Throne Of Valor

Throne Of Valor
Fallen : Edward's Death


__ADS_3


... "Even I Should Die, I Will Never Give Up!"...


Edward mengangkat tangannya keatas dan memanggil Sword Of Light miliknya.


“Sword Of Light, aku memanggilmu!”


*Slurp


Edward menatap pedang Sword Of Light di tangannya dengan aneh, karena Sword Of Light itu tiba-tiba berubah menjadi kecil, sekecil belati yang digunakkan Assassins.


“Apa?!!!”


*Krak!


Pedang Ultima milik Edward yang tertancap di mulut sang Naga kini mulai retak.


“Sial!” gumam Edward dalam hatinya lalu berusaha melompat keluar.


Sayangnya sebelum Edward melompat keluar, mulut sang Naga itu tertutup setelah pedang Ultima yang menahan mulutnya hancur lebur.


*Bruk!


Suara tekanan yang luar biasa kini menahan Edward di dalam mulut sang Naga. Seketika Edward terhimpit di dalam mulut itu.


“Jangan meremehkanku!!!” teriak Edward sambil berusaha berdiri dengan kedua tangannya yang membuka mulut sang Naga.


“Hiya!!!”


Perlahan-lahan mulut Naga itu terbuka oleh Edward yang mengerahkan seluruh kekuatannya, bahkan zirah yang ada di pundak dan lengannya bengkok karena otot-otot tangan Edward yang mekar.


Ketika mulut Naga itu berhasil dibuka, Edward memfokuskan energinya pada Sword Of Light yang ada di tangan kanan nya sehingga perlahan-lahan langit menjadi gelap gulita karena kekuatan dari Sword Of Light yang bangkit.


*Duar


Sebuah petir yang dahsyat menyambar Sword Of Light yang ada di dalam mulut Naga itu, tepat di tangan kanan Edward sehingga mulut Naga itu kembali tertutup.


*Blurp-blurp


Kini Sword Of Light tingkat ke tiga berhasil terbentuk dengan sempurna.


Terlihat dari dalam mulut Naga yang menutup Edward itu keluar cahaya yang sangat menyilaukan.


*Srek


Seluruh kepala Naga itu langsung terbelah menjadi ratusan potongan, akibat dari ayunan Sword Of Light di tangan Edward.


Edward langsung melompat keluar, dan seluruh prajurit Dwarf yang melihatnya tercengang dengan kekuatan pedang itu.


Bahkan Sword Of Light tahap ketiga mampu merubah awan menjadi gelap hingga menurunkan hujan petir yang mengerikan.


Sambil berdiri dengan kedua kakinya, Edward menatap keatas Gunung Reign yang merupakan tujuan utamanya hari itu.


Diatas sana terlihat seekor Naga yang sangat besar, bahkan yang terbesar yang pernah dilihatnya.


“Paduka! Kami akan mengawal Paduka untuk naik ke sana!” teriak Penny sambil menangkis serangan bola api dari Naga-naga di sekitar mereka.


“Formasi Torpedo, laksanakan!!!” Edward berlari dengan abstrak dan diikuti oleh 14 Pasukan Elit miliknya yang terus menerus berganti posisi hingga membingungkan para Naga yang akan melepaskan tembakan.


Ada sebuah tangga batu yang besar, namun tangga itu sudah dipenuhi oleh Naga-naga yang siaga menjaga di sana sehingga Edward harus mencari cara agar dapat melewati mereka semua.

__ADS_1


“Regu Support dan Defence! Ciptakan barrier untuk melindungi barisan! Aku dan Lucius akan membuka jalur!” perintah Edward lalu mulai berlari naik bersama Kapten Lucius di garis depan, sedangkan sisa pasukannya yang lain akan mensupport mereka dari belakang.


Arthemis juga sudah mengunci mana Edward dan Kapten Lucius agar stamina mereka dapat terus bertahan menaiki Gunung Reign.


(Penguncian Mana adalah salah satu teknik support kelas menengah yang dapat menyalurkan sejumlah energi dan meningkatkan stats dalam jangka waktu tertentu)


Selain itu, Penny yang tergabung dalam Regu Defence juga fokus berlari sambil menembakkan panah-panah yang sudah diperkuat dengan mantra sihir dari Kapten Lucius sehingga setiap panah yang Penny lesatkan dapat meledak dan membunuh dalam area tertentu yang terkena dampaknya.


Edward melangkah maju menaiki tangga-tangga itu dengan bantuan regu lainnya.


Ketika Edward dan Kapten Lucius sudah tiba di pertengahan, mereka tiba-tiba di hadang oleh segerombolan Naga berukuran 20 meter dari atas.


*Groar!!!


Mereka melesatkan bola api kearah Edward dan Kapten Lucius.


“Hanya sampah,” ucap Kapten Lucius ketika tangannya sudah membentuk sebuah aliran listrik yang besar.


*Wush


*Krak


Petir yang dilesatkan Kapten Lucius sangat luar biasa, sehingga membersihkan dan sekaligus menyingkirkan beberapa Naga yang ada di atas mereka.


“Paduka! Jalan ini sepertinya tidak mungkin dilewati! Aku akan melesatkan Paduka keatas menggunakan energi ku!” teriak Kapten Lucius setelah melihat di atas mereka jumlah Naga itu terus bertambah dan mereka terus melesatkan bola api dan bola angin yang kencang.


“Lakukanlah!” Edward perlahan mengambil ancang-ancang untuk dilesatkan oleh Kapten Lucius.


*Tap


Tangan Kapten Lucius menggenggam lengan Edward dengan kuat, lalu mulai mengambil ancang-ancang untuk melesatkan Edward langsung ke puncak.


Meskipun Kapten Lucius adalah wanita yang sangat tomboy, tetapi ia tetaplah wanita sehingga kadang-kadang kesan feminim dapat muncul padanya secara tidak sadar.


“Paduka! Sekarang!”


*Wush


Edward melesat jauh ke atas melewati puluhan Naga yang mengelilingi Gunung Reign.


*Tap


Edward berdiri dengan kedua kakinya tepat di tengah Arena Valhalla.


Di Arena Valhalla ini terlihat seekor Naga yang sangat besar, namun tiba-tiba sang Naga itu langsung merubah wujudnya menjadi manusia, seorang wanita yang memiliki paras menawan namun cukup terlihat aneh.


Wanita itu berjalan mendekati Edward, terasa aura Naga dari wanita itu hingga membuat Arena Valhalla bergetar.


“Kau yang akan melawanku?” tanya wanita itu setelah berjarak cukup dekat di depan Edward.


“Seperti yang kau lihat. Tak ada siapapun disini selain aku.” Edward perlahan menyiapkan pedang Ultima di tangannya dan menghunuskan pedang itu kearah wanita itu.


“Aku tak ingin menyakiti orang yang lemah. Jarak perbedaan kekuatan kita sangatlah jauh, kau takkan mampu mengimbangiku. Sebaiknya kau menyerah dan pergi dari sini,” jawab wanita itu yang terdengar angkuh lalu berjalan kembali ke singgasana nya.


Merasa diremehkan, Edward langsung mengambil kuda-kudanya lalu melesat dengan kecepatan tinggi kearah wanita itu.


*Wush


*Tap


Dengan kecepatan tinggi, Edward kini berdiri tepat disamping wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu nampaknya tidak menyadari gerakan Edward karena ia mengira Edward hanyalah manusia biasa yang sok-sokan pahlawan.


“Aturan pertama, jangan remehkan lawanmu,” bisik Edward tepat di telinga wanita itu.


Wanita itu langsung menarik pedangnya dan melancarkan serangan mendadak kearah Edward.


*Wush


Serangan pedang itu lewat karena Edward berhasil menghindar ke belakang.


“Kau ingin bermain? Ayo kalau begitu!” Wanita itu langsung memperkuat tubuhnya dengan kekuatan Naga yang dimilikinya, sehingga kini Arena Valhalla dikelilingi oleh awan hitam dan badai petir.


Sementara itu di kaki Gunung Reign, Kapten Lucius dan seluruh pasukannya melihat kearah Gunung Reign.


Semua fokus tertuju ke puncak gunung itu yang terdengar suara rintihan pedang yang saling tergesek, auman petir yang menggelegar, hingga beberapa kali terdengar suara benturan keras.


“Kapten, sepertinya mereka sedang bertarung!” teriak Penny lalu segera mengalihkan fokusnya kepada beberapa Naga besar yang ada di depan mereka.


“Kita hanya perlu berharap padanya. Setahuku, Paduka Edward tak pernah kalah dalam berduel.” Kapten Lucius kembali ke barisannya dan mulai bertempur dengan Naga-naga di sana.



Kamar mandi Ratu Aerin, Kota Dwarfhold.


Didalam bak mandi, Ratu Aerin beberapa kali mendengar suara auman Naga yang berasal dari daratan di bawah Kota Dwarfhold.


Entah kenapa, tiba-tiba cincin yang ada di tangan Ratu Aerin berkelap-kelip.


“Kelipan ini … bukankah ini tanda bahwa salah satu pemegang cincin ini sedang sekarat?!” batin Ratu Aerin menatap ke cincin yang ada di jari manisnya.


“Edward!!!” Ratu Aerin langsung berdiri dari bak mandinya dan bersiap untuk mencari keberadaan Edward.


Ratu Aerin berkali-kali memanggil Edward dari komunikasi rahasia cincin nya, namun koneksi kedua cincin itu tiba-tiba terputus ketika Ratu Aerin sedang menukik ke daratan Naga dengan Erenel.


Putusnya koneksi antar cincin itu menandakan bahwa pemegang cincin yang satunya, yaitu Edward, sudah gugur.


“Tidak! Tidak! Jangan sekarang, aku belum siap! Semesta, kumohon jangan ambil Edward ku ….”


*Duar!!!


Diiringi dengan air matanya yang menetes dan ledakan kekuatan dari tubuhnya yang membuat Bumi bergetar, Ratu Aerin berusaha mencari keberadaan Edward.


Bahkan para Naga yang menghalanginya langsung meledak berkeping-keping karena aura kekuatan dari tubuh Ratu Aerin.


Ketika sedang mencari di daratan itu, Ratu Aerin melihat Kapten Lucius sedang bertempur di kaki Gunung Reign.


“Lucius, Edward dimana?!!!” teriak Ratu Aerin dari atas Erenel miliknya.


Kapten Lucius langsung menunjuk keatas puncak Gunung Reign.


Semua pasukan Kapten Lucius terbalak kaget ketika Ratu Aerin lewat, karena hanya lewat saja Naga-naga di sekitar mereka langsung hancur berkeping-keping.


Ratu Aerin langsung naik keatas menembus awan pekat berpetir.


Ketika berhasil menembus awan pekat berpetir itu, Ratu Aerin melihat sebuah pedang sudah tertancap di dada Edward.


Dan Edward dalam keadaan tertunduk kebawah dengan darah yang terus mengalir dari pedang yang tertancap di tubuhnya.


... "The Counquer's Call, It's Call To Arms"...


... -EDWARD, THE SON OF VALKYRIE-...

__ADS_1


__ADS_2