
Penginapan, Kota Calderok.
“Hei Edward! Dengarkan aku. Bertindaklah seperti kita adalah suami-isti. Percayalah kepadaku,” bisik Penny pada Edward saat sedang menindih tubuh Edward.
Mereka kini sedang berada di teritori Kerajaan Empress, maka dari itu banyak sekali assassins yang berkeliaran pada malam hari.
Terlebih lagi, Edward dan Penny memasuki Kota Calderok di malam hari, tentu saja hal itu dicurigai oleh para assassins disana.
Sejak Penny menyadari kehadiran mereka, Penny berusaha bertindak seperti seorang istri yang manja kepada suami palsunya, Edward.
Namun sikap Penny masih terus dicurigai oleh para assassins itu sehingga mereka mengikuti Penny dan Edward hingga ke kamarnya.
Penny segera membentuk sebuah huruf menggunakan jarinya di dada Edward yang bertuliskan huruf ‘A’.
Dalam sandi kemiliteran Kerjaan Victoria, huruf A dapat berarti bahaya, ancaman, atau mata-mata.
Menyadari sinyal dari Penny, sikap Edward langsung berubah 180 derajat dari sebelumnya.
Edward bahkan tidak segan-segan menyentuh tubuh Penny agar tidak dicurigai assassins itu.
“Aku bilang berpura-pura! Kau malah … Oh Edward Kau!”
“Baiklah, dimana arah penyusup itu. Tunjukkan padaku seperti tadi.”
Penny menggambarkan jarinya di dada Edward ke arah ventilasi diatas jendela di samping mereka.
Pelan-pelan dengan ditutupi tubuh Penny, Edward mengambil belatinya yang berada di bawah bak mandi.
Dengan kecepatan tinggi, Edward melemparkan belatinya ke sela-sela ventilasi jendela itu dan tepat mengenai mata dari penyusup itu.
*Argh
Suara penyusup itu berteriak kesakitan karena matanya terkena belati Edward.
Edward langsung berdiri, memasang handuknya, membuka jendelanya dan melompat keluar.
“Oh Edward! Dia malah begitu serius pada tubuhku! Aku akan membalasnya nanti.” Penny juga langsung memasang pakaiannya dan menyusul Edward keluar.
Ketika Edward sudah menginjakkan kakinya di tanah, Edward menyadari bahwa tidak hanya ada satu assassins yang dihadapinya saat ini, namun mereka sudah mengepung Edward dalam kegelapan.
Di belakang penginapan itu adalah hutan yang gelap, sangat sulit untuk melihat.
“Edward! Mereka ada dimana-mana! Apa yang harus kita lakukan?!” Tanya Penny saat sudah berdiri membelakangi Edward.
“Aku lebih percaya diri ketika bertarung dengan tangan kosong dan hanya ditutupi sebuah handuk.” Edward langsung melompat kedepan dan bertarung dengan para assassins yang menggunakan belati.
“Dasar tukang pamer,” gumam Penny lalu berlari kearah berlawanan dari Edward dan mulai bertarung dalam kegelapan dengan tangan kosong melawan para assassins yang ada dihadapannya saat ini.
Edward dan Penny adalah prajurit elit yang dapat bertarung dalam kondisi apapun, dengan atau tanpa senjata, gelap atau terang.
Dalam kegelapan itu, beberapa kali terdengar pukulan-pukulan dari tangan Edward dan Penny yang mengenai tubuh para assassins itu.
__ADS_1
Dua orang melawan belasan assassins itu berlangsung dengan mudah.
Penny juga sudah berhasil melumpuhkan semua assassins di hadapannya.
Ketika Penny membalikkan badannya kearah Edward, terlihat kilatan belati yang terpancar sinar bulan ada di belakang Edward.
“Edward! Di belakangmu!” Teriak Penny khawatir pada Edward.
*Brak
Edward dengan kekuatan penuh melayangkan tangannya kearah belakangnya dan mengenai wajah assassins itu.
“Aku sudah tahu itu Nyonya,” jawab Edward dengan santai.
“Kukira kita akan kewalahan menghadapi mereka, ternyata mereka tidak begitu kuat.” Penny lalu menarik salah-satu assassin itu dan membawanya ke kamar mereka.
…
“Dave! Dibelakangmu!” Lucius melihat sebilah belati sedang diayunkan seorang assasin kearah leher Dave ketika mereka sedang bersenang-senang di bar.
Dave spontan menunduk dan berguling menjatuhkan dirinya kebawah setelah mendengarkan kata-kata Lucius.
Lucius langsung melompat dari kursinya kearah assasin itu.
*Bruk
Pukulan lompatan dari Lucius mendarat tepat di wajah assasin itu sehingga membuat assasin itu pingsan seketika.
Ketika Dave dan Lucius mendekat kearah assasin itu, tiba-tiba segerombolan kelompok assasin muncul dari atap dan melompat kearah mereka.
Mereka sangat senang bisa berlatih menggunakan tangan kosong.
“Mari bertaruh Dave. Yang kalah meneraktir yang menang minum sepuasnya!” Ucap Lucius pada Dave saat sudah berhadapan dengan segerombolan assasins didepannya.
“Aku akan melumpuhkan mereka lebih banyak darimu!” Dave langsung berlari ke barisan assassins itu dan mulai menghajar mereka.
“Sial dia bertindak lebih dulu!” Lucius segera maju kedepan dan bertempur dengan tangan kosong bersama dengan Dave.
Selama pertempuran, baik Dave atau Lucius mereka berdua sama-sama menebar pesona didalam bar kepada gadis-gadis yang sedang menyaksikan mereka bertarung.
…
Hutan Selatan Kota Calderok.
Guntar adalah seorang Orc, sehingga Guntar tidak dapat menyamar.
Edward memerintahkan Guntar untuk menunggu mereka di titik kumpul didalam Hutan Selatan dalam tiga hari kedepan.
Ketika Guntar bersiap untuk tidur didalam tenda, Guntar tiba-tiba mencium bau manusia muncul dari dalam kegelapan hutan di belakangnya.
Keadaan disana cukup gelap. Sinar bulan tidak dapat menembus karena lebatnya pepohonan di sekitar Guntar.
Guntar langsung berdiri dan bersiap untuk bertarung dalam kegelapan.
__ADS_1
Ketika Guntar sudah berdiri, Guntar mencium bau manusia sudah mengelilinginya dari segala arah.
Guntar langsung maju tanpa takut. Meskipun Guntar tidak dapat melihat dimana mereka, namun Guntar mengandalkan penciumannya untuk bertarung dengan mereka.
Pertarungan terjadi dengan singkat ketika Guntar berhasil menggertak mereka dengan membanting tubuh-tubuh itu dalam kegelapan.
Tak lama kemudian Guntar mencium bau tubuh manusia itu mulai menjauh darinya.
Namun sekarang Guntar memiliki seorang manusia yang masih terkapar di depannya.
Guntar langsung mengikat manusia itu diatas pohon lalu menunggu kedatangan Edward dan pasukannya tiba beberapa hari lagi.
…
Penginapan, Kota Calderok.
“Edward! Gunakan dulu pakaianmu! Dasar cabul!” Penny melihat Edward sedang menginterogasi salah satu assassin itu hanya dengan tubuh yang tertutup sebuah handuk.
Tanpa memerdulikan perkataan Penny, Edward mencoba fokus kepada assassin itu untuk menggali informasi.
“Kenapa kau menyerang kami?!” Bentak Edward sambil menyiksa assassin itu agar ia mau membuka mulutnya.
“Baik-baik, berhenti menyakitiku! Aku diperintahkan seseorang!”
“Siapa yang memerintahkanmu?!”
“Seorang pasukan dari Kerajaan Victoria!”
“Apa yang dia butuhkan?!”
“Dia meminta kami untuk membunuh kalian!”
"Bagaimana kalian dapat mengetahui keberadaan kami?!"
"Kami sedang melintas diatas lembah Gunung Seraphine, tanpa sengaja kami melihat kalian berpencar untuk memasuki kota ini. Jadi kami mengikuti kalian!"
Mendengar informasi itu, Edward seketika menyadari bahwa misi yang sedang mereka kerjakan sekarang sudah diketahui oleh Edmud.
Edward memberikan beberapa keping emas kepada assassin itu, dan menyuruhnya pergi untuk hidup sebagai warga yang baik.
Edward lalu mengalihkan pandangannya kearah Penny yang ternyata sudah tertidur lelap diatas kasur.
Siang hari mereka berperang melawan bandit, sorenya melakukan perjalanan panjang, dan malamnya harus bertarung dengan para assassins.
“Wanita ini,” gumam Edward lalu melepaskan kasut yang terpasang di kaki Penny, menyelimutinya, dan menatapnya beberapa saat.
“Penny, aku tahu bagaimana perasaanmu padaku. Terima kasih,” pikir Edward ketika menatap Penny yang sedang tidur.
Edward lalu merebahkan dirinya di sebuah karpet dibawah samping ranjang Penny dan mulai tidur.
Dalam tidurnya, Edward kembali terbangun sebagai Steph di masa depan.
..."I'd Like To Fight With Bare Hand"...
__ADS_1
...-KNIGHT LUCIUS "ORC SLAYER"-...