Throne Of Valor

Throne Of Valor
Edmud : Future


__ADS_3


Malam ini Lembah Kematian disinari dengan bulan purnama.


Penny sedang bertugas jaga bersama Guntar, namun mereka berpencar agar tugasnya lebih mudah.


Malam ini, ketika Penny berjalan di sekitar lembah, Penny melihat kilatan logam dari belati, kapak, dan peralatan perang lainnya terpantul begitu banyak dari dasar lembah.


Saat Penny melangkah untuk memeriksa itu dari atas lembah, Penny melihat para pasukan bandit Orc sedang berjalan menuju mulut lembah.


Menyadari hal itu, Penny langsung berlari menuju Guntar untuk memberitahukan hal ini karena Guntar adalah Orc juga.


“Guntar, aku melihat bandit Orc di dasar lembah!” panggil Penny terenggah-enggah ketika sudah tiba di belakang Guntar.


“Orc? Haha!” Guntar langsung berlari dan terjun bebas ke dasar lembah.


“Huh, dasar Orc!” Penny segera menyusul Guntar, namun Penny tidak dapat langsung terjun bebas seperti Guntar, jadi Penny harus menuruni bebatuan agar mencapai dasar lembah.


*Bruk


Penny mendengar perkelahian dari dasar lembah, namun itu terlindungi oleh bebatuan sehingga Penny tidak tahu apa yang terjadi.


*Argh


Auman Orc tiba-tiba terdengar, Penny mempercepat langkahnya menuruni lembah.


“Sial, apa yang dilakukan Guntar?!”


Sementara Penny menuruni lembah, ternyata Guntar sedang bertarung dengan para Orc yang terdiri dari satu pleton.


“Orc? Tunjukkan kemampuan kalian sebagai Bangsa Orc, Guntar takkan serius menghadapi kalian.”


Guntar menatap 30 Orc didepannya saat ini dengan tatapan merendahkan.


Guntar membuang kapak besinya dan menitikkan jari-jarinya didepan mereka sebelum berlari dengan kecepatan tinggi menuju barisan terdepan.


*Bruk


Hantaman tangan kanan Guntar menghantam salah satu orc di barisan depan, dan membuatnya terpental menembus kawanan Orc dibelakangnya.


“Apa kalian benar-benar Orc? Kenapa begitu lemah?! Haha!” Guntar tertawa.


“Guntar?!” Salah satu bandit Orc itu terlihat begitu kaget setelah mendengar nama Guntar.


“Apa bandit Orc mengenalku?” Guntar melepaskan cengkraman tangannya yang sedang mencekik seorang Orc dan menatap Orc yang memanggilnya Guntar.


“Jendral Guntar?!”


“Darimana kalian tahu Guntar adalah Jendral dulunya?!” Guntar menatapnya dengan serius karena mereka tahu latar belakang Guntar dulunya.


“Kami adalah pasukan Jendral Guntar dulunya ketika berperang melawan Kerajaan Hirendel!” ucap salah seorang Orc sambil menundukkan badannya didepan Guntar.


“Oh menarik! Haha!”


Tidak lama setelah percakapan para Orc itu, Penny datang dari balik celah bebatuan.


Para bandit Orc itu langsung mengangkat senjata mereka karena mereka melihat manusia yang tiba-tiba muncul.


“Penny, tunjukkan kemampuanmu melawan mereka!” panggil Guntar dalam bahasa Orc menatap Penny.

__ADS_1


“Cih, Orc!” gumam Penny lalu mempersiapkan pedang dan panahnya.


“Serang!!!” para bandit Orc berlari menuju Penny dengan niat untuk membunuhnya, karena manusia adalah musuh terbesar Orc.


*Wush


Penny melompat keatas sambil membidik salah satu kepala Orc ketika sedang berada di udara.


*Srek


Panah Penny tepat sasaran mengenai kepala salah satu Orc di celah sempit yang menggunakan helm baja.


Penny menghunuskan pedangnya keatas dan berlari dengan terenggah-enggah karena kondisi Penny belum pulih sepenuhnya.


Saat Penny bersiap mengayunkan pedangnya kearah leher Orc, Guntar tiba-tiba berteriak, “cukup!”


“Penny sangat hebat! Guntar mengakui kekuatan Penny!”


Para Orc seketika menatap Guntar karena Guntar memberhentikan pertarungan yang tidak perlu itu.


“Dia manusia, dan dia teman Guntar! Tak ada yang boleh menyentuhnya!”


Selagi Guntar menjelaskan semuanya kepada para Orc malam itu, Edward mulai tidur dan kembali menembus waktu menjadi Steph di masa depan.



Pagi telah menyongsong di Kota Vienna, Austria.


Steph tertidur dengan begitu pulas sehingga ia bangun dengan penuh semangat.


“Steph, bersiaplah karena kita akan berangkat menuju lokasi Kerajaan Hirendel untuk membuktikan mimpi yang kalian alami. Aku akan menunggu didepan bersama Gwen.” Jhon meninggalkan Steph yang baru terbangun.


“Mimpiku begitu panjang. Aku bahkan merasakan ketakutan jika Penny mati saat itu. Tunggu, mengapa aku jadi memikirkan Penny? Ah gadis kasar itu!


Steph langsung mengecek apakah adik kecilnya baik-baik saja.


“Huh, untunglah.” Ternyata adik kecilnya baik-baik.


Steph lalu bersiap dan menyusul Jhon didepan hotel.


Ketika Steph perlahan mendorong kursi rodanya menuju lobby, Steph melihat Gwen tertawa lepas karena beberapa kata yang diucapkan Jhon padanya.


Ya, tatapan yang dipancarkan dari Gwen saat menatap Jhon adalah tatapan penuh cinta.


Steph dapat menilai itu dengan mudah dari sorot mata cokelat Gwen.


“Hei Steph!” Gwen melambaikan tangannya pada Steph.


“Ayo kita pergi!” Jhon mendatangi Steph dan mendorong kursi rodanya naik ke mobil mereka.



Hari yang cerah namun dingin menemani perjalanan mereka melintasi belahan Negara Austria.


Perjalanan menuju Kastil Hirendel memakan waktu dua jam dari Pusat Kota Vienna.


Karena letaknya di lembah gunung, maka Steph harus memikirkan cara agar tidak merepotkan kedua temannya itu sesaat tiba disana.


Gwen melihat wajah Steph di sampingnya tidak begitu bersemangat, padahal ini adalah pembuktian mimpi mereka.

__ADS_1


Steph hanya menyandarkan kepalanya di jendela kaca dan melihat padang jagung dan rerumputan di pinggir jalan.


Menyadari hal itu, Gwen tahu bahwa perasaan Steph sepertinya sedang buruk.


“Ada apa, Steph? Kau terlihat sedih.” Gwen menepuk pundak Steph dengan lembut, berusaha menatapnya.


“Tidak, aku baik-baik saja.” Steph masih menjawab dengan menatap keluar.


Gwen langsung memegang pipi Steph dengan tangannya dan menghadapkan wajah Steph ke wajahnya.


“Kau sedang tidak baik-baik saja. Katakan padaku apa masalahmu, Steph?”


Melihat tatapan serius dari mata cokelat Gwen, Steph langsung berbisik di telinga Gwen mengatakan, “aku sedang cemburu.”


“Pada siapa, Steph?”


“Pada kalian.”


Mendengar itu, Gwen sangat tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Steph.


Apakah itu artinya Steph menyukai Gwen? Tidak-tidak, mereka baru bertemu sebulan yang lalu kan?


Mengapa cinta bisa begitu mudahnya muncul dan mekar? Oh iya, karena cinta tidak butuh alasan.


“Kenapa kau cemburu pada kami?” bisik Gwen perlahan agar tidak didengar oleh Jhon yang sibuk memilih lagu-lagu di mobil sambil menyetir.


“Tidak, aku hanya bercanda.” Steph melepaskan dekapan tangan Gwen di pipinya, dan kembali menyandarkan kepalanya di jendela kaca.


“Gwen, sebenarnya aku serius akan kata-kata itu,” gumam Steph dalam hatinya.



Kastil Hirendel, Austria.


Karena keberadaan kastil yang terdapat di lembah, maka sangat menyulitkan Steph untuk pergi kesana.


Jadi Gwen bersama Jhon pergi menyelidikinya sedangkan Steph menunggu di mobil.


Saat Steph melihat-lihat sekelilingnya dari dalam mobil yang tertutup, Steph melihat ada seseorang yang menggunakan pakaian serba hitam mengendap-endap menuju kearah perginya Gwen dan Jhon.


“Apa yang dilakukannya?” Steph langsung membuka ponselnya dan berusaha mengabari Jhon bahwa ada seseorang mencurigakan sedang mengikuti mereka.



Sementara itu di pintu masuk Kastil Hirendel.


“Ya! Itu dia sumurnya dibelakang kastil!” Gwen berlari meninggalkan Jhon yang sedang melihat ponselnya untuk menanyakan kabar sahabatnya, Steph.


“Sial! Tidak ada sinyal!” keluh Jhon dari dalam hatinya.


Jhon tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengendap-endap dari belakangnya.


*Bruk


Bunyi bagian belakang leher Jhon dipukul dengan balok kayu hingga Jhon langsung pingsan ditempat.


“Putri Gwen! Kau akan menjadi milikku! Hahahaha!”


...Visual Edmud Collins...

__ADS_1



credits & art by @qwuou


__ADS_2