Throne Of Valor

Throne Of Valor
Princess Aerin Parmel


__ADS_3


Parmel Castle, Arendel City, Kingdom of Archangle.


Saat sedang berada di ruang ganti kerajaan, Edward melihat Anthony tidak memiliki telinga yang runcing seperti Elf pada umumnya.


“Anthony, apa kau seorang manusia?” tanya Edward saat Anthony membantunya memasangkan Jubah Kebesaran Kerajaan Archangle.


“Bukan, Tuan.”


“Lalu kau siapa?”


Anthony membawa Edward masuk ke dalam lemari untuk memberitahukan rahasia aslinya, itu karena Anthony merupakan ras yang tidak jauh berbeda dari ras Edward, jadi membeberkannya pada Edward bukanlah sesuatu yang tabu.


“Aku bukan berasal dari dunia ini. Sisa yang lainnya akan kuberitahu lain kali, Tuan. Saat ini tugasku adalah pelayan di Kerajaan Archangle agar aku bisa terus hidup. Mereka memiliki makanan yang sama dengan yang kami makan di tempat asalku.”


Sementara Anthony mempersiapkan Edward untuk menikah dengan Putri Aerin besok pagi, Penny yang sebelumnya ditinggal Edward saat sedang menggeliat kini berusaha membangunkan Lucius untuk menyelidiki keberadaan Edward.


“Hei, Kapten! Bangunlah, ada yang harus kita selidiki!” bisik Penny sambil mengguncangkan tubuh Lucius didalam tendanya.


Saat tertidur, Kapten Lucius memang terlihat begitu feminim. Ia melepaskan semua tambalan yang menutupi dadanya sehingga dada Lucius terpampang ketika ia sedang tidur.


Penny memegang dada Kapten Lucius yang tertutupi sehelai pakaian linen ketika berusaha membangunkannya. Anehnya, di dada Lucius terasa begitu kenyal dan seperti ada buah yang bulat disana.


Berhubung Kapten Lucius belum bangun, Penny perlahan-lahan membuka pakaian Kapten Lucius untuk melihat apa yang dipegangnya barusan.


“Tahan disana!” Lucius reflek bangun dan menghadang tangan Penny yang berusaha membuka pakaiannya.


“Kapten!!! Apa kau ….” Kata-kata Penny terhenti karena Lucius langsung mendekap mulut Penny dengan kedua tangannya.


“Bukan! Ini hanya sebuah … benjolan! Ada apa kau malam-malam begini berani masuk ke tendaku dan membuka pakaianku?!”


“Edward, dia menyelinap pergi secara diam-diam!”


“Apa?! Itu pasti efek dari ciuman Elf wanita sialan itu! Dia akan terkurung disana selamanya bersama Elf itu dan akan melupakan tugas utamanya!” Lucius mengepalkan tangannya dengan urat kening yang berdenyutan.


“Lalu bagaimana cara kita melepaskan kutukannya?”


“Hanya ada 1 cara … tapi itu cukup … mesum,” ucap Lucius dengan pipi yang seketika memerah sambil menundukkan kepalanya kebawah.


“Sudahlah! Ayo, nanti kujelaskan!” lanjut Lucius sambil bersiap dan mengusir Penny keluar tendanya.


Setelah melakukan persiapan dengan menambal kembali dadanya, Lucius keluar dari tendanya dan memberi perintah kepada Kopral Vernon untuk mengambil alih komando selagi mereka pergi.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju Kota Arendel, Penny begitu penasaran dengan cara menghilangkan kutukan yang disebutkan oleh Kapten Lucius.


“Kapten … bagaimana cara menghilangkan kutukan itu?” tanya Penny sambil berlari menyusuri hutan Elf dalam gelapnya malam.


“Itu … sudahlah! Jangan tanyakan hal kotor itu lagi!” jawab Lucius dengan pipinya yang lagi-lagi memerah.


Ketika sudah berjarak cukup dekat dengan gerbang Kota Arendel dari balik hutan Elf, Lucius mengendus adanya tembok magis yang melindungi kota itu.


Untungnya Lucius adalah ahli sorcerers yang hebat, jadi ia bisa mengeluarkan spell untuk menggunakan penyamaran pada tubuhnya dan tubuh Penny.


“Penny, mendekatlah dan tutup matamu!” Lucius membacakan sebuah spell sambil memegang kepala Penny.


*Slurp


Tubuh Penny dan Lucius kini tertutupi aura biru yang mampu menembus tembok magis itu.


Mereka berdua mencari jalan masuk dan menelusuri setiap bagian dari tembok-tembok besar itu.


“Kapten! Ventilasi!”



Putri Aerin kini sedang berguling-guling di kasurnya dan terbayang-bayang tubuh Edward yang begitu sempurna, ditambah wajah yang mempesona … dan ukuran ‘sesuatu’ milik Edward bahkan sebesar dan hampir sepajang lengannya.


“Kyaa!”


Saat Putri Aerin memukul-mukulkan tangannya di kasurnya sambil membayangkan dia dan Edward akan menikah dan melakukan itu, Edward secara tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Putri Aerin yang tidak tertutup.


Edward melihat semua tingkah konyol Putri Aerin didepannya begitu memalukan.


“Ehm!” sapa Edward memandang tubuh Putri Aerin yang begitu ramping terbaring diatas kasurnya.


Mendengar ada dengkuran, Putri Aerin seketika itu juga memandang kearah pintu masuknya.


“Kyaa! Dasar mesum!”


*Wush


Sebuah angin kencang yang dikeluarkan Putri Aerin secara panik, membanting tubuh Edward hingga terpental sampai ujung lorong Kastil Parmel.


“Tunggu! Wajahnya?! Oh astaga itu calon suamiku!” gumam Putri Aerin dengan panik lalu segera menyusul Edward yang terpental cukup jauh di lorong depan kamarnya.


“Oh maafkan aku, aku sungguh tidak menyangka bahwa itu adalah dirimu.” Putri Aerin membantu Edward berdiri, dan membawanya masuk ke kamarnya.

__ADS_1


“Kita belum berkenalan sebelumnya, tapi sudah ingin menikah,” sapa Edward ketika dibantu Putri Aerin berjalan ke kamarnya.


“Aku Putri Kerajaan Archangle, Aerin Parmel. Dan kau?”


“Putra Mahkota Kerajaan Victoria, Pangeran Edward Collins.”


“Pantas saja dia begitu menawan, ternyata seorang bangsawan,” gumam Putri Aerin sambil memandang wajah Edward dari sampingnya.



“Kerajaanku mengalami kudeta. Ayaku, Raja Julien dibunuh oleh adikku, Edmud.”


“Lalu kenapa kau lari ke Negeri Elf?”


“Kami ingin mengumpulkan armada pasukan untuk melawan balik adikku.”


Saat ini Putri Aerin dan Edward baru saja memasuki kamar Aerin.


Aerin membaringkan Edward di kasurnya, mengambil kain yang sudah dibalut dengan air dingin, lalu menempelkan itu di punggung Edward.


Ketika Aerin melihat punggung Edward, disana begitu banyak bekas luka-luka.


“Putri Aerin … aku sengaja kesini untuk mencarimu. Aku terus-menerus memikirkanmu sepanjang malam. Entah apa yang terjadi pada diriku, namun itu bergejolak sangat gila dalam tubuhku,” lanjut Edward ketika Putri Aerin mulai mengompres luka yang disebabkannya di punggung Edward.


“Putri? Kenapa kau diam? Ceritakan tentang dirimu padaku, aku ingin mengenalmu lebih dalam.”


“Setelah kau menikah denganku, aku akan menjadi seorang Ratu yang memimpin Negara Archangle dan Negara Mirendel.


Ayahku, Raja Aegis Parmel saat ini sedang sekarat dan memintaku sebagai satu-satunya keturunan yang ia miliki untuk menggantikannya. Namun peraturan Kerajaan Archangle mengharuskan Raja atau Ratu yang memimpin sudah menikah.


Itulah kenapa aku berkeliling dua Negara Elf untuk mencari suami yang cocok denganku, setelah satu bulan berkelana, aku tidak menemukan siapapun yang cocok.


Namun saat aku dalam perjalanan kembali, pasukanku yang kelelahan di serang oleh bandit Orc. Tidak kusangka jodohku datang dan membelaku.


Menurut ramalan yang diberikan Penasehat Kerajaan, jodohku akan mendekapku dengan tiba-tiba seperti yang kau lakukan sebelumnya. Dan untuk memastikan ramalannya benar, aku harus mendaratkan ciumanku di bibirnya, apabila dia datang padaku kurang dari 24 jam maka dia adalah benar-benar jodohku, seperti yang kau lakukan.”


Putri Aerin dengan lembut menempelkan telapak tangannya di punggung Edward, dan seketika itu juga semua bekas luka yang ada di punggung Edward menghilang.


Namun tiba-tiba air mata Putri Aerin mulai bercucuran, dalam hatinya ia mengatakan, “kutukan ciuman yang kuberikan padamu hanyalah untuk memikat tubuhmu. Kutukan itu tidak mampu menembus hingga ke dalam perasaanmu. Jadi kau akan menikahiku dan tubuhmu menjadi milikku, sedangkan hatimu tidak.”


...Aerin Parmel, Live Figure...


__ADS_1


__ADS_2