Throne Of Valor

Throne Of Valor
Penny Clark : Feminine Side


__ADS_3


Burung gagak mulai berterbangan di medan pertempuran di bagian selatan Gunung Seraphine.


Hari mulai sore, dan langit menjadi merah.


Hujan juga mulai turun di medan perang yang hanya menyisakan mayat para bandit-bandit itu.


Pertempuran dahsyat, kebencian, dan amarah yang dibawa mati bersama bandit-bandit itu membuat suasana di medan pertempuran itu menjadi mencekam.


Edward begitu menghormati musuh-musuhnya sehingga setiap kali mereka memenangkan perang, Edward selalu berusaha menguburkan mereka masing-masing.


Baik itu pria gagah perkasa yang menertawainya tadi, Edward bahkan menguburkan pria itu dengan tangannya sendiri, dan memperlakukan tubuh pria itu dengan hormat.


Edward tidak pernah meminta prajuritnya untuk menguburkan mayat-mayat musuhnya, namun mereka mencontohi sikap Edward sehingga semua prajurit itu mulai menguburkan para bandit yang telah gugur.


Akhirnya, 299 tubuh bandit itu berhasil di kuburkan dengan baik oleh Edward dan pasukannya setelah berjam-jam dibawah hujan deras.


Mereka sama sekali tidak pernah merayakan kemenangan, karena kemenangan diatas penderitaan orang lain itu adalah sesuatu yang jahat.


“Pasukan! Berbaris! Beri penghormatan prajurit kepada mereka yang telah gugur!”


Meskipun ada beberapa yang terluka, pasukan Edward tidak ada yang gugur dalam medan perang itu.


Setelah Edward dan pasukannya memberikan penghormatan, Edward mulai menampar para pasukannya secara bergantian.


“Perintah lebih berharga dari emas!”


*Plak


“Perintah adalah hidup seorang prajurit!”


*Plak


“Perintah adalah mutlak!”


*Bruk


“Aku sebagai pemimpin kalian sudah memperhitungkan semuanya! Aku sangat kecewa pada kalian! Hatiku sakit melihat beberapa dari kalian hingga terluka diluar misi utama!”


*Plak *Plak *Bruk *Plak


Bunyi tamparan dari tangan Edward berkali-kali hingga memecah suara hujan yang lebat.


Setelah Edward selesai menampar seluruh prajuritnya, Edward meminta mereka berdiri dan langsung memeluk mereka semua.


“Bagaimanapun, aku mengucapkan terima kasih atas keberanian kalian!”


Para prajurit elit Edward yang memiliki mental baja itu akhirnya menangis ketika berpelukan bersama.


“Tamparan memang membuatmu sadar, namun kasih sayang akan menyempurnakan itu. Ingat itu prajurit!”


__ADS_1


Malam hari akhirnya tiba dan hujan yang lebat telah berhenti membawa darah parah bandit mengalir ke aliran sungai.


Edward dan pasukannya sekarang sedang berjalan kaki menuju ke Lautan Dragon’s Cross yang berada jauh di selatan.


Menurut Lucius, paling tidak butuh waktu satu minggu perjalanan untuk sampai di pantai Dragon’s Cross sebelum menyebrang ke Kota Dwarfhold.


Namun sebelumnya mereka harus melewati beberapa kota yang berada dibawah kekuasaan Edmud dan Kerajaan Empress.


Selain kota-kota, mereka juga harus melewati Death Valley yang dipenuhi dengan bandit-bandit Orc, Hutan Terlarang, hingga akhirnya mereka dapat tiba di garis pantai Dragon’s Cross.


Ketika mereka tiba di ujung lembah Gunung Seraphine, Lucius melihat sebuah kota kecil di bawah lembah.


Namun kota kecil itu berada di wilayah Kerajaan Empress, sehingga jika disana ada prajurit musuh maka akan terjadi pertumpahan darah lagi.


Dengan pengalaman berperang yang dimiliki Lucius, Lucius segera menyarankan pada Edward yang sedang berbincang-bincang dengan Penny di tenda.


“Yang Mulia, dibawah ada kota kecil. Kita bisa beristirahat disana. Namun kota itu berada di wilayah Kerajaan Empress sehingga kita harus berpencar dan menyamar agar bisa masuk kesana.”


“Baiklah Lucius, perintahkan prajurit kita untuk berpencar dan menyamar. Belilah perbekalan secukupnya untuk kita masing-masing. Perintahkan semuanya agar berkumpul di hutan bagian selatan kota itu dalam tiga hari kedepan.”


Pasukan itu berpisah kearah yang berbeda-beda dengan masing-masing membawa ratusan koin emas untuk membeli perbekalan.


Kota kecil itu tidak memiliki benteng, namun penduduknya cukup banyak hingga para pedagang dari dalam dan luar negeri berdatangan kesana.


Edward memutuskan untuk menyamar bersama Penny sebagai pasangan suami-istri.


Perlahan dengan menaiki kudanya, Edward dan Penny memasuki kota itu.


“Oh tuan, kami adalah pasangan suami-istri yang baru saja kehilangan rumah di Gunung Seraphine,” balas Edward dan turun dari kudanya.


Edward melihat wajah prajurit itu seperti mencurigai mereka, menyadari hal itu, Edward langsung mengeluarkan beberapa kepingan koin emas dari kantongnya dan menyalami prajurit itu dengan koin emasnya.


Sontak prajurit itu langsung tersenyum pada Edward dan membiarkan mereka masuk dengans senang hati.


“Suamiku sangat hebat menyogok rupanya,” ledek Penny dari atas kudanya kearah Edward yang sedang berjalan kaki disampingnya.


“Untunglah kau sekarang menjadi istriku. Setelah pergi nanti aku akan membuat perhitungan denganmu, Penny.” Edward sebenarnya menahan tawa ketika mendengar ledekan Penny untuknya, namun Edward tidak ingin kehilangan pesonanya karena ledekan receh.


“Oh jadi kau ingin menghukumku? Aku ini istrimu yang lemah lembut dan tidak berdaya. Apa kau tega menyakiti istrimu yang cantik dan menarik ini?” Penny langsung turun dari kudanya dan menggandeng Edward.


“Cantik dari mana? Kau selalu berkhayal.” Menyadari Penny sedang menggandengnya, Edward tidak dapat berbuat apa-apa, karena mereka sudah sepakat untuk menjadi suami-istri sementara.


“Lihat saja wajah para penjaga tadi, mereka semua melirik kearahku dan tersenyum. Bahkan pedagang guci tadi bermain mata denganku. Menurutmu kenapa mereka melakukan itu? Jelas karena aku ini cantik!”


“Sabar Edward! Sabar! Kau sedang dalam penyamaran bersama wanita gila ini. Setelah ini selesai, kau akan membuat perhitungan dengannya. Sabarlah!” Gumam Edward dalam hati dengan urat di keningnya yang berdenyutan.


Penny menggunakan kesempatan ini untuk menempel pada Edward, hingga sepanjang perjalanan menelusuri kota untuk mencari penginapan, Penny selalu menggandeng tangan Edward dengan erat.


Tidak hanya itu, Penny kadang-kadang mengambil kesempatan untuk memanggil Edward ‘suamiku’ dan menciumi pipinya.


Setelah berjalan belasan menit, akhirnya Edward melihat penginapan yang cukup besar didepannya.


Ketika mereka masuk, seorang pemilik penginapan itu mendatangi mereka mengatakan, “Tuan dan Nyonya selamat datang. Melihat dari kedekatan kalian, kami yakin bahwa kalian datang kesini untuk bulan madu. Ayo silahkan masuk, kami memiliki promo untuk pasangan yang sedang bulan madu.”

__ADS_1


Wajah Penny terlihat begitu gembira saat disambut dengan promo bulan madu dari pemilik penginapan itu.


“Nyonya … sebenarnya kami ….” Kata-kata Edward terhenti karena dipotong oleh Penny yang sangat senang.


“Ya benar Nyonya, kami adalah pasangan suami-istri yang sedang berbulan madu. Terima kasih telah menyambut kami.”


“Penny!!!” Bisik Edward menatap Penny dengan tatapan yang tajam, namun Penny membalasnya dengan senyuman hangat.


Pemilik penginapan itu membawa mereka ke kamar yang cukup luas, dengan balutan bunga mawar di kasurnya, beberapa handuk dan kamar mandi yang dilengkapi dengan lilin-lilin romantis.


“Semoga malam kalian liar! Dan selamat malam.” Nyonya itu segera pergi dari sana setelah menyiapkan kasur dan lilin untuk mereka.


Edward langsung menutup pintunya dan mengunci pintu itu.


“Penny!!! Kau!” Edward baru kali ini melihat tingkah Penny yang menyebalkan.


Edward sudah menjadi guru pedang Penny sejak Penny masih remaja.


Hari-hari Penny hanya dipenuhi dengan latihan, peperangan, kekerasan, hingga darah-darah dan mayat.


Selama hidupnya, Penny belum pernah menikah ataupun memiliki kekasih karena Penny tidak ingin ada yang terluka ketika Penny gugur dalam peperangan.


“Kenapa? Aku kan istrimu! Aku dapat melakukan apapun sesukaku pada suamiku sendiri kan?” Balas Penny lalu membuka semua pakaiannya untuk berendam.


“Apa kau gila?! Kenapa kau membuka pakaianmu didepan seorang pria begitu saja?!” Jawab Edward sambil membalikkan badannya dari tubuh Penny yang sudah tanpa busana.


“Huft Edward! Berapa kali harus kujelaskan bahwa kita ini adalah suami-istri. Ayolah bergabung denganku didalam bak mandi.” Penny langsung menarik tangan Ewdard hingga Edward terpeleset masuk ke dalam bak mandi.


“Penny! Aku ini Pangeran Edward! Calon Raja Victoria! Dan ….” Tanpa sempat Edward melanjutkan kata-katanya, Penny menutup mulut Edward dengan bibirnya dan langsung mencium Edward didalam bak mandi.


Edward melepaskan ciuman Penny dan mengatakan, “apa kau gila?! Aku ini …..”


Penny langsung memeluk Edward dan menciuminya lagi, menariknya masuk kedalam bak mandi, dan menindih tubuh Edward dengan tubuhnya.


Sebenarnya kecantikan yang dimiliki Penny hampir sama seperti Putri Gwen, mereka memiliki pesona kecantikannya masing-masing.


Putri Gwen yang menjadi seorang anggota kerajaan yang sepenuhnya feminim, sedangkan Penny menjadi ksatria yang maskulin namun tetap berusaha menjaga sisi feminimnya agar dapat menarik perhatian Edward.


Namun selama sepuluh tahun mengenal Edward, Penny selalu menunjukkan sisi maskulinnya dengan bertempur di medang perang bersama Edward.


Penny berharap hanya malam ini saja, meskipun sekali dalam seumur hidupnya biarkan dia memiliki Edward.


Karena kekuatan yang dikeluarkan Penny menahan tubuh Edward begitu kuat, perlahan Edward mulai menyerahkan dirinya pada Penny.


Edward khawatir jika dirinya melawan, maka itu akan melukai Penny dan membuat orang-orang di penginapan mencurigai mereka.


Meskipun Edward mencintai Putri Gwen, namun Edward terpaksa melakukan ini karena selama ini yang Edward tahu bahwa kehidupan Penny selalu dipenuhi dengan peperangan dan kekerasan, jadi Edward harus melucuti kehormatannya sekali untuk Penny, teman baiknya.


... "Only One Night, Let Me Take You...


... To Inside Of Me."...


... -PENNY CLARK "HEROES OF THE NORTH"-...

__ADS_1


__ADS_2