Kau sebagai santapan Qiong ji.
Jie Ru yang merasa risih hanya duduk berdiam diri tanpa menghiraukan puluhan wanita yang mendekatinya, sedangkan di meja lain sana sudah terisi penuh wanita penghibur yang duduk di pangkuan Wu Hui.
“Meresahkan, Lebih baik saya pulang, tak ada yang pantas dilihat," gumam Jie Ru dalam hati.
Sebelum Jie Ru melangkahkan kakinya keluar dari pintu Maiyingong, Seorang wanita yang begitu misterius keluar dari balik tirai penyekat, Dialah Bintang Panggung malam ini. Semua mata tertuju pada penampilan wanita itu, dengan cadar yang menutup sebagian wajahnya, garis mata tajam yang menarik perhatian dari pemuda berhidung belang, serta rambut hitam legam menjuntai hingga kebawah.
“Wowww Wuhuuuuu, Bintang Utama telah hadir," teriak salah satu pria hidung belang, hingga melompat-lompat diatas kursi.
Udara makin panas, makin gerah ditambah penampilan dari seorang wanita misterius yang begitu mengesankan dimata para pria, teriakan dari sisi kanan dan sisi kiri saling melimpah, seolah-olah sedang berebut lotre untuk memenangkan hati wanita itu.
“Sabar, harap tenang,” ujar seorang wanita dengan sanggul kembangnya yang ditusuk dengan konde bunga, wanita yang diyakini adalah kepala dari istana Maiyingong.
“Huakui Hadir malam ini untuk menyambut Tuan-tuan yang terhormat, beri tepuk tangan yang meriah untuk menyambutnya. Hari ini tarian Huakui akan memeriahkan panggung diatas," ujar kepala istana Maiyingong dengan nada yang keras.
Huakui\= secara harafiah artinya ratu bunga, alias primadona wisma bunga. Wanita penghibur yang menjual bakatnya
Primadona itu mulai menunjukkan bakat dirinya, menggemparkan seisi panggung dengan tarian pinggulnya. Ditambah dengan penari panggung yang ikut menyertai, selendang yang bercorak kupu-kupu begitu sempurna dilambaikan dengan tangan dan jemarinya yang begitu mulus. Dengan pakaian yang terbuka dari bawah kaki jenjang hingga di paha atasnya, ia mulai mengelokkan pinggangnya yang begitu elastis.
__ADS_1
“Tak ada yang menarik," gumam Jie Ru, yang hendak memutar balik arah tubuhnya.
Tak berselang waktu kemudian, terdengar auman yang begitu keras dari dalam Maiyingong. Dengan cepat Jie Ru melangkah balik ke pintu utama dari istana bunga itu, mengintai ada perihal apa yang sedang terjadi di dalam.
Ternyata para hidung belang dan wanita penghibur itu disihir dengan pengendali pikiran hingga qi dari manusia itu diserap kedalam tubuh wanita misterius hingga semuanya mengikuti arahan perintah dari wanita itu.
Jie Ru yang melihat kejadian yang ada didepan matanya begitu panik hingga jatuh terjungkal, Dengan segera Ia berlari kembali ke penginapan tempat Wei Heng berada.
“Weii pergi kemana dua bocah itu, bukankah kita harus segera mencari Qiong ji?,”ujar Chen Fei yang menunggu di depan pintu.
“Entahlah,Biarkan kedua bocah itu bersenang-senang," ucap Wei Heng yang duduk santai menikmati kendi arak.
“Bukankah Kamu dan Jie Ru bagaikan tali yang tak bisa dipisahkan ya, kenapa hari ini saya melihat Jie Ru hanya merekat dengan si kepala merah itu,” ujar Chen Fei.
“Biarkanlah, tak usah pedulikan anak itu,”papar Wei Heng tak peduli.
Pemuda yang berlari dengan kencang mendobrak pintu kamar hingga terbuka dengan keras “ Wei Di, Itu Itu Itu”.
“Tenang kan dulu dirimu,” tutur Wei Heng yang memberinya segelas air.
“Itu Itu wanita misterius Itu, Haaaa, wanita itu menyerap qi manusia,”ujar Jie Ru dengan nafas memburu.
“Siapa Dia? kemana Kalian pergi?" tutur Chen Fei ikut menimpali.
“Maiyingong, wanita itu jadi wanita penghibur disana."
“Coba Kau jelaskan pelan-pelan apa yang sedang terjadi,” Ujar Wei Heng menanggapi pernyataan Jie Ru
Jie Ru menceritakan apa yang terjadi di istana Maiyingong, ketika wanita misterius itu muncul di balik tirai penyekat hingga ia yang meninggalkan Wu Hui yang masih berada di istana bunga itu.
“Ohh Tidak, Wu Hui masih ada disana,” tutur Jie Ru sembari memukul dahinya.
“Biarkan saja Dia dihisap oleh wanita itu," papar Chen Fei dengan sikap cuek.
“Tidak, Kita gak boleh meninggalkan Wu Hui disana, Saya harus membawanya kembali," dengan langkah yang hendak keluar dari kamar.
Wei Heng memegang lengan Jie Ru dengan lembut “Kita akan membawanya kembali”.
“kalau begitu cepat sebelum Wu Hui mati konyol disana,” ujar Jie Ru dengan tergesa-gesa.
Wei Di maaf beribu maaf, hanya cara ini yang bisa kuperbuat untuk mensiasati Wu Hui. Kamu akan memahami ku setelah Kau mengetahui kondisi yang sebenarnya.
__ADS_1