Throne Of Valor

Throne Of Valor
Marry Me, Edward!


__ADS_3


Malam hari telah tiba menggantikan hari yang begitu membosankan bagi Edward.


Kini, Edward dan para pasukannya sedang berkemah di ujung Death Valley.


Entah kenapa, Edward merasa begitu gelisah dan tidak dapat tidur dengan tenang.


Ia terus terpikirkan wajah cantik namun sombong dari Putri Aerin.


“Sial! Apa yang terjadi pada diriku? Kenapa aku terus mengingat wajahnya?” gumam Edward dalam hatinya sambil memutar-mutarbalikkan tubuhnya di dalam tenda.


“Ciuman pertamaku yang resmi, direngut gadis gila itu! Sial, seharusnya ini untuk Putri Gwen! Penny pernah mencium bibirku, namun aku menerimanya tanpa sadar.”


Karena Edward begitu gelisah memikirkan Putri Aerin, malam itu juga entah kenapa Edward merasa harus bertemu dengan Putri Aerin untuk merasakan ciuman manisnya lagi.


Saat melihat Edward mengendap-endap keluar tenda, Penny yang sedang berjaga langsung mendatangi Edward.


“Paduka? Kenapa Paduka mengendap-endap seperti itu?” tanya Penny dengan sebuah obor di tangannya yang menerangi wajah Edward.


“Ah, kau mengagetkanku saja! Tidak ada. Sana, kembali bertugas!” bentak Edward dengan bagitu kaget hingga jantungnya ingin copot.


“Tidak mau! Apa yang akan Paduka lakukan? Dan Paduka mau pergi kemana malam-malam begini?”


Mendengar tolakan dari Penny, Edward langsung menggandeng tangan Penny membawanya masuk ke tenda, membanting tubuh lembut Penny di kasur, dan menindih tubuhnya dari atas lalu berbisik, “aku harus pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang! Rahasiakan ini dari Lucius dan pasukan kita!”


“Ah! Edward! Lakukan apapun pada tubuhku,” desah Penny saat Edward mendekap tubuhnya.


“Sial! Apa kau berpikir aku akan melakukan itu padamu?! Jangan harap! Aku pergi dulu, laksanakan perintahku sebelumnya!”


Edward langsung pergi meninggalkan Penny yang sudah menggeliat kepanasan dibawah dekapan Edward tadinya.


Perlahan-lahan, Edward berjalan sendirian menyusuri jalan setapak yang di kiri dan kanannya adalah hutan Elf.


Ketika Edward sudah tidak jauh dari gerbang Kota Arendel, Edward melihat kota itu dijaga ketat oleh ribuan pasukan prajurit Elf.


Menurut legenda yang diceritakan Lucius padanya tadi sore, para Elf adalah ahli dalam hal magis dan pemanah yang andal.


Edward tidak memiliki kekuatan magis untuk bersembunyi dari deteksi dinding magis, jadi ia harus memikirkan cara masuk kesana tanpa terluka.


“Berpura-pura menjadi tawanan? Tidak, terlalu berisiko. Bagaimana jika berpura-pura menjadi musuh … dengan begitu aku akan dibawa masuk kedalam!” gumam Edward sambil berjalan menyusuri jalan raya Kota Arendel.


“Berhenti!” teriak salah seorang Elf memandang Edward dari atas benteng.


*Wush

__ADS_1


Edward langsung dikelilingi oleh 2 pleton Elf.


“Cepat sekali!” gumam Edward sambil menundukkan tubuhnya kebawah.


“Apa yang kau inginkan, manusia?!” seorang Elf mendekat dan menginjak tubuh Edward dibawah kakinya.


“Singkirkan kaki kotormu dari tubuhku!” teriak Edward dengan emosi lalu berbalik dan memukuli Elf yang menginjak tubuhnya itu.


*Ting


Semua Elf disana langsung siaga saat melihat perlawanan dari Edward.


Edward tidak suka jika manusia sepertinya justru direndahkan oleh makhluk lain yang sama derajatnya.


Saat Edward mengedipkan matanya untuk bersiap bertarung dengan tangan kosong, ada seorang Elf yang gagah perkasa yang kecepatannya tidak dapat diimbangi oleh kesadaran Edward.


*Bruk!!!


Elf itu langsung memukul wajah Edward hingga Edward terpental puluhan meter, hal itu tentu saja membuat Edward seketika pingsan setelah menerima pukulan sekuat itu.


Tubuh Edward diikat dan Edward dibawa menghadap ke Istana Parmel, dikelilingi oleh ribuan prajurit Elf.


Ketika mereka sudah tiba di dalam Kastil Parmel yang berada di jantung pohon besar itu, Putri Aerin dan Panglima Sovriel langsung mengenal bahwa itu adalah orang yang menolong mereka kemarin.


*Plak!


“Apa yang kalian perbuat padanya?!” tanya Panglima Sovriel dengan nada tinggi didepan Putri Aerin dan para bangsawan istana.


“Dia mencoba masuk ke Kota Arendel, Panglima.”


“Bukankah sudah kuperintahkan jika ada manusia yang masuk kesini, perlakukan mereka dengan hormat?! Aku akan memberikan hukuman militer kepada kalian semua yang terlibat! Tak perduli jumlahnya ratusan ribu Elf! Pergi!” jawab Panglima Sovriel lalu berusaha memulihkan kondisi Edward yang wajahnya benar-benar babak belur akibat satu pukulan.


“Panglima, panggil tabib untuk merawat calon suamiku. Setelah dia sadar, bawa dia ke kamarku,” perintah Putri Aerin dan berjalan menyusuri koridor mewah Istana Parmel.


Ketika dalam perjalanan ke kamarnya, Putri Aerin tersenyum dan bergumam sendiri mengatakan, “bahkan saat babak belur-pun dia masih saja tampan.”



Setelah satu jam dirawat dengan kekuatan magis seorang tabib Elf, Edward langsung tersadar.


Ia begitu kaget saat mendapati tubuhnya tidak menggunakan busana, dan dikelilingi oleh para perawat Elf wanita.


Mereka semua memandang Edward dengan pipi yang memerah, bagaimana tidak, Edward yang begitu gagah dan mempesona sedang tidak menggunakan busana terbaring didepan mereka semua.


“Pakaianku!” teriak Edward sambil berdiri dan mendekap seorang perawat Elf mendorongnya hingga ke dinding.

__ADS_1


Sayangnya, perawat Elf wanita yang didekap Edward itu langsung pingsan seketika.


“Kya!!!”


Teriak para perawat itu memandangi tubuh Edward yang sexy.


“Pakaianku! Berikan!” Edward lagi-lagi mendekap dan mendorong seorang perawat hingga ke dinding.


Anehnya, perawat itu justru menutup kedua matanya dan menjulurkan bibirnya menunggu ciuman dari Edward.


Ketika Edward memandang ke belakang perawat itu, ada sebuah handuk putih yang tergantung di belakangnya.


Edward mendekatkan wajahnya ke perawat Elf itu, perlahan dan perlahan.


“Kya! Veriel begitu beruntung!”


“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya Putri Aerin memasuki ruang perawatan itu dengan tiba-tiba.


Saat Putri Aerin memandang ke belakang pintu, disana ia melihat Edward yang tidak menggunakan busana sedang mendekatkan wajahnya ke Veriel.


Dengan sigap diiringi rasa cemburu, Putri Aerin berlari dan mendekap kedua pipi Edward, mengarahkannya ke bibirnya, dan menciumnya dengan penuh gairah cinta.


“Bibir ini! Ini dia yang kudambakan! Manis sekali!” pikir Edward ketika sedang merasakan kecupan lembut dari Putri Aerin dalam keadaan tidak berbusana.


Setelah beberapa saat mendaratkan ciumannya pada bibir Edward, Putri Aerin melepaskan ciumannya dan langsung menampar pipi Edward.


*Plak


“Dasar bodoh! Kenapa kau ingin mencium Veriel?!” Putri Aerin memandang Edward dengan rasa cemburu sambil mencuri pandang kearah tubuh bagian bawah Edward, yang tidak tertutupi apapun.


“Besar sekali!!!” gumam Putri Aerin ketika berusaha mencuri pandang ke bawah sana.


“Apa yang besar?” tanya Edward dalam keadaan tidak sadar jika dirinya tidak menggunakan busana.


“Pakailah handuk ini. Aku akan meminta Anthony untuk memberikanmu pakaian yang layak.” Putri Aerin menjulurkan handuk putih yang hendak diambil Edward tadi, membalikkan badannya, lalu pergi menunggu Edward di kamarnya.


Edward seketika tersadar bahwa ia tidak menggunakan busana, dan saat ini sedang dipandang oleh 10 orang perawat Elf wanita.


“Apa yang kalian lihat?!” ucap Edward sambil melingkarkan handuk itu menutupi bagian bawah tubuhnya.


Tak lama setelah itu, Anthony datang dan membawa Edward masuk ke ruangan khusus untuk berpakaian rapi, karena ia akan segera menikahi Putri Aerin pada esok harinya.


...Prince Edward Collins...


__ADS_1


__ADS_2