Throne Of Valor

Throne Of Valor
Edward : Precious


__ADS_3


..."You are the most precious things, the only one i had"...


Malam yang dingin kini berhembus, salju-salju berguguran, dan jalanan Kota Albama mulai terlihat sepi.


Badai salju di malam Natal adalah impian semua orang, dimana mereka dapat merasakan kehangatan dari orang-orang terdekat.


Saat ini, Gwen sedang duduk menghadap ke kaca besar apartemen nya, dengan sebuah foto-foto yang ada di tangannya.


Dalam foto-foto itu terlihat, wajah berseri dirinya yang lengkap dengan dekapan tangan Steph di pinggangnya, yang berlatar belakang sebuah pantai.


“Steph … aku tahu bahwa aku kehilangan ingatanku. Namun, hatiku tidak berubah sama sekali padamu. Pikiranku bisa melupakanmu, benakku bisa teralihkan darimu … namun hatiku, itu adalah sesuatu yang berbeda hingga kau bisa tetap di sana, untuk selamanya,” batin Gwen sambil mengelus-eluskan tangannya di foto itu.


*Drtt


Suara getaran dari ponsel yang ada di tangan Gwen saat ini, terlihat pesan dari Steph Middleton.


“Gwen, kau baik-baik saja?”


“Ya.”


“Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku tahu seharusnya aku mencium bibirmu, bukan malah membangunkanmu.”


Membaca pesan itu, pipi Gwen seketika memerah dan menghangat.


Bahkan hingga membuat Gwen merasa salah tingkah.


“Steph, apa kau ada di rumahmu?”


“Tentu saja, ini adalah malam Natal.”


“Aku akan mengunjungimu sekarang.”


“Malam ini, Gwen? Salju diluar benar-benar tebal, aku khawatir padamu.”


“Aku berangkat sekarang. Sampai jumpa 30 menit lagi, Steph.”


Tanpa menunggu balasan pesan dari Steph, Gwen segera bersiap.


Setelah selesai mendandani dirinya, Gwen berjalan ke parkirannya sambil menenteng sebuah kotak hadiah yang cukup besar di tangannya.



Rumah Steph, pinggiran Kota Albama.


Kini Gwen baru saja tiba di rumah Steph, setelah mengarungi jalanan bersalju yang dingin dan licin.


Di ruang tamu itu terlihat sudah berkumpul Anna, Jhon, dan Steph sendiri yang sedang sibuk bermain game papan.


“Hi Gwen, kemarilah!” Steph menyambut kedatangan Gwen dengan perasaan yang lega, setidaknya wanita itu baik-baik saja.


“Anna? Jhon? Sial, nampaknya malam ini aku dan Steph tidak dapat berduaan!” batin Gwen sambil berjalan dan mendudukan dirinya di sebelah Steph.


“Karena kita sudah berkumpul semua, aku akan menjelaskan semua yang Steph dan Gwen alami pada Anna.” Jhon mulai serius menatap dan menjelaskan semuanya pada Anna.


Setelah 30an menit menjelaskan, kini Anna benar-benar kaget dengan kenyataan itu.


Sebuah lompatan waktu yang terjadi, dimana mereka akan memerankan sebuah tokoh yang saling berkaitan.

__ADS_1


Anna sempat mengira bahwa mimpinya hanyalah sebuah mimpi biasa, namun setelah memikirkan kembali setiap detailnya apalagi sewaktu ia mendapatkan jatah dari Edward, semua menjadi masuk akal.


“Jadi … Edward adalah Steph?” tanya Anna memandang kearah Steph dengan pipi yang memerah.


“Ya! Tentu saja, ini aku.” Steph menjawab dengan semangat, namun masih belum sadar bahwa pertanyaan Anna menjurus ke kejadian mereka melakukan sesuatu yang enak.


“Ehm, jadi kau sudah merasakan tubuhku di masa lalu, Steph?” Anna bertanya dengan polos, masih tidak sadar bahwa Gwen ada di sana.


Mendengar pertanyaan dari Anna, Steph langsung mendekap mulut Anna agar tidak berkata-kata lagi karena di sana ada Gwen yang dapat mendengar dengan jelas apa yang baru saja diucapkan Anna.


“Apa?!!! Jadi kalian sudah … melakukan itu?!!!” Gwen berdiri dari tempatnya, lalu menatap dengan aura kematian kearah Anna.


“Ah tidak-tidak, Anna hanya bercanda.” Steph berusaha membuat suasana disana menjadi kondusif, karena bagaimanapun yang melakukan itu adalah Edward dan Aerin, bukan Steph dan Anna.


Dengan bantuan Jhon, akhirnya kedua wanita yang sempat beradu mulut itu kini menjadi diam.


...


Setelah jam menunjukkan pukul 00.00 yang artinya Hari Natal telah tiba, kini Gwen dan Anna sudah terlelap di kamar tamu milik Steph, setelah sebelumnya kedua wanita itu sibuk memasak, menyiapkan hidangan, dan membuatkan kue tart.


Meskipun kedua wanita itu masih saling menyimpan sedikit emosi, namun demi menjaga suasana Hari Natal mereka berdua memutuskan untuk berdamai sementara.


Di atas sofa ruang tamunya, Steph dan Jhon juga sudah terlelap.


Dalam tidurnya, Steph mulai memasuki masa lalu menjadi Edward.



Pagi hari, di Kota Dwarfhold.


Bentangan daratan luas kini terpampang dari atas Kota Dwarfhold yang berada di langit.


*Hap


Sebuah dekapan hangat dari belakang mendarat di pinggang Edward.


“Edward sayang, tadi malam kau sungguh liar! Maafkan aku jadi ketagihan seperti ini!” bisik Ratu Aerin di telinga Edward.


“Aku hanya ingin istriku yang cantik, imut, dan lucu ini puas. Jadi ketika aku kalah dari Vrogh, aku tidak mati dengan menyesal.”


“Edward bicara apa?! Aku takkan membiarkan siapapun membuatmu terluka, apalagi sampai mati!”


“Vrogh sangat kuat. Bertarung dengannya berarti harus menyiapkan nyawa sebagai bayarannya.”


“Tidak boleh! Aku tidak mengizinkanmu mati! Hua!!! Tidak rela, pokoknya Edward harus selamat!” Ratu Aerin memeluk pinggang suaminya dengan lebih erat.


Edward menghentikan aktivitasnya, lalu berbalik dan memeluk Ratu Aerin dengan hangat.


*Hap


“Istriku, aku berjanji akan baik-baik saja. Fokuslah untuk berada di barisan penyergap dan serahkan Vrogh padaku.”


“Baiklah, aku akan mengingat janjimu.” Ratu Aerin menyandarkan dagu nya di bahu Edward.


“Edward.”


“Hm?”


“Jatah sekali lagi ya? Sebelum berperang hari ini?” Ratu Aerin mulai menggerakkan tangan nya dengan nakal di bagian sekitar sosis milik Edward.

__ADS_1


Urat nadi di kening Edward seketika berdenyut.


“Kalau begini, aku bukan mati oleh Vrogh tapi karena memuaskanmu setiap hari!” Edward melepaskan dekapannya dari tubuh Ratu Aerin, dan kembali mengasah pedang Ultima miliknya.


“Hua!!!” Ratu Aerin mengerang dengan lantang, sehingga mengagetkan semua prajurit yang berada di kamp militer.


“Aerin! Jangan berteriak seperti itu, aku sungkan dengan Ratu Vonsgarl dan prajuritnya!” Edward langsung menempelkan telapak tangannya di mulut Ratu Aerin.


Ratu Aerin menatap mata Edward dengan tatapan puppy eyes.


“Edward … jatahku ya!” bisik Ratu Aerin.


“Kekerasan rumah tangga versi pemerasan dan penagihan jatah!” gumam Edward dalam hatinya sambil menggendong tubuh Ratu Aerin naik ke kereta kuda.


Ketika kereta kuda mereka mulai berlari kencang ke kamar Ratu Aerin, Edward masih terus mendekap mulut Ratu Aerin agar tidak berbicara yang tidak-tidak.


“Wanita ini jika sudah ketagihan, aku pun tidak sanggup menghentikannya. Benar-benar merepotkan,” batin Edward menatap kearah tubuh Ratu Aerin.


“Mmph, Edward!” Ratu Aerin melepaskan dekapan telapak tangan Edward dari mulutnya.


*Groar!!!


Dari dalam kereta kuda, terdengar suara menggelegar dari bawah Kota Dwarfhold.


Edward melihat semua prajurit berlarian kearah Kastil Jotunheim.


*Wush


Edward langsung melompat dari jendela kereta kuda, dan berlari ke arah kastil Jotunheim.


“Hei Edward!!! Jatahku bagaimana?!” Ratu Aerin memanggil Edward dengan perasaan yang kecewa.


Edward tidak mendengarkan dan akhirnya menghilang dalam kerumunan prajurit yang berlari untuk berkumpul di alun-alun Kastil.


“Cih! Gara-gara naga bodoh ini jadi menghalangi ku mendapatkan jatah! Aku takkan membiarkan para naga ini hidup!” ucap Ratu Aerin lalu melompat ke luar.


Kini Ratu Aerin menaiki Erenel untuk pergi ke daratan bawah.


*Wush


Erenel menukik dengan kecepatan tinggi.


Terlihat para naga sepertinya sedang bersiap untuk berperang, mereka kini berkumpul di atas Gunung Rock.


“Gara-gara kalian, jatahku hari ini hilang!!!” teriak Ratu Aerin sambil mempersiapkan serangan pamungkasnya.


Kini tekanan energi yang besar telah berkumpul di telapak tangan Ratu Aerin.


“Pergilah ke neraka!!!” Ratu Aerin menembakkan misil api yang kekuatannya mampu menghancurkan satu kerajaan dalam sekejap.


*Boom!!!


Energi itu berubah menjadi ledakan maha dasyat ketika bertabrakan dengan permukaan tanah.


Getarannya bahkan sampai ke lautan Dragon’s Cross hingga membuat tsunami setinggi 50 meter.


Ledakan energi itu bahkan menghilangkan Gunung Rock dalam sekejap, dan merubahnya menjadi kawah raksasa yang dalam.


“Itu akibatnya karena menghalangiku menikmati jatahku!!!” teriak Ratu Aerin dengan polosnya, lalu kembali terbang ke Kota Dwarfhold.

__ADS_1


...Begitulah akhir kisah dari 100 ekor naga....


__ADS_2