
Mulut Lembah Kematian, kemah Edward.
“Lucius! Apa yang kau lakukan?!” Edward menatap Lucius yang sebelumnya tiba-tiba mencium bibirnya dengan begitu bergairah.
“Apa Yang Mulia lupa siapa diriku sebenarnya? Aku ini wanita! Aku sudah mengatakan pada Yang Mulia bahwa aku akan menebus kesalahanku. Bahkan dibayar dengan nyawaku sendiri, takkan sanggup untuk membayar ketidaksopananku pada Yang Mulia.”
“Lupakan tentang menebus kesalahan. Sekarang bersiaplah, kita akan berangkat siang ini!” Edward dengan nada tegas meminta Lucius menghentikan tindakannya.
Selama ini alasan kenapa Lucius pura-pura menjadi seorang pria adalah karena ia ingin terus bertarung di samping Edward, sama seperti yang Penny lakukan.
Namun karena Penny adalah seorang wanita, tentu saja Edward akan menghormatinya dan memperlakukannya dengan formal.
Edward adalah orang yang kuat, sangat kuat. Meskipun Edward adalah murid Lucius, namun Edward memiliki sesuatu yang berbeda dari murid-murid Lucius yang lain, yaitu semangat.
…
Matahari meninggi dan berada tepat diatas kepala pasukan Edward.
Mereka saat ini sudah dalam perjalanan ke Selatan menuju Kota Dwarfhold yang dikenal sebagai Negeri Di Atas Awan.
Pasukan Edward kini bertambah menjadi 45 pasukan, karena pasukan Orc yang dipimpin Guntar bersumpah setia untuk membantu Guntar dan Edward dalam mencapai tujuannya.
Perjalanan mereka diiringi dengan terik matahari yang begitu panas dan menyengat, pantas saja nama ditempat ini adalah Lembah Kematian.
Dalam perjalanan menyusuri lembah, Edward bertanya-tanya kepada salah satu bandit Orc yang begabung bersama mereka dalam bahasa Orc mengatakan, “selain kalian yang menghuni tempat ini, apa ada mahluk buas lainnya?”
Orc itu menjawab dengan cukup gelisah mengatakan, “ada sekitar 20 ekor serigala dalam lembah ini. Dan mereka bukanlah serigala biasa karena tubuh mereka begitu besar, Edward takkan percaya saat bertemu mereka. Terlebih, serigala terkuat adalah Sang Alpha yang begitu melegenda dalam cerita api unggun para bandit Orc.”
“Aku pernah bertarung dengannya sekali.” Edward turun dari kudanya dan menceritakan para Orc itu bagaimana Edward dulu mengalahkannya.
Para Orc yang berada disekitar Edward yang mendengar ceritanya begitu kagum pada Edward, bahkan 10 pasukan Orc takkan bisa menghadapi satu ekor Sang Alpha.
Jauh dibelakang pasukan Edward, pasukan yang dimiliki Edmud sekarang sedang kembali mengejar mereka.
Namun karena para bandit Orc yang ada bersama Edward sudah mengetahui jalan tercepat, maka pasukan Edmud setidaknya membutuhkan waktu dua hari untuk dapat mengejar mereka.
…
“Putri Gwen! Bangunlah!”
Gwen kini sudah aman bersembunyi di pos rahasia milik militer elit Edward, yang tersembunyi jauh didalam Gunung Grock.
Para pasukan elit itu tidak mengetahui jika Raja Richard hanya pura-pura untuk berkhianat sehingga mereka sempat menumpahkan darah beberapa prajurit Kerajaan Hirendel.
Putri Gwen perlahan membuka matanya, dan dia melihat dirinya berada didalam sebuah gua, yang hanya disinari oleh beberapa obor.
“Jones, apa yang terjadi? Kenapa kita lari ke sini?” Putri Gwen perlahan duduk sambil memerhatikan sekitarnya.
“Raja Richard bekhianat! Dia mengirim pasukannya ke kamar Tuan Putri untuk membawa Tuan Putri bersamanya. Untunglah kami menaruh curiga lebih dulu, jadi kami sudah siap menerima kedatangan mereka.” Jones perlahan duduk di samping Putri Gwen berusaha menenangkannya.
“Kalian salah! Raja Richard takkan berkhianat! Aku sudah memegang janjinya dalam sebuah kontrak dengan Raja Julien.” Putri Gwen terlihat begitu gusar menatap para pasukannya yang bertindak gegabah.
“Kami takkan bisa menjamin sebuah kontrak takkan mengubah perasaan seseorang, Yang Mulia.”
*Duar!!!
Terdengar dentuman besar dari kaki gunung, dentumannya begitu menggema hingga menggetarkan gua yang sedang ditempati para pasukan elit dan Putri Gwen.
Menyadari ada bahaya, Kapten Jones bersama lima orang segera memeriksa apa yang terjadi diluar.
Gunung Grock berada di teritori liar, karena itu para pasukan elit menjadikannya sebagai markas.
__ADS_1
Namun ada sebuah legenda yang mengatakan bahwa teritori ini dihuni oleh beberapa mahluk mitologi seperti naga, ular besar, raksasa, dan warewolf .
Para pasukan elit yang berjumlah 5 orang dipimpin oleh Kapten Jones kini sudah berada di mulut gua.
Saat mereka melihat kebawah, disana rupanya ada 3 orang raksasa berkepala dua sedang bertarung.
Rupanya mereka berlomba untuk naik ke gua dimana Putri Gwen sudah diamankan.
Setiap raksasa memiliki tinggi 7 – 10 meter. Memiliki kulit kasar yang keras seperti zirah, otot-otot yang tentunya memiliki kekuatan yang luar biasa, dan kecepatan gerak mereka takkan mudah ditangani.
Kapten Jones mengamati mengapa mereka bertengkar, rupanya dibalik kelebihan mereka yang luar biasa, para raksasa ini adalah mahluk yang cukup bodoh.
Dengan sigap, Kapten Jones mengutus 10 orang untuk membawa Putri Gwen pergi sementara ratusan pasukan lainnya bersiap bertempur dengan para raksasa itu.
“Mereka mencium bau manusia yang begitu banyak! Itulah kenapa mereka berusaha naik ke sini! Panggil pasukan elit kita, bersiap untuk bertempur di medan sempit! 10 orang bawa Putri Gwen ke tempat yang aman, kami akan berikan sinyal jika sudah aman.”
Tak menunggu beberapa lama setelah Kapten Jones memerintahkan pasukannya, para raksasa itu hampir tiba di depan mulut gua.
Disana hanya tersisa Kapten Jones dan Ulric, seorang pasukan elit yang terkenal akan tubuhnya yang kecil namun begitu lincah dalam pertarungan.
“Ulric, siapkan pedangmu! Kita akan menghadang mereka disini selagi menunggu bantuan! Tak ada kata mundur untuk kita!” Kapten Jones menghunuskan pedangnya dan melompat ke bawah menuju kearah para raksasa itu.
*Wush
Lompatan Kapten Jones dan Ulric yang tidak kenal takut, mereka melompat dari ketinggian 1000 meter menuju raksasa yang berada pada ketinggian 990 meter dibawah mereka.
“Hiya!!!” Kapten Jones melompat sambil mengarahkan pedangnya menuju tepat ke mata salah satu raksasa itu.
*Srek
Pedang Kapten Jones menancap tepat di mata salah satu kepala dari raksasa itu.
*Wush
Ulric melontarkan tubuhnya ke arah leher dari raksasa yang terkena pedang Kapten Jones dan berusaha menebas lehernya.
*Srek
“Ulric! Lompat ke raksasa yang ada di belakangmu!” Pedang Kapten Jones menancap begitu dalam di mata raksasa itu sehingga pedangnya tidak dapat dicabut.
*Wush
Kapten Jones melompat ke batu besar di belakangnya, dan mengeluarkan panah yang ada di punggungnya.
Selagi Ulric melompat-lompat untuk mengalihkan fokus raksasa itu, Kapten Jones membidik mata di salah satu kepala raksasa itu.
“Kapten! Cepatlah! Aku kehabisan akal!” Ulric nampaknya mulai kewalahan menghindari serangan raksasa itu ketika sedang menaiki tebing yang curam.
“Fokus dan tenang!” menembakkan anak panah ke mata disaat target bergerak sangatlah susah.
*Wush
*Srek
Panah itu kini tepat menancap di mata sang raksasa hingga raksasa itu merintih kesakitan.
Melihat peluang yang dibuat Kapten Jones, Ulric mengambil ancang-ancang untuk melompat dari tubuh raksasa itu menuju sebuah batu besar diatasnya.
*Hap
Ulric kini berada diatas batu besar tepat diatas raksasa itu, Ulric mengangkat pedang sabit miliknya, menarik napas dalam-dalam, dan ….
*Wush
__ADS_1
Melompat kearah raksasa itu. Lompatan yang diambil Ulric adalah untuk menambah daya rusaknya dengan memanfaatkan gravitasi.
*Srek
Ayunan sabit ditambah dengan kecepatan gravitasi membuat leher raksasa itu seketika putus.
*Hap
Ulric melompat lagi ke salah satu tubuh raksasa terakhir.
Namun Ulric melihat busur panah yang dimiliki Kapten Jones sudah habis karena memanah raksasa terakhir ini ketika Ulric melompat dari atas tadi.
“Sial!” Kapten Jones sudah kehabisan senjata untuk digunakan.
“Kapten! Formasi tangan kosong?!” Tanya Ulric sambil berusaha menebas tubuh raksasa yang tebal itu.
“Cih! Ayo!” Kapten Jones melompat dari batu-batu curam dan berusaha menyusul raksasa itu.
Formasi tangan kosong adalah formasi terakhir, yang artinya akan membahayakan nyawa yang melakukannya.
Formasi ini berarti mereka akan melakukan apapun dengan tubuh mereka untuk menghadang musuh, termasuk menggunakan tubuh mereka sendiri menjadi senjata.
*Hap
Kapten Jones kini sudah mendarat di tubuh raksasa itu dan bersiap mengeluarkan segenap kekuatannya untuk mati bersama raksasa itu.
“Bos! Jika kau selamat, katakan pada istriku untuk tidak khawatir karena aku mati sebagai pahlawan!” Ulric melompat diantara bebatuan itu dengan membawa pedang sabitnya, ia bersiap untuk melancarkan serangan terakhir selagi Kapten Jones mengalihkan perhatian raksasa itu.
“Jika aku yang mati, kau katakan hal yang sama pada istriku!”
“Baik Bos!” Ulric menjauh keatas dan mendaki semakin tinggi hingga menghilang dalam kegelapan kabut yang menutupi gunung itu.
*Hap
Kini Ulric sudah berada tepat diatas raksasa itu, jaraknya cukup jauh sehingga kerusakan yang dihasilkan akan sangat fatal, bahkan bagi dirinya sendiri.
“Ibu, aku datang!”
*Wush
Dengan kecepatan tinggi, Ulric menukik dengan memegang pedang sabit diatas kepalanya menghadap ke kepala raksasa itu.
*Srek!!!
Belahan sabit itu menembus mata raksasa itu hingga keluar dari leher raksasa itu.
“Sekarang Bos!!!” Ulric memberikan aba-aba agar Kapten Jones, pasukan terkuat yang pernah dimiliki Kerajaan Victoria membanting tubuh raksasa itu ke bawah bersama Ulric.
“Hiya!!!” suara ledakan kekuatan Kapten Jones ketika berusaha mendorong tubuh raksasa itu jatuh kebawah.
“Argh!!!” teriak raksasa itu dengan mata yang tertancap pedang saat pegangannya terlepas dari batu yang dipegangnya untuk naik.
“Ulric!!! Melompatlah kemari!” Kapten Jones mengulurkan busur panahnya ke Ulric agar dapat menjadi pegangan Ulric untuk naik.
*Wush
Ulric melompat dari tubuh raksasa, namun sayangnya ia terlambat untuk meraih busur panah itu.
Saat terjatuh Ulric bahkan sempat bergaya pada Kapten Jones dengan memberikan hormat terakhirnya.
..."Tell My Wife, I Die As A Hero."...
...-ULRIC "THE WIND"-...
__ADS_1
...Visual Penny Clark...