
Bulan yang purnama kini bersinar tinggi, dan malam hari yang dingin mulai merambat ke seluruh daratan Kerajaan Empress.
Rerumputan luas yang disinari rembulan menemani para pasukan Edward dalam kesenyapan malam.
Satu jam mereka tempuh dalam kesunyian agar menghindari sergapan para assassins yang mungkin saja masih terus mengikuti mereka dibalik rerumputan.
Ratu Aerin seharian sengaja mengabaikan Edward karena perasaan yang sangat cemburu, setelah melihat Edward-nya berciuman dengan orang asing yang menyebalkan!
“Hm, dasar jahat! Aku tidak ingin berbicara denganmu lagi!” ucap Ratu Aerin dalam hatinya berusaha berkomunikasi dengan Edward, karena Edward belum menyampaikan permintaan maaf padanya.
Mendengar bisikan Ratu Aerin dari cincin yang mereka gunakan, Edward langsung melompat dari kudanya keatas kuda Ratu Aerin.
*Hap
“Istriku, maafkan aku ya. Aku takkan melepaskan pelukanku dari pinggang hangatmu. Selamat malam, aku akan tidur di pundakmu.” Lengan Edward perlahan masuk kedalam sela-sela mantel berbulu yang digunakan Ratu Aerin, dan mulai memeluknya, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Ratu Aerin.
“Ed … Edward? Apa … apa kau baru saja memanggilku istrimu lagi? Uh … itu terlalu ... manis.”
Edward langsung merefleksikan tubuhnya ketika sedang memeluk Ratu Aerin.
Seketika itu juga, rasa cemburu dihati Ratu Aerin seketika musnah dan berubah menjadi rasa cinta.
Setelah perjalanan yang sepi melintasi padang rerumputan, akhirnya Kapten Lucius melihat pantai yang didepannya adalah lautan luas.
“Paduka, kita telah sampai!” teriak Kapten Lucius membangunkan Edward setibanya mereka di bibir pantai.
Edward terpaksa harus bangun, melepas dekapan nyamannya dari tubuh Ratu Aerin, dan segera turun dari kudanya.
“Baiklah, sekarang kita harus mulai mempersiapkan material-material yang dibutuhkan, dan juga keluarkan semua perkakas yang sudah kalian beli di Kerajaan Empress.
Setibanya Putri Sophia nanti, kita akan mulai membangun kapal kita!” perintah Edward dengan tegas menatap kearah pasukannya yang sudah berbaris di depannya.
Putri Sophia mengatakan bahwa ia akan menyusul Edward di pantai Laut Dragon’s Cross untuk membuat kapal mereka disana, karena Putri Sophia harus mempersiapkan kebutuhannya dulu sebelum benar-benar meninggalkan kastil yang seperti penjara itu.
Saat ini Edward sedang memandang kearah lautan didepannya.
Terlihat dari kejauhan awan-awan gelap yang melahirkan petir menyambar lautan luas.
Dalam sunyinya hari yang gelap itu, Edward duduk di bibir pantai sambil memandang kearah lautan bintang dan lautan air didepannya.
Seketika itu juga ia teringat akan wajah Putri Gwen yang tergambar melalui wajah Putri Sophia.
“Ketika berciuman dengannya tadi pagi, serasa aku sedang mencium Putri Gwen. Namun, masalahnya sekarang jadi lebih rumit karena aku memiliki sosok wanita yang konyol namun mencintaiku sepenuh hatinya.”
*Hap
__ADS_1
Edward merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
“Suamiku, ada apa? Kau terlihat sedang memikirkan seseorang.” Ratu Aerin menatap wajah suaminya yang terlihat murung.
Jauh dalam hati Ratu Aerin, ia tahu bahwa Edward masih mencintai orang lain. Itu tergambar ketika Ratu Aerin diam-diam mengikuti Edward di pasar Kota Saint’s Haven, Edward membelikan sebuah jepit rambut dari batu zamrud.
Namun hingga kini itu tak pernah diberikan Edward padanya, yang artinya jepit rambut itu bukanlah untuknya.
“Tidak, aku baik-baik saja.” Masih dengan pandangan yang menatap bintang-bintang, Edward terus-menerus mengingat ciuman dengan Putri Sophia yang serasa seperti sedang berciuman dengan Putri Gwen.
*Hap
Ratu Aerin langsung memeluk Edward, lalu berbisik di telinganya mengatakan, “aku akan berusaha keras untuk menjadi yang terbaik untukmu, tak perduli akan butuh berapa lama. Aku telah dan akan terus mencintaimu, Edward.”
Air mata Ratu Aerin seketika bercucuran keluar dalam posisi memeluk suaminya.
Cukup menyedihkan jika kau memiliki tubuh seseorang, namun hatinya bukanlah untukmu.
Edward ingin melepaskan pelukannya dari dekapan Ratu Aerin, namun Ratu Aerin menahannya agar Edward tidak melihatnya bahwa saat ini ia sedang menangis.
“Tidak Edward, sebentar saja … biarkan aku menyelesaikan tangisanku. Aku malu menunjukkan wajahku yang menyedihkan padamu. Aku hanya ingin kau melihatku tersenyum, tanpa sedikitpun menangis seperti ini.”
*Hiks
“Aerin, kenapa kau menangis seperti ini? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Edward ketika merasakan tubuh Ratu Aerin mulai terisak-isak tangis dalam dekapannya.
*Hiks
“Kalau begitu, menangislah sepuasnya dalam dekapanku. Keluarkan semua kesedihanmu, keluarkan semua rasa cemburumu, keluarkan semuanya. Aku milikmu, Aerin.”
Mendengar perkataan Edward barusan, tiba-tiba Ratu Aerin tanpa berpikir panjang perlahan menunjukkan alasan kenapa ia menangis.
“Namun tidak dengan hatimu kan, Edward?”
Edward cukup kaget mendengar pertanyaan yang begitu menusuk dari Ratu Aerin.
Rupanya Ratu Aerin sudah sadar mengenai perasaan Edward yang sebenarnya.
Demi menghibur istrinya, Edward sengaja berbohong mengatakan, “kau bicara apa, Aerin? Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu?”
“Kapan?”
“Sebelum kau pingsan.”
Seketika Ratu Aerin menjadi begitu bersemangat mendengar kata-kata bohong yang tidak ia sadari terlontar dari mulut Edward.
“Benarkah?!!!” tanya Ratu Aerin melepas pelukannya dari tubuh Edward.
__ADS_1
“Ya. Kemarikan wajahmu, aku akan menghapus air matamu.” Edward perlahan menyapu air mata di pipi istrinya sambil tersenyum padanya.
Ratu Aerin langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Edward dan memandang kilatan cahaya bintang-bintang terpancar di mata biru Edward.
“Jangan menangis seperti ini lagi ya, Aerin? Tidak adil bagiku jika kau menangis sedangkan aku bahagia denganmu.”
“Edward, katakan lagi!” pinta Ratu Aerin dengan wajah manja menatap mata Edward.
“Katakan apa?”
“Cinta … bahwa kau mencintaiku! Sekarang juga atau aku akan menangis lagi!”
“Aku mencintaimu, Aerin.”
“Jangan hanya Aerin tapi istriku yang sangat cantik dan lucu, dan imut, dan baik!”
“Kucing gila. Sudah, sekarang aku akan membantu pasukanku mengumpulkan material!”
…
Pagi hari kini telah terbit menyinari bibir pantai yang indah.
Semalam sempat terjadi badai petir disertai angin kencang sehingga mengharuskan para pasukan Edward untuk berkemah secepatnya.
Badai petir itu juga mengacaukan material-material yang sudah mereka kumpulkan tadi malam.
Ketika Edward baru saja bangun, Edward melihat dari tendanya Putri Sophia sedang berjalan di pantai untuk merapikan material yang berserakkan.
Melihat wajah Putri Sophia ketika bangun dari kejauhan, Edward langsung berdiri dari kasurnya dan membantu Putri Sophia yang sedang bekerja sendirian.
“Sophia! Sejak kapan kau datang?” tanya Edward setelah baru saja tiba di depan Putri Sophia.
“Sudah cukup lama … Edward, awas!” Putri Sophia segera berlari ke arah Edward saat melihat seseorang akan melepaskan anak panah kearahnya.
*Hap
Tubuh Putri Sophia kini mendarat diatas tubuh Edward.
*Wush
Anak panah itu terlontar dengan kecepatan tinggi, untungnya Putri Sophia sudah menyelamatkan Edward.
“Jatuh cintanya nanti saja Edward. Sekarang ada beberapa bandit yang harus ditumbangkan!” Putri Sophia berdiri dari tubuh Edward, dan berusaha membangunkan prajurit Edward yang nampaknya kelelahan setelah perjalanan ditambah menyiapkan material tadi malam.
“Sophia, jangan bangunkan mereka. Aku bisa menghadapi para bandit ini seorang diri!”
__ADS_1