
🍂🍂🍂
Masa depan.
Kota Albama, Amerika Serikat.
Matahari semakin meninggi, dan awan-awan berhembus dengan lembut melukis angkasa biru.
Saat ini Steph, Gwen, dan Jhon baru saja selesai berdiskusi tentang rencana penyelidikan mereka nantinya.
Tepatnya penyelidikan itu akan dimulai saat puncak musim dingin tahun ini, yang akan tiba 4 minggu lagi, bertepatan dengan satu tahun kecelakaan yang menimpa Steph dan Gwen.
“Steph, Gwen, aku akan pulang lebih dulu. Ada sesuatu yang harus ku cari tahu. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya!” Jhon melambaikan tangannya pada Steph dan Gwen lalu mulai melajukan mobilnya.
Gwen mendorong kursi roda Steph masuk ke ruang tamunya.
Disana, Gwen mengamati kondisi kedua kaki Steph yang sepenuhnya lumpuh.
“Gwen, bagaimana dengan ingatanmu? Apakah kau dapat mengingat sesuatu sebelum kau terbangun di rumah sakit?” tanya Steph ketika mereka baru saja tiba di ruang tamunya.
“Hm, tidak ada satupun. Oh iya, kenapa dulu kau menipuku dengan mengatakan padaku bahwa namamu adalah Edward?” Gwen duduk di samping Steph, diatas sofa.
“Ah tidak ada, nanti ku jelaskan. Gwen, dalam peranmu di masa lalu … apakah kau benar-benar akan menikah dengan seorang pangeran bernama William itu?”
“Tidak ada pilihan lagi. Itu adalah syarat mutlak dari Raja Arthur. Kenapa kau bertanya pernikahanku? Bukankah kau sendiri sudah menikah dengan wanita elf bernama Aerin itu?” Tatapan Gwen mulai terpancar sedikit kecemburuan, sambil menyilangkan tangannya.
“Sama seperti mu, itu adalah syarat mutlak. Meskipun begitu ak-”
“Semoga bahagia. Aku permisi dulu, Steph,” potong Gwen sambil memancarkan senyuman, lalu mulai berjalan keluar rumah Steph dengan sedikit kekecewaan.
*Hap
Steph menahan lengan Gwen yang hendak berjalan keluar.
“Aku dan Edward berbeda. Aku sadar Edward mulai mencintai Ratu Aerin, namun tidak denganku ….”
“Steph ….” Gwen perlahan membalikkan badannya dan menatap kedua mata Steph yang terlihat sedih.
Gwen perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Steph yang sedang menahan lengannya.
*Cup
Sebuah ciuman singkat dari Gwen mendarat di pipi Steph yang sedang tertunduk.
“Terima kasih. Sampai jumpa besok, Steph.”
Gwen perlahan berjalan keluar dengan hati yang berbunga-bunga.
Meskipun kata-kata Steph masih belum jelas baginya, namun hal itu mengisyaratkan bahwa hati Steph dan hati Edward berbeda walaupun sebenarnya mereka adalah satu.
Reinkarnasi bukan berarti kau identik dengan tokoh di masa lalu, melainkan menyempurnakan kekurangan di masa depan.
 🍂🍂🍂
Sore hari seperti biasanya, Steph selalu mendorong kursi rodanya berjalan-jalan tidak jauh dari rumahnya.
Ketika melintas di depan kedai kopi, Steph teringat dulunya sering ke sana untuk menikmati latte kesukaannya.
Namun karena kondisinya seperti sekarang, sejak kecelakaan itu Steph tidak pernah lagi pergi ke kedai itu.
__ADS_1
Karena kerinduan latte kesukaannya, Steph segera mendorong kursi rodanya untuk mampir ke sana.
“Lama tidak kembali ke tempat ini,” batin Steph saat mendorong kursi rodanya masuk ke dalam.
*BrukÂ
Steph tidak sengaja menabrak seorang gadis diasana yang sedang mengepel lantai, di depan pintu masuk.
Lantai nya yang licin membuat gadis itu perlahan tergelincir tepat di depan mata Steph.
*Hap
Dengan sigap, Steph menangkap pinggang gadis itu sambil duduk diatas kursi rodanya.
Kini mata mereka berdua saling bertatapan dengan tidak sengaja.
“Edward? Ah tidak, maksudku Tuan. Maafkan saya.” Gadis itu langsung berdiri dari dekapan Steph lalu menundukkan badannya.
“Ah tidak, yang salah adalah diriku jadi akulah yang harus meminta maaf.”
“Anna! Kaca depan masih kotor, cepat bersihkan!” perintah seorang wanita yang berpakaian manajer, yang merupakan teman mengobrol Steph di kedai itu.
“Baik, manajer.” Perlahan gadis itu berlari kecil dengan gugup dan mulai membersihkan kaca kedai itu.
“Oh halo Steph! Lama tidak bertemu!” Nichole datang menyambut Steph.
Disana mereka mulai berbicang-bincang mengenai kondisi kesehatan Steph yang saat ini sudah membaik, namun kedua kakinya dalam keadaan lumpuh.
Setelah satu jam berbicang dengan Nichole, Steph berpamitan pergi kembali ke rumahnya.
Setibanya di rumah, Steph teringat bahwa gadis yang menabrak nya tadi memanggilnya Edward.
“Ada apa dengannya? Kenapa dia memanggilku Edward? Aku perlu waspada, mungkin saja dia adalah Edmud. Tapi bukankah Edmud seorang pria?” gumam Steph setibanya di rumahnya sambil merogoh kantong celananya.
*Tok-tok
“Tuan, manajer Nichole memintaku untuk mengantarkan ponselmu.”
Mendengar hal itu dari pintunya yang masih tertutup, Steph bergegas membukakan pintunya.
Steph membukakan pintu itu dengan semangat, sehingga gadis yang sedang bersandar di pintunya langsung terjatuh kearah Steph yang duduk diatas kursi rodanya.
*Hap
Lagi-lagi gadis itu berada dalam dekapan Steph yang hangat.
Â
Mata mereka saling menatap, namun Steph merasa bahwa ia memegang sesuatu yang bulat dan kenyal.
Pipi gadis itu seketika terlihat memerah saat merasakan kedua tangan Steph memegangi barang berharga di dadanya.
“Kya!!! Dasar mesum!!!”
*Plak
Sebuah tamparan dari gadis itu mendarat di pipi kiri Steph.
“Anu … itu tidak sengaja.”
Gadis itu langsung cemberut sambil menodongkan ponsel milik Steph.
__ADS_1
Setelah melihat Steph mengambil ponsel dari tangannya, gadis itu segera membalikkan badannya.
“Tunggu!”
*Hap
Steph menahan lengan gadis itu sebelum ia melangkah lebih jauh.
“Aku akan menguji apakah gadis ini memiliki hubungan denganku di masa lalu,” batin Steph.
“Arthemis, Penny, Lucius,” panggil Steph dengan acak ketika sedang menahan lengan gadis itu.
“Siapa lagi ya,” batin Steph berusaha berpikir.
“Sophia … Aerin?”
Ketika tiba di nama Aerin, gadis itu langsung membalikkan badannya dan menatap Steph dengan tatapan kaget.
“Aerin? Dari mana kau tahu nama itu?”
“Akan ku jelaskan nanti. Namun aku ingin memastikan … apakah kau pernah bermimpi menjadi seorang Ratu bernama Aerin Parmel dari Kerajaan Archangle?”
“Ya! Aku bermimpi menjadi seorang Ratu dari Kerajaan Archangle. Dan aku menikah dengan seorang pria bermata biru, yang mirip dengan yang ada di mata mu.”
“Maksudmu Pangeran Edward?!”
“Ya!”
“Apa kau sering meminta jatah padanya?!”
“Em … dia sangat hebat ketika beraksi di atas ranjang.” Pipi gadis itu memerah sambil menatap kearah lain.
“Kembalilah besok hari ke sini setelah kau bekerja. Aku akan menjelaskan semuanya. Ah hampir lupa, nama ku adalah Steph Middleton, panggil saja Steph. Dan namamu?”
“Anna, Anna Poems.
Em … Steph, sampai kapan kau akan terus memegang tanganku? Aku harus bekerja sekarang.”
Steph perlahan menarik wajah Anna mendekat ke wajahnya, demi menguji apakah ia benar-benar Aerin.
*Cup
Steph mencium bibir Anna, dan merasakan kelembutan yang sama dengan yang dimiliki oleh Aerin.
“Ini … ini benar-benar Aerin!” batin Steph saat mencium bibir Anna.
“Emph,” gumam Anna lalu berusaha melepaskan ciuman Steph.
“Berandalan gila! Aku takkan kemari! Selamat tinggal!” Anna memukul lembut dada Steph dengan kedua tangannya diiringi pipi yang benar-benar memerah, dan segera berlari.
“Aku adalah Edward!” teriak Steph ketika melihat Anna berlari menjauhinya.
Mendengar kata Edward, Anna langsung berbalik badan mendatangi Steph.
“Apa … apa maksudmu … Ed … Edward?!”
“Ya, istriku yang cantik, imut, dan lucu!” jawab Steph dengan kode rahasianya demi memancing reaksi Aerin yang biasanya langsung tersipu malu, bahkan kadang kejang-kejang.
“Kya!!! Ini mustahil!!!” teriak Anna dengan girang. “Jatah! Aku mau jatah sekarang!”
🍂
__ADS_1
Author's Notes : Maaf ya lama up, banyak banget urusan yg harus diselesaikan.