
Penny mendengar ada suara hantaman yang cukup keras ketika mereka sedang berada di dalam ventilasi Kastil Parmel.
Tanpa suara, Penny memimpin jalan di dalam ventilasi yang sempit itu diikuti Lucius dari belakangnya.
Saat sudah menyusuri ventilasi sempit itu selama hampir satu jam, Penny mengintip dari sebuah celah udara yang berada di atas.
Disana Penny melihat Edward sedang berbaring di paha seorang wanita yang sangat cantik.
Wanita itu mengucapkan sesuatu sehingga membuat Edward tertawa berkali-kali mendengarnya.
Penny langsung menatap Lucius yang berada di belakangnya dan berbisik, “sia-sia saja kita kesini. Edward terlihat cukup bersenang-senang dengan wanita jelek itu!”
“Hei apa kau lupa bahwa dia terkena kutukan?!”
“Bagaimana cara melepaskan kutukan itu?!”
“Baiklah karena kau terus bertanya, aku akan menjelaskannya sekarang.”
Sambil menyusuri ventilasi untuk mencari jalan keluar, Lucius menjelaskan panjang lebar mengenai cara melepaskan kutukan ciuman Elf dari Edward.
“Apa?! Apa Kapten sudah gila?! Itu sangat … mesum!” jawab Penny menatap Lucius tidak percaya.
“Hanya itu satu-satunya cara. Demi Edward, kita harus melakukan apapun, Penny.” Tanpa sadar, pipi Lucius seketika memerah seperti seorang wanita.
“Tapi setahuku Kapten adalah seorang pria!” Penny tidak menyangka Lucius akan melakukan hal itu dengan Edward yang juga adalah seorang pria, karena Penny belum tahu jika Lucius adalah wanita.
“Bodoh! Aku ini wanita!” jawab Lucius karena tidak ingin disangka bahwa ia adalah seorang gay.
“Apa?!” Penny menatap kedua mata rose Lucius dengan tidak percaya.
*Bruk
Suara ventilasi yang berada di lutut dan siku mereka terjatuh karena tidak mampu menahan beban berlebih.
Penny dan Lucius jatuh tepat di kamar Putri Aerin, di dekat pintu masuk sehingga membuat keributan disana.
Edward langsung terbangun dan menatap mereka berdua dengan tatapan tidak percaya.
“Penny?! Lucius?! Apa yang kalian lakukan disini?!” Edward perlahan mendekat dan membantu mereka berdua berdiri.
Putri Aerin juga berdiri dengan gaun birunya dan menghampiri mereka.
“Oh, kalian berdua adalah orang yang membantu kami juga kemarin! Aku tidak menyangka akan menyambut kalian dengan cara yang seperti ini.” Putri Aerin tersenyum menyambut kehadiran Penny dan Lucius disana.
“Maafkan kami, Paduka. Kami datang secara mendadak seperti ini, demi menyelamatkanmu,” jawab Penny menatap Edward dan mengacuhkan senyuman sang Putri.
“Apa aku terlihat seperti orang yang membutuhkan penyelamatan?!”
Mendengar keributan di kamar Putri Aerin, para penjaga bergegas berlari menuju mereka.
“Penjaga, tak apa. Mereka adalah tamuku, kalian boleh bekerja lagi diluar,” perintah Putri Aerin pada para penjaga yang sudah mempersiapkan spell api di tangan mereka.
__ADS_1
“Penny! Lucius! Aku akan ….”
“Tak apa, Edward. Biarkan aku berbincang pada mereka mengenai rencana kita. Kau istirahatlah duluan di kamarku, aku akan menyusul nanti.” Putri Aerin menggandeng dan membawa mereka berdua masuk ke kamar kosong yang berada tepat di samping kamar Putri Aerin.
Sepertinya Edward sudah menyusun sebuah rencana dengan Putri Aerin, entah apa rencana itu, namun dapat dipastikan jika itu adalah rencana yang akan menguntungkan bagi Edward.
Edward berjalan kembali ke kasur Putri Aerin dan mulai beristirahat disana.
…
Pagi telah menyongsong di Kota Vienna, Austria.
Gwen juga baru sadar dari pingsannya.
Ketika Gwen melihat ke arah samping kasur pasiennya, disana ada Steph yang tertidur diatas telapak tangan Gwen.
Steph terlihat begitu kelelahan hingga tertidur dengan posisi duduk yang tentunya tidak nyaman.
“Steph! Bangunlah, tidurlah di sampingku!”
“Gwen? Kau sudah sadar?” tanya Steph sesaat ia dibangunkan oleh Gwen.
“Ya. Ayo naiklah ke sampingku, tidurlah di sisiku.” Gwen menepukkan tangannya dan menyediakan ruang kecil untuk Steph di sampingnya.
“Apa kau bercanda, Gwen?”
“Aku akan marah jika kau menolak. Ayolah naik ke sini.”
Gwen khawatir tidak hanya kaki Steph yang lumpuh, namun juga pinggangnya jika ia memaksa tidur seperti itu.
Meskipun enggan, melihat tatapan serius mantan pacarnya itu Steph perlahan naik dengan bantuan Gwen.
*Hap
Steph kini sudah mantap berada di atas kasur bersama Gwen.
Gwen juga membentangkan selimutnya di tubuh Steph karena cuacanya dingin yang masih begitu menusuk di pagi hari.
“Jadi, bagaimana tentang pedang itu Gwen? Apa kau mendapatkannya?” tanya Steph menatap ke langit-langit kamar pasiennya.
“Ya! Aku mendapatkannya! Semuanya sama persis dengan yang kutinggalkan dulu!”
“Apa?! Itu artinya jika kita berada di mimpi yang nyata?!”
“Benar! Namun ketika aku baru saja mendapatkan semua itu, tiba-tiba ada seseorang yang menyekapku dan membuatku pingsan seketika.”
“Hm, aku sudah menghajar salah satu dari mereka dan mereka kini sedang dalam pengejaran polisi. Jadi, ceritakan padaku kau sedang ada di mana.”
“Syukurlah. Saat ini aku sedang dalam perjalanan kembali ke Kastil Hirendel bersama ratusan pasukan elit. Lalu bagaimana denganmu, Steph?”
“Aku sedang menyusun rencana untuk melawan Edmud. Dan besok aku harus menikahi seseorang agar mendapatkan bantuan militernya.”
Gwen menatap Steph dengan tatapan cemburu, karena apa yang mereka alami itu adalah kenyataan di masa lalu.
__ADS_1
“Huh dasar playboy!”
Entah apa alasan Gwen cemburu, namun Gwen merasa dirinya memiliki hubungan yang erat dengan pria yang saat ini sedang berbaring di sampingnya.
“Apa kau cemburu, Tuan Putri Gwen?” Steph menatap Gwen dengan tatapan curiga.
“Cemburu apanya?! Sana! Nikah saja dengannya dan jauhi aku selama-lamanya!” Gwen membalikkan badannya membelakangi Steph dan menarik semua selimut yang ia bentangkan di tubuh Steph.
Untunglah Steph cukup peka, ia tahu bahwa mantan kekasihnya ini benar-benar cemburu.
Steph lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gwen dengan hangat, dan berbisik di telinganya mengatakan, “aku mencintaimu, Gwen.”
Jantung Gwen tiba-tiba berdegup kencang, tubuhnya menghangat, dan pipinya seketika memerah.
“Dasar bodoh!” Gwen membalikkan badannya ke arah Steph lalu menendang Steph dari kasurnya.
*Bruk!
Bunyi tubuh Steph menghantam karpet rumah sakit.
“Argh! Pinggangku!” keluh Steph sambil memegang pinggangnya yang menghantam lantai.
“Salah sendiri sudah berucap sembarangan!” Bahkan Gwen sendiri tidak menyangka jika tubuhnya bereaksi begitu berlebihan pada Steph.
Gwen marah karena Steph akan menikah dengan seorang wanita, sementara di masa sekarang Steph justru mengatakan bahwa ia mencintai Gwen.
Namun harus diakui, bahwa Gwen benar-benar bergejolak bahagia saat Steph membisikkan kata itu di telinganya.
Setelah beberapa menit suasana di sana menjadi hening, Gwen perlahan-lahan khawatir dengan yang terjadi pada Steph.
Gwen mengintip ke bawah dan melihat Steph tidak membuka matanya.
Menyadari hal itu, Gwen langsung berdiri dari kasurnya untuk memeriksa keadaan Steph di bawah setelah sebelumnya mendengar tubuhnya menghantam lantai dengan cukup keras.
“Oh astaga! Steph, apa kau mati?!” Gwen mengguncangkan tubuh Steph perlahan.
*Hap
Steph langsung menarik tubuh lembut Gwen ke dalam pelukannya ketika Gwen berada di atas tubuhnya.
Saat berada dalam pelukan Steph, pipi Gwen begitu memerah hingga seperti akan mengeluarkan asap.
“Tunggu! Tanganku memegang sesuatu yang menonjol dan keras! Apakah ini terong? Tapi kenapa ada terong di bagian bawah tubuh Steph?” gumam Gwen dalam hatinya sambil meremas apa yang ia pegang.
“Uh! Itu geli Gwen!”
...Putri Gwen Wisse, Figur Nyata (Masa Lalu)...
...Gwen Carolina, Figur Nyata (Masa Depan)...
__ADS_1