Throne Of Valor

Throne Of Valor
Aerin's Anger


__ADS_3


Matahari saat ini berada tepat di atas Kota Dwarfhold.


Hembusan angin di daratan yang melayang Kota Dwarfhold menerpa dengan lembut.


Di kamar Ratu Aerin saat ini Edward akan pergi menemui Ratu Vonsgarl yang berada di Istana Jotunheim, setelah di pijat Ratu Aerin selama beberapa jam.


“Edward … kau sudah mau pergi lagi?” Ratu Aerin menatap Edward yang sedang memakai pakaian dinasnya.


“Ya, untuk memenuhi panggilan Ratu Vonsgarl.”


“Lalu … jatahku bagaimana? Seluruh tanganku pegalinu setelah memijatmu.”


Edward perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Ratu Aerin, mendekap kedua pipi kenyalnya, dan mendaratkan ciuman singkat di bibirnya.


*Cup


“Nanti ya, istriku yang cantik,” bisik Edward di telinga Ratu Aerin setelah melepaskan ciumannya.


“Kya!!!” erang Ratu Aerin sambil menggoyangkan tubuhnya karena begitu tersipu malu akan ucapan romantis dari Edward.


“Kau ingin ikut?”


“Memang boleh?”


“Kalau kau tidak mau juga tidak masalah.” Edward berjalan keluar meninggalkan Ratu Aerin yang tubuhnya hanya tertutupi selimut.


“Tunggu! Aku ikut!” Ratu Aerin menggunakan sihir untuk memasang pakaiannya dan menyusul Edward yang sudah di jemput oleh utusan dari Kerajaan Dwarf.


Kini mereka berdua sudah berada dalam kereta kuda.


Sepanjang perjalanan terlihat rumah-rumah para Dwarf yang atapnya terbuat dari rumput.


“Salam Paduka. Hamba Hjalmar siap melayani Paduka,” buka Hjalmar menyambut kedatangan Edward di Kastil Jotunheim.


“Terima kasih.” Ratu Aerin turun dari kereta kuda sambil menggandeng lengan Edward dengan elegan.


Pasangan Edward dan Aerin terlihat begitu serasi dan berkelas, menyusuri karpet merah langsung menuju aula strategi di Kastil Jotunheim.



“Tumben kucing ini menjadi tenang dan elegan,” batin Edward melihat kecantikan Ratu Aerin yang begitu konyol, terasa aneh jika sang Ratu konyol itu bersikap tenang.

__ADS_1


Setelah menyusuri Kastil Jotunheim yang begitu megah, kini Edward dan Ratu Aerin memasuki aula strategi.


Terlihat disana sudah ada Ratu Vonsgarl, seorang Panglima dari Kerajaan Dwarf, Kapten Lucius dan Kopral Penny.


“Memberi hormat kepada Paduka Edward dan Ratu Aerin!”


“Jadi, bagaimana persiapannya?” tanya Edward menatap Kapten Lucius dan Panglima Dwarfsambil melihat peta yang terpampang di atas meja strategi itu.


“Semua sudah siap. Bala tentara yang bertugas memanah memiliki busur pembunuh naga akan menyerang dari kapal terbang, arah Barat.


Para sorcerers elemen petir akan menyerang dari arah utara, tepatnya Pegunungan Rhodes. Socerers elemen air akan menyerang dari arah selatan, tepatnya Danau Rogh.


Dan penyerang utama kelas berat akan maju dari sisi Timur,” jawab Kapten Lucius.


“Berapa jumlah naga yang hidup di daerah Pegunungan Rhodes?” Edward harus mengetahui jumlah musuh sehingga akan bisa memperkirakan berapa besar kekuatan mereka.


“Tergantung cuaca, angin, dan kondisi alam sekitar. Jika cuaca sedang buruk, para Naga elemen air dan petir akan keluar untuk mencari mangsa. Naga berelemen air dan petir paling tidak berjumlah 60 ekor.


Jika cuaca panas atau dingin, naga berelemen es dan api akan keluar untuk bertarung, mencari makanan, dan memperebutkan kekuasaan. Perkiraan kami jumlah mereka saat ini sekitar 280 ekor.”


“4 elemen … menarik. Lalu bagaimana dengan Raja Para Naga, Vrogh?”


“Posisi Vrogh tidak menentu, Paduka. Jika Vrogh menyerang ketika kita sedang melakukan penyergapan, tentunya kekuatan Vrogh dapat membalikkan keadaan sehingga akan sangat merepotkan.”


Ratu Aerin merasa bahwa Vrogh itu sangat sulit dilawan, bahkan oleh dirinya sendiri. Karena itu Ratu Aerin langsung menolak usul dari Ratu Vonsgarl mengatakan, “tidak, bahkan jika aku sendiri pun hanya berpeluang 50:50 jika berduel melawan Vrogh. Aku pernah menghalau serangan Vrogh seorang diri ketika para naga ini menyerang Kastil Parmel ku, aku berhasil namun aku terluka parah hingga kritis. Bagaimana kau mau mengirimkan suamiku ke sana seorang diri?!”


Ratu Vonsgarl menatap Ratu Aerin dengan tatapan dingin, lalu menjawab, “tradisi kami adalah seperti itu. Seorang Ksatria yang gagah berani akan berduel menghadapi dan membunuh Raja Para Naga di setiap generasi. Jika ia berhasil melumpuhkan Raja Para Naga pada generasi nya, maka Kerajaan Dwarf akan menyerahkan seluruh kekuasaan dan takhta di Kerajaan ini.”


Sang Panglima Perang Kerajaan Dwarf menambahkan, “Paduka Edward muncul di saat yang bersamaan dengan ramalan dari para Tetua Kerajaan. Maka dari itu kami yakin dan benar-benar berharap bahwa Paduka Edward adalah Sang Ksatria yang mampu membunuh Raja Para Naga ini, dan membawa kedamaian selama 100 tahun di generasi kami.”


*Brak!


Ratu Aerin menapakkan tangannya di meja strategi itu hingga membelah meja itu menjadi 2 bagian.



Tapakan tangan itu juga membuat Kastil Jotunheim yang kokoh hingga gemetaran.


“TIDAK ADA YANG BOLEH MENGIRIM EDWARD KU KE DALAM BAHAYA!!!” teriak Ratu Aerin sambil mengeluarkan 1% aura Elf nya yang bahkan dapat membuat kacau seisi kota dengan angin kencangnya.


“Aerin! Tenanglah! Tenanglah sayang!” teriak Edward sambil melindungi dirinya dari angin kencang milik istrinya itu.


*Wush

__ADS_1


Angin kencang itu langsung berhenti, dan membuat seisi aula itu ketakutan hingga salah satu dari prajurit di sana kencing di celana.


“Aerin, aku mengerti perasaanmu. Namun aku sangat membutuhkan sokongan militer dari Kerajaan Dwarf untuk menghadapi Edmud yang jauh lebih kuat. Aku pernah melawan 10.000 pasukan Orc seorang diri, aku pernah membantai 1 kota raksasa yang melawan manusia. Jika kau belaku seperti itu, bukankah kau merendahkan kekuatan suami mu ini, sayang? Bahkan kau sendiri selalu merasakan kehebatanku ketika berusaha memuaskanmu.” Edward perlahan berjalan mendekati istrinya dan membuatnya tenang.


“Masalah ranjang dengan masalah melawan Vrogh itu jauh berbeda! Dasar suami bodoh! Baiklah begini saja, aku ingin melihat seberapa besar kekuatanmu dengan melawan seekor naga biasa. Jika kau menang, selanjutnya kau akan menghadapi aku sendiri, Ratu Aerin. Setelah kau mengalahkanku, maka aku baru akan percaya padamu dan melepaskanmu untuk berduel melawan Vrogh,” jawab Ratu Aerin yang konyol itu dengan tegas tanpa ada sedikitpun celah untuk melunakkan hatinya.


Ratu Aerin akan sangat serius jika itu sudah menyangkut dengan keselamatan suaminya sendiri.


“Baiklah! Aku menerima tantanganmu.”


“Jika kau gagal, maka aku yang akan menghadapi Vrogh dan mematahkan ramalan bodoh itu. Dan juga, kau akan memberikanku jatah setiap hari minimal 5x!”


“Apa?! 5x dalam sehari?! Aku bisa mati jika seperti itu. Kurangi dan aku akan setuju!” Edward, Ratu Aerin, dan semua orang disana segera berjalan keluar menaiki kapal terbang, dan segera turun ke daratan untuk melihat duel Edward menghadapi satu naga biasa dan Ratu Aerin sendiri.



“Jangan membantah! Kalau begitu hukumannya akan kutambah menjadi minimal 10x jatah dalam sehari!” jawab Ratu Aerin setelah kapal terbang itu mulai turun ke daratan.


“Kau memang berniat untuk membunuhku, Aerin!”


“Kenapa? Lagi pula itu kan enak! Bagaimana aku bisa membunuhmu dengan yang enak-enak?!”


“Aku akan melaporkan kelakuanmu pada Aerin yang ada di Parmel!”


“Cih! Silahkan saja! Sekalian saja kalian dua bercinta sana!”


“Oke!”


“Apa?! Aku akan melemparkanmu ke laut, Edward!!! Kemari kau!!!” teriak Ratu Aerin mengejar Edward diatas kapal terbang dengan 1% aura Elf nya.


1% aura Elf yang Ratu Aerin keluarkan bahkan mampu menghancurkan benteng yang terbuat dari batu raksasa, dan 2% nya mampu membelah sebuah gunung berukuran raksasa.


Untungnya Kapten Lucius sudah menyiapkan barrier yang mampu melindungi mereka dari amukan aura 1% Ratu Aerin, sehingga kapal itu tidak mengalami kerusakan serius.


*Hap


Ratu Aerin berhasil menangkap pinggang Edward.


“Terima ini, suami ku tersayang!!! Hiya!!!” Ratu Aerin melemparkan Edward dengan 100% kekuatannya sehingga Edward jauh melayang keatas langit hingga tidak terlihat lagi.


*Kling!


"Ratu Aerin, kau benar-benar melempar Edward?!" tanya Penny.

__ADS_1


"Hehe, ya! Memangnya kenapa? ... Ya ampun jatahku!"


__ADS_2