Throne Of Valor

Throne Of Valor
Sweetness


__ADS_3


Pagi hari yang indah kini terbit, hamparan angin lembut menerpa daratan Kota Saint’s Haven.


Didalam kamar penginapan, Penny dan Arthemis masih tertidur di kasur mereka.


Sedangkan Edward sibuk menjaga kondisi tubuh Ratu Aerin.


Entah kenapa, Edward menjadi cemas melihat hidung Ratu Aerin memerah, yang artinya Sang Ratu terkena flu.


Selain kelelahan menyembuhkan Edward, cuaca dingin tadi malam adalah penyebab utamanya.


Ketika sedang mendekap Ratu Aerin di sofa, Edward menatap kening Ratu Aerin dengan baik.


Edward teringat masa-masa dimana Ratu Aerin bersikap manja, tersenyum, dan bercanda padanya.


“Dia hanya bercanda, harusnya aku tertawa bukan jatuh cinta,” gumam Edward mengelus kening Ratu Aerin sambil tersenyum.


Setelah cukup lama dalam dekapan Edward, Ratu Aerin perlahan tersadar dan mulai membuka matanya.


*Hacih


Suara bersin Ratu Aerin yang terkena flu.


Ketika Ratu Aerin merasakan dekapan hangat dari dalam selimutnya, Ratu Aerin berbalik ke belakang.


Pipinya memerah saat menyadari siapa yang mendekapnya saat ini.


“Ed … Edward? Kau … kau semalaman memelukku?” tanya Ratu Aerin menatap mata biru Edward yang terpantul sinar matahari pagi.


“Tidak ….” Edward mengelak sambil mengalihkan pandangannya kearah lain.


“Luka di dadamu, apakah sudah sembuh?” Ratu Aerin perlahan memasukkan tangannya ke dalam selimut dan meraba-raba dada bidang Edward.


*Cletak


Edward menjitak kening Ratu Aerin.


“Harusnya kau khawatirkan dirimu. Lihat itu, bukan hanya pipimu yang memerah, namun juga hidungmu.”


“Ed … Edward, apa … apa kau mengkhawatirkanku?”


“Kau kedinginan?”


“Iya … sedikit.” Ratu Aerin terlihat mengigil, padahal Edward sudah menyelimutinya.


*Hap



Edward melekatkan lebih kuat dekapannya di tubuh ramping Ratu Aerin, mendekatkan wajahnya ke wajah Ratu Aerin dalam posisi berbaring, dan langsung mencium bibir Ratu Aerin selama beberapa menit.


Setelah merasa tubuhnya menghangat, Edward perlahan mengusap poni Ratu Aerin dan menempatkannya di daun telinga Ratu Aerin.


“Edward, ini nyaman.”


“Kau lapar?”


“Sedikit, tapi aku ….”

__ADS_1


Edward menyela kata-kata Ratu Aerin lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir Ratu Aerin.


“Aku akan memasakkan sesuatu untukmu. Beristirahatlah.” Edward perlahan melepaskan dekapannya dari tubuh Ratu Aerin dan berdiri.


“Edward, peluk sekali lagi?” Ratu Aerin membuka tangannya kearah Edward tanda meminta pelukan tambahan.


“Untungnya kau lagi sakit.” Edward kemudian membaringkan tubuhnya dalam dekapan Ratu Aerin.


“Aku sayang Edward-ku. Semoga selamanya aku terus sakit!” bisik Ratu Aerin di telinga Edward saat mereka sedang berpelukan.


“Jangan bercanda! Cepatlah sembuh karena aku ingin segera menindasmu lagi!” Edward melepaskan dengan lembut pelukannya, dan mencium kening Ratu Aerin.


Setelah memanjakan Ratu Aerin agar ia cepat sembuh, Edward segera berjalan keluar membelikan Ratu Aerin makanannya.


Edward tidak tahu jika makanan Ras Elf berbeda dari Ras Manusia, maka Edward membeli semua jenis makanan yang dijual sekaligus untuk bekal mereka nantinya.


Ketika Edward melintas kembali di toko perhiasan yang kemarin, Edward teringat akan Putri Gwen yang sudah lama tidak bertemu dengannya.


Namun kali ini semuanya mulai berbeda, dimana sejak hadirnya Ratu Aerin yang konyol dan unik, Edward mulai belajar menjadi seorang pria yang dipenuhi dengan perhatian.


Sebelumnya, setiap pagi sebelum Ratu Aerin terbangun, Edward selalu memandangi istrinya itu ketika sedang tertidur.


Saat Ratu Aerin terbangun, Edward kembali berpura-pura tertidur. Sebenarnya Edward sadar jika Ratu Aerin sering melakukan rutinitasnya pada ‘benda’ milik Edward ketika dirinya sedang tidur.


Itulah mengapa sebelum Ratu Aerin berhasil merasakan ‘benda’ milik suaminya, Edward selalu terbangun dan mencegah hal itu terjadi padanya.


Edward sudah berbelanja selama 30 menit, dan kini Edward sudah tiba di penginapan mereka.


Saat Edward baru saja masuk, ia melihat Ratu Aerin berusaha berdiri dalam keadaan yang pusing dan flu.


Dengan sigap, Edward menahan tubuh Ratu Aerin sebelum tubuhnya jatuh ke lantai kayu.


“Apa yang kau lakukan, Aerin?” Edward perlahan merebahkan Aerin di sofanya.


“Biar aku membangunkan Penny atau Arthemis.”


“Jangan! Mereka kelelahan karena tadi malam. Aku ingin kau saja yang membantuku berjalan ke kamar mandi.” Ratu Aerin berusaha mengelak dari keinginan sesungguhnya untuk melihat bagaimana reaksi Edward saat melihat tubuhnya.


“Edward, gendong.” Ratu Aerin membuka dekapan tangannya kearah Edward dan menatap suaminya itu dengan manja.


“Semoga dosa-mu sedikit jadi kau tidak terlalu berat, ya!”


*Hap


Edward meletakkan tangannya di pinggang dan lutut bawah istrinya.


Perlahan tubuh istrinya terangkat setelah Aerin melingkarkan tangannya di bahu Edward.


“Ayo terbang!” canda Aerin menatap Edward dengan girang, karena ini pertama kalinya Aerin digendong oleh seseorang.


Kini Edward dan Aerin sudah berada di dalam kamar mandi.


Namun Aerin yang manja meminta Edward untuk membantunya membukakan rok panjangnya.


“Edward, masih belum. Sini, bukakan rok ku.”


“Apa? Tidak-tidak itu terlalu berlebihan.”


“Ish, aku ini istrimu. Untuk apa malu-malu seperti itu. Ayolah, ya-ya Edward?”

__ADS_1


Dengan sungkan dan sambil memalingkan wajahnya kearah lain, Edward perlahan melepas rok Aerin.


Namun Aerin menangkap wajah Edward, dan memalingkannya kearahnya agar suaminya itu dapat melihat tubuhnya.


Lucunya adalah, Edward justru menutup matanya dengan kuat.


“Ish, kau membuatku badmood saja! Ya sudah, sana keluar saja!” Aerin memukul lembut punggung Edward.


Tidak ingin istrinya menjadi badmood menambah penyakitnya, Edward bertanya, “katakan apapun dan aku akan melakukannya untukmu, khusus hari ini agar kau cepat sembuh!”


“Apa kau serius, Edward?”


“Ya.”


Aerin lalu berjalan dan mengunci rapat pintu kamar mandi itu.


Kamar mandi itu cukup besar, disana juga ada bak mandi yang sudah tersedia air hangat.


“Ikut aku ke bak mandi.” Aerin mendorong tubuh Edward mengarah ke bak mandi yang sudah terisi air hangat.


“Bukannya kau ingin buang air kecil?! Kenapa harus ke bak mandi?!”


“Edward, apa kau lupa yang baru saja kau ucapkan?”


“Baiklah-baiklah.”


Pagi itu dimana suasana yang dingin menjadi hangat setelah Ratu Aerin akhirnya mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan.


Sepanjang pagi hingga siang hari, Ratu Aerin dan Edward terus menerus melakukan itu hingga mereka sama-sama merasakan kepuasan dan kenikmatan.


Entah mengapa, setelah hubungan di kamar mandi yang hangat namun liar, hubungan Aerin dan Edward kian dekat.


Bahkan mereka sekarang seperti orang yang benar-benar jatuh cinta satu sama lainnya.



Kini, Edward sedang memasak bubur hangat untuk istrinya setelah hari menjelang siang.


Beberapa menit setelah selesai memasak, Edward masih tidak tahu jika makanan Ras Elf berbeda dengan makanan manusia.


Ratu Aerin juga sengaja tidak memberitahukannya pada Edward demi menghargai apa yang Edward buatkan untuknya.


“Buka mulutmu,” ucap Edward sambil mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Ratu Aerin yang sedang duduk di atas sofa.


*Hap


Kini bubur itu sudah mantap masuk ke mulut seorang Elf.


Mungkin bagi manusia rasa bubur itu akanlah enak apalagi disuapi oleh seorang Edward, namun sebenarnya bubur itu terasa sangat aneh bagi seorang Elf sehingga membuat Ratu Aerin merasakan mual-mual.


“Bagaimana, apa buburnya enak?” tanya Edward melihat senyuman tersirat di bibir istrinya.


“Sangat … sangatlah enak! Edward, nanti malam kita lakukan itu lagi ya?”


“Lakukan apa?”


“Seperti yang di kamar mandi!”


“Hm, baiklah asalkan kau cepat sembuh.”

__ADS_1


Ratu Aerin mendekatkan bibirnya di telinga Edward lalu berbisik, “aku sayang Edward-ku yang sekarang. Semoga selamanya aku terus sakit seperti ini!”



__ADS_2