Throne Of Valor

Throne Of Valor
Fear


__ADS_3


Malam hari di Kastil Parmel, Kerajaan Archangle.


Hamparan rerumputan kini bergoyang menerima terpaan angin kencang di malam itu.


Dalam kamar Ratu Aerin, Edward mondar-mandir memikirkan tentang strategi yang akan diambilnya, karena Edward baru saja menerima surat dari Kapten Lucius bahwa para Dwarf memiliki syarat mutlak sebelum Ratu Vonsgarl meminjamkan Edward pasukan Dwarf.


Syarat mutlak itu adalah membantu pasukan Dwarf untuk melawan para Naga yang mengganggu aktivitas mereka ketika sedang berada di daratan.


Dan syarat itu mengharuskan Edward bertarung satu lawan satu dengan Vrogh, seekor Naga Legendaris yang dipanggil dengan sebutan Raja Para Naga.


Kabarnya Raja Para Naga ini merupakan seorang manusia yang mempunyai kekuatan hebat hingga ia mengubah dirinya menjadi seekor naga.


Mendengar legenda-legenda itu, Edward seketika mondar-mandir dengan cemas hingga tidak bisa tidur.


*Hap


Ratu Aerin memeluk tubuh Edward, karena geregetan melihat Edward-nya mondar-mandir di depan matanya.


“Ae-”


“Stt! Diamlah. Biarkan aku memelukmu sebentar sebelum kita berpisah besok,” bisik Ratu Aerin yang bijak mendekap Edward dalam posisi berdiri.


“Tapi-”


“Ya aku paham. Kau akan bertemu diriku juga di Kota Dwarfhold. Tapi tetap saja diriku yang ini merindukanmu.”


Edward membalikkan badannya dan membalas pelukan Ratu Aerin.


“Malam ini kau mau melakukan itu, hm, Aerin?”


“Maksudmu hal mesum itu, Edward?”


“Ya. Tetap saja dirimu yang ini belum aku cicipi.”


“Enak saja! Sana pergi! Tidur di sofa!”


Mendengar jawaban Ratu Aerin, Edward langsung melepaskan pelukannya dengan kecewa, lalu berjalan ke sofa hangat di kamar Ratu Aerin.


Tidak ingin Edward terbebani pikiran hingga menjadi jatuh sakit lagi, Ratu Aerin harus menuruti kemauan suaminya itu.


“Ya sudah. Kemarilah, Edward.” Ratu Aerin perlahan memperlihatkan tubuhnya di depan Edward sambil berjalan keatas ranjangnya.


“YES!!!” ucap Edward dengan semangat api yang berkobar-kobar.


Dengan ganasnya Edward mulai melakukan sesi bercocok tanam malam itu.


“Pantas saja diriku yang ada di Dwarfhold ketagihan, ternyata Edward sehebat ini!”



Matahari masih belum terbit di Kerajaan Archangle.


Namun Edward harus segera kembali ke Kota Dwarfhold secepatnya, karena ia harus memenuhi panggilan dari Ratu Vonsgarl.


Ratu Aerin mengantar Edward dengan menaiki Phoenix-nya, hingga ke luar batas Kerajaan Archangle.


“Sampai jumpa lagi, sayang!” teriak Edward melambaikan tangannya pada Ratu Aerin yang memutar balik Phoenix-nya.


Ratu Aerin hanya tersenyum, lalu mulai meninggalkan Edward kembali ke Kastil Parmel.


Kini Edward dalam perjalanan kembali ke Kota Dwarfhold.


Hanya ada keheningan ketika Edward mulai melintasi Kota Saint’s Haven hingga Pantai Dragon’s Cross.


Ketika Edward melintasi daerah yang sempat di ledakkan oleh Ratu Aerin, dari balik bayangan embun subuh, Edward melihat ada seorang kakek tua sedang melambaikan tangannya pada Edward.


Entah bagaimana kakek itu bisa melihat keberadaan Edward yang ada jauh di atas udara, tapi Edward tetap menukik ke bawah untuk memenuhi panggilan kakek itu.


*Hap

__ADS_1


Kini Erenel mendarat di atas tanah, lalu Edward juga segera turun dari punggung Erenel.


“Ada yang bisa saya bantu, kakek?” tanya Edward tersenyum menatap kakek tua itu.


Kakek tua itu berjalan pincang sambil mengulurkan tangannya mendekat kearah wajah Edward.


*Wush


Sebuah pedang yang tiba-tiba diayunkan kakek itu hampir saja menebas kepala Edward, untungnya refleks Edward lebih cepat.


Sadar serangannya berhasil dihindari, kakek itu langsung merubah wujudnya.


*Slurp


Edward melihat kakek tua itu berubah menjadi sosok hitam yang membawa lentera di tangannya, lengkap dengan pisau sabit yang ber-aura gelap.



Penampilannya membuat Edward cukup tercengang.


“Gawat! Orang ini bukanlah manusia! Dia adalah Wraith!”


Menurut buku berjudul Legenda Para Ksatria, dijelaskan bahwa untuk melawan sosok Wraith hanya jiwa ksatria sejati yang dilengkapi dengan kejujuran dan keberanian yang bisa melawannya.


Makanan para Wraith adalah kebencian, ketakutan, dan rasa ingin balas dendam.


Sementara selama ini jiwa dan hati Edward dipenuhi dengan gejolak balas dendam akan perbuatan adiknya, Edmud karena telah membunuh Ayahnya dan membunuh Dave.


*Wush!


Wraith itu melemparkan sabitnya kearah leher Edward.


*Ting


Lemparan sabit berkecepatan tinggi itu berhasil di tangkisnya dengan Perisai Ultima.


Edward lalu mengambil ancang-ancang untuk melompat kearah Wraith itu.


*Wush


*Duar!


Ayunan pedang Ultima itu hanya menghancurkan tanah disana, namun tidak dapat sedikitpun menyentuh tubuh Wraith itu.


“Hatimu penuh dengan kebencian dan balas dendam~


Kau akan menjadi santapanku~”


Edward mendengar bisikan halus Wraith itu di sekelilingnya.


Seketika perlahan jiwa Edward dipenuhi dengan rasa takut.


Tanpa Edward sadari, saat ini Wraith itu sedang mengayunkan sabitnya dari atas kepalanya.


“Matilah kau~”


*Srek!


Edward sempat menghindar sedikit setelah mendengar bisikan itu, namun ayunan sabit itu tetap saja berhasil menyobek pundaknya.


*Wush


Edward langsung melompat keatasnya, namun lagi-lagi ayunan pedang Ultima sama sekali tidak dapat membelah tubuh Wraith itu.


“Ingin membunuhku?~


Kau takkan pernah bisa~


Hatimu penuh dengan makananku, yaitu kebencian~”


*Wush

__ADS_1


Wraith itu menghilang dalam kabut pekat di sekeliling Edward.


Edward langsung menundukkan satu lututnya menyentuh tanah, menarik napas dalam, dan menutup kedua matanya.



Ketika satu indra di nonaktifkan, maka indra lainnya akan bekerja maksimal.


Selain demi menghilangkan rasa takutnya, Edward menutup matanya agar ia bisa mendengar dengan jernih.


*Wush~


*Wush~


Edward mendengar di sekelilingnya begitu banyak gerakan, yang artinya kini ada lebih dari satu Wraith sedang mengelilinginya.


Edward tiba-tiba mendengar sebuah sabit sedang terayun dari belakangnya.


*Ting!


Ayunan sabit itu berhasil ditangkisnya dalam keadaan menutup mata.


“Fokus! Murnikan hati! Hilangkan kebencian!” batin Edward saat menarik napasnya dalam-dalam.


“Hei~


Kau takut~”


Bisikan itu terdengar di segala arah, bahkan dari bawah tanah sekalipun.


Benar apa yang di bisikkan Wraith itu. Ketakutan yang ada dalam hati Edward perlahan menguasai tubuhnya.


“Kau terlalu hebat hingga kami tidak bisa menyentuhmu~


Namun, kau akan mati karena ketakutanmu sendiri~


Ketakutanmu akan menelanmu~”


Edward terus mencoba memurnikan pikiran dan hatinya, namun tetap saja rasa takut itu terus merasukinya hingga kaki Edward mulai gemetar.


*Bruk!


Hantaman dari Wraith itu mendarat tepat di wajah Edward karena dirinya sudah mulai lengah akan ketakutan.


“Kau akan mati disini~


Ketakutanmu adalah kekuatan bagiku~”


Setelah terhempas beberapa meter Edward kembali menundukkan satu lututnya, menancapkan pedangnya ke tanah, dan mulai bermeditasi demi menenangkan hatinya.


*Wush


Edward mendengar sebuah sabit kembali terayun.


Namun itu bukan berasal dari sekelilingnya, melainkan dari bawah tanah di kakinya.


*Ting!


Edward melompat keatas perisai yang ada di tangannya, sehingga berhasil menangkis serangan itu.


Perlahan, Edward merasa tubuhnya semakin dikuasai oleh ketakutan karena para Wraith itu masuk ke dalam memorinya dan memunculkan ingatan wajah Edmud.


Meskipun dalam ketakutan, Edward tetap menutup kedua matanya demi melindungi dirinya dari serangan dalam gelapnya kabut.


“Bagus! Bagus!~


Kau mulai termakan ketakutan~”


..."Fear Is Weakness!"...


...-Throne Of Valor-...

__ADS_1


__ADS_2