Throne Of Valor

Throne Of Valor
Revenge


__ADS_3


Pagi yang dingin masih diguyur hujan salju di Kota Albama.


Minggu depan adalah Hari Natal, namun itu akan dihabiskan Steph seorang diri karena Ayahnya dikabarkan telah meninggal disaat yang sama ketika Steph mengalami kecelakaan.


Steph hidup bersama Ayahnya sejak ia masih bayi, Ibu Steph meninggal ketika melahirkan Steph sehingga kini Steph tidak memiliki keluarga dekat, ditambah lagi kakinya yang kini tidak dapat berfungsi lagi seumur hidupnya.


Steph membiayai perawatan rumah sakitnya menggunakan tabungan yang dulunya ia telah kumpulkan saat bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan Wisse Group cabang Kota Albama.


Dulunya tabungan itu akan digunakannya untuk menikahi Gwen, namun itu semua telah musnah karena Gwen saat ini tidak mengenal siapapun, bahkan diri Gwen sendiri.


Steph terbangun dari mimpinya dan langsung memeriksa sekujur tubuhnya, Steph mengira tangan kirinya benar-benar terluka karena pertarungan dalam mimpinya itu.


Namun Steph sangat lega saat tidak melihat luka apapun di tubuhnya, ya, hanya sepasang kakinya yang lumpuh terbaring di bawahnya.


Steph lalu pergi ke taman dimana sebelumnya ia bertemu dengan Gwen disana.


Saat dalam perjalanan menggunakan kursi rodanya, Steph teringat akan perkataan Jhon dimana Steph harus memerhatikan dengan teliti semua petunjuk yang diberikan ketika sedang menjadi Edward.


“Disana sangat banyak kejadian, bagaimana aku bisa memilih?” Pikir Steph mendekat kearah taman rumah sakit.


Seingatnya, ketika sedang menjadi Edward, sangat banyak kejadian yang dialami Steph disana.


Mulai dari bersembunyi, bertarung, dan menolong seorang … Orc?!


Steph mengalihkan perhatiannya kearah taman, disana Steph melihat sosok wanita yang selama ini ada dalam benaknya sedang duduk menangis sendirian.


Perlahan Steph mendorong kursi rodanya mendekat kearah Gwen.


Ketika seorang wanita menangis, maka sesuatu yang paling dibutuhkannya adalah pelukan, bukan pertanyaan yang bertubi-tubi.


“Hai, apa kau butuh pelukan?” Tanya Steph dengan sungkan ketika sudah duduk di sebelah Gwen.


Gwen lalu melihat kearah Steph dan tersenyum, “bagaimana aku dapat memelukmu dari kursi roda itu? Sebenarnya masih bisa, namun kita akan terlihat seperti pasangan yang sedang bercinta didepan umum.”


Mendengar lawakan dari Gwen, Steph berhasil tertawa dengan lepas.


Begitu melihat Steph tertawa dengan candaan recehnya, Gwen menangis sambil tertawa bersama Steph.


“Oh iya, aku belum sempat menanyakan namamu waktu itu. Aku selalu pergi ke sini setiap pagi berharap bertemu denganmu, namun beberapa hari ini aku tidak pernah melihatmu lagi. Kukira kau sudah pergi.” Gwen bertanya pada Steph setelah Steph mengusap air mata yang ada di pipi Gwen.


Jika Steph memberitahukan namanya sekarang, Steph takut Gwen mengingat kejadiaan sebelumnya hingga Gwen dapat menjadi seperti ini.


Steph merasa bersalah bahwa karena dirinyalah yang memaksa menerobos salju sehingga Gwen mengalami cedera yang membuat ingatannya menghilang dan menangis seperti tadi.


Maka Steph memalsukan namanya agar mencegah Gwen teringat akan namanya dan mulai membenci Steph.


“Aku E … Edward,” ucap Steph spontan karena Gwen menatap matanya dengan serius.


“Edward?!” Alis mata Gwen meninggi saat mendengar nama palsu Steph.


“Edward, ya.”


“Namamu seperti seseorang dalam mimpiku yang menyelamatkanku ketika dalam pengejaran … ah tidak aku hanya bermimpi.”


“Pangeran Edward maksudmu? Dan Pangeran itu mencegah anak panah yang mengarah kearahmu dengan tubuhnya sendiri saat sedang berada diatas kuda?” Tanya Steph dengan alis yang meninggi.

__ADS_1


“Tunggu … Bagaimana kau tahu begitu detail mengenai mimpiku?!”


“Aku juga tidak memercayainya … namun dalam mimpiku aku berperan sebagai Edward yang melindungimu!”


Setelah berbincang mengenai mimpi mereka berdua, Steph dan Gwen bertatapan dengan tidak percaya.


Steph lalu menghubungi Jhon untuk menjelaskan pada Gwen apa yang sebenarnya terjadi.


Ketika Jhon tiba, Jhon langsung menjelaskan semuanya pada Gwen tentang apa yang terjadi dalam mimpi mereka berdua.


Memang sulit dipercaya, namun itulah kenyataan yang harus mereka hadapi.


“Jika kalian ingin membuktikan apa itu memang nyata atau tidak, ketika kalian bermimpi menjadi Pangeran Edward dan Putri Gwen, cobalah untuk meninggalkan sesuatu disana seperti mengubur pedang, atau benda lainnya di suatu tempat yang sudah kalian tandai. Lalu ketika kalian telah sadar dari mimpi, kalian langsung pergi ke tempat itu dan mencarinya. Jika itu memang ada disana, berarti kalian memang menjelajahi waktu, namun jika itu tidak ada, berarti itu hanyalah sekedar mimpi.”


Jhon berpikiran seperti itu karena melihat kedua orang yang ada didepannya saat ini menatapnya tidak percaya.


Daripada Jhon bersusah payah meyakinkan mereka, lebih baik mereka sendiri yang membuktikannya.


Mendengar perkataan Jhon barusan, Steph dan Gwen merasa itu adalah ide yang brilian sehingga mereka masing-masing akan meninggalkan sesuatu ditempat khusus dan memberikan tanda disana ketika berperan sebagai Pangeran Edward dan Putri Gwen.


Setelah cukup lama berbincang, mereka berpisah dan kembali ke tempatnya masing-masing.



Malam hari yang dingin terus mendera, hujan salju belum kunjung reda.


Petir dan kilat yang menggelegar masih menderu diluar sana.


Angin bertiup semakin kencang membawa butiran-butiran salju menabrak apapun yang ada didepannya.


Perlahan, Gwen mulai tertidur dengan lelap dan mulai bermimpi :


Putri Gwen saat ini sedang berada didalam kastil Kerajaan Hirendel karena Kerajaan Victoria sudah dikuasai oleh Pangeran Edmud.


Kerajaan Hirendel terletak di bagian Utara dari Kerajaan Victoria.


Dahulunya, Pangeran Edward, Kapten Lucius dan didukung oleh Raja Julien dari Kerajaan Victoria bersama-sama dengan Raja Richard dari Kerajaan Hirendel berperang dengan Bangsa Orc dari Hutan Terlarang.


Perang yang menewaskan ratusan ribu jiwa dari Bangsa Orc maupun Bangsa Manusia memakan waktu selama seminggu penuh tanpa henti.


Setelah peperangan yang dahsyat melawan Bangsa Orc yang dimenangkan pihak Kerajaan, Raja Julien dan Raja Richard menjadi sahabat baik.


Mereka saling membantu jika salah satu dari kerajaan mereka mengalami kesusahan.


Namun kini Raja Julien telah gugur dibunuh oleh anak bungsunya sendiri, Pangeran Edmud.


Edmud sangat marah karena yang selalu dipuja-puja oleh Raja dan Rakyat Victoria selalu Edward.


Mereka selalu menempatkan Edward sebagai anak emas, berbeda dengan Edmud yang dipandang sebagai ‘parasit’ yang berlindung dibalik kekuatan Raja Julien.


Edmud yang telah memendam kebencian semenjak kecil, perlahan-lahan menjanjikan kepada armada perang Kerajaan Victoria untuk mendukungnya melawan Ayahnya.


Mereka semua dijanjikan Edmud untuk menempati posisi penting jika mereka mendukung Edmud untuk naik takhta menggantikan Raja Julien.


Edmud juga menyebarkan kabar palsu kepada seluruh rakyat Kerajaan Victoria bahwa Edward-lah yang membunuh Raja Julien.


Sehingga seluruh rakyat sangat membenci Edward karena berita palsu itu.

__ADS_1


Namun, Raja Richard yang sudah mengetahui bahwa yang telah membunuh Raja Julien adalah Pangeran Edmud, dengan sukarela akan membantu Edward untuk membalaskan dendam Ayahnya, Raja Julien.


Sehingga Pasukan Elit yang berasal dari Kerajaan Victoria membawa Putri Gwen untuk berlindung di Kerajaan Hirendel hingga semua kekuatan untuk melawan Edmud dikumpulkan.


Raja Richard juga sudah mendapatkan kabar bahwa saat ini Edward sedang dirawat oleh Bangsa Dwarf dan pengawal pribadi Edward di Gunung Seraphine.


Raja Richard khawatir, kekuatan militer Kerajaan Victoria jauh lebih kuat dari Kerajaan Hirendel sehingga Minggu lalu Raja Richard mengirim Kapten Lucius bersama 15 prajurit terbaik untuk membantu Edward mengumpulkan kekuatan militer.


Raja Richard memberikan perintah untuk Edward dan pasukannya meminta bantuan Bangsa Dwarf di seberang Laut Dragon’s Cross, Bangsa Viking yang berada di Utara, dan Bangsa Sparta yang berada di sebelah Barat.


Semua bangsa-bangsa ini merupakan teman lama dari Raja Julien dan Raja Richard yang dulunya sama-sama menandatangani perjanjian damai dan membagi wilayah-wilayah dengan adil, sehingga meminta bantuan mereka bukanlah hal yang sulit.


Namun Raja Richard sudah tahu bahwa akan ada tradisi masing-masing bangsa yang harus dipatuhi oleh Edward sebelum mereka mau membantu Edward untuk melawan Edmud bersama Kerajaan Victoria, dan tradisi itu akan sangat berat bagi Edward.


Sampai saat ini, Raja Richard hanya dapat berdoa agar Edward berhasil mengumpulkan kekuatan militernya.



Pagi telah terbit di Kerajaan Hirendel.


Kerajaan ini berada di atas gunung dan lembah sehingga seluruh kota-kotanya berjejer hingga kaki gunung.


Putri Gwen ingin berjalan keluar kastil untuk menyapa rakyat Kerajaan Hirendel.


Namun sebelumnya, Putri Gwen mengingat apa yang dipesankan oleh Jhon sehingga Putri Gwen menyimpan sebuah pedang yang dihadiahkan Raja Julien didalam sebuah peti, dan menguburnya di belakang Kastil Hirendel.


Setelah selesai mengubur pedangnya, Putri Gwen mulai berjalan-jalan bersama pasukan elit yang mengelilinginya.


Dalam perjalanannya, Putri Gwen melihat bahwa rakyat Kerajaan Hirendel memiliki paras yang tampan dan cantik.


Mayoritas masyarakatnya memiliki mata biru yang diwariskan turun temurun sehingga sangat mudah untuk membedakan mereka dengan bangsa lain.


Putri Gwen berjalan hingga ke benteng gerbang utara Kota Hirendel.


Saat berada di atas benteng gerbang, Putri Gwen melihat ada pasukan berkuda sedang mengarah ke Kota Hirendel.


Putri Gwen mengira jika itu adalah salah satu armada pasukan Kerajaan Hirendel, namun seorang pasukan elit yang mengawalnya melihat itu dan berteriak kepada para penjaga gerbang bahwa ada pasukan musuh dari Kerajaan Victoria sedang menuju kearah mereka.


Putri Gwen mendengar sangkakala dibunyikan dengan nyaring, lalu seluruh pasukan Kerajaan Hirendel terlihat bersiap untuk berperang.


“Putri! Awas!” Teriak salah satu pengawalnya dan langsung melindungi tubuh Putri Gwen dengan tubuhnya dari hujan panah milik musuh yang dilepaskan secara tiba-tiba dan membabi-buta.


Seketika pengawalnya mulai rebah didepan Putri Gwen.


“Putri! Ayo!”


Salah seorang pengawalnya langsung menarik lengan Putri Gwen dan membawanya untuk masuk kastil dan berlindung disana.


..."I Don't Care How Hard Is It...


...I Swear To Take A Revange...


...For My Father."...


...-PRINCE EDWARD-...


__ADS_1


__ADS_2