
Gunung Reign.
Malam yang dingin mulai menusuk hingga kedalam tulang-belulang. Dari kaki gunung, Kapten Lucius masih melihat kilatan cahaya yang terus bergejolak kesana-kemari di puncak Gunung Reign.
Setelah Kapten Lucius mengamati dengan detail, terlihat bahwa Ratu Aerin masih bertempur dengan Vrogh yang dalam wujud naga nya.
“Inikah pertarungan antara para penguasa?! Sungguh mengerikan!” batin Kapten Lucius dengan mata yang terbalak kaget melihat hembusan angin, kilatan petir, dan gemuruh daratan yang bergetar hebat.
Menyadari bahwa lokasi tempat mereka berhenti tidak aman, Kapten Lucius memerintahkan para pasukannya untuk mundur lebih jauh, tidak peduli sesakit atau selelah apapun para prajuritnya mereka harus segera menyingkir.
Kapten Lucius berada di posisi paling belakang sambil menjadi tameng untuk melindungi para prajuritnya dari kejaran bola api para naga yang ada di medan perang.
Tak banyak naga yang tersisa, hanya sekitar sepuluh ekor lagi. Namun untuk menumbangkan seekor naga pun saat ini Kapten Lucius hampir tidak mampu karena dirinya sudah bertempur selama tiga hari tanpa istirahat bersama seluruh pasukannya, dan tentu saja Ratu Aerin.
“Sial! Jika begini terus, seluruh pasukan akan tamat! Aku harus melakukan sesuatu!” batin Kapten Lucius sambil menangkis serangan bola api dari naga-naga yang mengejar pasukannya.
Kapten Lucius berteriak memanggil Penny dari arah belakang dan berkata, “aku akan menjalankan protokol Until The End! Bawa seluruh pasukan pergi menjauh, ini perintah!”
Penny dan seluruh pasukan yang mendengar perkataan Kapten Lucius langsung terdiam dan menatap wajah Sang Kapten yang sudah berlumuran darah, debu, dan keringat.
“Kalian dengar?! Ini perintah!” teriak Kapten Lucius sekali lagi agar memaksa pasukannya untuk menjauh.
Dengan berat hati dan gejolak batin yang hebat, Penny dan seluruh pasukannya terpaksa mematuhi perintah Sang Kapten. Padahal, jika boleh, mereka ingin mati bersama di medan tempur daripada terus berlari dan bersembunyi seperti pengecut.
Namun perintah adalah mutlak, tak ada yang boleh melanggarnya karena hal itu berkaitan dengan Sumpah Prajurit.
“Kapten, sampai bertemu besok pagi!” Penny memalingkan wajahnya dan fokus berlari menjauh.
“Aku tahu, bodoh. Aku tidak selemah yang kau kira. Lagi Pula aku adalah Kapten Lucius, sang Rival dari Pangeran Edward.”
Dengan zirahnya yang terus menerus dihujani oleh bola api, Kapten Lucius memasang kuda-kudanya untuk bersiap mengeluarkan satu jurus pamungkas yang berkaitan dengan Protokol Until The End.
Para naga semakin mendekat dan mendekat hingga Kapten Lucius merasa tubuhnya semakin memanas karena kobaran bola api.
Setelah mengambil kuda-kuda, akhirnya Kapten Lucius merasakan bahwa jurus pamungkasnya siap untuk dilancarkan, yaitu pemusnahan massal dengan meledakkan dirinya dari sebuah mantera kuno. Tak ada makhluk hidup apapun yang dapat menangkis ataupun bertahan dari jurus pamungkas itu, tak ada, kecuali dewa.
__ADS_1
Tepat sebelum Kapten Lucius mengucapkan manteranya, tiba-tiba Ratu Aerin muncul tepat di hadapannya. Kapten Lucius merasakan hawa dingin keluar dari tubuh Ratu Aerin, terasa asing dan bukan Ratu Aerin yang biasanya.
“Aku akan mengurusnya,” ucap Ratu Aerin dengan tatapan yang dingin dan wajah yang datar.
Tak ingin menentang Ratu Aerin yang dengan tatapan yang dingin menatapnya, Kapten Lucius langsung menuruti perintah Sang Ratu Elf.
“Ratu Aerin ...” Kapten Lucius langsung berbalik arah dan menyusul para pasukannya yang sudah berlari cukup jauh ke dalam barisan bukit-bukit.
Kapten Lucius heran, mengapa Ratu Aerin dapat muncul di hadapannya padahal ia sedang berperang melawan Vrogh sebelumnya. Kapten Lucius sangat yakin bahwa Ratu Aerin dan Vrogh bertarung dengan seimbang sehingga sulit untuk menentukan siapa yang akan bertahan hidup.
Ternyata, tanpa Kapten Lucius sadari, tubuh Vrogh sudah tergeletak membiru jauh di dalam medan perang dengan sebuah pedang berlian yang menembus dada zirah Vrogh yang sangat keras dan tebal.
*
Sebelumnya, diatas Gunung Reign.
Medan pertempuran kini dibasahi dengan hujan yang sangat lebat dan angin yang berhembus kencang.
Dari puncak Gunung Reign yang sudah terbelah menjadi dua bagian, terlihat Ratu Aerin yang sedang melancarkan satu ayunan pedang berliannya kearah Vrogh.
“Kau melakukan satu kesalahan yang fatal.” Ratu Aerin menatap kearah Vrogh setelah serangannya berhasil ditangkis.
Kedua kaki Vrogh terlihat sedikit gemetar setelah ia menyadari bahwa Ratu Aerin baru saja berubah menjadi sesuatu yang berbeda.
*Wush
Tak ingin ketakutan menguasai dirinya, Vrogh langsung melancarkan sebuah serangan secara beruntun dengan kekuatan yang masif.
*Ting
Semua serangan dari Vrogh berhasil mengenai Ratu Aerin, namun semua serangan itu anehnya hanya membuat Ratu Aerin tergores sedikit.
“Apa yang terjadi?! Bagaimana bisa?!” batin Vrogh sambil tertunduk dan tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
“Kesalahan yang pertama adalah kau melukai seorang yang sangat berharga bagiku, bahkan dirinya melebihi nyawaku sendiri ...” Ucapan Ratu Aerin terdengar datar dan dingin.
Ratu Aerin mengangakat pedangnya keatas diiringi dengan serpihan es dan kaca yang membentuk pusaran angin yang dahsyat. Dari seluruh medan pertempuran dapat terlihat sebuah pusaran angin raksasa terbentuk di puncak Gunung Reign.
“Kesalahan kedua adalah kau menatapku dengan rendah,” ucap Ratu Aerin sebelum mengayunkan pedangnya kearah Vrogh.
__ADS_1
*Grrrrrr
Pusaran angin yang terbentuk dari es dan kaca itu tiba-tiba berubah arah dan langsung mengarah ke tubuh Vrogh yang sedang tertunduk kaku.
Perlahan tapi pasti, pedang berlian itu menembus tubuh raksasa Vrogh.
Setelah bertempur dengan hebat selama tiga hari tiga malam, Ratu Aerin menyadari ternyata tubuh Vrogh memiliki semacam perisai magis yang hanya bisa ditembus dengan elemen es.
Dan juga, untuk menangkis serangan Vrogh, Ratu Aerin harus membuat semacam perisai berelemen es dan campuran dari kaca sehingga dengan inilah serangan Vrogh sebelumnya hanya menggores sedikit dari tubuh Ratu Aerin.
Setelah merasakan dinginnya pedang berlian Ratu Aerin perlahan memasuki dadanya, Vrogh berniat untuk melakukan suatu cara terakhir yang sangat keji, yaitu dengan mengaktifkan sihir terlarang yang dapat menyegel dan membawa siapapun yang berada dalam radius 100 kilometer terjun kedalam lubang neraka.
*Krak
Suara pedang berlian yang sudah menembus kedalam dada Vrogh.
“Ada yang tidak wajar,” batin Ratu Aerin setelah melihat bibir Vrogh seperti mengucapkan sesuatu.
Tiba-tiba Vrogh menatap tajam kearah Ratu Aerin dan berteriak, “matilah bersamaku!!!”
*Wush
Tiba-tiba ada sebuah lubang raksasa yang sangat gelap menganga di bawah kaki mereka. Lubang itu bukan hanya terbuka, tetapi mengisap apapun dalam radius 100 kilometer.
Ratu Aerin menyadari bahwa dirinya sedang dalam bahaya yang cukup serius, sehingga Ratu Aerin terpaksa menambah 1% kekuatannya menjadi 11%, sehingga kini ada sebuah perisai kaca yang menyelubungi seluruh jangkauan lubang raksasa itu dan membuat lubang itu tertutup rapat dibawah perisai kaca.
Ratu Aerin menatap kearah Vrogh dengan mata yang tajam, lalu melanjutkan tugasnya untuk memasukkan lebih dalam pedang berliannya.
“Dengan ini berakhir sudah,” bisik Ratu Aerin di telinga raksasa Vrogh.
*Arghhhhh
Auman Sang Raja Naga terdengar dengan jelas di seluruh medan peperangan menandakan berakhirnya peperangan dan mimpi buruk para Dwarf.
Sebelum meninggalkan Vrogh, Ratu Aerin ingin memastikan bahwa Vrogh benar-benar sudah tewas dengan cara memisahkan kepalanya dari tubuhnya.
“Tersisa beberapa sampah disana,” ucap Ratu Aerin setelah melihat beberapa naga-naga kecil yang masih melawan di arah perginya para pasukan Edward.
Dalam perjalanan menyusul pasukan Edward, hati Ratu Aerin terus-menerus gelisah memikirkan suaminya Edward. Namun Ratu Aerin tahu, bahwa ada secercah harapan, meskipun tidak besar bahwa Edward akan kembali pulih.
__ADS_1