
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
Aliran air sungai yang deras, menemani pertualangan keempat pemuda hingga akan sampai ke awal tanduk jembatan Fuqiao. Bersua 2 jembatan lintasan yang terletak di pertengahan perbatasan Desa He Ping. Sepenggal kayu yang disusun dengan tompangan, kapanpun akan siap roboh oleh terpaan hiliran sungai yang berlalu deras, sementara itu titian yang bersebelahan terlihat lebih fleksibel menjamin keselamatan.
Li Wei yang tak ingin mengambil resiko menceburkan dirinya dalam sumber mata air itu, lebih memilih jembatan yang bisa menjamin keselamatan badan nya yang besar.
Penuh pertimbangan, alhasil Xin Qian mengikuti jejak tapak Li Wei yang juga lebih memastikan keamanan hidupnya.
Berkebalikan dengan Jie Ru, dengan sifatnya yang leluasa lebih menantangi diri memilah jembatan kayu yang mungkin sudah tidak sanggup untuk menempa berat badannya yang tidak terlalu berat.
“Shen Jing Bing, menyesatkan diri dalam kesulitan, Kau tampak bodoh,” cibir Li Wei menyilang kan lengan nya.
“Kau yang bodoh, badan besar otak kecil, cari aman tanpa berpikir,” sela Jie Ru menimpali buah bibir Li Wei.
“Ka-Kau!,” Oceh Li Wei yang sudah akan menggerutuki kepalanya.
“tahan… tahan… jangan terbawa emosi Li Xiong, nanti penyakit Gaoxueya mu semakin naik, tahan sabar,” peluk Xin Qian menghalangi pertengkaran.
Gaoxueya\= penyakit darah tinggi.
“Iya, sabar, tak ada gunanya menanggapi pernyataan bodoh darinya,” hela Li Wei mengusap dadanya.
“Karena kau takut akan lebih cepat bertemu dengan Heibai Wuchang, bukan begitu Shi Xiong?” sanggah Jie Ru yang masih melayangkan kaki nya di tepian Jembatan.
Heibai Wuchang\= sepasang penjaga kefanaan hitam dan penjaga kefanaan putih, pengawal para roh/ arwah baik di alam baka (neraka) maupun pada saat berada di bumi
“Sialan bocah ini, semakin kurang ajar!!!” tantang Li Wei yang sudah kehabisan akal sehat.
“Sabar Li Xiong, ingat penyakitmu atau kau memang akan segera bertemu dengan Heibai Wuchang,” peluk kembali Xin Qian dengan erat.
“Kau juga mengutukku?” balik Li Wei menatap intens tuturan Xin Qian.
“Ha? Ahhh tidak berani, tidak berani,” ujar Xin Qian melepas pelukannya.
Wei Heng yang semula hanya menatap pertengkaran yang hampir dilakukan setiap harinya, sudah merasa terbiasa dengan perlakuan kekanakan mereka “Da Ge, apa kau tidak takut apa yang terjadi terakhir kalinya, akan terjadi lagi padamu,” ujar Wei Heng mengingatkan Xin Qian, perihal siram-siraman teh yang akhirnya dituai pada Xin Qian yang ikut mencampuri.
Xin Qian mengimbangi ujaran Wei Heng yang benar adanya “Xie, Wei sudah mengingatkan, Yasudah lanjut perang lah tunggu apa lagi?” tantang Xin Qian.
“Wei… kamu tak ikut menyeberang? tunggu apalagi?” ujar Li Wei.
“tunggu kalian selesai perang mulut,” timpal Wei Heng yang bermukim di tepian awal jembatan.
__ADS_1
“Wei jangan melangkah ke jembatan yang akan rusak itu, nanti kamu jatuh,” ucap Xin Qian.
"Tidak akan terjatuh jika diri beradaptasi dan berterima kasih kepada tumpangannya, maka makhluk matipun akan menyelamatkan dari mala bahaya. Jembatan ini diibaratkan dengan sebuah kehidupan yang harus melalui kesulitan untuk menempuh jalan bahagia, tidak selamanya yang aman itu adalah jalan kebenaran," Sabda Wei Heng.
“tak ada yang bisa membenarkan semua ucapan mu Wei,” timpal Li Wei.
“tak percaya? Shi Xiong kamu lihat bawah kakimu, apa yang sedang kamu pijak.”
“Apa ini? Bau ini seperti…” cetus Li Wei mencium aroma kakinya.
“Hahaha Beng Dan yang kau injak itu kotoran sapi, Hahaha,” gelak Jie Ru memukul-mukul perutnya yang kram akibat ketawa yang berlebihan.
“Maaf Li Xiong, Saya lupa memberitahumu jembatan ini kebanyakan menjadi Lalu Lalang kumpulan para sapi,” ujar Pemuda bertubuh pendek dari yang lainnya.
“Kenapa hanya aku yang menginjak kotoran sapi, Kau coba lihat kakimu ada tidak?” timpal Pria berisi itu.
“tak ada, tapak ku aman.”
Jie Ru yang tak tahan tawa masih tak bergeming untuk menutup mulutnya, ingin nya melontarkan seribu kata untuk mengejek seniornya itu “Hahaha karena kau bodoh.”
Penuh niat terpaksa, yang awalnya Li Wei menghindari yang namanya air. Mau tak mau ia harus menuruni tebing kecil untuk mencuci sepatunya yang bekas kotoran.
BLURRR, Kesialan jatuh untuk kedua kalinya, setelah tak puas kakinya menginjak kotoran, sekarang ia harus jatuh kedalam sungai, sebab sepatunya yang licin bertumpu pada tanah lumpur yang menggeliat.
Tontonan itu dinikmati oleh Jie Ru yang sudah berposisi di tepi ujung jembatan yang sudah menyelamatkannya “Hahaha, Shi Xiong… Shi Xiong, Kau suka sekali membuat lelucon, Saya bisa semakin awet muda jika tiap hari melihat mu tertimpa kesialan."
“Diam kau!” Hardik Li Wei dipapah berdiri oleh Wei Heng yang ikut tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
Pengelanaan menimba ilmu, rujuk dilanjutkan seusai pertunjukkan yang tak ada habisnya. Suara gemericik air masih terdengar mengarungi perjalanan panjang menuju jembatan Fuqiao.
“Wei Di, Apa kamu mencium aroma tak sedap?” ujar Jie Ru mengawasi sekitar.
“Hmm… bau busuk semacam aroma dari bangkai manusia,” sahut Wei Heng.
Sebongkah tulang belulang sisa tengkorak manusia terpapar di sisi-sisi jembatan Fuqiao, makhluk bayangan terus menghantui keempat pemuda yang saling berpegangan tangan.
“tenang tak akan yang terjadi selama masih ada aku disini,” ucap Li Wei dengan besar mulut.
PLAKKK, Sebuah tamparan keras dari tangan kecil menzalimi punggung Li Wei.
“Hei Jie Ru, Kau jangan makin kurang ajar!” tuduh Li Wei.
Sedangkan pemuda yang tak bersalah bertanya-tanya dengan tuduhan Li Wei yang semena-mena “Apa maksudmu? Saya tidak menggangumu!”
“Kau semakin kurang ajar, sekali lagi kau memukulku, kupastikan akan mematahkan tangan kecilmu itu,” bentak Li Wei dengan keras.
“Apa maumu? Kau jangan mencari masalah,” tantang Jie Ru tak kalah sengit.
Wei Heng dan Xin Qian yang berada di posisi merasa terugikan dengan omelan yang saling menimpali.
“bisakah kalian diam!?” teriak Wei Heng, padahal untuk seorang pemuda yang berwibawa, jarang sekali ia mengeluarkan suara lantang seperti auman singa.
__ADS_1
Sontak kedua pemuda langsung terdiam tak bersuara.
“Apa kalian tidak merasakan ada sesuatu yang mengganjal disini,” ujar Wei Heng memendam emosinya yang hanya seketika.
“iya, saya juga merasa ada yang janggal dengan jembatan ini,” ganjil Xin Qian.
“coba kalian berpikir jernih, daritadi masih ada suara gemericik air yang menyertai perjalanan kita sampai disini.”
“kalian lihat disini adalah tanah kering dibawah jembatan, tak mungkin masih ada aliran air yang mengalir dari sini, kecuali alirannya berada di bawah tanah,” bahas kepala tim dengan cermat.
“dan iya, bukankah kau yang memukul, lantas tangan siapa yang menepungku,” sela Li Wei di antara pembahasan.
“sudah kubilang bukan saya yang memukulmu, meski tangan ku yang paling kecil diantara kalian, tapi saya bersumpah bukan saya yang mengerjaimu,” sumpah dua jari Jie Ru.
Li Wei terlarut dalam kebimbangan dengan masalah tangan “jika saya ketemu orang nya akan kupukul bokong nya.”
“sabar Li Xiong, Saya akan membantu mu memukul bokongnya,” timpal Xin Qian membuat lelucon tengah suasana menerkam.
PLAKKK, tamparan kedua kali jatuh ke punggung Xin Qian yang ikut mengimbal makian Li Wei.
“Shuttt... Saya sudah tahu resiko nya, jika kalian terus mengimbangi dengan kata kasar, maka sebuah tamparan juga akan sebagai hukuman,” lugas Jie Ru dengan bijak.
SHIUNGGG SHIUNGGG, perputaran awang-awang yang hanya ada disekitaran menciptakan hawa meriang yang semakin dingin.
“Hati-hati,” ujar Wei Heng mengedipkan matanya yang terkena partikel kecil.
PHUSSSS, angin muluk menarik raga pemuda yang sudah berganti menjadi rambut hitam, menerjang hingga ketepian sudut, membanting tubuhnya di tembok-tembok keras Jembatan yang masih kokoh.
“Wei Di! Wei Heng!” sentak ketiga pemuda itu bersamaan.
KAU BUKAN MANUSIA, SIAPA KAU SEBENARNYA! KAU TIDAK DITERIMA DI WILAYAHKU!, racauan lantunan yang tidak berbentuk, hanya tersampaikan suara lantang yang memenuhi seluruh jagatnya.
Wei Heng sontak menghilang dari kelompoknya, memisahkan diri dari kumpulan ketiga temannya.
“WEIII!!!”
“Kau bedebah! Kau munafik! jika berani, kau muncul sekarang juga dihadapanku!” ujar Jie Ru dengan sengaja memancing.
PHUSSS, Mendadak jiwa dan raga Jie Ru ikut serta menghilang ke alam yang tak diketahui.
KALIAN BERDUA PULANGLAH ATAU KALIAN AKAN MENDAPAT HUKUMAN YANG SETIMPAL DENGAN KEDUA TEMANMU!
"Tidak!!! kembalikan saudara kami! jika tidak kami juga akan menentangmu," hardik Li Wei dengan keras.
"Li Xiong... apa kamu sanggup melawan makhluk itu? kita belum tahu bentuk fisiknya, apa jangan-jangan makhluk besar itu dapat menerkam manusia," nyali Xin Qian kembali menciut ketika Li Wei menentang makhluk tak kasat mata tersebut.
"kau cukup bersembunyi di belakang ku, Saya sendiri yang akan menghadapinya," ujar Li Wei yang sudah siap pada posisi kuda-kudanya.
HAHAHAHA, KAU SUNGGUH BERANI SEKALI! KALAU SAYA TIDAK MENGEMBALIKKAN SAUDARAMU, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN!
"Saya akan melawan mu hingga kau kembalikan saudara kami," sengit Li Wei membalas pertanyaan jebakan itu.
"Li Xiong jangan menantang nya terus, nanti makhluk itu akan semakin marah," ciut Xin Qian memegang punggung Li Wei dengan erat.
BAIKLAH KALAU BEGITU IKUT SAYA, seketika sinar terang membawa kedua pemuda tersebut menghilang dari posisi berdirinya, seperti keadaan Wei Heng dan Jie Ru yang direnggut.
__ADS_1