
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
Setelah menyelesaikan perbincangan dengan Li Wei yang membahas pembalasan dendam kepada iblis gagak dan merencanakan sebuah siasat yang membuatnya akan bertemu kembali ke bukit bunga sebagai pertemuan awal dengan seniornya, Mereka kembali dari bukit bunga dan hendak berjalan kearah pasar dengan membeli cedera mata untuk Xi Xi dan penduduk setempat.
“Wei Di untuk siapa kau membeli makanan dan jajanan segitu banyak?” ujar Jie Ru yang mengikuti gelagat Wei Heng dari belakang.
Nampak Wei Heng terlalu antusias menghabiskan koin perak saudaranya “ A Ru”, panggilnya dengan membuka telapak tangannya.
“Apa?” balas Jie Ru dengan bingung.
“Koinmu, 5 Tael, Apa kau tidak mendengar ucapan Da Shu? mantou ini harganya 5 tael,” ujar Wei Heng membulatkan pupil matanya.
“Jadi, Apa maksudmu dengan membuka tanganmu?
“A Ruuu, Uang mu adalah Uangku. begitu juga, Milikmu adalah milikku. Sebagai saudara kita harus saling berbagi, Apa kau mau Lao Tian Ye memakimu karena kau terlalu pelit denganku?” papar Wei Heng dengan memegang pundak Jie Ru.
“Kau Bedebah Tou qian zei, Buat apa kau membeli begitu banyak makanan? Perut kecil kita tak akan mampu menghabiskan semua makanan ini, kau hanya akan membuang koin ku dengan sia-sia.”
Tou qian zei \= manusia pencuri uang
“Lihat dan Ikuti aku,” tutur Wei Heng dengan senyum mengode kepada wanita yang mengikutinya.
Tak berselang lama. Setelah selesai menghabiskan koin dengan maksud tersembunyi, Wei Heng membawa Jie Ru melalui desa buangan yang harus melalui berbagai rintangan sebelum mereka akan tiba di desa itu.
“Jie Ru, kupastikan kau akan menikmatinya,” tutur Chen Fei yang baru membuka suara.
“Haizzz, Kalian membawa ku kemana? Kurasa jalan neraka juga tidak akan begitu sulit kutempuh,” sambung Jie Ru yang kesusuhan berjalan.
__ADS_1
“Nikmati saja, Kau akan menyukainya jika kau sudah sampai,” lontar Wei Heng dengan maksud tersembunyi.
Ketiganya sudah hampir menapaki langkahnya menuju desa terbuang. Dari jarak yang tak terlalu jauh, sudah tercium aroma tak sedap yang menusuk alat penciuman Jie Ru “Haaachiuuu… Bau apa ini? kurasa bau kaki Afei juga lebih wangi dari bau ini,” keluh Jie Ru menutup hidungnya.
“Wei Diiii, kenapa kau membawaku kesini? Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tempat kumuh seperti ini. Saya tak sanggup, bawa aku pulang sekarang juga,” gerutu Jie Ru yang hendak beranjak pulang.
“Hahaha, Ru berhentilah berkomentar, nanti kau akan menikmati dengan sendirinya,” papar Wei Heng yang tiba-tiba mengubah raut wajahnya.
Tak jauh darisana, Xi Xi yang peka terhadap keberadaan Wei Heng dan Chen Fei dengan membawa seorang teman yang tak kalah berpenampilan bangsawan “Xiangsheng, Chen Jie Jie, kalian sudah datang?” sambut Xi Xi yang berlari hendak memeluk ketiga nya.
“Iya, kami datang membawa makanan untuk kalian semua, kurasa pemuda yang ada disebelahku cukup baik untuk membeli semua makanan ini,” ledek Wei Heng menyindir Jie Ru.
“Xie Ge Ge.” Lontar Xi Xi membungkukan badannya.
“Hei Hei apa maksudmu memanggil dia dengan sebutan Ge Ge sedangkan kau panggil aku dengan sebutan Xiansheng,” racau Wei Heng yang hendak memprotes.
Ditimpali dengan tawa keras dari mulut Jie Ru yang ikut mengejeknya “ternyata anak ini juga pandai membedakan mana yang tua dengan yang muda, bukankah begitu Xi Xi? Namamu Xi Xi kan? Perkenalkan namaku Jie Ru, panggil saya Jie Ge jangan panggil saya Xiansheng, panggilan itu tidak cocok untukku Hahaha,” ledek Jie Ru yang tak ada habisnya.
SIALAN!, Umpat Wei Heng dengan keras.
“A Niang ada dirumah, kondisi tubuh A Niang sudah membaik, Ia tidak berteriak kembali di tengah malam setelah memakai Hushenfu dari Xiansheng,” ujar Xi Xi sembari membawa perjalanan kerumahnya.
“sudah kubilang jangan memanggilku Xiansheng,” gerutu Wei Heng.
“Iya Iya Wei Ge."
Jie Ru merasa ada kemajuan dengan perbedaan sifat Wei Heng semenjak ia bergaul dengan dirinya, Wei Heng sudah mulai lebih beradaptasi dengan tingkah lakunya yang kadang seperti kekanakan seperti dirinya dan terkadang bertingkah imut yang diajari olehnya. Pria kaku itu sudah berubah menjadi pria yang lebih hangat dari sebelumnya, Tetapi kehangatan itu hanya berlaku untuk dirinya, sedangkan untuk orang asing, ia tetap berlaku sama.
Penampakan yang tak ada bedanya dengan keadaan kemarin, kondisi pemukiman tetap sama suramnya meski beda waktu.
Dari dalam rumah Xi Xi, muncul sosok wanita tua dengan penampilan yang lebih segar dari sebelumnya, aurat nya lebih memancarkan penerangan dibandingkan dengan kemarin malam.
“Xiansheng terima kasih atas pemberianmu,” ujar A Niang dengan mengarahkan pandangan nya ke Hushenfu.
“keadaan tubuh saya sudah membaik, jika tidak ada benda perlindung ini mungkin tiap harinya saya akan mengeluh kesakitan di tubuhku,” ucap A Niang yang berjalan ke kursi kayunya.
Wei Heng merasa terpuaskan dengan bantuan yang tidak seberapa itu tetapi dianggap berharga oleh orang yang membutuhkannya “Ya A Yi, Kami juga terikut senang jika dapat membantu semuanya."
__ADS_1
Dekat dari pandangan, A Niang melihat sosok pemuda yang tampak bangsawan tak jauh dari penampilan kedua manusia yang telah menolongnya, masih mengibas-ngibaskan Hanfunya menyeka keringat di dahinya.
“Siapa Xiansheng ini?” tanya A Niang yang mengarahkan jempol tangannya.
“Ohh ini, saudaraku Jie Ru,” balas Wei Heng menarik lengan Jie Ru.
Sedangkan Jie Ru merasa malu dengan sikapnya yang dianggap kurang sopan, sebab ia sudah tidak tahan dengan panas dan bau dari daerah itu, hanya dengan senyuman kaku ia lemparkan kepada mereka semua.
“Maaf, jika kalian harus sampai di daerah yang seperti ini,” lontar A Niang.
“Ahhh Tidak Tidak A Yi sudah kewajiban kita untuk saling membantu,” papar Chen Fei yang membuka suara untuk kedua kalinya.
Wei Heng masih penasaran dengan kisah tragedi Fei Fei yang masih menjadi misteri kutukan desa ini.
“A Yi, Apakah boleh memberitahukan kepada kami? Mengapa tubuh A Yi kesakitan di tiap tengah malamnya?” ujar Wei Heng yang hendak mencari petunjuk.
A Niang antara keraguan dan kepercayaan yang hendak ia lontarkan, pertama ia merasa tragedy di masa lalu begitu pahit diingatan nya, tetapi disisi lainnya ia sudah mempercayai mereka semua yang telah menolongnya. Alhasil ia membuka suara kejujuran yang ia ucapkan.
“Saya mendapat kutukan khusus dari iblis keji itu,” lontar A Niang yang mengingat kembali masa lalunya.
“Saya pelayan pribadi Putri A Li, Ketika A Li bunuh diri dengan tragis. tanpa mereka tahu. Saya lah yang menguburnya dengan layak tanpa dihiraukan oleh suami dan istri keduanya yang tak punya hati nurani, Sedangkan iblis itu hanya memaksaku untuk membuangnya di kali besar tanpa dimakamkan dengan layak. Sampai saat itu juga, Saya ketahuan olehnya dan ia secara diam-diam memberikan kutukan penghancur raga, sehingga kutukan itu memakan seluruh energiku dan menekan jiwaku di tiap tengah malam,” ujar A Niang yang kembali meneteskan air matanya.
“Jadi semua penduduk menjadi tua juga karena ulahnya?” tanya Jie Ru yang tiba-tiba membuka suara.
“iya disaat itu, Fei Fei sudah menghisap semua energi manusia dari penduduk desa ini, hingga mengutuk mereka akan menjadi tua dan untuk kaum wanita tidak akan pernah bisa mengandung seorang anak dan disaat itu saya sedang mengandung Xi Xi dengan keadaan yang masih berumur 2 bulan, sehingga kutukan itu tidak berlaku untuknya, sebab Xi Xi sudah ada di rahimku,” ujar A Niang memeluk Xi Xi
“Lao Tian Ye memberikan ku sebuah keberutungan untuk melahirkan seorang anak perempuan yang berbakti.”
Dalam penglihatan Wei Heng, Ia melihat sebuah sinar yang memancarkan terangnya dari dalam rumah Xi Xi “ A Yi benda apa itu?” ujar Wei Heng mengalihkan semua perhatian ke sebuah benda yang menariknya.
“Oohh itu patung Long, kami menyimpannya dirumah ini sebagai tanda masih adanya penghormatan kami kepada Dewa Long,” ujar A Niang yang membawa patung Long itu keluar dari kediamannya.
Masih terawat dengan indah, kuning keemasan dari tubuh patung ini masih berkilau terang, tak mengeluh seberapa jauh penderitaan yang dialami penduduk desa ini, tetapi mereka masih menghormati sosok pahlawan yang telah menyelamatkan beberapa tahun silam lamanya.
Dibalik itu , seorang pemuda menitikkan air bening di pelupuk matanya. Begitu besar penghormatan yang penduduk berikan, tetapi ia masih tidak sanggup untuk memperbaiki kesalahan yang telah ia buat. Sedih dalam diam yang merayap dihatinya saat ini.
HARI INI SAYA MENAPAKI JEJAKKU DISINI, MAKA HARI INI JUGA SAYA AKAN MEMULIAKAN KEMBALI DESA INI.
__ADS_1