
Pantai Dragon’s Cross, Belahan Bumi Selatan.
*Boom!!!
Angin kencang disertai dentuman besar terdengar 3km dari tempat para pasukan Edward bekerja saat ini.
“Apa-apaan itu?! Dimana Paduka Edward dan Kapten Lucius?!” teriak Penny dengan panik setelah mendengar dentuman luar biasa.
“Pasukan, semuanya siaga disini! Aku akan mengecek apa yang terjadi disana! Komando sementara diberikan kepada Putri Sophia!” perintah Penny lalu segera menaiki kudanya untuk mengecek asal dentuman itu.
“Siap, Kopral!” jawab para pasukan Edward serentak.
*Tap-tap
Penny menunggangi kudanya dengan kecepatan penuh, khawatir jika ada sesuatu terjadi pada Edward.
Tidak hanya kesetiaan, Penny bahkan rela mengorbankan nyawanya demi Edward dan Kerajaan Victoria.
Setelah 30 menit menunggagi kudanya, Penny melihat bekas ledakan itu seperti mangkuk besar.
Ketika Penny mendekat, ditengah-tengah pusat mangkuk ledakan itu terlihat Ratu Aerin sedang dimarahi oleh Edward.
*Tak!
“Aerin! Tidak boleh seperti itu! Itu dapat membahayakan aku dan Lucius!” Edward memarahi Ratu Aerin dengan sedikit rasa gemas melihat istrinya yang tertegun dengan imut.
“Tapi Edward ….” Ratu Aerin cemberut hingga hampir menangis karena dimarahi Edward-nya.
“Jangan lakukan itu lagi, ya? Sekarang kemarilah.” Edward membuka dekapannya agar Ratu Aerin tidak jadi menangis.
*Hap
“Aku sayang Edward. Maafkan kecerobohanku ya, suamiku?” bisik Ratu Aerin dalam dekapan hangat Edward.
“Bukankah sudah kukatakan bahwa tidak ada maaf bagimu?” Edward memeluk tubuh kenyal Ratu Aerin dengan cukup kuat.
“Ehm!” ucap Kapten Lucius dan Penny serentak, karena pasangan suami-istri itu tidak menghiraukan keberadaan mereka berdua.
“Oh ternyata ada Penny disini! Ayo, bantu aku kuburkan musuh kita!” Edward melepaskan pelukannya dari tubuh kenyal Ratu Aerin, lalu mulai menguburkan para pasukan musuh itu dengan hormat.
…
Seminggu kemudian.
Matahari pagi kini terbit dari timur, memancarkan sinar hangatnya melalui bentangan lautan biru yang tanpa batas.
Progres pembuatan kapal yang dikerjakan para pasukan Edward, dibawah komando Putri Sophia kini sudah selesai.
Sesuai rencana awal, mereka akan berangkat siang ini melintasi Lautan Dragon’s Cross yang terkenal ganas akan ombak, banyaknya perompak, bahkan lautan ini juga menurut sebuah legenda terdapat mahluk raksasa seukuran Kraken yang pernah bertarung dengan Kapten Lucius di perairan Utara.
Saat ini Ratu Aerin sedang berbaring dengan manja di dada kekar Edward.
Ketika Ratu Aerin mulai tersadar, Ratu Aerin menatap dagu berambut tipis milik Edward.
“Edward … bangun.” Ratu Aerin mencoba menggoyangkan pipi Edward.
__ADS_1
“Ada apa, Aerin?”
“Jatah! Sekarang!” Ratu Aerin menatap Edward dengan tatapan tajam.
“Sebagai hukumanmu kemarin, hari ini tidak ada jatah ya!” Edward memalingkan tubuhnya membelakangi Ratu Aerin.
“Ya sudah! Aku minta jatah sama Lucius saja! Dia jauh lebih tampan dari mu!” Ratu Aerin sebenarnya tidak pernah berniat akan menyimpang dari Edward, ia hanya berusaha membuat Edward cemburu, itu saja.
Edward tertawa terbahak-bahak mendengar gertakan Ratu Aerin.
“Silahkan saja! Sana pergi, hush-hush!” usir Edward sambil mendorong-dorong pipi Ratu Aerin yang sedang cemberut.
“Oke! Jangan menyesal ya!” Ratu Aerin keluar dari tenda Edward, dan langsung masuk ke tenda Kapten Lucius.
*Bruk
Ketika Ratu Aerin masuk ke tenda Kapten Lucius, ternyata Kapten Lucius sedang berjalan keluar sehingga Ratu Aerin menabrak Kapten Lucius dengan tidak sengaja.
Saat ini Ratu Aerin sedang berada tepat diatas tubuh Kapten Lucius, dengan kedua tangannya yang memegang dada Kapten Lucius.
Alangkah terkejutnya Ratu Aerin saat merasakan sesuatu yang kenyal di kedua tangannya.
“Ini … ini!!!” gumam Ratu Aerin dengan kedua tangannya yang terus menerus meremas dada Kapten Lucius.
“Sudah puas? Sekarang menyingkirlah!” Kapten Lucius langsung berdiri dari posisi yang tidak nyaman itu lalu memasangkan perekat di dadanya untuk menyembunyikan benda itu.
“Lucius … jadi … jadi kau seorang ….” Dengan tatapan tidak percaya, Ratu Aerin ternganga saat melihat kedua gunung itu dipasangkan perekat yang ketat.
“Diamlah! Hanya kau dan Edward yang mengetahuinya!”
“Aku iri! Kenapa milikmu lebih besar dariku?!” Ratu Aerin berusaha mengingat ukuran miliknya lalu membandingkannya dengan milik Kapten Lucius.
“Sudahlah! Aku akan keluar dan menyiapkan kapal kita! Rahasiakan ini ya, Ratu!” tutup Kapten Lucius setelah merekatkan dadanya, lalu berlari keluar untuk menyiapkan para pasukannya.
“Pantas saja Edward tertawa terbahak-bahak! Padahal maksudku kesini hanya untuk meminta bantuan Lucius membuat Edward cemburu! Huh! Susah sekali mendapatkan jatah!”
…
Siang hari yang indah kini terbentang luas di langit yang biru.
Angin berhembus dari Utara ke arah Selatan, menandakan bahwa inilah saatnya untuk berangkat.
Setelah melakukan persiapan cukup panjang, akhirnya kapal mereka mulai berlayar ke arah Selatan.
Selama satu jam di lautan lepas, semuanya berjalan lancar karena arsitek dari kapal ini adalah Putri Sophia yang memiliki kecerdasan dan keahlian di bidang kendaraan laut atau darat.
Saat sedang duduk di dek kapal yang beralaskan kayu pinus, Kapten Lucius bercerita pada Edward, Aerin, Arthemis, Penny, dan Sophia tentang pertempuran satu lawan satu dengan Kraken di Lautan Nordik.
“Saat itu ….
Malam hari yang dingin disertai angin yang berhembus kencang, hujan deras disertai badai petir, dan ombak laut yang sangat ganas menampar Kapal Royal Roach milik Raja Julien.
Suasana mencekam, air laut yang ganas hingga masuk ke dalam dek kapal menghempas apapun yang berada di depannya.
Saat itu, aku, Kapten Lucius dari anjungan melihat sebuah tentakel besar sedang mengoyakkan sebuah kapal lainnya yang berada di depan kami.
__ADS_1
*Duar!
Suara kapal itu hancur berkeping-keping ketika diremukkan oleh tentakel yang besar itu.
Menyadari hal itu dapat merusakkan Kapal Royal Roach dan membahayakan Raja Julien, aku, Kapten Lucius dan Kapten Jones langsung terjun dari anjungan kedalam lautan ganas untuk menyingkirkan Sang Kraken itu.
Ketika kami menyelam, terpaan ombak yang luar biasa kencang menabrak wajah kami berdua tanpa ampun.
Namun hal itu bukanlah halangan, karena kami berdua sudah terbiasa dalam pelatihan militer.
Beberapa menit kemudian setelah berenang melawan ganasnya ombak disertai petir, kami melihat salah satu tentakel raksasa itu sedang mengarah ke wajahku, Kapten Lucius.
*Wush
*Srek!!!
Pedang petir milik Kapten Jones langsung membelah tentakel raksasa itu dengan sekali ayunan.
Ayunan pedang yang dihasilkan Kapten Jones hingga membuat bekas terbelah di awan-awan gelap, diatas kepala kami.
Kami mulai menyelam lebih dalam untuk mencari tubuh Sang Kraken yang menggerakan tentakel-tentakal raksasa itu.
Didalam lautan yang ganas itu, suasananya begitu mencekam dan gelap.
Kami hanya mengandalkan cahaya dari sambaran petir yang menggelegar diatas kepala kami.
“Lucius! Apa kau melihat matanya?! Itu sorot mata merah di bawah kaki kita! Bersiaplah akan serangan!” teriak Kapten Jones melalui komunikasi telepati antar sorcerers setelah melihat kilatan cahaya merah bundar di bawah kaki mereka berdua.
*Glek-glek
*Wush
Sebuah tentakel lainnya terangkat tinggi keatas untuk menukik kearah kami.
*Duar!!!
Sebelum tentakel itu menukik kearah kami, petir yang luar biasa dahsyat menyambar tentakel itu sehingga kami berdua memiliki kesempatan untuk menyerang.
*Hap
Kapten Jones memegang tanganku, Kapten Lucius, lalu mengarahkan sebuah tembakan petir tepat kearah mata merah menyala dibawah kami.
*Duar!!!
Tembakan yang kami lepaskan berhasil mengenai Sang Kraken, sehingga membuat Sang Kraken sangat marah.
Kami berdua berenang ke permukaan untuk menghindari amukan Sang Kraken.
*Wush
Setibanya kami di permukaan, kami melihat sebuah gurita berukuran raksasa sepanjang 100 meter muncul dari dalam lautan ganas itu.
*Roar!!!
__ADS_1
Auman Sang Kraken itu memecahkan suara badai petir yang menggelora.
-bersambung