
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
Pagi yang sudah menyongsong sinar nya membangunkan penghuni semesta nya, Kejadian semalam masih belum dilupakan oleh korban yang mengalaminya. Pelaku itu begitu bejat memaksakan semua kehendaknya dengan memanfaatkan seseorang.
“Xi Xi bagaimana dengan keadaanmu,” tanya Chen Fei yang beranjak dari samping tidurnya.
Haaaa, Sebuah tarikan nafas panjang yang keluar dari mulut Xi Xi “Sudah lebih baik dengan keberadaan kalian disini.”
“Yok kekamar sebelah membangunkan yang lain, Sekalian menanyakan rencana selanjutnya,” ujar Chen Fei dengan ligat memegang lengan Xi Xi.
Chen Fei mengetukkan pintu kamar sebelahnya yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat, Tiada sahutan yang menimpali ketukannya. Ia merasa kesal dengan sifat pemuda yang begitu sulit untuk dibangunkan, Dengan tendangan keras ia mendobrak pintu kayu itu.
BRAKKK, Terpampang sebuah penampakan yang seharusnya tak ia lihat. Begitu terhormat perkataan mereka ketika mereka sedang tersadar seakan dapat mengatur segala situasi yang tengah terjadi, Tetapi apa yang akan terjadi jika mereka sedang tertidur. Sikap mereka begitu terlena tanpa memperdulikan kehormatan yang dipuji-puji.
Kaki Jie Ru yang berada di atas perut Wei Heng dan kepalanya yang terjungkal dibawah ranjang, Sedangkan kepala Wei Heng yang berada di posisi bawahan tepat di bagian ************ Li Wei dengan tangannya yang mengelus paha Li Wei, dan Li Wei yang tengah mengemut jempol tangan Jie Ru yang berada di depan wajahnya.
“Xi Xi, Kamu jangan melihat kedalam, Penampakan didalam tidak baik untuk Kesehatan matamu,” ujar Chen Fei menutup matanya Xi Xi.
”Heiii Pemuda bangsawan bangunlah, Ayam sudah berkokok berulang kali,” pekik suara Chen Fei yang dapat memecahkan gendang telinga.
Wei Heng langsung tersadarkan dengan setengah kesadaran mata yang masih menyelimutinya “AHH badanku tidak bisa bangun, Kaki siapa ini?” suara serak nya seraya memegang kaki yang berada di pusar perutnya.
Merasa digelitikin dari telapak kakinya, Jie Ru ikut tersadarkan dari mimpi indahnya “AHH, Kepalaku terjatuh, Hei siapa yang mengemut jempol ku? Sialan, Bangunkan dia! Jempol Ku sudah basah!” teriaknya yang tak dapat melihat siapa yang mengemut jempolnya.
Sedangkan Li Wei terbangun dengan teriakan Jie Ru yang sedang memakinya “Hei selangkanganku serasa sedang tertimpa sesuatu,” ujar Li Wei yang sudah tidak tahu malu.
“Hahaha Lihatlah posisi tidur kalian, Menjijikkan Hahaha,” tawa gelak Chen Fei yang berbalik badan menutup matanya.
Ketiga pria itu masih terdiam di tempat, Hingga kesadaran penuh memenuhi otak mereka dengan lontaran Chen Fei yang terbesit dipemikiran mereka. Disaat itu lah, Mereka merasa malu dan langsung duduk terdiam saling menatap satu sama lain.
Pemuda itu, Mau tak mau tetap beranjak keluar dengan perasaan malu “Hai A Yi,” sapa Jie Ru tanpa melihat kearah Chen Fei.
Pria itu tidak berani berdekatan duduk di sebelah Chen Fei, mereka mengasingkan diri untuk tidak berdekatan dengan wanita pengintai.
Chen Fei yang jahil, dengan sengaja meledek “Hahaha, Ada apa dengan kalian bertiga? Dari Tadi kalian bergelut satu sama lain sekarang kenapa wajah kalian merona seperti kepiting rebus.”
“Hahaha, Apa Jie? Mereka memeluk satu sama lain? Jangan bilang kalian… Hahaha Tak pantas,” ujar Xi Xi mengolengkan kepalanya.
“Tidak, Tidak kami bukan pria penyuka sesama jenis,” Timpal Jie Ru yang sigap merespon.
Sedangkan keduanya hanya terdiam dengan pipi yang masih semu merona.
“Hei, Apa-apaan kalian berdua? Kenapa kalian tidak membantah perkataannya?” ujar Jie Ru yang tidak menyetujui dengan sikap mereka berdua.
“Hahaha, Sudahlah cepat di makan sarapannya sebelum dingin dengan gurauan kalian,” tawa khas A Niang dengan gigi yang sudah banyak bolongnya.
Suasana menjadi kabut, Ketika mereka berkumpul bersama untuk membahas strategi menarik Huakui keluar dari kandangnya, menghindari sosok A Niang yang menyiram tanaman di halaman belakang.
__ADS_1
“Xi Xi, Apa kamu sanggup mengikuti arahan kita?" tanya Wei Heng dengan raut serius.
“Ya, Saya akan berusaha,” jawab Xi Xi dengan tegas.
“Begini, Malam ini kamu harus pergi ke Maiyingong menjalani tugasmu seperti biasa,” arahan dari Li Wei.
Sewaktu mendengar jika ia harus kembali ke Maiyingong, Nyali Xi Xi kembali menciut Ketika harus bertemu dengan Dao Sui Qi dan Huakui yang ada disana.
“Apakah tak ada cara lain?” ujar Chen Fei yang seakan sudah tahu dengan perasaan Xi Xi.
“Tidak ada cara lain, Strategi ini sudah saya pertimbangkan dengan sempurna bersama Wei Heng dan juga Jie Ru,” timpal Li Wei.
“Ada” ujar Jie Ru dengan mengimbangi perkataannya.
Semua penghuni ruang tamu mengedarkan pandangan kearahnya “Ada? Caranya?” timpal Li Wei.
“Saya akan menjadi salah satu Dao Sui qi di Maiyingong, jadi Xi Xi bisa berada di dekatku, dan juga bantuan Ji Lian kita akan meloloskan cara ini, Bukankah begitu Wei Di?”
Setelah pertimbangan dengan jelas, Wei Heng menyetujui permintaan Jie Ru “Rencana berikutnya kau sudah tahu kan apa yang harus diperbuat?”
“Ya, Saya sudah tahu,” ujar Jie Ru dengan penuh keyakinan.
“Kalian berdua berhati-hatilah, Kami akan membantu dalam jarak jauh,” papar Wei Heng.
“A Ru ini ambilah, Jika dalam bahaya cepat kalian ledakkan petasan ini di atas langit,” ucap Wei Heng memberi sebuah petasan ledakan.
Chen Fei masih cemas dengan Xi Xi yang tidak memiliki kemampuan apapun “Wei, Apakah saya boleh ikut membantu Xi Xi?”
“Tidak Fei, Semua ini bergantung pada Xi Xi bagaimana ia membuat Huakui masuk dalam perangkap,” balas Wei Heng.
Waktu begitu cepat berlalu, Pergantian matahari sudah mulai akan terjadi mengantikan kuasa bulan. Semua nya telah bersiap untuk melaksanakan rencananya.
“A Ru, kamu juga berhati-hati jangan terlalu gegabah dalam bertindak,” pinta Wei Heng kepada saudaranya.
“Hei! Wei Di jangan terlalu meremehkan ku, kemampuanku bahkan bisa membuatnya terlontar-lontar."
“Jie Ru Jangan berulah, ini bukan untuk bermain-main,” cibir Li Wei.
Chen Fei memeluk erat Xi Xi seolah-olah akan berpisah dalam waktu lama “Xi Xi hati-hati."
“Ya Jie”
Keempat petarung dengan satu penyelamat akan melanjutkan perjalanan nya ke istana Maiyingong, Tanpa sepengetahuan A Niang.
“A Niang, Kami akan pergi ke kota berjalan-jalan, Jagalah dirimu,” pamit Xi Xi.
“Xi er hati-hati, Semuanya berhati-hati, Cepat pulang lebih baik,” ujar A Niang.
Perjalanan dari jembatan Ganjiang ke kota Pai Tian cukup jauh, Memakan waktu yang cukup lama. istana Maiyingong masih seperti biasanya, tetap ramai dengan pria berhidung belang. Xi Xi dan Jie Ru berjalan masuk kedalam istana bunga yang dikenal dengan Maiyingong, penyambutan dari Jinu yang seperti biasanya membuat Jie Ru merasa jijik. Sedangkan Wei Heng, Li Wei dan Chen Fei memberondokkan diri dalam sebuah kubu yang tak jauh dari sana.
“Hai Xiao Jie, boleh tolong panggilkan Ji Lian. Saya ingin dia yang melayaniku,” papar Jie Ru kepada salah satu Jinu.
Tatapan Jinu penuh dengan pertanyaan dan kedengkian yang menyelimuti raut wajahnya. Tak menunggu lama, Ji Lian yang dimaksud menghampiri Jie Ru.
“Gongzhi? Mengapa kamu ada disini? Dimana Kouchuang Gongzhi?” ujar Ji Lian mencari keberadaan pemuda berambut putih.
“Kouchuang? Hahaha, Wei Heng? Dia sedang bersembunyi."
“Maksud Gongzhi?” tanya Ji Lian.
__ADS_1
Jie Ru menceritakan semua maksud dengan kedatangannya dan mengharapkan bantuan dari Ji Lian.
“Ya Gongzhi, Saya siap membantu,” balas Ji Lian ditengah keributan istana.
Xi Xi yang berjalan setapak demi setapak lantai yang sangat tinggi, Dengan maksud bertemu Huakui yang sedang menunggunya.
TOK TOK TOK, Suara pintu yang diketok Xi Xi dari luar. Dengan langkah gontai ia berjalan dengan nafas beratnya Tenang Xi Xi kamu pasti bisa melaluinya, gumamnya dalam hati.
“Mengapa hari ini kamu baru datang?” tuntut Huakui dengan memainkan kuku nya yang panjang.
Dengan nafas yang berat Xi Xi menjawab “A Niang sakit, Sepanjang waktu saya harus merawatnya.”
“A Niang sakit? Apa perlu saya menyedot semua energinya hingga ia cepat mati, Jadi kau tidak perlu dengan susah payah menjaganya,” cibir Huakui.
Ketakutan mulai menyelimuti pikiran Xi Xi, ditambah dengan hawa dingin mencekam yang mengelilingi dalam kamar Huakui “Tidak Tidak, Saya akan menurutimu,” ujar Xi Xi menundukkan kepala.
“Hahaha Bagus Bagus, Ini pakailah,” ucap Huakui menyerahkan sebuah cincin hitam dengan giok bentuk mata harimau di tengahnya.
“Apa ini? Tidak seperti pada biasanya.”
“Jangan terlalu banyak bertanya Sayang, jika tidak kuku ini akan menusuk lehermu,” lontar Huakui menekan kuku tajam nya di leher jenjang Xi Xi.
Chen Jie, Wei Ge, Jie Ge, Li Ge Tolong Aku. Jika saya hari ini mati ditangan Huakui kalian harus mengantikan ku menjaga A Niang.
Seteguk, Dua teguk Xi Xi mulai panik menelan ludah. Penuh keterpaksaan Xi Xi memasangkan cincin nya di jemarinya. Perubahan sikap Xi Xi semakin menggebu-gebu, warna mata yang awalnya bermanik coklat. Kini berganti menjadi hitam pekat menyeluruh seakan dipengaruhi hawa iblis yang mengendalikan dirinya.
“Turun kebawah dan lakukan tugasmu,” pinta Huakui.
Di lantai paling bawah, Penghuni istana masih terlalu heboh meributkan Huakui yang sedari tadi belum turun mempertunjukkan dirinya.
Lampu yang terang, mendadak redup dan hanya memancarkan satu sinar diatas panggung. Muncul seorang penari yang mulai melakukan aksi panggungnya. Tarian seperti iblis yang sedang kerasukan, Dengan tarian yang menggebu-gebu yang disukai oleh para pria berhidung belang.
“Ha? Xi Xi? Bagaimana bisa dia yang ada diatas panggung? Kemana Huakui? Dan ada apa dengan bola mata Xi Xi?” ujar Jie Ru yang sudah hendak berdiri.
Pertanyaannya ditanggapi oleh Ji Lian “ Gongzhi bukankah itu Huakui,” ujar Ji Lian menunjuk kearah tirai penyekat di balik panggung.
“Apa yang terjadi? Kenapa jadi begini? Kita harus mengejarnya,” papar Jie Ru.
“Lantas bagaimana dengan Xi Xi?”
“Bawa dia pergi dari sini,” pinta Jie Ru yang sudah keluar dari tempak duduknya.
OHH, Tidak pemuda itu seperti… Ya dia teman dari bedebah itu, Buat apa dia kemari, Lontar Huakui yang melarikan diri dibalik pintu belakang.
“Ji Lian, Cepat bawa Xi Xi pergi dari sini, Saya akan mengejar Huakui, Cepat!”
Dengan segera Ji Lian menarik tangan Xi Xi pergi dari area tersebut, Makian dan bentakan terdengar keras dari suara bawah panggung yang sudah dipastikan itu ulah Dao sui qi yang masih menikmati goyangan pinggang Xi Xi yang tiba-tiba ditarik paksa oleh Ji Lian.
“Hei Huakui kau jangan melarikan diri, tak akan kubiarkan kau lolos,” teriak Jie Ru yang sudah mulai mendekati jarak dengan Huakui.
Huakui yang mendengar ucapan seperti itu mulai melancarkan aksinya, dengan jari kukunya yang panjang. Ia mengeluarkan sebuah ilmu kuku yang berubah menjadi anak panah racun yang mematikan, Ditancapkan tepat di kaki Jie Ru.
“BEDEBAHH!!! ” teriak Jie Ru dengan keras.
Yah… Saya sudah dapat melihat langit, Iya sebentar lagi, Bertahanlah Jie Ru kamu pasti bisa, gumamnya dalam hati menahan sakit yang luar biasa dahsyat.
PHIUNGGG PHIUNGGG PHIUNGGG, Suara petasan yang mulai terdengar di atas langit yang memberi pertanda kepada sosok manusia yang menunggu di kubu tua.
Sedangkan Huakui sudah berlari terlalu jauh untuk Jie Ru gapai, hanya sanggup mengendalikan angin yang melayangkan tubuh nya dengan kecepatan yang mulai melambat.
__ADS_1