
Siang yang terik, angin pantai berhembus sejuk, dan suasana menjadi sibuk karena para pasukan Edward sedang membangun sebuah kapal untuk menyeberangi Lautan Dragon’s Cross yang dipimpin oleh Putri Sophia.
Tiba-tiba melalui sihir sensoriknya, Kapten Lucius merasakan ada banyak orang yang sedang mengarah menuju mereka di bibir pantai.
Menyadari hal ini, Kapten Lucius langsung berlari kearah Edward yang sedang berbincang dengan Putri Sophia lalu berbisik di telinganya mengatakan, “Paduka! Ada pasukan dalam jumlah besar sedang menuju kemari! Sepertinya mereka mengetahui keberadaan Putri Sophia disini!”
Edward langsung menatap mata Kapten Lucius, lalu menariknya ke tempat sepi untuk menyusun strategi.
“Jadi mereka pasti dari Kerajaan Empress?! Kalau begitu jangan beritahu siapapun karena aku ingin pasukan kita dapat fokus bekerja. Kita berdua akan menghadang mereka disana! Jika pertempuran antara kita berdua melawan mereka semua tidak dapat dihindarkan, maka kita harus menghadapi mereka semua hanya berdua! Apa kau mampu Lucius?”
Lucius tersenyum menatap Edward, “aku ini guru Paduka! Tentu saja aku lebih hebat dari Paduka! Begini saja, kita taruhan siapa yang dapat membunuh paling banyak adalah pemenangnya. Dan siapapun yang kalah harus menuruti apapun kemauan sang pemenang, bagaimana Paduka apa kau takut?!”
“Cih! Ayo buktikan dan aku akan menindasmu seharian!”
Edward mempersiapkan kudanya bersama Lucius dan langsung pergi dari bibir pantai menuju kearah pasukan musuh yang berada 3 kilometer di belakang mereka.
Ratu Aerin yang kebetulan baru kembali seusai berburu bersama Arthemis di hutan, melihat Edward dan Kapten Lucius melintas menaiki kuda dengan buru-buru.
“Erenel!” teriak Ratu Aerin memanggil Eagle Spartan miliknya.
*Wush
Dari balik awan-awan di langit, kepakan sayap Erenel membelah awan-awan itu dan menukik kearah Ratu Aerin.
“Arthemis, kembalilah bawa hasil buruan kita kepada pasukan kita! Ada hal yang harus ku awasi!” ucap Ratu Aerin dan langsung terbang bersama Erenel.
“Hei aku ikut!” teriak Arthemis memanggil Ratu Aerin, namun Ratu Aerin sudah terbang jauh bersama Erenel.
Dengan cemberut, Arthemis kembali ke kamp mereka dengan membawa 3 ekor rusa di gerobaknya.
Sementara kesibukan membuat kapal di bibir pantai Dragon’s Cross, saat ini Edward dan Kapten Lucius sedang bersembunyi di balik pepohonan pinus untuk melihat lebih teliti tentang pasukan ini.
“Bendera Kerajaan Empress?! Tidak salah lagi, mereka adalah pasukan yang mengejar Putri Sophia! Bagaimana menurutmu, Lucius?”
“Hm, sepertinya memang begitu, Paduka! Ayo kita hadang mereka!” jawab Kapten Lucius sambil mempersiapkan senjata dan crossbow di punggungnya.
“Lucius, ayo!” Edward langsung melompat menembus pepohonan pinus berlari menuju para pasukan Kerajaan Empress itu.
“Sial! Paduka selalu bertindak dengan tiba-tiba!” Kapten Lucius berlari menyusul Edward yang saat ini baru saja tiba di jalan setapak yang didepannya merupakan pasukan Kerajaan Empress.
Ketika tiba di samping Edward, Kapten Lucius berbisik di telinga Edward mengatakan, “jumlah mereka hanya 1000 orang. Kita harus tanyakan apa maksud mereka sebelum ….”
*Wush
Hujan anak panah berapi yang dilepaskan para pasukan Kerajaan Empress saat ini sedang terarah kearah Edward dan Kapten Lucius yang sedang berdiri di tengah jalan.
“Hanya panah? Menyedihkan sekali cara mereka menyerang!” Edward langsung mengangkat perisai besi tebalnya keatas dan menangkis semua panah berapi itu.
*Tap-tap
__ADS_1
Diiringi dengan hujan panah berapi yang terus-menerus mengenai zirah besinya, Edward mengangkat perisainya keatas sambil berlari dengan kecepatan penuh kearah para pasukan berkuda di barisan terdepan.
“Hiya!!!” Edward melompat ke tengah pasukan barisan depan dengan pedang Ultima yang terarah ke atas kepala mereka.
*Srek
*Bruk!!!
Pedang Ultima Edward berhasil menebas 3 orang, hingga pedangnya tertancap di tanah.
Tancapan pedang seberat 60 kg itu menghancurkan tanah di sekitarnya.
*Wush
Kapten Lucius juga melompat dari belakang Edward dan mengarah kepada barisan tengah yang memegang perisai.
*Duar!!!
Sambaran petir keluar dari pedang Kapten Lucius dan membuat barisan tengah itu kacau balau.
“Lucius! Formasi Duo Torpedo!” teriak Edward berlari sambil menghindari ayunan pedang musuh di barisan depan.
“Siap! Paduka, sekarang!!!” Kapten Lucius menundukkan badannya agar Edward dapat melompat dari atas tubuhnya dan melakukan serangan ke barisan belakang secara bersamaan.
*Tap
*Wush
Edward melompat tinggi dari tubuh Kapten Lucius, dan saat ini Edward sedang berada di udara sambil mempersiapkan satu serangan terkuatnya menuju para pemanah di barisan belakang.
Sebuah barrier petir yang dibuat Kapten Lucius kini mengelilingi area barisan belakang yang akan terkena ayunan pedang Ultima dari Edward.
“Hiya!!!” teriak Edward sambil mengayunkan pedang Ultima miliknya dengan kekuatan penuh.
*Duar!!!
Getaran hebat yang dihasilkan Edward dari pedang Ultima-nya hingga menghancurkan apapun pada jarak 30 meter dari pusat getaran.
Dalam satu serangan yang luar biasa, Edward berhasil menumpas semua pemanah di barisan belakang.
“Luar biasa sekali kekuatan anda, Paduka!” gumam Kapten Lucius dalam hatinya lalu membuka kembali barriernya.
“Lucius! Awas di belakangmu!” teriak Edward melihat sebuah palu berukuran raksasa sedang terayun ke atas kepala Kapten Lucius.
*Wush
Edward berlari dengan kecepatan tinggi untuk menangkis ayunan palu raksasa itu dari kepala Kapten Lucius.
*Ting!
Palu itu ditangkis dengan perisai besi yang berat milik Edward.
__ADS_1
Saat berada dalam lindungan perisai Edward, Kapten Lucius dapat memandang dengan baik indahnya tatapan mata Edward.
“Dia … tampan!” gumam Kapten Lucius sempat berkhayal menatap Edward.
*Srek!
Sebuah tombak tiba-tiba menancap di punggung Edward.
“Lucius! Fokuslah! Uhuk!” ucap Edward menurunkan perisainya.
*Duar!
Bunyi ayunan palu berukuran besar itu menghantam tanah, setelah Edward mendorong tubuh Kapten Lucius menjauh demi menghindari serangan masif yang kedua.
“Lucius, tangani prajurit biasa! Aku akan melawan dua raksasa ini!” teriak Edward dengan punggung yang tertancap tombak.
“Siap, Paduka!” Kapten Lucius langsung berlari kembali ke barisan tengah dan depan untuk mulai bertarung disana.
*Wush
Edward berhasil menghindari ayunan palu raksasa itu dan langsung melompat kearah samping raksasa yang baru saja melancarkan serangan.
Tiba-tiba saat Edward akan melancarkan serangan dahsyat dari pedang Ultima-nya, satu raksasa lainnya ternyata sudah membaca gerakan Edward sehingga saat ini palu raksasa itu sedang mengarah ke tubuh Edward.
*Wush
Edward tidak menyadari bahwa saat ini palu raksasa sedang mengarah kepadanya.
*Ting!!!
Tiba-tiba ayunan berkekuatan masif itu berhasil ditangkis dengan perisai kristal. Bukan oleh Edward dan Kapten Lucius, namun oleh Ratu Aerin yang tiba-tiba muncul bersama Erenel.
“Jangan … mengganggu … Edwardku!” teriak Ratu Aerin.
*Duar
Dari tubuh Ratu Aerin, terpancar aura api yang meledak-ledak karena amarah Sang Ratu saat ada yang berusaha membunuh Edward-nya.
“Edward, awas!!” bisik Ratu Aerin melalui komunikasi rahasia mereka sambil menatap kearah Edward.
“Maksudmu?! Ah jangan-jangan!!!” Edward langsung mengangkat cincinnya keatas untuk melindugi dirinya.
*Boom!!!
Ledakan luar biasa dahsyat meledak di medan pertempuran yang dikelilingi hutan pinus itu.
Ledakan itu langsung menghabisi seluruh musuh yang berada disana.
Untungnya Edward dan Kapten Lucius sudah terbiasa dengan kebiasaan buruk Ratu Aerin yang terlalu over power, jadi mereka akan siap kapanpun ledakan dari Ratu Aerin diledakkan.
..."Legends Never Die! But Heroes Immortal!"...
__ADS_1
...-Lucius, Kraken Slayer-...