Throne Of Valor

Throne Of Valor
Princess Sophia


__ADS_3


Siang hari yang terik, angin musim panas berhembus menerpa daratan berumput Kerajaan Empress.


Sudah 2 hari Edward dan pasukannya berpencar di Kota Saint’s Haven untuk mengisi bekal, yang artinya mereka akan berangkat besok subuh.


Setelah 2 hari itu juga, peperangan antara Kerajaan Empress dan Kekaisaran Persia tiba di titik puncak dimana peperangan itu dimenangkan oleh Kerajaan Empress.


Yang artinya, secara tidak langsung kekuatan armada pasukan Edmud akan semakin kuat.


Menyadari hal ini, Kapten Lucius langsung bergegas menuju penginapan Edward untuk memberitahukan informasi ini.


Setibanya di kamar penginapan, Kapten Lucius melihat pemandangan romantis sedang terjadi di depan matanya antara Edward dan Ratu Aerin.


“Ehm! Permisi, Paduka.” Lucius masuk tanpa mengetuk untuk mengganggu keromantisan pasangan suami-istri itu.


“Lucius, ada apa?” tanya Edward sambil mempersilahkan Kapten Lucius duduk di sampingnya.


“Paduka, peperangan yang diceritakan oleh Ratu Aerin antara Kerajaan Empress melawan Kekaisaran Persia dimenangkan oleh pihak Empress.”


“Itu artinya Edmud semakin kuat. Lucius, berapa kira-kira pasukan yang dimiliki Edmud sekarang jika semua pasukannya sudah bergabung?”


“Jumlahnya 3x lipat dari semua pasukan yang akan Paduka kumpulkan nanti.”


“Hm, cukup mengejutkan. Namun aku tidak khawatir akan jumlah itu. Baiklah, kalau begitu perintahkan kepada seluruh pasukan kita bahwa kita akan berangkat lebih cepat pada tengah malam!”


“Baik, Paduka. Hm, apa yang Paduka lakukan dengan Ratu Gwen? Kenapa pipi kalian memerah? Apa Paduka dan Ratu baru saja melakukan sesuatu?” Kapten Lucius menebak bahwa Edward dan Ratu Aerin baru saja melakukan hubungan selayaknya seperti seorang suami-istri.


Kapten Lucius lalu berpindah duduk di sebelah Ratu Aerin agar ia bisa berbisik.


“Dari … darimana Lucius tahu?” tanya Ratu Aerin sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Edward.


“Ha! Benar dugaanku! Ratu, bagaimana rasanya pertama kali melakukan itu dengan sosis raksasa Paduka Edward?” bisik Lucius menggoda Ratu Aerin sambil menatap ke bagian bawah perut tubuh Edward.


“Aku mengira itu takkan muat, ternyata benar-benar muat! Lucius aku malu,” jawab Ratu Aerin berbisik di telinga Kapten Lucius.


Sementara Kapten Lucius dan Ratu Aerin sedang bercerita sebagai sesama wanita, tiba-tiba Edward yang baru saja duduk di balkon menatap peta melihat seseorang yang sedang berlari dikejar-kejar oleh pasukan kerajaan.


Khawatir jika seseorang itu dalam bahaya, Edward lalu melompat kebawah, menarik tangan orang itu, dan membawanya berlari masuk ke penginapan Edward.


“Cari dia!”

__ADS_1


“Sial, kemana dia pergi?!”


“Kita harus menangkapnya, atau tidak Raja akan marah!”


Edward dari kamar penginapannya mendengar teriakan para pasukan kerajaan yang tadinya mengejar orang itu kini sudah mulai menjauh.


“Kenapa kau dikejar-kejar oleh pasukan kera ….” Kata-kata Edward terhenti karena sepasang bibir mungil dari orang itu tiba-tiba mendarat di bibir Edward.


*Cup


Setelah mencium bibir Edward selama beberapa detik, orang itu membuka tudungnya menampakkan wajahnya kepada Edward.


Ketika melihat wajahnya, Edward langsung teringat akan Putri Gwen karena wajah mereka memiliki kesamaan yang cukup identik.


“Aku berhutang padamu. Perkenalkan aku adalah Putri Sophia, anak bungsu Raja George.”


Kapten Lucius, Ratu Aerin, dan Edward terbalak kaget mendengar bahwa wanita itu adalah seorang Putri dari kerajaan yang merupakan musuh mereka.


Dalam komunikasi rahasianya, Ratu Aerin berkata pada Edward, “kita bisa mendapat masalah jika kita menyembunyikan Putri Sophia. Cepat usir dia, lagi pula aku sangat cemburu dia menciummu tiba-tiba!”


Edward mengabaikan kata-kata istrinya dan berusaha mengetahui lebih dalam tentang Putri Sophia.


“Kenapa Tuan Putri dikejar-kejar oleh para pasukan kerajaan itu?” tanya Edward dan mempersilahkan Putri Sophia duduk di sofa bersamanya.


“Hm, sebuah kerajaan dengan peraturan yang ketat, aku tidak bisa hidup dalam jerat peraturan lebih lama. Selain itu, aku juga dijodohkan dengan Pangeran Cannon dari Kerajaan Jerman. Aku tidak menghormati Pangeran Cannon karena ia memperlakukan rakyat biasa dengan buruk. Jadi untuk menghindari itu semua, aku memutuskan untuk melarikan diri.”


“Kalau begitu, bergabunglah dalam petualangan besar bersama pasukanku. Perkenalkan, aku adalah Pangeran Edward dari Kerajaan Victoria,” jawab Edward sambil berdiri lalu membungkukkan badannya di depan Putri Sophia.


“Edward dari Victoria? Ah, aku telah mendengar banyak tentangmu. Juga, tentang pemberontakan yang dilakukan oleh adikmu, Edmud. Sayangnya Ayahku, Raja George justru mendukung pemberontakan itu. Semua ketidakadilan itu membuatku semakin tidak menyukai Kerajaan Empress.”


Melihat suaminya duduk begitu dekat dengan Putri Sophia, Ratu Aerin langsung berdiri dan memposisikan bokongnya di pangkuan Edward.


“Hmph! Jangan memperdulikan aku, teruslah berbincang!” kata Ratu Aerin sambil melipat tangannya dan menatap ke lain arah.


“Bagaimana aku bisa tidak memperdulikan mu, tubuhmu yang sangat berat ini mengempiskan pahaku!” Edward merasa aneh dengan kelakuan istrinya yang tiba-tiba seperti emosi.


“Apa kau bilang?! Tubuhku berat?! Baiklah, kalau begitu aku pergi saja! Silahkan bercinta dengan Sophia!” Ratu Aerin berdiri dari pangkuan Edward lalu perlahan berjalan keluar.


“Pergilah dan jangan pernah kembali!”


“Hua!!! Tidak mau! Edward jahat lagi!” Dengan wajah yang cemberut, Ratu Aerin tidak jadi keluar lalu bergabung dengan Penny dan Arthemis yang masih terlelap di ranjang penginapan itu.

__ADS_1


“Edward, siapa dia? Tingkahnya lucu sekali, aku cukup terhibur,” tanya Putri Sophia tertawa setelah melihat pertengkaran kecil yang jelas-jelas menunjukkan kecemburuan wanita yang duduk di pangkuan Edward tadi.


“Oh dia bukan siapa-siapa. Hanya seekor kucing yang menjadi manusia, jadi jangan perdulikan dia.” Edward tersenyum pada Putri Sophia untuk menyembunyikan rasa malunya karena tingkah konyol sang istri.


Ratu Aerin yang mendengarkan bahwa Edward mengatakan bahwa dirinya seekor kucing, Ratu Aerin menggertakkan giginya sambil menangis dibalik selimut.


“Hua! Edward jahat! Edward jahat!” gumam Ratu Aerin sambil memukul-mukulkan tangannya di kasur.


“Jadi, apakah Putri Sophia ingin bergabung dalam petualangan besar bersama kami?” Edward kembali menatap mata hitam Putri Sophia.


“Petualangan?! Tentu saja! Aku belum pernah berpetualang selama hidupku! Jika boleh tahu, kemana kita akan pergi?”


“Kita akan pergi ke arah selatan diseberang lautan yang terdapat sebuah Kerajaan Dwarf. Lalu kita akan berlayar ke barat untuk bertemu teman lama ayahku, King Midas dari Bangsa Sparta. Dan yang terakhir kita akan pergi ke utara untuk bertemu dengan Raja Hjalmar dari Bangsa Viking.”


“Untuk apa kita bertemu dengan mereka? Apakah kau berniat untuk meminta bantuan mereka agar membantumu berperang melawan Edmud?”


“Ya, tepat sekali! Aku akan membalaskan dendam Ayahku, Raja Julien dan seorang pasukanku Dave Rogers.” Edward perlahan-lahan memerhatikan gerak-gerik Putri Sophia ketika sedang berbicara dengannya.


Dan terbukti bahwa dari cara Putri Sophia ini berbicara dan memilih kata, Putri Sophia benar-benar seperti seorang bangsawan yang sopan dan cerdas.


“Aku tidak memiliki keahlian di medan perang, namun aku ahli dalam strategi, engineering, dan cukup mahir dalam merancang kapal militer, kendaraan militer, senjata militer.”


“Pantas saja kau dapat menebak kata-kataku, ternyata kau seorang yang cerdas. Oh iya, kenapa kau menciumku tadi secara tiba-tiba?”


Mendengar Edward bertanya itu lagi padanya, Putri Sophia perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Edward.


*Cup


Sebuah ciuman kedua dari Putri Sophia kini mendarat lagi di bibir Edward.


Karena begitu merindukan sosok Putri Gwen, Edward menerima ciuman itu dengan tulus.


Kapten Lucius yang baru saja selesai makan lalu berdiri dan berkata, “Permisi Paduka, aku akan memberikan perintah kepada seluruh prajurit kita. Lanjutkan kesibukan kalian.”


Edward dan Sophia masih tidak memperdulikan Kapten Lucius yang baru saja keluar pamit.


“WOI!” teriak Ratu Aerin dari ranjang ketika melihat suaminya berciuman dengan Putri Sophia diatas sofa penginapan.


...Visual Princess Sophia...


__ADS_1


__ADS_2