
Author's note : Updete nya sekarang santai ya. Sibuk banget sekarang 😢
... Chapter 50...
... "Love's Destiny"...
“Terima ini, suami ku tersayang!!! Hiya!!!” Ratu Aerin melemparkan Edward dengan 100% kekuatannya sehingga Edward jauh melayang keatas langit hingga tidak terlihat lagi.
*Kling!
“Ratu Aerin, kau benar-benar melempar Edward?!” tanya Penny dengan mata yang terbalak kaget melihat Edward melesat jauh ke langit.
“Hehe, ya! Memangnya kenapa? … ya ampun Edward!” Ratu Aerin mendadak panik.
*Wush
Tiba-tiba dari balik awan itu muncul Erenel dengan Edward yang ada dalam dekapan cakarnya, seperti sedang membawa mangsa.
*Tap
Kini Edward baru saja mendarat di kapal terbang itu.
Setibanya Edward di sana, tatapan Edward menjadi dingin dengan aura kematian di sekelilingnya.
“Edward, maafkan aku ya! Aku tidak sengaja!” Ratu Aerin mendekap lengan Edward sambil memohon maaf.
Namun Edward tidak menjawab apapun, ia hanya diam dengan tatapan dingin.
Seketika itu juga, semua orang disana tahu bahwa Edward sedang murka.
Murka nya Edward adalah diam dan tidak melakukan apapun.
Kapten Lucius teringat akan kejadian dimana Edward murka dulunya, ketika seorang Orc menghina Ibu nya Edward.
Tidak banyak orang yang tahu tentang Ibu dari Edward, namun menurut sebuah catatan yang ditinggalkan oleh sang Ibu, bahwa sang Ibu Edward bukan berasal dari planet Bumi. Hal inilah yang menjadi bahan olokan dari para Orc.
Mendengar seorang Orc menghina Ibu nya, Edward yang sebelumnya hanya berusaha memukul mundur barisan Orc itu seketika berubah menjadi mesin pembunuh.
Bahkan Edward tidak ragu-ragu untuk melompat seorang diri ke dalam barisan berisi 500.000 prajurit Orc yang lengkap dengan zirah.
Satu orang Orc begitu memiliki sorot yang mengerikan dengan postur tubuh yang besar dan berotot.
*Wush
Edward melompat sambil mengayunkan pedang Ultima nya yang memiliki bobot 70kg.
“Hiya!!!” Teriakan Edward terdengar hingga barisan aliansi yang sedang berperang jauh di belakang.
*Duar!!!
Bunyi hantaman pedang Ultima yang dikombinasikan dengan kekuatan seorang Edward, berhasil menghancurkan tanah yang terbuat dari batu-batuan.
Hantaman itu sangat luas membentang hingga radius 50 meter dari pusat yang Edward hancurkan.
Tanah menjadi bergetar hingga ke bawah kaki Kapten Lucius.
Setelah berhasil menghancurkan dan membunuh apapun dalam radius 50 meter, Edward mengangkat menadahkan kepalanya keatas dengan pedang Ultima yang ada di tangan kanannya sambil berteriak, “kalian boleh menghina ku, tapi tidak dengan Ibu ku!!!”
Seketika semua perhatian terjutu pada Edward yang berdiri diatas ribuan mayat Orc yang menggumpal menjadi gundukan, akibat dari hantaman pedang Ultima nya barusan.
Edward langsung berlari seorang diri kearah barisan 499.000 Orc yang mengelilinginya.
*Srek-srek-srek!!!
Setiap satu kali ayunan yang dihasilkan olehnya, 10 sampai 30 prajurit Orc langsung tewas hingga ada yang terbelah menjadi puluhan bagian akibat terkena ayunan pedang Ultima secara langsung.
__ADS_1
Edward terus-menerus mengayunkan pedangnya tanpa henti, tanpa lelah, karena kini dirinya sudah diselimuti oleh amukan murka.
*Srek-srek-srek!!!
Edward berlari sambil mengayunkan pedangnya ke tengah barisan belakang, disana sedang berdiri 4 Jendral Orc yang bertitle dan terhebat di antara seluruh pasukan Orc disana.
*Wush
Ayunan sebuah palu yang sangat besar sedang mengarah ke tubuh Edward yang dilepaskan oleh salah satu Jendral Orc.
*Ting!
Edward menangkis itu dengan dada nya, ya, hanya dada yang dilindungi zirah.
Semua Orc disana seketika terdiam seribu bahasa setelah melihat Edward menangkis ayunan palu itu tanpa perisai, hanya dengan dada nya.
Edward memegang mata palu yang menancap di zirahnya, lalu meremas nya dengan kekuatan penuh.
*Duar!!!
Palu besi seberat 100kg itu langsung hancur dalam satu kepalan tangan seorang Edward.
“Kau berani menghentikan langkahku … sekarang pergilah ke neraka!!!” Edward mengayunkan kepalan tangannya kearah seorang Jendral Orc itu.
Menyadari Edward sedang mengayunkan kepalan tangannya, Jendral Orc itu langsung mengangkat perisainya untuk menangkis itu.
*Ting
*Krak
*Duar!!!
Tangkisan perisai yang solid itu langsung hancur seketika, dan tangan Edward bahkan menembusnya hingga menyentuh tubuh sang Jendral Orc itu.
*Bruk
Hari itu tanpa ragu, Edward menghabisi lebih dari 50.000 pasukan Orc, dan 3 Jendral Orc dengan tangannya sendiri.
Setelah selesai berperang di garis depan sendirian, Edward berjalan dengan santai menembus barisan ratusan ribu Orc yang masih tersisa.
Pasukan Orc itu bahkan tidak berani menghalangi jalan yang akan Edward lalui, mereka gemetar ketakutan setelah melihat 3 Jendral Orc mereka dihabisi tanpa ampun dengan begitu brutal.
7 hari berlalu, dan pertempuran itu dimenangkan oleh Ras Manusia.
Edward sama sekali tidak berkata apapun, menyapa siapapun selama 2 bulan setelahnya.
Itulah yang ada dalam ingatan Kapten Lucius saat melihat untuk pertama kalinya Edward murka secara langsung.
…
Siang hari yang terik, di daratan luas dibawah Kota Dwarfhold.
Akhirnya kapal terbang yang mereka naiki itu mendarat di daratan.
Saat ini terlihat ada 3 ekor naga yang sedang bertarung di depan mereka, di balik sebuah bukit kecil.
Ukuran 3 ekor naga itu cukup besar hingga hampir menandingi tinggi bukit yang setinggi 40 meter itu.
Mengingat tantangan dari Ratu Aerin, Edward langsung turun dari sana, mempersiapkan pedang Ultima dan perisainya, lalu langsung berlari menembus bebukitan di sekitarnya.
Ratu Aerin dan rombongan tidak dapat melihat apa yang terjadi di sana, karena pandangan mereka terhalangi sebuah bukit.
Namun, ketika Ratu Aerin dan rombongan mendaki bukit berumput itu, ternyata Edward sudah memenggal kepala 2 ekor naga itu hanya dengan pedang Ultima nya saja.
“Apakah dia seorang monster?! Bagaimana bisa Edward memenggal kepala naga-naga itu?! Sisik mereka sekeras batu obsidian, dan serangan mereka sangat mengerikan!!!” ucap Ratu Vonsgarl yang takjub akan kehebatan Edward disana.
__ADS_1
“Itu bukanlah hal yang mustahil bagi Komandan Pasukan Elit kami, Ratu,” jawab Penny dengan bangga.
Kini terlihat Edward sedang berlari diatas sayap seekor naga yang tersisa.
Edward melompat kearah leher naga yang sekeras obsidian itu, sambil mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.
*Wush
*Srek!!!
Terlihat dengan satu tebasan yang dahsyat, Edward mampu menembus kulit sekeras obsidian itu sehingga langsung memenggal sang naga setinggi 35 meter.
*Wush
Angin yang kencang berhembus dari pusat Edward melepaskan tebasannya.
Semua orang disana tampak takjub, terlebih Ratu Aerin yang akan berduel dengan Edward setelah ini.
“Inikah kekuatannya yang sebenarnya?! Pantas saja Edward berani menerobos pertahanan Kota Arendelku seorang diri,” batin Ratu Aerin sambil mempersiapkan dirinya untuk berduel dengan Edward.
“Ratu Aerin, ini giliranmu. Silahkan.” Kapten Lucius melihat Ratu Aerin mulai memasuki arena dimana Edward memenggal para naga itu.
*Slurp
Sebuah barrier petir yang kuat kini menyelubungi Edward dan Ratu Aerin yang sedang berhadapan.
“Edward, aku takkan sungkan-sungkan. Silahkan gunakan seluruh kekuatanmu untuk mengalahkanku.” Dari dalam barrier terlihat Ratu Aerin mulai mengeluarkan aura Elf miliknya yang menyemburkan api di sekeliling tubuhnya.
“Jika kau kalah, maka aku yang akan melawan Vrogh. Dan juga, kau akan memberikan ku jatah 10 kali setiap hari!” tegas Ratu Aerin memandang Edward dengan tatapan yakin bahwa dirinya akan menang.
*Wush
Retakan tanah dari kaki Edward ketika Edward melompat kearah Ratu Aerin.
“Cepat sekali!” batin Ratu Aerin dan mulai mengangkat perisai berlian miliknya untuk menangkis serangan Edward.
*Tap
Kecepatan Edward bahkan mengalahkan kesadaran Ratu Aerin sebelum sang Ratu mengangkat perisainya.
*Wush
Kini pedang Ultima milik Edward berhenti tepat di depan leher Ratu Aerin.
“Aku masih kesal dengan yang tadi. Tapi, aku tidak mampu untuk melukaimu … karena aku mencintaimu, Aerin,” bisik Edward di telinga nya.
Ratu Aerin tersenyum mendengarkan apa yang diucapkan Edward barusan.
“Suami ku, kau menang dalam waktu kurang dari 5 detik. Aku akui bahwa kau layak untuk melawan Vrogh. Dan ada satu lagi ….”
Ratu Aerin memalingkan wajahnya kearah Edward, mendekap pipi Edward, lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat.
*Cup
Edward perlahan menurunkan pedang dan perisainya, mendekap kedua pipi Ratu Aerin, lalu mulai membalas ciuman itu dengan hangat.
Setelah berciuman selama beberapa menit, Edward melepaskan ciumannya.
“Edward, aku mencintaimu … aku sangat mencintaimu. Aku berjanji untuk belajar memuaskanmu lebih giat lagi.”
“Huh! Pikiranmu hanya hal kotor!”
“Memangnya kenapa?! Lagi pula itu kan enak!”
Hari itu, di balik deru angin yang menghempas rerumputan, sebuah cinta terbukti mampu mengubah seorang monster pembunuh menjadi seorang yang berhati seperti malaikat.
__ADS_1