The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 53 - Nostalgia


__ADS_3

...Teman bisa membuatmu senang...


...Sahabat mampu membuatmu bahagia...


...Tapi hanya ketulusan yang tetap membuatmu hidup...


...~~~~...


...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


Pengelanaan turun gunung semakin seru, ditambah dengan lelucon tak berfaedah yang saling mengutari. petualangan pulang tidak sepanjang awal perjalanan.


“Shi Xiong kalian pulanglah duluan, Saya dan Jie Ru masih ada urusan,” ujar Wei Heng menarik lengan Jie Ru yang akan mendahului langkah cepatnya.


“kenapa hanya kalian berdua, bagaimana dengan saya dan juga Xin Qian, sebegitu pentingkah urusan kalian?” tanya Li Wei menoleh kearah depan.


“Kamu benar mau tahu urusan kami berdua?” tanya Wei Heng mengisikkan paparan yang tidak enak didengar.


“Ha? Pergilah, pergilah, kami berdua duluan pulang, jangan sampai terlena dengan sentuhan wanita disana,” pamit Li Wei mengedipkan matanya.


“Li Xiong kemana mereka pergi?” timpal pemuda koki itu dengan penuh teka-teki.


Sebelum Li Wei menjawab imbuhan Xin Qian, ia seraya melenggangkan tulang lehernya kemudian memukul pelan pundaknya “anak dibawah umur jangan terlalu banyak bertanya, berbahaya untuk otakmu.”


“Hei… Saya lebih tua dari dua bocah itu! mengapa Saya tidak boleh tahu.”


“Kau memaksaku? Sini kubagi tahu,” bisik pria berbadan tegap itu membungkukan sedikit badan nya untuk menggapai telinga Xin Qian.


“Kenapa tak mengajakku? Tak bisa dibiarkan,” cela Xin Qian melangkah balik dengan bertolak pinggang.


“Eiiii… kau mau kemana? Kakakmu sudah menunggumu,” Tarik ulur Saudara seniornya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.


Di perjalanan berlawanan arah, singgah kedua pemuda melanjutkan penapakan turun bukit dari 3 persimpangan menuju ke arah lokasi mereka berjualan Tudou. tetapi kali ini, tujuan mereka turun bukit bukan hendak berjualan melainkan membeli sesuatu untuk dihadiahkan.


“Wei… apa yang tadi kamu katakan kepada Shi Xiong?” ujar Jie Ru seraya memutari langkah pendek Wei Heng yang berjalan maju.


“kubilang kita akan mencari lokasi strategis untuk menjual Tudou,” jawab Wei Heng dengan taktik kebohongan.


Tatapan mengintimidasi diarahkan Jie Ru dari sorot matanya, menggali kebohongan dalam diri saudaranya. Alhasil ia mengakhiri tatapan tersebut dan memilih untuk mempercayai.


“Tujuan ku membawamu yah kesini,” Tarik Wei heng jatuh pada lapak pedagang yang menjual barang antik.



lapak pedagang yang terletak di sebuah lorong yang menjual seluruh barang kuno, dan khas oriental peninggalan sejarah. banyak jenis keragaman budaya dan suku yang menghadiri pasar belanja murah ini.



“pilihlah,” sela Wei Heng menaruh pilihan nya di meja pedagang itu.

__ADS_1


“menurutmu ini atau ini yang terlihat bagus,” pilihnya pada dua pasangan gelang yang lebih menonjolkan kepamoran nya dibanding yang lain.


“terserah padamu, Saya hanya mengikutimu.”


“yang ini?”



“mata tuan sungguh jeli, gelang ini kami datangkan langsung dari negeri Zhao dan banyak diminati oleh wanita perawan yang masih belum memiliki kekasih,” gelak Pedagang itu dengan kepandaian menawarnya.


“Kalau begitu yang ini, Saya beli bukan untuk seorang wanita melainkan untuk sahabat lelaki ” pilihan nya jatuh pada gelang giok yang bercorak hijau dan putih dengan  logam besi yang diukir sedemikian rupa.



“Tapi tuan, anda yakin tidak membeli gelang yang itu juga,” tanya nya dengan kebimbangan takut akan diceramahi oleh pelanggannya.


“Saya Wang Zi dari negeri yang kau sebut-sebutkan itu, tutup mulutmu sebelum saya tidak jadi membelinya dan Da Shu tolong bungkuskan konde ini dengan rapi,” pinta Jie Ru pada pedagang cekikikan itu.



Penuh peluh yang membasahi mimik wajahnya yang ketakutan, ketika mendapat peringatan dari mulut pangeran negeri Zhao tersebut “ baik, baik saya segera membungkusnya dan ini sebagai tanda terima kasihku, Wang Zi,” usul pedagang penjilat itu memberi 2 buah cincin giok dengan desain kuntum merah nan unik


“yah terima kasih atas barang gratismu,” cela Jie Ru menepuk-nepuk hadiah pemberiannya.


“Kau sungguh pandai menawar, tidak rugi saya mengajakmu.” ujar Wei Heng dengan tersenyum.


"Weii... disana ada kedai teh, maukah kau kesana?" ujar Jie Ru menikmati perjalanan berdua dengan saudaranya.



"Emmm yasudah yok."


"Dashu 1 teko besar ya," ucap Jie Ru melambaikan tangannya.


"eiii Hao De, Wu fenzong," balas penyaji teh itu.


Hao De\= Baiklah


Wu Fenzong\= 5 lima menit lamanya


"Weii sudah lama kita tidak merasakan keadaan seperti ini," ingat Jie Ru kembali bernostalgia.


"Setelah awal pertemuan kita di sekolah Qi Jing, setelah itu kita tak pernah merasakan hari berdua," sahut Wei Heng mengaduk-adukkan daun teh dalam teko besar.


"kau masih ingat arak yang kutawarkan padamu," tanya Wei Heng hendak membuka kedoknya atas kejadian pencurian di kedai itu.


"yah ada apa dengan arak itu? kau menaruh racun rindu? Hahaha."


"Tidakk, tapi saya mencurinya dari pemilik kedai dengan tempelan kertas pesanan Zhao Wangzi," ungkap Wei Heng dengan tawa gelak.


"sialan ternyata itu ulahmu, pantesan bos besar itu menghilang selama 3 hari tidak mengabariku."


tiba- tiba dari belakang punggung Wei Heng, seorang wanita menggenggam erat tangannya seakan tengah meminta pertolongan.


“Xian Sheng boleh saya mengikutimu,” tanya seorang wanita yang mendadak muncul di hadapan Wei Heng.


Tampilan wanita itu sangat menggoda bagi kaum pria dengan mata telanjang dan hidung belang yang memang mengincar wanita berpakaian terbuka. Dilihat dari cara dandanan nya mungkin ia berasal dari daerah yang seperti istana Maiyingong. Membawa lelaki hidung belang untuk dijadikan sebagai pemuas nafsu.


Bertato kuntum bunga merah jambu yang menghiasi ekor punggung wanita tersebut dan hiasan kepala yang menjulang tinggi dengan perhiasan mahal.

__ADS_1



“Maaf Nona kami tidak bisa membawa mu, kami juga menumpang rumah penduduk diatas bukit sana,” ujar Wei Heng secara tak langsung telah memberitahu lokasi tempat tinggalnya.


“Saya mohon, tolong bawa aku, Saya tidak memiliki rumah dan sekarang saya diincar oleh ayah tiriku,” tangis wanita itu didepan mata Wei Heng.


“Maaf Nona, saudara ku sudah bilang tidak bisa maka jangan terlalu memaksa, dan ini ambillah untuk biaya hidupmu,” seru Jie Ru memutuskan genggaman erat dari pegangan wanita itu, kemudian memberikan beberapa tael perak untuk wanita tersebut sebagai pegangan hidup.


Wei Heng yang lebih peka dengan situasi dan kondisi segera menarik pergi Jie Ru yang masih berbincang dengan wanita tersebut.


*


“Da Jie kami sudah pulang õ,” teriak pemuda gilang itu dari jauh.


Bukan Xiao Jing yang menyambut Jie Ru, melainkan bayangan besar dengan ikatan sanggul yang mencuat di kepalanya yang datang melayangkan pelukannya.


“Sini Shi Xiong peluk, Uhhhh sudah sejak lama saya tidak menerkam tubuh pria, saudara kecil ku sudah bertumbuh menjadi lelaki dewasa," goda Li Wei menjilat daun telinga lelaki yang dipelukannya.


PLAKKK. Gamparan keras dikepalanya menyadarkan nya dengan denyutan kepalanya yang menusuk.


“Sekali lagi kau berbuat begitu, akan kubabat habis lidah pendekmu itu,” tegas Jie Ru dengan raut wajahnya tak suka.


“Hei Wei bukankah kalian pergi kesana? Apa ia dibuang oleh wanita disana? Raut wajahnya sungguh tak enak dipandang.” tanya Li Wei dengan penuh pertanyaan.


“entahlah,” Pemuda dingin itu hanya membalas satu gerakan bahu, yang tidak ingin membahas lebih lanjut.


“Da Jie kamu dimana, Kami sudah pulang,” panggil keras Jie Ru dengan terus menerus.


“Eǐǐ, Dibelakang sini Jie Ru,” sahut sosok wanita yang sedang merawat Zhang Dou yang pernah ditanam oleh ketiga pemuda tersebut.


“Da Jie saya memberimu ini,” ujar Jie Ru dengan girang sembari memasangkan tusuk konde yang sempat dibelinya.


“Wahhh, Zhang Dou nya sudah tumbuh panjang,” imbuhnya memantau setiap pertumbuhan kacang panjang yang belum merata.



Figur berbadan tinggi dan pria pendek menghampiri Jie Ru dan berbisik geli di telinganya “adik kecil, mana hadiah untuk saudaramu ini.” goda Li Wei dengan menghembuskan angin kecil dari mulutnya.


“sudah kubilang jangan menyentuh telingaku,” tegas Jie Ru yang mulai naik pitam.


Daerah paling sensitive dari tubuh Jie Ru ialah bagian telinga, jika seseorang menyentuh atau menariknya maka selama 3 hari ia akan mimpi buruk selama berturut-turut.


“Apa itu sebabnya, kemarin ia terus berlangsung mimpi buruk, karena saya menarik telinganya dengan kuat, tapi mengapa ia tidak memarahiku,” gumam Wei Heng menatap dari jauh.


“Ya sudah mana bagian ku,” rajuk Li Wei.


“Kau tidak ada!!!”


“Oohh Hahaha, Kau juga menginginkan nya Shi Xiong? Nah ini ada kuberikan untukmu,” ucap Jie Ru mengubah raut mukanya, mengeluarkan pemberian gratisan yang diberikan oleh pedagang jalan itu.



“Apa kau gila? Bisa-bisanya kau memberiku cincin bunga, mau taruh dimana mukaku kalau memakai cincin ini,” tolak langsung dari mulut Li Wei.


Xin Qian yang menyukai barang antik dengan sergap menggapai dan melingkarkan di jari manisnya “Kau tidak mau, yasudah berikan saja kepadaku, jangan menghina barang antik ini.”


“kau sungguh tidak menginginkannya, cincin ini kalau dijual cukup mahal biar kau tahu,” sunggut Jie Ru.


“berikan padaku!!!”

__ADS_1


“Dasar bermuka dua,” cemooh Jie Ru menendang lutut lawannya.


__ADS_2