Throne Of Valor

Throne Of Valor
The Lightning Storm


__ADS_3


Malam yang tenang, angin yang sejuk, ditambah dengan rembulan yang menyinari seluruh daratan Kota Arendel yang megah.


Edward memandang ke wajah Ratu Aerin yang ada di pundaknya saat ini, mendekap Ratu Aerin dalam pelukan hangatnya, dan mulai tertidur dalam keadaan mendekap tubuh ramping Ratu Aerin.


Anehnya, saat ini Edward tidak merasa ia akan menembus waktu ke masa depan.


Entah apa yang terjadi pada Steph di masa depan, namun Edward tidak merasa terhubung pada Steph.



Pagi yang hangat menyinari daratan Kerajaan Archangle yang dipenuhi dengan lautan bunga tulip, pohon-pohon emas milik Elf, dan bentangan gunung yang meluas hingga ratusan ribu kilometer ke barat dan selatan.


Saat mulai tersadar, Edward merasakan ada sesuatu yang bergerak maju dan mundur di atas tubuhnya.


Perlahan, Edward membuka matanya untuk melihat apa yang menindihnya.


“Ratu Aerin?! Apa … apa yang kau lakukan?!”


“Diamlah dan nikmati! Aku sudah lama mendambakan ini!”



900.000 pasukan Elf yang diberikan oleh Ratu Aerin pada Edward kini mulai berkumpul dari seluruh penjuru 2 Negara Elf, sehingga mereka akan siap kapan saja jika Edward memanggil mereka.


Seperti rencana mereka sebelumnya, Ratu Aerin akan menyamar untuk bisa pergi ke luar Istana Parmel di Kota Arendel.


Rencana penyamaran mereka berhasil setelah Ratu Aerin menyamar menjadi seorang pria, sehingga ia diperbolehkan keluar bersama Edward.


Kini mereka sudah berada diluar tetitori Negara Archangle dan mulai memasuki teritori Negara Empress.


Siang semakin terik, dan jalan-jalan setapak yang dipenuhi bunga-bunga tulip bertebaran di sisi kiri dan kanan mereka.


Selama perjalanan menaiki kudanya, Ratu Aerin sungguh lengket pada tubuh kekar Edward sehingga membuat mood Penny dan Lucius menjadi buruk.


Edward berbisik pada Ratu Aerin berkata, “kenapa kau melakukan itu padaku tadi pagi? Aku belum siap!”


Mendengar bisikan Edward, Ratu Aerin dengan polosnya menjawab, “aku sudah tidak dapat menahan diriku, Edward. Saat aku terbangun, aku melihat tubuh kekarmu dan kedua lenganmu mengelilingi seluruh tubuhku sehingga membuatku menggeliat kepanasan.”


“Tapi aku katakan sebelumnya nanti akan kuberikan ….”


“Sttt, aku benar-benar merasa puas sudah melakukannya denganmu, suamiku. Malam ini aku minta lagi, ya?” goda Ratu Aerin sambil menggelitik leher Edward.


“Tidak ….” Kata-kata Edward terhenti dipotong oleh Ratu Aerin.


“Edward! Ada pergerakan yang begitu besar menanti di depan! Mereka menuju kearah kita!” bisik Ratu Aerin dalam komunikasi rahasianya pada Edward.


Ratu Aerin dan Kapten Lucius yang memiliki sihir sensorik merasakan ada pergerakan besar beberapa kilometer di depan mereka, dan saat ini sedang melaju menuju kearah mereka.


Dari depan mereka saat ini ada satu base militer milik Kerajaan Empress, yang terdapat di lembah gunung-gunung berbatu.


“Pasukan! Bersiaplah!” teriak Kapten Lucius sambil menghunuskan pedangnya keatas menandakan mereka dalam mode perang.

__ADS_1


Penny dan Arthemis yang memimpin tim support langsung mundur ke barisan paling belakang.


Kapten Lucius, Edward, dan Guntar akan berdiri memimpin beberapa pasukan elit tipe rusher di depan karena mereka akan menembus barisan musuh.


Ratu Aerin dengan teknik sihirnya akan membantu menyerang sekaligus bertahan di posisi tengah bersama beberapa Orc dan pasukan elit.


Formasi ini sudah Edward atur sebelumnya agar dalam menyerang, mereka memiliki pola yang dapat saling mendukung.


Didepan benteng itu ada ribuan pasukan musuh berkuda menuju kearah mereka yang sepertinya sudah mengetahui kedatangan Edward dan pasukannya.


Benar saja sesuai dugaan Lucius, musuh mereka mengangkat bendera Kerjaan Empress.


*Wush


Sebuah batu berukuran besar tiba-tiba dilontarkan ke arah Edward dan pasukannya dari sebuah benteng yang mulai terlihat dari kejauhan.


“Kapten Lucius! Barrier!”


*Kling!!!



Sebuah barrier petir kini mengelilingi Edward dan pasukannya.


Namun Ratu Aerin menyadari bahwa batu yang dilontarkan itu dilapisi dengan kekuatan magis, sehingga barrier yang Kapten Lucius ciptakan mungkin saja dapat ditembus.


“Aku akan memperkuat ini!” Ratu Aerin mengangkat tongkat nya keatas.


*Duar!!!



*Bruk


Ketika mengenai barrier luar yang diciptakan Ratu Aerin, batu besar itu dengan mudah hancur berkeping-keping.


Namun Ratu Aerin melihat beberapa batu besar lagi yang dilontarkan ke arah mereka dalam jumlah yang banyak.


Menyadari barriernya mungkin takkan sanggup menahan serangan sebanyak itu, Ratu Aerin langsung memanggil Eagle Spartan miliknya untuk menghancurkan batu-batu itu secara langsung sebelum batu itu menghantam barriernya.


“Erenel!” teriak Ratu Aerin dalam cincinnya untuk memanggil Eagle Spartan miliknya.


*Wush


Sebuah Elang berzirah emas muncul dari belakang mereka menuju Ratu Aerin.


“Edward! Aku akan menahan batu-batu besar itu! Kalian majulah!” ucap Ratu Aerin pada cincinnya saat mulai terbang bersama Eagle Spartan miliknya.


“Baiklah. Berhati-hatilah, istriku. Jika kau kembali padaku tanpa terluka, malam ini aku berjanji akan memuaskanmu lagi!”


“Jika aku terluka?”


“Tidak ku izinkan kau untuk terluka!” tutup Edward dengan tegas pada istrinya.

__ADS_1


“Cih, dasar suamiku yang menyebalkan!” Ratu Aerin melaju dengan kecepatan tinggi diatas Eagle Spartan nya sambil memusatkan energi pada ujung tongkatnya, menunggu untuk melepaskan petir dengan kekuatan penghancur yang masif pada batu-batu itu dalam sekali serangan.


“Pasukan penghancur barisan, maju!!!” teriak Edward dengan lantang dan mulai mengiringi para ksatria elitnya untuk maju ke depan diikuti oleh barrier Kapten Lucius yang bergerak sambil melindungi mereka, dan Guntar bersama para Orc-nya.


Meskipun musuh mereka saat ini dilindungi oleh benteng berbatu, Edward sama sekali tidak takut karena ia memimpin pasukan terbaik, ditambah dengan sorcerers terbaik, dan seorang Ratu Elf yang begitu hebat dalam pertempuran langsung maupun tidak langsung.


*Ting-ting


Suara hentakan barrier petir milik Kapten Lucius ketika melindungi mereka dari ribuan anak panah.


Selagi Edward dan pasukan darat melaju kearah benteng musuh, Ratu Aerin saat ini sedang membidik gugusan batu-batu yang terbang kearahnya dengan tongkat sihirnya.


“Ini akan siap dalam 3 … 2 … 1!”


*Grrrr!!!


*Duar!!!



Ratu Aerin melepaskan tembakan petir yang luar biasa masif kearah bebatuan yang sedang terbang kearahnya itu.


Dengan mudah, tembakan petir masif itu menghancurkan batu-batu itu hingga berkeping-keping.


Tidak hanya itu, petir masif yang ditembakkan Ratu Aerin itu terus melesat jauh ke benteng musuh yang menembakkan batu-batu itu.


Sehingga dalam hitungan detik, terjadilah sebuah …


*Grrrr!!!


*Duarrrr!!!!



Ledakan masif.


Ledakan masif itu terjadi karena permukaan tanah tempat benteng itu berdiri menjadi penahan dari lesatan petir yang dilepaskan Ratu Aerin.


“Ups! Edward! Aku meledakkan mereka semua. Maafkan aku, hehe!” gumam Ratu Aerin sambil menukik ke bawah mendatangi Edward.


Edward, Kapten Lucius, dan seluruh pasukan yang melihat ledakan masif itu seketika terdiam karena terbalak kaget.


“P … paduka! Hanya dengan satu serangan, Ratu Aerin berhasil meledakkan benteng batu?!” ucap Lucius dengan bibir yang bergetar berusaha menangkap apa yang terjadi di depan mereka saat ini.


“Mus … mustahil!” jawab Edward dengan mulut yang sediki terbuka dalam keadaan terdiam.


*Cup


Ciuman dari Ratu Aerin langsung mendarat di bibir Edward saat Ratu Aerin baru saja turun dari Eagle Spartannya.


“Suamiku, aku hebat kan? Ayo berikan aku semuanya malam ini!” bisik Ratu Aerin dalam hatinya pada Edward dari komunikasi antar cincin dengan kedua bibir mereka yang masih menempel basah.


“H … hah?”

__ADS_1


__ADS_2