
..."Would you believe in love?"...
Bentangan bintang-bintang kini bertaburan di atas Kerajaan Britania Raya.
Angin malam yang sejuk perlahan menerpa tubuh Putri Gwen ketika sedang duduk di balkon kamarnya.
Putri Gwen meminta agar pernikahannya di percepat menjadi minggu depan, karena ia baru saja mendapatkan informasi dari Ayahnya, bahwa saat ini pasukan Edmud semakin besar dan bertambah banyak setelah Kerajaan Magadha memberikan sokongan militernya.
Hal ini cukup menakutkan bagi Putri Gwen pribadi, mengingat armada yang dimiliki Kerajaan Hirendel dan Pasukan Edward begitu kecil dan sedikit jika dibandingkan dengan Pasukan Edmud sekarang.
“Edward … aku masih menunggumu. Kumohon, aku ingin melihat wajahmu sekali saja sebelum aku menikah dengan Pangeran William,” batin Putri Gwen sambil memandang luasnya bentangan lautan di depannya saat ini.
Putri Gwen mengusap matanya, lalu menuliskan sebuah pesan yang akan diberikan untuk Edward.
Tertulis,
“Untuk Edward, Pangeran kebanggaan ku.
Aku telah menerima surat dari Ayahku, Raja Richard, bahwa saat ini Kerajaan Magadha baru saja menyokong militer Edmud. Maka dari itu, aku harus mempercepat pernikahan ku dengan Pangeran William mengingat bagaimana mengerikannya jumlah Pasukan Edmud saat ini.
Edward … apa kau ingat pertemuan terakhir kita ketika kau melindungiku dari serangan panah? Ironis, saat itu aku menyadari bahwa kau begitu mencintaiku hingga berani berkorban untukku. Aku takkan lupa hal itu, selamanya.
Oh iya, seorang kapten kapal dari Kerajaan Britania baru saja memberikanku jepit rambut dari permata zamrud. Beliau mengatakan bahwa ini adalah pemberianmu ketika kau bertemu dengan mereka di Lautan Dragon’s Cross. Aku berjanji akan menjaga pemberianmu ini dengan seluruh hidupku.
Aku memiliki satu permintaan bahwa aku ingin melihat wajahmu meskipun hanya sesaat. Kumohon dengan segenap hatiku, sebelum aku menikah aku ingin bertemu denganmu.
-dari Gwen Wisse.”
Putri Gwen memanggil elang pengantar pesan, lalu melepaskan elang itu untuk pergi ke Kota Dwarfhold.
Setelah puas menikmati kesendirian, Putri Gwen kembali ke kamarnya dan mulai tertidur.
⛅🌨️🌨️
Masa kini.
Kota Albama, Amerika Serikat.
Matahari pagi kini tertutup awan salju yang turun dengan lembut.
Hawa dingin yang masuk ke kamar Gwen Carolina kini digantikan dengan kehangatan pemanas ruangan, ditambah dengan cokelat panas yang ada di tangannya.
Gwen membuka ponselnya dan mengecek beberapa pesan masuk dari Steph.
“Hi Gwen! Hari ini aku ingin pergi ke toko perhiasan Natal. Kau ingin bergabung? Datanglah ke rumahku pukul 09.00 pagi.”
“Tentu! Aku akan membantumu mendekorasi rumahmu yang menyedihkan.”
“Baiklah Gwen, sampai jumpa pukul 09.00 pagi!”
__ADS_1
Gwen berusaha bangkit dari beratnya gravitasi kasurnya yang nyaman, demi menemani dan membantu Steph hari itu.
Gwen bahkan sengaja berpenampilan berbeda, entah apa dorongan yang membuatnya ingin tampil beda, namun hari ini Gwen merasa seperti akan berkencan.
Balutan sweater golden, rambut yang terurai rapi, dan make up minor lengkap menghiasi pesona Gwen hari ini.
Setelah bersiap selama satu jam, kini Gwen mulai berangkat ke rumah Steph yang jaraknya cukup jauh dari pusat Kota Albama.
Sambil mengemudi, Gwen merasa benar-benar hilang ingatan hingga sekarang, namun ia merasa sebuah getaran ketika bertemu, melihat, menatap, dan berbicara dengan Steph.
Entahlah, namun Gwen merasa di hatinya ada sesuatu yang berbeda tentang Steph.
Pikiran mungkin dapat melupakan seseorang, namun tidak dengan perasaan.
Kini, Gwen baru saja tiba di rumah sederhana milik Steph.
Ketika Gwen berjalan masuk, Gwen melihat ada seorang wanita cantik lainnya sedang mengobrol dengan Steph di ruangan tamu.
“Oh hai Gwen! Perkenalkan, ini Anna Poems,” sapa Steph sambil menatap kedua wanita itu.
Anna langsung menyodorkan tangannya pada Gwen tanpa rasa bersalah, padahal Gwen menginginkan penjelasan kenapa bisa ada wanita lain di rumah Steph.
Gwen menerima uluran tangan itu dengan enggan sambil menatap aneh kearah Anna.
“Anna Poems.”
“Gwen Carolina.”
Gwen langsung mengambil posisi duduk tepat di samping Steph, demi menjaganya dari pesona menyebalkan dari Anna!
“Setelah ini. Oh iya, Anna mengalami hal yang sama seperti kita. Maksudku tentang melompat ke masa lalu melalui sebuah mimpi.” Steph menatap kearah Gwen dengan semangat.
“Kenapa dia menjadi semangat begini membahas Anna?! Menyebalkan!” batin Gwen melihat mimik semangat wajah Steph.
“Benar, Gwen. Aku adalah Aerin,” ucap Anna dengan polosnya, karena Anna tidak tahu siapa Gwen sebenarnya di masa lalu.
“Apa?!” Gwen menatap tajam kearah Anna.
Tiba-tiba suasana disana menjadi canggung, hingga akhirnya Anna berpamitan karena harus pergi bekerja.
⛅⛅⛅
Siang harinya, di Toko Dekorasi Natal.
Kini Gwen berjalan perlahan sambil mendorong kursi roda Steph memasuki toko itu.
Sepanjang berbelanja dekorasi dan logistik untuk hari Natal, Steph menuruti semua yang Gwen pilihkan untuknya karena selera mereka sama.
Ketika Gwen sedang memilih sebuah pohon Natal, Steph perlahan mendorong kursi rodanya menuju deretan syal.
“Ini akan bagus untuk Gwen. Semoga dia menyukainya,” batin Steph setelah memasukkan diam-diam syal berwarna merah dengan hiasan kurikatur Olaf itu ke keranjang belanja nya.
__ADS_1
“Steph! Lihat, ini akan cocok untuk ruang tamu milikmu!” Gwen memanggil Steph yang berada di balik deretan syal.
“Aku datang.”
⛅⛅⛅
Sore hari, rumah Steph.
Setelah berbelanja cukup lama bersama Gwen, kini mereka berdua sedang mendekorasi hiasan Natal di ruang tamu milik Steph.
“Steph! Ambilkan bintangnya kemari.”
Gwen perlahan menaiki tangga dengan bintang yang ada di tangannya.
Ketika baru saja menempatkan bintang itu di puncak, Gwen merasa pijakannya di tangga mulai goyah karena kaki Gwen yang gemetaran dengan ketinggian.
“Gwen! Awas!” Menyadari Gwen mulai terjatuh, dengan sigap Steph langsung memposisikan kursi rodanya, tangannya, dan kekuatan nya untuk menangkap tubuh Gwen.
“Steph!!!” erang Gwen saat menyadari tubuhnya sudah tidak dapat di kontrol lagi.
*Hap
Kini tubuh ramping Gwen dengan mantap mendarat di kedua tangan kekar milik Steph.
“Steph ….” Gwen menatap kedua mata Steph dengan kedua pipinya yang memerah.
Gwen perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Steph tanpa disadari, karena Gwen saat ini benar-benar terbawa dengan suasana.
Seperti seorang pangeran yang mendekap seorang putri, begitulah dalam gambaran benak Gwen saat ini.
“Gwen! Hei! Sadarlah!” ucap Steph sambil menepuk-nepukan telapak tangannya di kedua pipi Gwen.
*Krik-krik
Suasana disana tiba-tiba canggung saat Gwen merasa bahwa ciumannya ditolak mentah-mentah, secara tidak langsung cintanya juga di tolak.
“Steph bodoh! Aku benci padamu! Huh!” erang Gwen dengan cemberut lalu segera turun dari dekapan Steph di atas kursi rodanya.
Gwen langsung mengambil tas miliknya lalu berjalan keluar.
*Bam!
Bunyi pintu rumah Steph yang di banting oleh Gwen dengan kekecewaan.
“Steph bodoh! Menyebalkan-menyebalkan!!!” batin Gwen sambil menggertakkan giginya lalu kembali ke apartemen nya.
*****
Author's Notes : Halo! Maaf ya lama update, 1 Minggu kemarin benar-benar puncaknya sibuk dan baru bisa santai weekend ini 🙂
I would to say that I really thank you for all of your support.
__ADS_1
Love y'all