Throne Of Valor

Throne Of Valor
Kingdom Of Archangle


__ADS_3


Teritori Liar, Gunung Grock.


Kabut di Gunung Grock perlahan memudar, dan digantikan dengan cahaya matahari yang hangat.


Kapten Jones dan Ulric berhasil menghadang 3 raksasa itu, namun pertarungan hebat itu sepertinya harus merengut nyawa Ulric.


Kapten Jones segera menuruni gunung untuk melihat bagaimana kondisi Ulric setelah terjatuh dari ketinggian 1000 meter dari Gunung Grock.


Ulric adalah pahlawan pemberani yang dulunya hanyalah seorang yatim piatu, sehari-hari Ulric selalu mencuri, menjahili, dan berusaha membuat orang lain melihat kehadirannya.


Hidupnya dipenuhi dengan kesendirian, hingga suatu hari Ulric justru menjahili Kapten Jones dengan melepaskan pelana kudanya sehingga ketika Kapten Jones menaiki kudanya, Kapten Jones justru terjatuh didepan Kapten Lucius dan Edward saat hendak berangkat berperang.


Karena hampir setiap Kapten Jones kembali ke kota dan dijahili oleh Ulric, akhirnya Kapten Jones menangkapnya dan membawanya ke barak untuk dilatih menjadi militer elit.


Tak menunggu lama, waktu berlangsung selama 10 tahun sehingga Ulric saat itu baru diangkat menjadi prajurit elit setelah berhasil menumpas 50 Orc seorang diri.


Ya, gelar prajurit elit bukanlah hal yang didapatkan dengan mudah. Ada standar khusus dan ketat untuk bisa menyandang gelar itu.


Kekuatan dan daya tahan tubuh seorang pasukan elit dapat disamakan dengan 100 orang prajurit biasa.


Setelah menempuh perjalanan panjang menuruni Gunung Grock, akhirnya Kapten Jones tiba di lokasi persis Ulric terjatuh.


Ketika Kapten Jones melihat ke bebatuan yang tajam itu, tak ada peluang bagi Ulric untuk selamat.


Benar saja, Kapten Jones melihat Ulric tergeletak tidak bernyawa di celah-celah bebatuan tajam.


Hari itu, Kapten Jones memanggil semua ratusan pasukan elitnya untuk bersama-sama mengubur Ulric di kaki Gunung Grock.



Setelah dua hari menyusuri Death Valley, Edward dan pasukannya tiba di Kota Arendel.


Teritori Arendel bukanlah milik Kerajaan Empress ataupun Kerajaan Victoria, Kota Arendel adalah milik Kerajaan Archangle, Negeri Para Elf.


Dari kejauhan, Edward melihat sebuah pohon emas raksasa tepat di tengah Kota Arendel, pohon itu benar-benar besar hingga menyentuh awan.


“Lucius, apa yang kau ketahui tentang Kerajaan Archangle?” tanya Edward saat mulai mendirikan perkemahan di ujung lembah Death Valley bersama para pasukannya.


“Mereka membenci manusia, Paduka. Tak ada sejarah pertempuran antara Bangsa Elf dengan Bangsa Manusia selama ini, namun pastinya kita takkan disambut dengan ramah disana.”


“Menurutmu, apakah kita bisa masuk ke sana? Kita hanya perlu membeli perbekalan saja.”


“Bisa saja, Paduka. Namun tentunya kita harus berpencar lagi agar mengurangi kecurigaan mereka dan mengira kita hanyalah pelancong yang datang ke sana.”


Ketika sedang mengobrol bersama Kapten Lucius, Edward tiba-tiba mendengar ada pertempuran terjadi di jalan setapak yang berada tidak jauh dari lembah kematian.


“Lucius dan Penny, ikut denganku!” Edward bergegas melihat dari balik ketinggian untuk memeriksa apa yang terjadi disana.


Saat mereka sudah tiba dan bersembunyi dari balik semak-semak, mereka melihat ada pasukan bandit Orc yang sedang bertarung melawan para Elf.


Namun sepertinya para Elf itu sedang melindungi orang yang ada di dalam kereta kuda.

__ADS_1


Jumlah pasukan Orc itu lebih dari satu pleton melawan beberapa Elf yang sepertinya tidak terlatih untuk berperang.


Para Elf terlihat kewalahan karena kekuatan yang dimiliki para bandit Orc itu begitu kuat.


Insting pahlawan Edward seketika membuatnya ingin menyelamatkan para Elf itu, meskipun mereka bukanlah sekutu atau musuh.


“Penny, Lucius, kita akan turun kesana untuk membantu para Elf itu. Mereka kalah jumlah!” perintah Edward dan langsung melompat kebawah.


*Wush


Mereka bertiga melompat bersama, lalu membagi arah penyerangan.


Edward menembus barisan tengah, Penny dari samping kiri dan Lucius dari samping kanan.


Edward menghunuskan pedangnya keatas dan berlari dengan kecepatan tinggi kearah para Orc itu.


Orc tidak mudah dikalahkan, mereka memiliki kekuatan yang luar biasa karena genetik dan pelatihan yang berat.


*Srek


Ayunan pedang Edward ketika melompat ke tengah barisan itu berhasil membelah seorang Orc hingga terbelah menjadi 2.


*Wush


Lagi-lagi Edward mengayunkan pedangnya, namun angin dari ayunan pedang Edward yang berhasil dihindari para Orc itu membelah sebuah pohon besar di belakang mereka.


Para Orc yang melihat ayunan pedang Edward seketika gemetar, namun sudah terlambat untuk mundur karena mereka sudah dikepung oleh 3 orang pasukan elit terbaik.


*Srek-srek


Penny adalah seorang sharpshooter dan assassins terbaik dari Kerajaan Victoria


Di tengah barisan, ada seorang Orc setinggi 3 meter sedang bertarung dengan Lucius.


“Aku pernah membantai satu kerajaan yang berisikan Orc sepertimu,” sapa Lucius saat melompat dari kereta kuda itu kearah Orc setinggi 3 meter didepannya.


*Hap


Leher Lucius dengan mudah ditangkap oleh Orc itu, seketika itu juga Orc itu mencekik leher Lucius.


Namun anehnya, Lucius justru tersenyum menatap Orc itu, “singkirkan tangan kotormu dari tubuhku!”


*Duar!!!


Sambaran petir dari langit yang gelap diatas mereka tiba-tiba menyambar Orc yang sedang mencekiknya.


Semua pasukan Orc yang melihat itu langsung berlarian menjauh masuk kedalam hutan.


“Cih! Mau kabur begitu saja? Rasakan ini!” Lucius mengangkat tangannya ke langit dan mengarahkan jari telunjuknya kedalam hutan tempat para Orc itu berlari.


*Duar-duar-duar!


Berkali-kali petir menyambar dengan menggelegar di hutan itu sehingga tidak menyisakan satupun dari mereka untuk hidup.

__ADS_1


“Hei Kapten, bukankah kau tidak suka bertarung dengan kekuatan magis? Tidak kusangka kau akan menggunakannya juga,” ledek Penny saat melihat kekuatan Lucius yang sebenarnya.


“Lama tidak menggunakan ini, jariku menjadi kaku. Sesekali menggunakan objek untuk berlatih.”


Sementara itu, Edward berusaha membantu para Elf yang masih selamat dan menutup sementara luka-luka mereka dengan kain.


“Tuan, terima kasih telah menyelamatkan kami,” ucap salah satu prajurit Elf yang terluka ringan sambil merebahkan dirinya di kereta kuda.


“Aku hanya kebetulan lewat dan menemukan kejahatan terjadi disini,” jawab Edward dengan sungkan. Edward tahu jika para Elf ini tidak menyukai manusia, namun tetap saja mereka bukanlah musuh yang membutuhkan bantuan.


“Sovriel, apakah sudah aman?” Edward mendengar suara seorang wanita dari dalam kereta kuda itu berbicara pada salah satu pasukannya yang baru saja berbicara pada Edward.


“Yang Mulia Putri Aerin, semua sudah aman berkat bantuan 3 orang manusia.”


“Apa?! Manusia?! Kenapa mereka bisa berada disini?!” Setelah mendengar manusia, Putri Aerin langsung keluar dari dalam kereta kudanya.


Saat Putri Aerin keluar dari kereta kudanya, ia melihat sosok prajurit gagah berani dengan zirah tebal, disertai dengan wajah yang begitu menawan sedang berdiri didepannya.


“Bagaimana Ras Manusia dapat setampan ini?! Tak ada satupun Elf di Kerajaan Archangle yang begitu gagah seperti ini!” pikir Putri Aerin sambil berjalan keluar dari kereta kudanya.


“Apa kalian yang sudah membantu kami?” tanya Putri Aerin memandang Edward dengan tatapan merendahkan namun terkagum dengan kegagahan Edward.


“Tidak perlu dipikirkan. Kami hanya kebetulan lewat saja. Urusan kami disini sudah selesai, selamat tinggal.” Edward membalikkan badannya sambil memendam kekesalan saat melihat tatapan wanita yang dipanggil Putri itu memandangnnya dengan rendah, seperti sampah.


“Tunggu! Ambilah ini.” Putri Aerin melemparkan kantung berisi emas Elf hingga mengenai kepala bagian belakang Edward.


Melihat Pangeran mereka dihina seperti itu, Lucius mengamuk hingga membuat awan diatas mereka menjadi gelap diiringi dengan petir yang menyambar-nyambar di sekeliling mereka.


Merasa kepalanya dilempar dengan kantong emas, Edward berbalik mendatangi Putri itu dan mendekapnya di dinding kereta kuda.


Wajah mereka berdua berdekatan, Edward seperti akan menciumnya.


Putri Aerin yang sudah terpesona dengan kegagahan Edward seketika bersiap menerima apapun yang akan dilakukan Edward pada tubuhnya.


“Jangan sekali-kali merendahkan manusia. Kami tidak ingin mencari masalah disini,” bisik Edward dengan bibir yang berada tepat disamping telinga lonjong Putri Aerin.


Saat Edward ingin melepaskan dekapannya dari tubuh Putri Aerin, Putri Aerin menahan wajah Edward dan langsung mencium bibirnya.


*Hap


Edward merasakan bibir Putri Aerin bersentuhan dengan bibirnya, dan bibir Putri Aerin terasa begitu manis seperti sedang mencicipi madu.


Semua orang disana melihat mereka berdua berciuman, termasuk Penny dan Lucius yang sama-sama mendambakan berciuman dengan Edward.


Putri Aerin melepaskan ciumannya dan berbisik di telinga Edward mengatakan, “aku suka padamu. Kau harus menjadi suamiku!”


“Suami? Maaf aku tidak berminat menjadi pasangan wanita yang sombong sepertimu!”


Edward mengangkat tubuhnya dari posisi yang begitu nyaman dan membalikkan badannya dari Putri Aerin.


Lucius sudah tahu tentang kutukan ciuman dari para Elf jika menyentuh bibir seorang manusia, maka selama-lamanya manusia yang terkena ciuman itu akan kembali kepada Elf yang menciumnya, apapun yang terjadi.


...Putri Aerin Parmel...

__ADS_1



credits : Arstation, LineAge


__ADS_2