Throne Of Valor

Throne Of Valor
Arthemis : Fall In Love With Edward


__ADS_3


Kota Saint’s Haven, Kerajaan Empress.


Siang hari yang terik dan cerah kini menyinari daratan rumput hijau Kerajaan Empress.


Salah satu mata-mata Edward yang sudah menyusup memberikan informasi bahwa saat ini pasukan Kerajaan Empress sudah berangkat menuju kearah Timur.


Sehingga saat ini penjagaan Kota Saint’s Haven menjadi longgar, dan hal ini memungkinkan para pasukan Edward untuk mulai berpencar.


Pemandangan Kastil Heavenly yang berdiri megah tepat berada di tengah-tengah kota.


Edward, Penny, dan Arthemis kini menyusuri jalan raya Kota Saint’s Haven yang begitu megah.


Di samping kiri dan kanan Edward terlihat kios-kios kecil yang menjual logistik.


Namun ada satu hal yang menarik perhatian Edward ketika mereka melintas didepan toko perhiasan.


Edward teringat akan Putri Gwen yang begitu menyukai bunga tulip saat melihat sebuah pita rambut yang berbentuk tulip, yang terbuat dari batu zamrud murni.


Diam-diam, Edward membelikan itu untuk Putri Gwen dan menyimpannya hingga bertemu kembali dengan Sang Putri.


Begitu juga untuk Ratu Aerin, Edward membelikan istrinya itu sebuah terong yang besar.


Sepanjang perjalanan menyusuri Kota Saint’s Haven, orang-orang disana melirik kearah Arthemis dengan tatapan kagum.


Mereka rupanya benar-benar terpanah akan kecantikan Arthemis yang begitu mempesona.


Berbeda dengan Arthemis, Penny memiliki tampang yang cantik namun terlihat galak sehingga tak ada orang yang berani main mata dengannya.



Kecantikan Arthemis itu hingga membuat kerumunan orang-orang yang cukup besar mengikutinya sepanjang perjalanan, hingga mereka tiba di salah satu tempat milik pemerintah Kerajaan Empress.


Saat melihat Arthemis berjalan didepan kantor pemerintahan, para pejabat disana memanggil Arthemis dengan niat untuk melakukan sesuatu yang cabul padanya.


“Hai gadis cantik! Kemarilah dan bermain bersama kami! Kami akan memberikanmu apapun yang kau inginkan!” ucap salah seorang pria bertubuh gemuk yang di semua jarinya terpasang cincin emas.


Karena Arthemis tidak menghiraukan mereka, para bapak-bapak gemuk itu menarik dengan paksa lengan Arthemis.


*Hap


Tangan mereka kini mendekap lengan Arthemis dan berusaha menariknya dengan paksa masuk ke dalam kantor.


Menyadari istri samarannya sedang diganggu, Edward langsung melepaskan tangan busuk pria-pria itu dari lengan Arthemis.


“Singkirkan tangan kotormu dari istriku, sampah!” ucap Edward dengan tatapan tajam setelah melepaskan tangan-tangan itu menyentuh lengan Arthemis.


Saat ini, pipi kiri Edward terpampang dengan jelas di depan mata Arthemis.


Tanpa disadari olehnya, pipi Arthemis memerah dengan begitu hangat. Terlebih lagi, saat ini Edward juga sedang membela dirinya dari para predator genit itu.


“Kau ingin mati?!” teriak salah satu pejabat gendut itu menatap Edward.


“Kau berani mengancamku?! Aku akan menghajar wajah kotormu itu!” Edward mengepalkan tangannya dan bersiap untuk mengarahkannya ke wajah mereka.


*Hap


Tiba-tiba tangan kanan Arthemis menahan ayunan tangan Edward.


Arthemis lalu memandang dengan baik kedua mata Edward, dan menggelengkan kepalanya.


Seketika itu juga Edward sadar jika mereka sedang dalam penyamaran, dan juga sedang berada di kota musuh.


“Tuan-tuan, maafkan tingkah kasar kami. Apa yang kalian inginkan dariku?” Arthemis menundukkan kepalanya kepada para pejabat itu lalu tersenyum.


Melihat senyuman menawan Arthemis, semua pejabat itu menjadi luluh seketika sehingga suasana disana kembali menyejukkan.


*Plak!


Bunyi tamparan dari tangan berotot Kapten Lucius mendarat di wajah pejabat yang ingin meraih lengan Arthemis.


Tamparan itu langsung membuat pejabat yang gendut itu menjadi pingsan di tempat.


Menyadari bos mereka di tampar oleh seseorang yang tertutup dengan tudung, yaitu Kapten Lucius, mereka langsung mengangkat pedangnya dan berusaha mengejar Kapten Lucius.


Edward tahu bahwa itu adalah sinyal bagi mereka bertiga untuk lari dari lokasi itu.


Tanpa ragu, Edward menggenggam tanan kanan Penny dan tangan kiri Arthemis lalu membawa mereka ke sebuah penginapan.


Didalam penginapan ini, Penny merasa ada orang mencurigakan sedang mengawasi mereka dari jauh.


Sembari Edward mengurus kamarnya, Penny berbisik di telinga Arthemis mengatakan, “beraktinglah menjadi istri Edward yang sangat manja! Ada seseorang yang mencurigakan sedang mengawasi kita.”


Arthemis yang polos langsung menjawab, “baiklah-baiklah!”


“Hehehe ini saatnya memanen tubuh Edward!” gumam Penny dalam hatinya dan mulai berjalan di belakang Edward menuju kamar mereka bertiga.


“Tuan, istri-istri anda sangat cantik! Aku jadi iri. Baiklah, kalau begitu selamat menikmati bulan madu kalian.” Sang pemilik penginapan itu membalikkan badannya setelah menatap tubuh langsing dan wajah sempurna Arthemis.


*Bruk


Suara pintu ditutup oleh Arthemis dengan ganas setelah mereka masuk ke kamar.


“Suamiku, kemarilah.” Arthemis menggoda Edward dengan menarik kancing baju Edward dan membawanya keatas kasur.


Dengan ganasnya, Arthemis menyobek pakaian Edward.


Penny yang melihat itu seketika menepuk jidatnya, bagaimana bisa Arthemis yang cantik ini begitu bodoh?

__ADS_1


“Aku kira dia pintar! Huh, sudahlah, lagi pula niatku adalah memanen tubuh Edward!” gumam Penny dalam hatinya dan bergabung dengan Arthemis menindih tubuh Edward.


Edward benar-benar tidak berdaya ketika menghadapi rayuan wanita secantik Arthemis.


“Ah … Edward!”


“Hei Arthemis, aku bilang kita hanya berakting! Kenapa kau malah benar-benar melakukannya?!” bisik Penny ketika Arthemis sudah melakukan sesuatu yang diluar ekspektasi Penny pada tubuh Edward.


“Apa itu akting?” Arthemis menggaruk-garukan kepalanya dengan bingung.


“Oh astaga, aku tidak menyangka jika wanita secantik dirimu begitu bodoh!” Penny menepuk jidatnya sambil mendesah.


*Celetak!


Penny menjitak kening Arthemis lalu berbisik, “akting itu hanya berpura-pura, bodoh! Kalau kau melanjutkannya, kau bisa hami ….” Kata-kata Penny terhenti saat mereka di gerebek oleh seseorang.


*Duar!!!


Bunyi pintu kamar mereka di dobrak oleh seorang wanita yang tak kalah menawan dari Arthemis, yaitu Ratu Aerin.


“EDWARD!!!” Ratu Aerin menatap suaminya yang sudah terhanyut dalam situasi panas.


“Hua!!! Kau saja tidak pernah memberikanku jatah! Bagaimana bisa kau memberikan itu untuk wanita la … Arthemis? Penny?!” Ratu Aerin menatap kedua wanita yang sedang menindih Edward itu dengan tatapan tidak percaya.


Pada hari yang sama, Penny menjelaskan pada Ratu Aerin dengan begitu teliti sehingga Ratu Aerin dapat memahami mengapa mereka melakukan itu pada Edward.


(punya bini galak bener dah!)



Malam hari yang dingin, bintang-bintang kini bertaburan dengan indah di langit Kota Saint’s Haven.


Ketika Edward berjalan ke balkon kamar mereka, Edward melihat Arthemis duduk disana dan menatap ke langit diatasnya.


“Arthemis? Kau tidak bergabung dengan Aerin dan Penny di pasar?” tanya Edward lalu duduk di samping Arthemis.


“Tidak, aku sedang ingin menyendiri.”


“Apa yang begitu mengganggumu, Arthemis?”


“Merindukan orangtuaku.”


Edward lalu mengarahkan telunjuknya kearah salah satu bintang yang sedang bersinar terang malam itu.


“Jangan khawatir mengenai itu. Setiap orang akan melewati masa-masa kematian dan mereka akan menyatu dengan semesta lalu menjadi salah satu bintang disana. Mereka akan bersinar terang untukmu, selamanya.”


“Edward … kata-katamu mengubah sudut pandangku mengenai kematian. Jika memang seperti yang kau ucapkan, maka aku akan sangat bahagia dapat menatap mereka setiap hari.”


Edward lalu mendekap Arthemis kedalam pelukannya.


“Pasti. Sekarang jadilah wanita yang tangguh,” bisik Edward di telinga Arthemis dengan lembut.


*Wush


Tiba-tiba sebuah kilatan belati meluncur kearah mereka.


*Ting


Edward memangkis itu dengan sebuah pot bunga yang terbuat dari besi.


Dalam terangnya bulan di malam hari itu, Edward melihat ada belasan assassins berdiri diatas atap-atap rumah di depan balkon kamar mereka.


Edward tidak ingin menarik perhatian penduduk sekitar yang sedang berlalu-lalang di bawah balkon mereka.


Jadi Edward menarik tangan Arthemis dan membawanya menjauh ke sebuah gang sempit yang cukup sepi, sambil diikuti oleh para assassins itu di belakang mereka.


“Edward, mereka berjumlah 20 orang!” bisik Arthemis pada Edward ketika mereka baru saja tiba di sebuah gang yang sempit dan cukup gelap.


“Tidak perlu khawatir, aku ini Edward!” Edward berdiri membelakangi Arthemis yang terlihat ketakutan.


“Edward … mereka tiba! Dari atas ada 10 orang, dan dari depan gang ada 10 orang!” lanjut Arthemis setelah merasakan melalui sihir sensoriknya.


Gang ini begitu sempit dan gelap, hampir tidak ada cahaya yang menembus hingga ke dalam gang itu.


Edward lalu terpikirkan sebuah ide untuk membantunya dalam pertempuran yang tidak mendukung posisinya itu.


“Arthemis, kita akan menari! Fokuslah menatap mataku dan lakukan apapun yang ku minta!” Edward mendekap pinggang Arthemis dan mengarahkan sorot matanya kearah mata Arthemis.


Saat berada dalam dekapan Edward yang hangat, tidak sedetik pun sorot mata Arthemis dialihkan dari tatapan Edward.


*Wush-wush-wush


Para assassins itu mulai berlompatan kearah mereka berdua.


Arthemis dapat merasakan dengan baik dimana posisi persis mereka.


“Katakan arah jam berapa mereka datang!” ucap Edward sambil menarik dengan energik tubuh Arthemis.


“Arah jam 3! Menunduk lalu … tendang dengan kaki kanan, sekarang!” ucap Arhemis dengan hati-hati sambil terus menatap kedua mata Edward dalam bayang-bayang kegelapan.


*Bruk!


Pinggang Edward terkena pukulan, rupanya dalam percobaan pertama masih gagal sehingga Edward harus mengandalkan pendengarannya untuk menghajar assassins itu.


“Edward? Kau baik-baik saja?”


“Ya, lanjutkan! Kita coba lagi!”


“Arah jam 2 bersiaplah!

__ADS_1


“Menghindar ke kiri!”


“Lompat!”


“Sekarang tendang!”


*Bruk!


Percobaan kedua berhasil, namun tendangan Edward meleset sehingga ia harus melepaskan dekapannya dari Arthemis dan menghajar assassins itu dengan tangannya.


“Edward?” tanya Arthemis ditengah suasana genting saat para assassins itu menyerang secara bergantian.


“Coba sekali lagi!” jawab Edward setelah menghajar seorang assassins lalu kembali mendekap pinggang Arthemis.


“Lompat kearah jam 3!”


“Menunduk!”


“Sekarang hajar dengan tangan kananmu diarah jam 1!”


*Bruk!!!


Pukulan Edward mendarat dengan sempurna, begitupun dengan gerakan-gerakan menghindarnya.


Menyadari kolaborasi mereka berhasil, Arthemis dan Edward melanjutkan gerakannya dengan begitu sempurna.


Mereka bertempur seperti menari-nari dengan penuh energi.


Tidak sedetikpun kedua mata mereka dialihkan kearah lain, mereka saling dan terus menatap selama bertempur.


*Bruk-bruk-bruk!


Bunyi pukulan yang berhasil Edward luncurkan berdasarkan arahan dari Arthemis.


Tanpa disadari, mereka telah bertarung selama 10 menit dimana saat ini tinggal tersisa 1 orang musuh yang memegang belati.


Namun sayangnya Arthemis tidak meyadari hal itu karena sihir sensoriknya belum sesempurna Kapten Lucius dan Ratu Aerin.


Sehingga saat ini belati itu meluncur kearah pinggang Edward, tanpa disadari keduanya.


*Srek!


Belati itu berhasil menyobek pinggang Edward dengan mudah.


“Uh! Arthemis! Aku kena!” desus Edward sambil menahan sakit di pinggangnya.


“Yaampun! Edward!” Arthemis langsung menghentikan tariannya dan berusaha merebahkan Edward.


*Bruk!


Bunyi pukulan dari assassins itu berhasil mendarat di belakang kepala Arthemis, sehingga membuatnya pingsan seketika.


Sambil menahan sakit, Edward perlahan berdiri untuk bertarung dalam kegelapan.


*Srek!


Belati itu lagi-lagi menyobek lengan kanan Edward.


“Hanya seperti ini kemampuanmu?!” ucap Edward tertawa sambil menahan sakit.


“Biar kuajarkan cara memukul seseorang dengan benar!” Edward mengepalkan tangannya dan mencoba menebak dimana assassins itu berada.


“Disana!”


*Wush


Angin yang begitu kencang berhembus dari ayunan tangan kanan Edward.


“Sial, tidak kena! Baiklah sekali lagi!”


Edward lalu berlari kearah asal suara yang ia dengar.


*Duar!


Hantaman tangan kanan Edward mengenai sebuah batu besar yang ada di gang itu, sehingga batu itu langsung hancur berkeping-keping. Namun sayangnya lagi-lagi Edward tidak dapat mengenai wajah assassins itu.


Assassins itu terlihat benar-benar kaget dengan kekuatan fisik yang dimiliki Edward.


Tentu saja jika terkena 1 pukulan, atau bahkan terkena hembusan angin dari tangan Edward, maka assassins itu sudah pasti tewas di tempat.


Edward mendengar sekilas sebuah hembusan angin kecil diatas kepalanya.


Yang artinya saat ini assassins itu dari tadi berada diatasnya, sedangkan suara yang ia keluarkan hanyalah untuk mencari celah agar assassins itu bisa menyerang Edward lagi.


“Rupanya kau diatas!” Edward dengan kekuatan penuh langsung melompat keatasnya.


*Wush


Lagi dan lagi, hempasan tangan kanan Edward tidak megenai apapun.


*Srek!


Sebuah belati dari assassins itu kini menancap di dada Edward, dan menembus hingga ke paru-paru Edward.


Setelah terkena serangan tepat ke paru-parunya, Edward merasakan bahwa nafasnya perlahan-lahan menjadi tidak teratur.


... "I Will Never Stop Till I Die."...


... -Edward-...

__ADS_1


__ADS_2