Throne Of Valor

Throne Of Valor
Sacrafice : Endless War


__ADS_3


Sesaat sebelum Ratu Aerin tiba di Arena Valhalla.


“Kau ingin bermain? Ayo kalau begitu!” teriak Vrogh dan langsung memperkuat tubuhnya dengan kekuatan Naga yang dimilikinya, sehingga kini Arena Valhalla dikelilingi oleh awan hitam dan badai petir.


Kegelapan pekat mulai menyelimuti sekeliling tubuh Edward.


Hawa dingin bercampur bau belerang mulai tercium disana.


Edward sudah pernah berada pada posisi ini, namun tentunya dengan lawan yang berbeda karena kali ini Edward sadar bahwa dirinya berhadapan dengan orang yang jauh lebih kuat darinya.


Perlahan, Edward menutup kedua matanya dan mulai memfokuskan indera pendengarannya agar ia bisa ‘merasakan’ gerakan musuhnya.


*Wush


Terdengar sesuatu yang melesat dengan kecepatan tinggi dari arah belakang Edward.


Lesatan itu kini mengarah tepat ke punggung tubuh Edward.



Menyadari hal itu, Edward langsung berbalik kearah belakang dan mengangkat perisai besi nya yang berat berusaha menangkis serangan itu.


*Ting!


“Hm?” batin Edward setelah mendengar perisainya berhasil menahan sesuatu yang melesat cepat.


*Wush


Terdengar lagi gerakan lainnya dari atas Edward.


“Kecepatannya!” batin Edward sambil menghindar ke samping.


*Duar!


Serangan yang berhasil dihindari oleh Edward itu menghantam lantai Arena Valhalla yang terbuat dari batu obsidian, hanya berjarak 10 centimeter dari bahu Edward.


Mendengar dan merasakan hentakan kekuatan yang berhasil dihindarinya, Edward cukup kaget dengan dampak kekuatan yang dihasilkan serangan itu.


“Serangan seperti ini dapat membunuhku jika terkena sekali saja.” Edward perlahan menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba fokus karena di semua sudutnya kini terdengar gerakan melesat yang sangat cepat.


Gerakannya memutari posisi Edward berdiri, sehingga Edward harus menebak dimana Vrogh akan muncul dan menyerang.


*Wush


“Dibelakang!!!”


“Hiya!!!”


Dengan kekuatan penuh, Edward mengayunkan pedang Sword Of Light nya kearah belakangnya.


*Wush


Ayunan pedang Edward tidak mengenai apapun, hanya menebas lesatan angin yang terbentuk dari Vrogh.


Setelah Edward menyerang maka terbukalah celah bagi Vrogh untuk melakukan serangan balasan pada Edward.


Vrogh langsung memanfaatkan celah itu sambil mengayunkan pedangnya tepat ke punggung Edward.


*Srek!


Serangan yang dilancarkan oleh Vrogh berhasil, sehingga kini pedang yang memancarkan aura dingin itu menusuk dalam ke punggungnya.


Mendapatkan serangan serius di tubuhnya, Edward tahu bahwa ia takkan bisa bertahan lama.


Perlahan Edward membuka matanya dan menarik pedang dingin itu keluar dari punggungnya.


Edward berlutut dengan satu kaki dan menatap kearah Vrogh.


“Penderitaan hanya untuk mereka yang menyerah, namun penderitaan dengan pengorbanan adalah sebuah kehormatan.”

__ADS_1


Edward mulai kembali menyeimbangkan kakinya untuk berdiri, lalu mengangkat Sword Of Light yang ada di tangan kanannya keatas.


Dari kegelapan awan di sekelilingnya, terlihat sambaran kilat yang menyala-nyala menyambar kearah Sword Of Light.



*Wush


Setelah mendapatkan kekuatan sementara dari Sword Of Light yang memenuhi tubuhnya dengan aura petir, Edward melesat kearah Vrogh sambil mengayunkan satu serangan dahsyat.


*Duar!!!


Serangan yang dilancarkan Edward berhasil dihindari dengan mudah oleh Vrogh, dan bekas serangan dari Edward itu hingga membelah puncak Gunung Reign yang ada di sekeliling mereka.


Menyadari serangannya berhasil dihindari, Edward mengambil ancang-ancang lagi sambil mencoba membaca gerakan Vrogh.


*Wush


*Tap


Pedang Sword Of Light tertahan di telapak tangan Vrogh hanya dengan satu tangan saja.


“Sayang sekali, kau bukan apa-apa,” ucap Vrogh dengan tangan kanan yang menahan Sword Of Light yang diiringi dengan ledakan petir di belakangnya.


Vrogh memegang ujung lancip Sword Of Light dan menariknya kearah tubuhnya. Vrogh lalu meremas pedang itu dan menghancurkannya hingga berkeping-keping.


Melihat pedang andalannya hancur begitu saja di depannya, Edward tertunduk lesu tak berdaya dengan kedua lututnya.


Vrogh tersenyum sambil melangkah mendekati Edward yang terlihat tidak berdaya.


Sesampainya Vrogh di depan tubuh Edward, Vrogh mengayunkan satu serangan yang mengarah ke jantung Edward.


*Srek


Pedang itu menembus hingga keluar dari tubuh Edward, seketika itu juga Edward merasa bahwa inilah akhir dari hidupnya.



Dengan perasaan yang berkecamuk, Ratu Aerin melompat dari Erenel dan berlari mendatangi Edward.


Ratu Aerin langsung mendekap suaminya itu di kedua lengannya yang basah karena air mata.


“Edward, Pangeranku, Suamiku … kumohon sekali ini saja, jangan pergi …” bisik Ratu Aerin dalam dekapannya di tubuh Edward.


Ketika mendekap Edward, Ratu Aerin lalu mengarahkan pandangannya kepada seorang wanita yang sedang duduk di atas takhta Arena Valhalla.


Melihat senyuman di wajah wanita itu, Ratu Aerin seketika menyadari apa yang baru saja terjadi bahwa Edward telah ditumbangkan oleh wanita itu, Vrogh.


Ratu Aerin perlahan menaikkan tubuh Edward keatas punggung Erenel dan mengirimkannya ke Kota Arendel, Kerajaan Elf.


Diiringi dengan rasa amarah dan kesedihan yang mendalam, Ratu Aerin melepas segel yang ada di dahi nya sehingga tubuh Ratu Aerin kini diselimuti dengan hawa dingin.


Sebuah segel yang terlepas itu kini membentuk menjadi sebuah zirah, pedang, dan perisai berlian.


Tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, Ratu Aerin langsung terbang ke udara dan mengayunkan satu serangan kecil kearah Vrogh yang sedang duduk diatas takhtanya.


*Wush


*Duar!!!


Dari atas, terlihat Gunung Reign langsung terbelah menjadi 2 bagian akibat serangan kecil yang dilancarkan oleh Ratu Aerin.



*Wush


Ratu Aerin dengan kecepatan kilat melesat kearah Vrogh yang terlihat berhasil menahan serangan Ratu Aerin dengan perisai Darah Naga nya.


*Srek


Serangan pedang berlian Ratu Aerin berhasil menggores sedikit pipi Vrogh karena Vrogh tidak mampu mengimbangi kecepatan serangan Ratu Aerin yang telah melepas segel 10% kekuatannya.

__ADS_1


Menyadari dirinya terluka sedikit, Vrogh mengamuk dan langsung merubah wujudnya ke wujud Raja Para Naga lalu terbang kearah Ratu Aerin.


“Berani-beraninya kau melukaiku!!!” teriak Raja Para Naga sambil menyiapkan bola api raksasa di mulutnya.



Sementara itu di kaki Gunung Reign.


“Pasukan, mundur!!!” teriak Kapten Lucius setelah menyadari bahwa Gunung Reign mulai runtuh setelah terbelah menjadi 2 bagian.


Entah apa yang terjadi di atas, namun terdengar suara hembusan sayap raksasa dan lesatan secepat kilat dari atas puncak Gunung Reign.


Sambil berlari menuruni Gunung Reign, Kapten Lucius melihat Erenel yang sedang mengangkut Edward di punggungnya.


“Paduka Edward?!” teriak Kapten Lucius tanpa menyadari bahwa langkah didepannya adalah tepi jurang Gunung Reign yang dibelah Ratu Aerin.


*Tap


Penny langsung merangkul pundak Kapten Lucius dan menariknya kembali ke jalur.


“Kapten! Apa yang kau lihat?!”


“Paduka Edward, Paduka sekarat! Aku melihat aliran darah keluar dari punggungnya!”


*Plak


Penny menampar pipi Kapten Lucius dan berteriak, “kita sedang berada dalam medan perang! Musuh ada di depan mata kita! Tugas kita sekarang adalah menyelesaikan apa yang diperintahkan Paduka Edward! Paduka Edward akan bertahan!”


Mendapat teguran dari bawahannya, Kapten Lucius langsung tersadar dan kembali ke bawah untuk bergabung barisan para Dwarf berperang melawan Para Naga.


*****



Hari yang sama di Kerajaan Britania Raya.


Langit senja yang indah ditaburi dengan hiasan dari bintang-bintang malam mulai terlihat berkialuan.


Pesta dansa menyambut Hari Pertunangan antara Putri Gwen dan Pangeran William digelar di Aula Kerajaan.


Disana dihadiri oleh seluruh Bangsawan Britania Raya dan Bangsawan Hirendel.


Ditengah-tengah Aula Kerajaan, terlihat sepasang calon pengantin sedang berdansa.


Merangkul pinggang dan bahu, bergerak seirama, dan saling menatap dengan penuh harapan.


Entah harapan apa yang tergambar dari mata Putri Gwen yang berkaca-kaca, hanya Putri Gwen yang tahu rahasianya.


Saat alunan orkestra dansa mencapai klimaks, tiba-tiba Putri Gwen merasa dadanya begitu sesak, matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata, dan jantungnya terasa berat untuk berdetak.


Putri Gwen langsung menghentikan gerakan kakinya, melepas dekapannya dari pundak Pangeran William, dan berlari meninggalkan pesta dansa itu.


Entah apa yang membuat tubuhnya bereaksi seperti itu, namun Putri Gwen tahu bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi.


Putri Gwen berlari ke Taman Kerajaan yang terlihat sepi, menyendiri disana, dan mulai menangis.


Tiba-tiba, liontin emerald pemberian Edward yang terpasang sempurna di rambut cantik Putri Gwen jatuh ke tanah dan retak.


Putri Gwen menunduk dan berusaha menyusun kembali satu-satunya benda berharga pemberian Edward padanya.


“Edward … apa kau baik-baik saja?” tanya Putri Gwen dalam batinnya diiringi dengan deraian air mata menatap kearah liontin emerald pemberian Edward.


Didalam retakan liontin itu ternyata ada sepucuk surat kecil yang keluar dari pecahannya.


Putri Gwen langsung meraihnya dan membacanya dalam perasaan, tertulis :


“Aku mencintaimu, Gwen.


-Edward”


__ADS_1


__ADS_2