
Siang hari di Kastil Hirendel, Austria.
Gwen menggali di belakang Kastil Hirendel di dekat sebuah sumur.
Setelah menggali 10 centimeter, alis Gwen meninggi saat melihat sebuah peti yang sama persis dengan yang dikuburkannya pada abad pertengahan dulu.
Dengan tangan yang gemetaran, Gwen mengangkat peti itu dari dalam lubang yang dibuatnya.
*Tek
Bunyi peti tua ketika Gwen membukanya.
Alangkah kagetnya Gwen saat melihat isinya sama persis dengan apa yang dikuburkannya di masa lalu, sebuah pedang pemberian Raja Julien.
“Ja … jadi ini nyata?!” Tangan Gwen bergetar saat mengangkat pedang itu dari dalam peti, bahkan sebuah surat yang ia tulis dengan tangannya sendiri ketika menjadi Putri Gwen juga ada disana, semuanya sangat lengkap.
*Hap
Tiba-tiba dari belakang Gwen, ada seseorang yang mendekapnya dan menempelkan sebuah kain yang berisi cairan pembuat pingsan ke hidung Gwen.
Seketika itu juga Gwen langsung pingsan dalam dekapan orang misterius itu.
…
Didalam mobil, Steph dengan susah payah berusaha keluar dan naik melihat keadaan dari Jhon bersama Gwen.
Namun jalanan yang berbatu, terjal, dan curam benar-benar menyulitkan Steph bahkan tidak memungkinkan baginya untuk naik keatas dengan kursi rodanya.
Sebenarnya dahulu kala Steph mengingat ada jalan utama Kerajaan Hirendel, namun itu sudah tertutup dan terabaikan selama 500 tahun, tentu saja sekarang jalan itu sudah dipenuhi dengan pepohonan dan bebatuan.
“Sial!” Steph kembali ke mobilnya dan berusaha menghubungi polisi.
*Tap-tap-tap
Steph mendengar langkah kaki melintas disamping mobilnya.
Ketika Steph mengarahkan pandangannya ke samping mobilnya, Steph melihat orang misterius itu membawa Gwen di pundaknya dalam keadaan tidak sadar.
Dengan emosi yang meluap-luap, Steph berusaha keluar dengan susah payah dari dalam mobilnya dan langsung berteriak kepada orang misterius yang belum jauh darinya mengatakan, “hei! Lepaskan Gwen!”
Steph berteriak sambil mendorong kursi rodanya kearah orang misterius itu.
Tiba-tiba setelah mendengar teriakan Steph, orang misterius itu langsung berbalik dan berjalan membawa Gwen kearahnya.
*Tap-tap-tap
Orang misterius itu kini tepat berada didepan Steph.
Ia memandangi Steph baik-baik dari balik topengnya.
__ADS_1
Orang itu mendekatkan mulutnya ke telinga Steph dan berbisik, “aku tidak sudi melawan orang yang cacat!”
*Bruk
Steph mengarahkan tangan kanannya yang sudah mengepal dengan kecepatan tinggi kearah adik kecil dari orang asing itu.
Menerima hantaman dengan kecepatan tinggi dari tangan Steph yang berotot tepat di adik kecilnya, orang misterius itu langsung terkapar tidak sadarkan diri, sementara Gwen langsung rebah ke tubuh Steph.
*Hap
Kini tubuh Gwen sudah aman dalam dekapan tangan Steph.
Steph langsung membawa Gwen masuk ke mobil dan mengistirahatkannya disana dengan susah payah.
Penasaran dengan wajah orang itu, Steph kembali keluar mobil dan ingin membuka topeng rubah yang menutupi wajah orang misterius itu.
*Tap-tap-tap
Namun sebelum Steph membuka pintu mobilnya, terdengar ada lagi langkah kaki lainnya sedang menuju kearahnya dari balik batu besar di depannya.
Saat langkah kaki itu muncul dari balik batu, Steph melihat orang misterius lainnya yang menggunakan topeng rubah sama seperti yang sudah dikalahkannya barusan.
Steph mengurungkan niatnya untuk keluar dan melihat apa yang akan dilakukan orang itu.
Orang itu melihat kawannya terkapar dan langsung membawanya pergi dari sana.
“Sial! Aku belum melihat wajah mereka!” gumam Steph sambil membenturkan tangannya di pintu mobil.
…
Hari mulai gelap. Gemuruh hujan kini sedang menuju kearah sekitar Kastil Hirendel yang sudah usang.
Steph sudah menunggu selama lima jam, namun para polisi belum juga tiba ke lokasi.
Steph memandangi wajah Gwen yang sedang pingsan disampingnya.
Dirinya teringat masa-masa dimana mereka berdua menjalin hubungan dulunya, kala itu Gwen adalah kekasih yang sempurna.
Ia selalu hadir, mengerti, dan percaya pada Steph.
Tak pernah sekalipun Gwen membuat Steph merasa cemas atau marah padanya selama enam tahun mereka menjalin hubungan.
Gwen yang adalah anak dari direktur rumah sakit, justru mencintai Steph yang bukan siapa-siapa.
Bahkan wajahnya juga biasa-biasa saja, tak ada sesuatu yang spesial dari diri Steph hanya seorang pria pada umumnya.
Steph kini membaringkan kepala Gwen di pahanya. Lucu, harusnya pria yang berbaring di paha wanita.
Dengan wajah Gwen yang begitu cantik di pangkuannya, Steph merasa bersalah membuat gadis secantik ini harus menderita akibat hilang ingatan.
Senyuman yang hangat, mata cokelat, dan jari-jari yang lembut yang dulunya selalu merawat Steph saat Steph sedang sakit kini telah berhenti melakukan itu untuknya.
__ADS_1
Bukan karena kesalahan Gwen, namun karena kesalahan Steph sendiri.
Sambil mengusap-usap kening mantan kekasihnya, Steph berbisik lembut pada Gwen mengatakan, “Gwen, apa kau baik-baik saja? Lucu, aku menanyakan ini padahal kau jelas-jelas berbaring disini. Namun apakah hatimu baik-baik saja? Dulu, kau begitu mencintaiku, kau tidak bisa jauh dariku, kau bahkan selalu berusaha meluangkan waktumu sesibuk apapun dirimu saat bekerja sebagai pramugari untukku. Tak pernah kau mengecewakanku, sungguh.
Namun kini justru aku yang malah mengecewakanmu, maafkan aku untuk itu. Aku tidak tahu sekarang bagaimana perasaanmu, apakah ada namaku disana?"
Bunyi sirene polisi bersama ambulans akhirnya terdengar, dan para polisi segera mengevakuasi Jhon yang pingsan karena pukulan benda tumpul di gerbang Kastil Hirendel.
…
Setelah satu jam memberikan keterangan di kantor polisi, Steph akhirnya menyusul Gwen dan Jhon yang sedang dirawat di rumah sakit.
Ketika tiba di kamar Gwen, Steph mencium kening mantan kekasihnya dan tidur disampingnya.
Kini Steph kembali menembus waktu menjadi Edward.
Pagi hari yang hangat telah menggantikan kegelapan malam di mulut Death Valley.
Edward perlahan berjalan keluar tenda, alangkah kagetnya Edward ketika melihat ada pasukan bandit Orc duduk dan sedang tertawa-tawa bersama Lucius.
Edward langsung berlari kearah Lucius dan menanyakan, “apa yang terjadi?! Mengapa para bandit Orc ini bisa begitu akrab denganmu?! Bukankah mereka musuh kita?!”
Lucius langsung berdiri dan berbisik di telinga Edward mengatakan, “pakai dulu celanamu, dasar cabul!”
*Bruk
Lutut kiri Lucius kini lagi-lagi mendarat tepat di adik kecil milik Edward yang perkasa.
“Lucius!!!” gumam Edward berjalan kembali ke tendanya sambil menahan sakit yang luar biasa.
“Hancur sudah masa depanku yang berharga!” Edward mengeluh ketika memasang celananya.
*Tap-tap-tap
Edward mendengar langkah kaki terengah-engah dari belakangnya.
Saat Edward baru saja membalikkan wajahnya, seketika sepasang bibir yang lembut mendarat di bibirnya.
“Ini penebusan dosaku, lakukan apapun yang kau inginkan pada tubuhku,” bisik wanita itu saat memundurkan sedikit bibirnya dari bibir Edward.
*Cuih
Edward melepaskan ciumannya dengan kasar lalu berteriak, “kau pikir aku gay?!”
... "The Power Is In Brave Heart!"...
... -PENNY CLARK, THE HEROES-...
Art by : Yuu
__ADS_1