Throne Of Valor

Throne Of Valor
Edward's True Lover


__ADS_3


Matahari mulai terbit meninggi diatas jajaran gunung-gunung di sekitar daratan Kerajaan Archangle.


Edward membuka matanya dan perlahan berjalan kearah kamar Ratu Aerin yang tadi malam besikap sangat galak padanya.


*Tok-tok


“Aerin … kau disana?” panggil Edward dari luar pintu kamar Ratu Aerin.


Mendengar panggilan Edward, Ratu Aerin langsung bangkit dari kasurnya dan membukakan pintu untuk suaminya.


“Ada apa?” tanya Ratu Aerin dengan tatapan dingin menatap Edward yang terlihat berantakan.


“Aku minta maaf atas kejadian kemarin.” Edward berusaha tersenyum dengan kondisi yang kacau.


Ratu Aerin mengulurkan tangannya ke kening Edward.


“Badanmu panas, kau pasti sakit. Masuklah kedalam.” Ratu Aerin mempersiapkan ranjang untuk Edward beristirahat di kamarnya, karena Ratu Aerin akan merawat Edward-nya hingga sembuh.



Edward terheran-heran melihat sikap tenang istrinya.


Bahkan saat mengatakan badannya panas, Ratu Aerin masih menatapnya dingin.


“Berbaringlah disini. Aku akan memasak makanan untukmu. Takkan kuizinkan kau melangkah dari kastil ini dalam keadaan sakit, mengerti?” tanya Ratu Aerin setelah menyelimuti Edward di kasurnya.


*Uhuk-uhuk


Suara batuk Edward yang menandakan bahwa Edward benar-benar sakit selain dari keningnya yang panas.


Berbeda dengan Aerin yang selalu bersamanya hingga ke Dwarfhold, Aerin yang berada di istana terasa lebih dingin dan cuek padanya.


“Edward, kau mengerti?”


“Ya-”


*Uhuk-uhuk


Ratu Aerin berjalan ke dapur kastilnya dan mulai memasak disana.


Para koki Elf sangat kaget hingga kaki mereka gemetar saat melihat Ratu Aerin sendiri yang memasak.


“Yang Mulia Ratu, apakah hamba melakukan kesalahan hingga Yang Mulia Ratu memasak sendiri?” tanya seorang kepala Koki menatap kearah Ratu Aerin yang sedang mencicipi bubur buatannya.


“Tidak.”


“Ah kalau begitu izinkan hamba-hamba Yang Mulia Ratu membantu.”


“Tidak perlu.”


Sambil memasak makanan untuk Edward-nya, Ratu Aerin yang bijak bergumam dalam hatinya mengatakan, “apa yang dilakukan Aerin bodoh itu pada Edward hingga dia bisa sakit seperti ini?!”

__ADS_1


Setelah selesai memasak, Ratu Aerin kembali ke kamarnya membawakan Edward bubur dan susu hangat.


“Bangun. Makanlah.” Ratu Aerin duduk di samping ranjangnya dan mulai menyuapi Edward.


“Edward, jangan terlalu banyak berpikir kau bisa sakit.”


“Aerin, aku-”


“Apa yang dilakukan Aerin yang bodoh itu padamu hingga kau bisa sakit seperti ini, hm?”


“Dia … dia setiap hari melakukan ritual itu padaku.”


“Apa?! Kenapa begitu berlebihan, Edward?! Ritual itu berdampak buruk jika terlalu sering! Kalau sudah begini, aku takkan membiarkan dia menyentuhmu lagi!”


Walaupun sedang marah, Ratu Aerin yang bijak ini tetap menyuapi Edward dengan lembut.


Ia bahkan mengisap panas tubuh Edward dengan berbaring diatas tubuhnya, begitu perhatian dan romantis, namun tetap saja terasa dingin.


“Aerin … kau sangat berbeda dari yang biasanya.” Edward menatap kening Ratu Aerin yang sedang menindihnya untuk mengisap panas tubuhnya.


“Walaupun kami adalah satu, namun kami adalah dua orang yang berbeda. Dia adalah diriku yang ceroboh, mesum, bar-bar, dan bodoh. Sedangkan aku sendiri adalah diriku yang bijak, cerdas, dan berbicara seperlunya saja.”


“Bagaimana dengan hatimu? Apakah kau mencintaiku sama seperi Aerin yang bodoh itu?”


“Kau pikir kenapa aku repot-repot memasak untukmu sementara aku memiliki ribuan koki? Kenapa aku mau menyuapimu sementara aku memiliki ribuan pelayan? Dan bahkan kenapa aku mau melepas semua pakaianku demi mengisap panas di tubuhmu sedangkan aku memiliki ribuan tabib?”


Edward mengalihkan pandangannya ke lain arah.


“Hanya saja … kau terasa begitu berbeda. Kau yang disana sudah pasti tidak bisa menahan diri untuk melakukan ritual itu sekarang.”


Entah kenapa, Edward merasa Aerin yang sekarang adalah orang lain.


Mungkin karena Edward terbiasa akan kekonyolan istrinya yang berada di Dwarfhold itu sehingga Aerin yang saat ini terasa aneh.



Siang mulai meninggi menyinari daratan berumput luas Kerajaan Archangle.


Setelah dua jam berada diatas tubuh Edward, Ratu Aerin merasakan bahwa Edward masih dalam keadaan sakit.


“Ikutlah denganku. Mungkin udara segar bisa membuatmu lebih baik.” Ratu Aerin membantu Edward memasangkan pakaiannya, memandikannya dengan air hangat, dan membawanya keluar dari Kastil Parmel untuk berkeliling di sekitar Kota Arendel.


Karena ingin menikmati suasana tanpa desakan orang-orang yang menyambut mereka, Ratu Aerin dan Edward menggunakan penyamaran mereka untuk keluar.


“Aerin … masih ada yang harus kukerjakan di Kerajaan Britania Raya,” bisik Edward ketika Ratu Aerin sedang memegang tangannya melintasi alun-alun Kota Arendel.


“Tidak boleh pergi hingga kau benar-benar sehat! Dan aku akan memarahi Aerin yang bodoh itu karena tidak bisa merawatmu dengan benar!”



Ketika tiba di alun-alun Kota Arendel, Ratu Aerin mengetahui disana sedang diadakan festival yang mengundang pertunjukkan sirkus dari kerajaan manusia.


Terlihat seorang pawang singa sedang bermain dengan singa nya di tengah pertunjukkan.

__ADS_1


Namun setelah pertunjukkan berjalan beberapa menit, sang pawang kehilangan kendali dari singanya karena sepertinya singa itu kelaparan.


Tanpa disadari, singa itu berlari kearah belakang tubuh Edward yang sedang berbisik pada Ratu Aerin.


Dengan sihir sensoriknya, Ratu Aerin dapat merasakan bahaya di belakang mereka yang sedang menuju kearah mereka.


Namun Ratu Aerin tidak bisa mengeluarkan sihirnya karena disana dipenuhi dengan rakyat Elf.


Ratu Aerin tidak ingin penyamarannya terbongkar sehingga menarik perhatian, lalu berkerumun di sekitar Edward yang sedang sakit.


Beberapa detik sebelum singa itu menerkam punggung Edward, Ratu Aerin langsung membuat punggungnya sendiri sebagai perisai untuk Edward.


Tidak mungkin jika Ratu Aerin menarik Edward ke belakang atau mendorongnya, karena singa itu akan tetap kembali dan pasti mengincar Edward.


“Aerin kau kena-”


*Srek!


Bunyi terkaman dari cakar singa itu merobek punggung Ratu Aerin.


*Roar!!!


Edward membalikkan badannya dan melihat seekor singa sedang mencabik punggung Ratu Aerin.


Dengan amarah yang meledak-ledak, Edward melompat kearah singa itu dan langsung menangkap lehernya.


*Hap


Edward mengangkat leher singa itu keatas, menyeretnya, dan melemparkannya ke kandang besi yang berada tidak jauh darinya.


Setelah selesai berurusan dengan singa itu, Edward langsung kembali kepada Ratu Aerin-nya yang sedang tersungkur dengan darah yang mengalir dari punggungnya.


“Aerin!!!” teriak Edward sambil mendekap kepala Ratu Aerin, lalu merobekkan pakaiannya untuk menutup cucuran dari punggung Ratu Aerin.


“Edward-ku baik-baik saja kan?” Ratu Aerin tersenyum memegangi pipi Edward.


“Kenapa kau justru menanyakanku sementara yang terluka adalah dirimu!”


“Aku ini seorang Ratu. Kekuatanku adalah yang terkuat di belahan Bumi Selatan. Bahkan dicakar seekor naga pun tidak akan sanggup membunuhku. Kau sedang sakit, kenapa malah bertarung dengan singa seperti itu?”


Edward langsung bernapas lega setelah mendengar Ratu Aerin baik-baik saja.


“Sebesar inikah rasa perdulimu padaku bahkan merelakan punggungmu sendiri untuk dicakar, karena aku sedang sakit?”


“Ya … kurang lebih seperti itu,” jawab Ratu Aerin yang bijak dengan pipinya yang memerah.


*Hap


Ditengah kerumunan orang-orang yang masih belum mengetahui identitas mereka, Edward memeluk istrinya itu dengan penuh rasa cinta.


“Terima kasih, Aerin. Aku akan berusaha keras untuk belajar mencintaimu dan melupakan Putri Gwen!”


Hari itu, Edward langsung mengurungkan niatnya untuk pergi ke Kerajaan Britania Raya.

__ADS_1


Edward mulai belajar mencintai apa yang ia miliki sekarang.


__ADS_2