Throne Of Valor

Throne Of Valor
Battle Of Arendel


__ADS_3


Perbatasan Negara Archangle dengan Lembah kematian, Negeri Elf.


Langit pagi yang indah seketika menjadi menegangkan setelah pasukan Edmud tiba di depan Kota Arendel.


Mereka awalnya hanya berjumlah 140 orang, kini berlipat ganda menjadi ratusan ribu orang.


Ternyata Edmud melakukan ritual pemanggilan arwah untuk menghidupkan kembali para ksatria yang sudah tewas.


Namun tentu saja pasukan Elf lebih banyak sehingga Edward dan Ratu Aerin lebih percaya diri.


Kini Edward menaiki kudanya dan diikuti oleh 250.000 pasukan Elf yang ada di Kota Arendel, sisa yang lainnya sedang dalam perjalanan menuju Kota Arendel setelah Ratu Aerin memberikan perintah bantuan.



“Lucius! Arahkan pasukan elit kita untuk menunggu aba-aba dariku sebelum menyerang dari belakang!” teriak Edward sebelum Lucius memutar untuk bertemu pasukan elitnya.


“Kami menunggu aba-aba anda, Paduka!” jawab Lucius lalu memisahkan dirinya menjauh menuju lembah kematian.


Deru pasukan kuda yang mengikuti Edward benar-benar mengguncangkan tanah yang di taburi dengan rumput hijau itu.


Sayang sekali, daratan rumput hijau yang luas ini akan berubah menjadi medan pertempuran yang menghanguskan semuanya.


Sambil berkuda untuk menyusun formasi, Edward melihat Penny yang ada di sampingnya. Wajahnya terlihat murung namun galak.


“Wanita ini cemburu? Ah, menikahi banyak wanita juga tidak apa-apa jika aku menjadi Raja nanti,” gumam Edward dan kembali mengalihkan fokusnya kedepan.


Penny kini ada di samping Edward sebagai pengawalnya selama berperang, selain Jendral Sovriel.


Kini, didepan Edward terlihat Edmud dan beberapa ksatria yang menggunakan zirah besi yang terlihat begitu mengerikan, dengan aura gelap yang sangat kuat.


Edward mengangkat tangannya ke atas untuk memberhentikan laju kuda pasukannya.


Edward turun dari kudanya, dan berjalan sendirian ke arah pasukan Edmud. Begitu juga dengan Edmud yang berjalan kearah Edward.


*Slurp


Edmud mengaktifkan barrier yang terbuat dari sihir gelap untuk mencegah siapapun mengganggu, dan mencegah Edward untuk kabur.


“Edward, Kakak ku tercinta! Bagaimana kabarmu?”


*Wush


Edmud secepat angin melayangkan pedangnya ke arah Edward.


*Ting


Edward menangkis serangan secepat angin itu menggunakan Sword Of Light, dan membuat mereka berdua sama-sama terpental ke belakang.


“Berisik!!! Kau penyebab kematian Dave dan Ayahku! Aku takkan mengampunimu!”


Edward menghunuskan pedangnya keatas dan berlari dengan kecepatan penuh menuju Edmud.


*Bruk


Dengan kecepatan jauh melebihi Edward, Edmud menendang Edward hingga Edward terpental menyentuh barrier yang diciptakan Edmud.


“Kau masih lemah, Kakak. Biar aku tunjukkan cara bertarung yang sebenarnya.”


*Wush

__ADS_1


Kini Edmud berada di udara dengan pedang yang menuju tepat kearah tubuh Edward.


*Duar!!!


Tiba-tiba sambaran petir membelah barrier yang diciptakan Edmud, sehingga membuat Edmud terpental kearah pasukannya yang ada di belakang.


“Mustahil ada yang bisa membelah barrier sekuat ini!” gumam Edmud ketika menyadari barriernya sudah menghilang.


Edmud mengarahkan pandangannya jauh ke atas pohon besar milik Elf, disana ternyata ada Ratu Aerin yang mengangkat tongkatnya keatas.


“Jadi wanita itu yang mengeluarkannya? Menarik!” Edmud mulai kembali membuat barrier yang lebih kuat untuknya dan Edward bertarung.


*Bruk!!!


Saat Emdud membacakan mantera, tiba-tiba ada seorang Jendral Elf dengan kecepatan kilat menampar perutnya hingga terpental jauh ke dalam lembah kematian.


Melihat Edmud kini berada tepat di bawah pasukan elitnya, Edward mengacungkan telapak tangannya ke atas untuk memberi isyarat agar pasukannya mulai menyerang Edmud.


*Wush-wush-wush


Pasukan elit Edward melompat ke bawah untuk menghadapi Edmud seorang diri.


*Ting-ting


Terdengar ayunan pedang kekuatan penuh dari para pasukan elitnya sedang bertempur melawan Edmud.


Para ksatria kegelapan yang dimiliki Edmud kini mulai bergerak menyerang kearah pasukan elit Edward untuk menyelamatkan Edmud.


*Tut-tut!!!


Suara terompet besar di tiupkan oleh para Elf menggema begitu dahsyat, setelah Ratu Aerin memerintahkan mereka untuk menyerang.


Deru detakan kuda pasukan Elf kini menuju Edmud dan pasukannya.


Edward menaiki kuda bersama Penny untuk ikut bertempur.


Meskipun zirahnya penyok, Edward tanpa takut terus maju ke depan.


*Wush


Ditengah kerumunan pasukan kedua belah pihak, Edmud tiba-tiba berubah menjadi seekor Cerberus (Anjing berkepala tiga) setinggi 15 meter.


*Grrrr!!!


Melihat monster yang mengerikan itu, para pasukan Elf seketika gemetar.


Cerberus itu mulai menumpas habis apapun yang ada di depannya, entah itu sekutu ataupun musuhnya. Ia tidak perduli dengan siapapun.


Menyadari pasukan Elf-nya mulai kewalahan, Edward meminta mereka semua untuk mundur menjauh, dan menyerahkan Cerberus itu padanya dan pasukan elitnya.


“Mundur!!!”


Mendengar perintah dari Edward, semua pasukan Elf yang ada di belakang perlahan mundur untuk menghindari amukan Cerberus itu.


Edward melihat Lucius sedang melompat di udara untuk menancapkan pedangnya di kepala Cerberus itu, namun dengan mudahnya Cerberus itu menapakkan cakarnya di tubuh Lucius sehingga Lucius terpental ke arah Edward.


*Hap!


Tubuh Lucius yang terlindungi zirah besi yang berat kini berada dalam dekapan Edward. Meski lontaran tubuh Lucius sempat menggoyahkan kuda-kudanya, namun Edward berhasil menangkap tubuh Lucius.


“Lucius! Buat barrier petir! Kita akan melawannya di dalam barriermu!

__ADS_1


Kerahkan pasukan elit kita untuk menghadang para ksatria kegelapan.


Aku, kau, dan Penny akan menghadapi Cerberus itu!”


Mendengar perintah Edward, Lucius langsung mengirimkan telepati kepada semua pasukan elit Edward untuk menahan ksatria kegelapan.


Edward, Penny, dan Lucius berlari menuju Cerberus itu untuk menghadapinya.


*Duar-duar-duar!!!


Kini barrier petir telah mengelilingi mereka bertiga dengan Cerberus itu di dalamnya.


Ratu Aerin menyaksikan dari kejauhan bahwa suaminya, Penny, dan Lucius akan bertaruh nyawa melawan Cerberus yang mengerikan itu.


*Wush



Ratu Aerin menaiki Eagle Spartan miliknya menuju barrier itu.


Ia tidak akan membiarkan suaminya, Edward, untuk mati di dalam barrier itu sehingga membatalkan keinginannya untuk merasakan terong yang luar biasa milik suaminya.


Kini dengan kekuatan yang ada di cincinnya dan cincin milik Edward jika disatukan, mereka bisa membuat kekuatan magis yang sangat dahsyat.


“Gawat! Ada sesuatu yang menerobos barrier petirku! Petir ini hampir mustahil untuk ditembus!” gumam Lucius dalam hatinya setelah merasakan ada kekuatan yang besar menembus dindingnya.


“Lucius! Penny! Formasi Serigala!” teriak Edward dan mulai mengintari Cerberus itu untuk mencari titik lemahnya, selagi Lucius dan Penny mengalihkan perhatian Cerberus itu.


*Boom!!!


Ratu Aerin membantu Edward dengan menghujani area di dalam barrier itu dengan api, ketika sedang berada di atas Eagle Spartan miliknya.


Lucius melihat keatasnya, dan begitu kaget saat melihat Ratu Aerin-lah yang menembus barrier miliknya.


“Api?!” gumam Edward lalu melompat keatas Cerberus itu sambil mengarahkan pedangnya tepat ke lambung Cerberus itu.


*Srek


Pedang cahaya milik Edward berhasil menembus titik lemah, yaitu lambung dari Cerberus itu.


Ketika pedang cahaya milik Edward menancap di lambung monster itu, Edward merasakan ledakan kekuatan gelap muncul dari tubuh monster itu.


Lucius melihat tubuh Cerberus itu mulai bertransformasi menjadi lebih mengerikan, namun nampaknya dalam proses itu akan ada ledakan api yang besar.


“Ini akan meledakkan api kegelapan! Edward! Lari!” teriak Lucius lalu mulai melindungi tubuhnya dan tubuh Penny dengan perisai magis.



*Duar!!!


Ledakan api yang begitu dahsyat muncul dari monster itu. Sayangnya Lucius melihat Edward tidak sempat menghindar.


Ratu Aerin merasakan keberadaan Edward di bawah, ia lalu menukik ke bawah dengan Eagle Spartan miliknya untuk menyelamatkan Edward.


“Edward!!!” teriak Ratu Aerin saat melihat suaminya terpental di tengah ledakan dahsyat itu.


Karena Ratu Aerin dan Edward sudah terikat janji suci milik Elf, maka Ratu Aerin dapat berbicara kapanpun pada Edward, begitu juga dengan Edward melalui cincin yang ada di jari manis mereka.


Sambil menuju kearah Edward, Ratu Aerin menangis dan bergumam dalam hatinya mengatakan, “aku belum sempat merasakan terong raksasa milikmu, Edward!”


“Aku dapat mendengar apa yang kau katakan, dasar mesum!” balas Edward melalui komunikasi antar-cincin yang ada di tangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2