Throne Of Valor

Throne Of Valor
Aerin's Dream


__ADS_3


Malam hari yang tenang ditengah padang rumput hijau, setelah Edward dan pasukannya melewati lembah gunung berbatu yang telah dihancurkan oleh Ratu Aerin.


Kini, Edward dan Ratu Aerin mencuri waktu menjauh dari keramaian pasukannya dan merebahkan diri mereka beralaskan rumput hijau yang lembut.


Lautan bintang yang luas membelah angkasa kini berada tepat di depan mata mereka.


Ratu Aerin merebahkan dirinya di dekapan lengan kekar Edward.


Edward memandangi bintang-bintang diatasnya lalu mengalihkan pandangannya ke mata rose Ratu Aerin yang saat ini berada di dekapan tangannya.


“Wanita ini … dia benar-benar unik. Sederhana, berisik, menyebalkan, dan agresif. Namun kelucuannya ... kelucuannya sangat menghiburku,” gumam Edward dalam hatinya.


“Edward … apa kau lupa aku dapat mendengarkan suaramu? Aku senang kehadiranku dapat menghiburmu.” Ratu Aerin mengalihkan pandangannya dari lautan bintang menuju sorotan mata biru Edward.


“Suamiku, pejamkan matamu.”


Edward langsung memejamkan matanya menghadap ke wajah Ratu Aerin yang kian mendekat.


Kini, Edward merasakan kening Ratu Aerin menempel pada keningnya.


“Aku akan berikan satu rahasiaku padamu,” bisik Ratu Aerin menatap kelopak mata Edward yang tertutup.


“Apa itu, Ratu-ku?”


“Aku sedang mengandung …” kata-kata Ratu Aerin terhenti ketika mendengar ada langkah kaki dari prajurit Edward mendekat kearah mereka.


“Edward, Kapten Lucius mencarimu.” Ratu Aerin langsung berdiri dari posisi nyamannya dan menyapa Lucius yang datang mendekat pada mereka.


“Paduka, aku dan Penny sudah melakukan analisa tentang Kota Saint’s Haven. Ada jalur bawah tanah yang ditinggalkan penyusup dari kerajaan kita, yang langsung menuju ke sebuah penginapan milik salah satu rakyat Victoria yang pindah ke sana.” Lucius menyapa Edward dengan semangat, namun ada sedikit kecemburuan melihat keakraban Edward dengan istrinya.


“Itu berita bagus! Baiklah, kita akan berangkat setelah sarapan besok pagi. Terima kasih Lucius.” Edward berdiri dan menepuk pundak Lucius dengan semangat.


“Namun ada satu informasi yang kami terima, bahwa saat ini Edmud sedang mengumpulkan armada militer yang sangat besar dari kerajaan-kerajaan di timur.”


“Kerajaan-kerajaan timur?”


“Benar, Paduka. Kekaisaran Song dari China, Kekaisaran Kazuhito dari Jepang, dan Kerajaan Magadha dari India.”


“Ini berarti akan membawa perang dari Kerajaan Barat melawan Kerajaan Timur?!”


“Dengan kata lain seperti itu, Paduka. Jika kita berhasil mengumpulkan armada pasukan yang ada di Barat, maka peperangan antara Blok Barat dan Blok Timur akan pecah.”


“Bagaimana dengan Kekaisaran Mongol yang berada di tengah-tengah blok?”


“Setelah peperangan yang memukul mundur penaklukan mereka, Kekaisaran Mongol bersikap netral hingga saat ini.”


Mendengar Edmud juga saat ini sedang mengumpulkan armada dari kerajaan-kerajaan di timur, Edward merasa permasalahan internal Kerajaan Victoria semakin membesar.

__ADS_1


Berarti saat ini bukan hanya tentang balas dendam, namun juga penaklukan dan pembuktian kekuatan antara Kerajaan Barat melawan Kerajaan Timur.


Pada malam yang sama, Edward, Kapten Lucius, dan para pasukannya langsung mengatur strategi untuk masuk ke Kota Saint’s Haven.


Karena kesibukannya malam itu, Edward melupakan apa yang sudah dinantikan Ratu Aerin setelah peperangan yang singkat tadi siang.



Malam yang sama, dua jam setelah Edward meninggalkan Ratu Aerin di padang rumput.


Tenda Edward dan Ratu Aerin.


“Huh! Kemana suamiku?! Bukankah dia sudah berjanji akan memberikanku kepuasan lagi malam ini?!” gerutu Ratu Aerin sambil mengecap pinggangnya dengan wajah yang cemberut.


Ratu Aerin langsung berusaha menghubungi Edward melalui komunikasi rahasia mereka.


“Edward!”


“Ya, Ratu-ku ada apa?”


“Ish … apa kau lupa sesuatu?!”


“Ah benar! Aku harus memberi makan Rosche” (kuda jantan pemberian Ratu Aerin)


“Ish! Bukan itu ….”


“Ah benar! Aku akan menemui Arthemis untuk menyiapkan ramuan!”


“Aku bercanda … istriku yang cantik.”


“E … Edward, apa … apa kau bilang aku adalah istrimu yang c … cantik?!” Pipi Ratu Aerin benar-benar memerah bahkan hingga membuat Ratu Aerin menjadi gugup seketika.


“Tidak, kau salah dengar Aerin.”


“Ok! Bye!” jawab Ratu Aerin dengan kesal.


“Baiklah, selamat tinggal dan kita takkan bertemu lagi … SELAMANYA!”


“Aaaa Edward … jangan meninggalkanku. Maukah suamiku memaafkanku?”


“Tidak ada maaf bagimu.”


Mendengar jawaban Edward, Ratu Aerin langsung bersembunyi di balik selimutnya dan mulai mengerang dengan tangisan.


Ia mengira Edward akan meninggalkannya selamanya.


Tiba-tiba saat Aerin mengerang menangis di balik selimut, ada sebuah dekapan hangat yang melompat kearahnya.


*Hap

__ADS_1


“Aku menangkapmu!” bisik Edward sambil mendekap Ratu Aerin yang bersembunyi di balik selimutnya.


Seketika itu juga Ratu Aerin langsung menyadari bahwa itu adalah suara suaminya, Edward.


“Suamiku … apa kau benar-benar akan meninggalkanku?” tanya Ratu Aerin dari dalam selimutnya, dengan nada manja yang setengah menangis.


“Tentu saja!”


“Huaaa!!! Edward jahat!” Ratu Aerin mengerang dengan tangisan yang cukup terdengar hingga ke tenda Penny yang tidak jauh dari tenda Edward.


Tiba-tiba selimut yang menutupi tubuh ramping Ratu Aerin diangkat oleh Edward.


Ratu Aerin melihat Edward perlahan-lahan membuka pakaiannya di depan mata Ratu Aerin.



Kini otot-otot kekar itu perlahan terpampang di depan mata Ratu Aerin.


“Edward, apa … apa yang akan kau lakukan?!”


“Kau sendiri yang minta, jadi jangan salahkan aku jika aku melakukannya dengan ganas!”


Edward mencabik pakaiannya, melemparkan tubuhnya ke kasur dan langsung tengkurap di samping Ratu Aerin.


“Pijat punggungku, Aerin. Cukup pegal di daerah sini.” Edward menunjuk bagian pinggangnya yang terkena bongkahan kecil dari ledakan yang diciptakan Ratu Aerin tadi siang.


“Ish! Kukira kau akan memberikan jatahku! Baiklah, namun setelah ini berikan jatahku ya?” jawab Ratu Aerin dan mulai memijat lembut pinggang Edward.


“Ya, terserah.”


Sambil memijat lembut punggung dan seluruh tubuh Edward, Ratu Aerin bertanya, “bagaimana persiapannya?”


“Sudah beres. Hanya tinggal menunggu 3 orang mata-mata kita untuk kembali besok pagi.”


“Edward, apa kau mempunyai impian?”


“Impian? Entahlah, untuk saat ini satu-satunya impianku adalah menjadi seorang Raja Victoria. Kau sendiri apa ada impianmu?”


“Ada, aku ingin hidup berdua denganmu jauh dari peperangan, memiliki seorang anak, dan memiliki rumah kecil yang didepannya terdapat sebuah sungai yang dipenuhi oleh ikan-ikan salmon.”


“Itu impianmu, Aerin? Sangat bertentangan sekali denganku.”


“Huh! Aku ini seorang wanita, jelas saja itu adalah keinginan terbesarku! Berbeda dari kalian para pria yang berpikir tentang harta-takhta-wanita, kami para wanita lebih kepada hidup bahagia bersama orang yang dicintai dan memiliki seorang anak … sesederhana itu.”


Waktu berlalu satu jam setelah Ratu Aerin mulai memijat pinggang suaminya, dan kini seharusnya Ratu Aerin mendapatkan ‘bayaran’ nya.


“Edward?” Ratu Aerin melihat mata Edward sudah tertutup, nampaknya Edward sudah kelelahan hingga tertidur.


“Dasar,” gumam Ratu Aerin sambil menutup tubuh Edward dengan selimut ditengah malam yang cukup dingin.

__ADS_1


Ratu Aerin meletakkan tangan kekar Edward di pinggangnya, dan mulai tertidur dalam dekapan Edward yang dibuat oleh dirinya sendiri.


__ADS_2