The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 52 - Keberhasilan Tak Sia-sia


__ADS_3

Halo Manteman Thank you atas dukungannya, Kalau suka dengan novelnya boleh dong bantu di support dengan cara di Vote, Like, Favorite, Rate and Share juga boleh. dukungan kalian buat Authornya makin semangat loh. Kalau ada kesalahan penulisan atau EYD nya harap di bagi tau ya dengan ucapan sopan😁😁😁


...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


Seketika seluruh pelosok jagat digaduhkan olek pekikan kesakitan Jie Ru, bekas sayatan yang terbuka bersarang makin merata. Bertambah tenaga dalam yang semakin besar, maka terjadi bentrokan racun hitam yang semakin pekat.



“dari awal, sudah saya ucapkan, jika memasuki wilayah ini harus memiliki jiwa yang bersih, sejak kapan kamu pernah teracuni dengan racun iblis?” tegas Senlin Shen.


“sebelumnya kamu makan pil ini, setidaknya akan merendam sakit di kakimu.”


GLUKK, Pil Dewa seakan membuat keajaiban pada pemuda yang sedang meringis kejang sakit, sejenak dengan pasti menutup bekas luka hingga tertutup rapat tak berbekas.


“luka ini sudah cukup lama, bekas yang dilakukan oleh Si Xiong Qiong Qi,” tutur Wei Heng menjelaskan.


“Shen Xian apa lukanya sudah benar-benar sembuh?” imbuh Li Wei dengan penuh kekhawatiran.



“jangan panik, pil Hua Shen cukup mujarab hanya untuk mengatasi hal semacam itu,” cetus kakek dewa ini.


“Haa baguslah, kamu tak apa? Bagaimana? Apa masih sakit?” tanya lega kembali pemuda berbadan tangguh itu.


Yang lain hanya terheran-heran menatap tontonan yang ada di depan mata, jika biasanya antara Li Wei dengan Jie Ru seperti kucing dan tikus. Hari ini, ada yang berbeda dengan sikap Li Wei yang tampak lebih perhatian dari biasanya.


Xin Qian yang selalu menjadi perantara antar kedua manusia ini, memegang pundak dahinya dan bertanya “Li Xiong apa kamu sakit?”


“Ada apa denganku?”


“mungkinkah ada efek samping dari Bintang Pemberkatan? Shen Xian apa mungkin Bintang ajaib itu dapat mengubah sifat manusia?” persoalan yang Wei Heng limpahkan pada teman dewanya.


“tidak, efek Bintang tersebut hanya memperdalam tingkatan energi manusia,” imbuh Dewa Hutan.


Li Wei menimpali dengan suara tawa terbahak-bahak, menanggapi pertanyaan yang saling bertukar jawaban “apa kalian pikir jika dalam suatu pertemanan harus selalu akrab? Tidak… hubungan pertemanan yang hemat itu jika setiap harinya saling mengauli dengan omong kosong, itulah yang namanya pertemanan erat.”


“basi, ucapan mu tidak berlaku untukku,” lugas Jie Ru mendorong tubuh Li Wei yang merangkul erat bahunya.


“Kau jangan terlalu sombong, suatu hari kau juga akan memohon kepadaku untuk menjadi temanmu.”


“Phiiii… tak sudi, jangan harap,” celetuk Jie Ru menarik lengan Wei Heng menjauh dari manusia yang masih membual itu.


“Ru… bagaimana keadaan kakimu? Apa masih terasa sakit?” ucap Wei Heng meneliti setiap luka nadinya.

__ADS_1


“Tidak, Pil Dewa milik Shen Xian sungguh mujarab, kaki ku sudah aman mungkin ini sudah dapat dikatakan sembuh total,” tutur Jie Ru melompat di tanah tinggi.


“Saya harus meminta resep dari Shen Xian, kalau Saya menjualnya ke pasar, Saya akan kaya raya,” ujar Jie Ru beranjak kearah bertumpu nya Dewa Hutan.


“obat pil itu dari Hua Shen, mungkin kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengannya.”


Pada zaman dulu, Dewa dan manusia saling berhubungan sudah lazim, bahkan Dewa sekalipun mampu menyamar menjadi manusia untuk mencari kekasih hidupnya. Keterkaitan Dewa dengan manusia sungguh erat, rahasia langit tak dapat dibocorkan. Seberapa jauh perjalanan persaudaraan antara kedua manusia masih menjadi selubung takdir.


1000 tahun perpisahan 1 hari pertemuan, tak cukup untuk mengobati lepas rindu. Suatu petaka kah yang akan memisahkan atau kehendak lain yang akan memutuskan.


Tak usah dirisaukan, jika langit menentang persaudaraan kita, maka saya yang akan duluan memberontak, batin Wei Heng.


“Shen Xian tubuhku juga merasa lebih ringan, qi apa yang saya miliki,” tanya Xin Qian.


“Kamu? Saya juga tidak mengetahuinya.”


“mungkin qi mu masih berkaitan dengan persoalan dapur, coba kamu kebelakang dapur perhatikan dengan baik asal kemampuanmu,” sahut Dewa Hutan.


“Wahhh ini hebat!, memasak dengan hanya menggunakan imajinasi, wah ini luar biasa,” jerit si koki dari dapur belakang.


Hahaha, lantang tawa Senlin Shen menggoyahkan seluruh makhluk hidup di sarwanya.


“kalau begitu yang lain silahkan kembali, tinggalkan Xin Qian menetap disini,” ujar pemilik Hutan.


“Shen Xian sungguh pilih kasih, tidak adil hanya dia yang diterima,” tolak Li Wei.


“apa keuntungannya menerima kalian disini?”


Hahaha, baiklah baiklah sikap mu masih saja tidak berubah, jangan bertindak terlalu kaku, jika tidak keriput wajahmu akan menyerupai ku.


“baiklah masih ada satu tahap yang harus kalian latih, bersemedi di bawah lindungan Hutan Bintang selama 2 hari 1 malam, tatkala itu baik untuk meningkatkan keseimbangan tenaga dalam.”


“Haaa, sungguh begitu lama?” ujar Jie Ru.


Xin Qian ikut menimpali dengan kuasa barunya “jangan takut, kalian bertapa nanti saya yang akan menyiapkan makanan,” tutur Xin Qian.


“qi mu cukup bagus, tapi selama berlatih dilarang membuka mata, dilarang makan dan minum, bahkan menguap mulut pun harus dilarang. Kalian hanya perlu bertapa selama 2 hari tanpa melakukan apapun. Latih pemusatan pikiran pada keseimbangan tenaga dalam, hanya itu yang harus kalian lakukan,” rinci Dewa Hutan.


Selama masa berlatih, para penguji sungguh terniat dalam meningkatkan qi, mengikuti perintah dari pelatihnya. Bahkan hanya untuk sekedar mengintai pun mereka tidak akan berani daripada perjalanan sulit yang dilakukan sia-sia.


Perlatihan tersebut berguna untuk fisik manusia yang akan menempa diri menjadi lebih tinggi, tetapi tidak berlaku untuk seorang tubuh dewa yang hanya menghisap sebagian tenaga untuk meringankan tubuh.


Rencanamu sungguh tidak bagus, untuk apa saya mengikuti mereka bersemedi selama 2 hari


Jangan salah, ilmu pemusatan ini tidak ada salahnya dilakukan oleh raga dewa. Kau  juga ikut berlatihlah supaya sifat kerasmu akan lebih berkurang


Tepat pukul Zheng Yin selama 2 hari melakukan pengembangan, akhirnya penguji dan pelatih tersebut telah membuka kelopak matanya, yang langsung menerima pantulan sinar cahaya yang berasal dari pintu luar Hutan Flora Abadi.


Zheng Yin \= pukul 4-5 subuh


Sungguh aneh bukan, medan ruang tempat mereka bertumpu masih dalam keadaan gelap, tetapi dapat menerima sinar pantulan dari balik pintu yang berasal dari Hutan yang selalu menerima cahaya matahari.


Semua ide itu dilakukan untuk menyamari dua hutan yang berbeda, jika sewaktu-waktu datang suatu musibah yang terjadi, jika penghuni hutan tersebut dikencam oleh musuh.

__ADS_1


“Shen Xian, saat ini yang saya rasakan adalah lapar,” imbuh Jie Ru tanpa malu.


Bagaimana mungkin fisik manusia normal dapat menahan lapar selama 2 hari, jika mereka tidak memikirkan masih dalam keadaan pelatihan, mungkin mereka segera menggebu Xin Qian untuk mempersiapkan hidangan.


“Xin Qian lakukan tugasmu,” pinta Li Wei.


“Siap,” Unjuk nya memberi hormat.


Seiring berjalan nya waktu, Alhasil masa sulit telah dilalui dengan keberhasilan yang mujur. hanya butuh 3 hari 2 malam, mereka telah melampaui energi qi yang diinginkan.


Perjalanan pulang kembali dilalui dengan perasaan sukacita, setelah lama hidupnya, baru hari ini ia menerima yang namanya perasaan Bahagia.


Limitasi atmosfer senada dengan perasaan keempat pemuda yang berjalan kembali melewati jembatan lintasan yang membawa kesialan bagi Li Wei.


“Hai Da Shu selamat menjalani aktivitas,” ucap Li Wei dengan riang gembira pada seoarang pria paruh baya yang berseraya dengan anaknya menumpangi sebuah Zhu du Muchou yang menyusuri tepian sungai.



Zhu du Muchou\= Zhu (bambu), Du Muchou (sampan), sampan perahu yang dibuat dari rautan bambu yang diikat dengan tali kesetiap siku.


“Ada apa dengannya?” bisik Jie Ru.


“mungkin terlampau Bahagia,” bisik Xin Qian tak kalah kecil.


“Aiyahhhh hari ini mengapa dunia terasa berbeda, Ehmmm saya mencium nikmatnya atmosfer bumi ini berbeda dari biasanya, Ehmmm bahkan air sungai nya sangat jernih nikmat diminum,” ungkap Li Wei menyeruput pelan air sungai yang mengalir di sela-sela jarinya.


“Hahaha,” gelak Jie Ru semakin meronta-ronta.


“apa yang sedang kamu tawakan Jie Ru, sini mari ikut denganku, air ini nikmat sekali,” ajak Li Wei kembali menyesap aliran sungai tanpa saringan.


“Hahaha, Li Xiong kamu balikkan kepalamu, Saya mau melihat reaksimu,” seru Xin Qian menahan tawa.


“Hmm, Apa yang terjadi?”


Hitungan detik 1 2 3, Oekkk… muntahan air itu tergenang kembali pada asalnya.


“Gaisi de niu!!!” celetuk nya kembali memulai aksi muntahannya, Ketika menatap 3 ekor sapi yang sedang berbondong-bondong mengeluarkan proses feses nya yang melintasi aluran air sungai.


Gaisi de Niu\= Sapi sialan.


“Hahaha, bahkan qi mu meningkat tidak menghilangkan kesialanmu yang terus bertambah,” gelak Jie Ru meledek saudara seniornya.


Li Wei penuh dengan gelagat mengeluarkan kembali isian di dalam perutnya, tak menanggapi ledekan yang Jie Ru lemparkan padanya.


“Bagaimana mungkin Da Jie bisa menyukai seorang pemuda bodoh seperti nya, sungguh disayangkan nasibnya jika ia harus menikahi seorang lelaki dungu sepertinya,” sindir Jie Ru penuh dengan tawa sindirnya.


“tutup mulutmu! bukan kau mak comblang nya!” cetus Li Wei.


“Hahaha, kalau saya mak comblang nya pun, Saya tidak akan mau menjodohkan wanita secantik Da Jie untukmu, kasihan pihak wanitanya.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2