
Rumah sakit kota Vienna, Austria.
“Uh! Itu geli Gwen!” desah Steph saat barang berharganya di remas oleh seorang wanita yang ia cintai.
Gwen lalu menatap kearah dimana tangannya meremas.
Alangkah kagetnya Gwen saat melihat bahwa benda itu sangat besar dan keras saat berada dalam dekapan telapak tangannya.
“Oh! Maafkan aku Steph!” Gwen langsung berdiri dari posisi yang panas, dan membantu Steph kembali ke kursi rodanya.
“Tadi itu tidak sengaja kan, Gwen?”
“Ya! Mana mungkin aku sengaja meremas itu!” jawab Gwen saat kembali ke atas ranjangnya.
“Reaksimu berlebihan saat mendengar aku akan menikah sebagai Edward.” Steph menatap kedua mata cokelat Gwen yang terlihat malu-malu.
“Tidak! Aku tidak cemburu! Menikah saja sana! Dasar mesum!” Gwen membuang mukanya dari wajah Steph dan bergumam sendiri dengan emosi.
Padahal jelas-jelas Gwen-lah yang meremas barang milik Steph. Ya, lelaki selalu salah itu adalah realita.
Pagi menjelang tinggi, dan mereka berdua belum sarapan.
Sebenarnya rumah sakit di Vienna menyediakan makanan khusus untuk para pasiennya, namun Gwen tidak menyukai makanan itu dan justru mengajak Jhon bersama Steph untuk makan di restoran dalam kondisi mereka yang baru pulih.
Di restoran bintang 3, Gwen menceritakan semua fakta yang didapatkannya ketika sedang mencari pusaka peninggalannya di Kastil Hirendel pada Jhon dan Steph.
Setelah panjang lebar menjelaskan, akhirnya mereka bertiga mengambil kesimpulan bahwa mimpi yang Steph dan Gwen alami adalah nyata.
…
Malam hari yang dingin, salju juga turun dengan begitu lebatnya.
Mereka bertiga saat ini sudah kembali ke hotel dan akan pulang ke Albama besok.
Entah ada apa pada Gwen, namun Gwen merasa sangat cemburu saat mengetahui Steph sebagai Edward akan menikah dengan Putri Aerin.
Perasaan tidak rela, takut kehilangan, dan kecemburuan merasuki perasaan Gwen.
Padahal Gwen tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang pernah terjadi antara dirinya dengan Steph.
Saat ini Gwen rebah di kamarnya sambil memeriksa arsip-arsip mengenai dirinya dulu di ponselnya.
Dalam arsip-arsip itu ada beberapa foto dirinya dan Steph sedang menunjukkan cincin ke kamera, sedang liburan di Paris, dan beberapa foto bersama ikan duyung saat sedang berkunjung ke Hawaii.
Malam yang sama, Steph tersenyum-senyum sendiri mengingat wajah cemburu yang terpancar dari Gwen tadi.
Bukankah cara terbaik untuk menguji cinta seseorang adalah dengan membuatnya cemburu?
__ADS_1
Namun jiwa Steph dan jiwa Edward berbeda, begitupun dengan rasa yang ada di dalam dada mereka.
Meskipun kesadaran Steph ada di dalam diri Edward, namun perasaan yang dimiliki Edward, ideologinya, dan cara berpikirnya adalah sepenuhnya karakter Edward.
Malam itu, Steph perlahan tidur dan mulai kembali memerankan Edward di masa lalu.
…
Pagi yang hangat menyongsong, suara burung-burung yang berterbangan di Kastil Parmel membangunkan Edward dari tidurnya.
Ketika terbangun, Edward mencium wangi yang begitu menggoda dan harum terpampang di samping wajahnya.
Setengah sadar, Edward lalu mulai meletakkan telapak tangannya dari arah wangi itu berasal.
Anehnya, saat Edward meremas apa yang ia pegang, benda itu sangatlah mulus, licin, dan lembut.
*Plak!
“Edward mesum!” teriak seorang wanita yang berada di sampingnya.
“Astaga! Putri Aerin apa yang kau lakukan disini?! Dan kenapa kita berdua tidak menggunakan pakaian?!” jawab Edward tidak menyangka ketika membuka selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
“Ya, tadi malam aku mengira kau sedikit … kepanasan. Jadi aku sengaja membuka semuanya! Jangan berpikir mesum, aku tidak melakukan apapun padamu!” Dengan pipi yang memerah, Putri Aerin menatap tubuh kekar Edward dan sesuatu yang besar kini terpampang di bawah sana.
“Kya! Edward mesum!”
*Plak
“Edward! Bersiaplah karena kita akan menikah hari ini!” lanjut Putri Aerin dan berlari ke kamar mandi dengan tubuhnya yang ditutupi selimut.
“Ah benar juga kami akan menikah hari ini! Tidak kusangka aku akan menikah dengan seorang Putri Elf. Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik untuknya!” gumam Edward bersemangat, lalu berjalan ke kamar ganti pria dimana Anthony telah menunggunya disana.
…
Altar suci Bangsa Elf, Puncak Pohon Kastil Parmel.
Edward menggunakan pakaian kerajaan yang setiap sudutnya berwarna putih dibalut dengan hiasan bunga mawar emas pada kantongnya.
Disampingnya, Putri Aerin menggandengnya dengan gaun putih yang begitu panjang, rambut goldennya yang dihiasi kupu-kupu emas, dan riasan ala Elf di wajahnya membuat Edward melihat bahwa Putri Aerin adalah wanita tercantik di dunia ini.
Ya, perasaan yang dimiliki Edward saat ini adalah berupa kutukan … bukan isi hati terdalamnya.
Jauh dalam hatinya, ada Putri Gwen yang mengisi bagian tergelap yang saat ini benar-benar hampir dilupakan Edward.
Berkali-kali saat menyusuri jalan menuju Altar, Edward mencuri pandang dari wajah cantik calon istrinya saat ini yang selalu tersenyum ke semua orang.
__ADS_1
Tanpa sadar, Edward mulai belajar mencintai Putri Aerin yang baru muncul beberapa hari lalu.
Di sudut paling belakang dalam Altar itu juga hadir Lucius dan Penny. Rupanya mereka sudah merencanakan sebuah siasat untuk menggagalkan pernikahan atas dasar kutukan itu.
Namun ketika Lucius melakukan sebuah penglihatan yang dapat membaca perasaan seseorang, Lucius melihat bahwa kini hati Edward benar-benar hampir terisi penuh oleh wajah Putri Aerin, meskipun disana masih ada sedikit ruang untuk Penny dan Putri Gwen.
“Kapten! Mereka akan segera melakukan ritual penyatuan! Kita harus bertindak sekarang!” bisik Penny saat melihat Edward dan Aerin membacakan sumpah pernikahan yang akan disatukan oleh sihir suci Elf.
“Tidak, Penny! Saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan untuk orang yang saling mencintai!” jawab Lucius setelah selesai melihat isi hati Edward.
“Maksud Kapten, Paduka Edward mencintai Putri Aerin?!”
“Ya. Meskipun disana ada dirimu dan Putri Gwen, namun saat ini entah kenapa perasaannya lebih besar tertuju pada Putri Aerin. Jadi aku takkan mengganggu hubungan orang yang saling mencintai!”
Mendengar hal itu, Penny sedih sekaligus senang karena rupanya Edward memiliki sedikit perasaan padanya.
“Kapten! Dia mendapatkan Edward dengan kutukan! Bagaimana kita bisa membiarkannya begitu saja meskipun saat ini Edward mencintainya!” Penny meletakkan kedua tangannya di pundak Lucius yang tertunduk lesu karena misi utama mereka akan dilupakan oleh Edward melalui pernikahan itu.
Lucius dan Penny tidak mengetahui bahwa tujuan Edward menikahi Putri Aerin adalah untuk membuat Putri Aerin naik takhta menjadi seorang pemimpin tertinggi sebagai Ratu dari Negara Archangle dan Negara Mirendel.
Putri Aerin sudah sepakat dengan Edward bahwa ia akan menyerahkan separuh pasukan Elf-nya, yang berjumlah 900.000 pasukan dari Negara Archangle, dan 500.000 pasukan dari Negara Mirendel untuk membantu Edward saat berperang melawan Edmud nantinya.
Dengan bantuan yang sebesar ini, tentunya Edward takkan menyianyiakan itu.
Ia akan menempuh apapun untuk dapat membalaskan dendamnya pada Edmud yang sudah menewaskan Ayahnya dan Dave.
Mendengar keluhan Penny, Lucius tetap diam saja dan tidak berkutik untuk mengganggu pernikahan itu.
Kini, Penny dan Lucius sama-sama melihat bahwa Edward sudah resmi menjadi suami Putri Aerin setelah Edward memasangkan cincin suci Elf di jari manis Putri Aerin, begitu juga dengan Putri Aerin yang memasangkan cincin yang sama pada jari manis Edward.
Disaat yang bersamaan setelah melakukan ritual pernikahan yang diikat oleh sihir suci Elf, Putri Aerin langsung dilantik oleh Ayahnya, Raja Aegis, untuk menggantikannya memimpin negara Elf.
“Aku, Raja Aegis, dengan ini melantik Putriku Aerin Parmel sebagai pemimpin tertinggi menjadi Ratu bagi Negara Archangle dan Negara Mirendel menggantikan diriku!” teriak Raja Aegis lalu memasangkan mahkotanya di kepala Ratu Aerin.
Terdengar sorakan nyanyian suci dari Bangsa Elf yang menyambut pemimpin baru mereka, Ratu Aerin Parmel.
Namun tiba-tiba dari arah Utara, Lucius melihat gerombolan pasukan berkuda sedang menuju ke Kota Arendel.
“Penny! Persiapkan dirimu! Kita akan kembali bertempur hari ini dengan Edmud! Rupanya mereka benar-benar kembali menyusul kita!”
Lucius langsung berlari ke Altar dan membisikkan pada Edward mengenai kedatangan Edmud bersama para pasukannya dari arah utara.
Namun kali ini tentu saja Edward sudah memiliki istrinya, sang Ratu Elf yang akan berperang bersamanya dengan jutaan pasukan Elf yang sudah terbukti kehebatan ilmu sihirnya.
Dengan gelar Royal Highness of Elves, Edward memiliki hak untuk memerintahkan jutaan pasukan Elf berperang bersamanya sesuai dengan komandonya.
“Jendral Sovriel, persiapkan pasukan Elf kita untuk berperang!
Kapten Lucius, perintahkan pasukan kita dan pasukan Guntar untuk menyerang dari barisan belakang pasukan Edmud!”
__ADS_1
..."*Love blooming in the unique ways."...
...-Edward, The Royal Highness of Elves*-...