
Lautan Dragon’s Cross, Perbatasan wilayah antara Dwarfhold dengan Saint’s Haven.
Gemuruh hujan deras di malam hari, badai petir menyambar apapun yang ada di bawahnya, disertai dengan angin kencang membuat ombak-ombak lautan mengganas.
Erenel dalam perjalanan menuju Kastil Parmel, Kota Arendel, untuk meminta bantuan kepada Ratu Aerin yang lainnya yang sedang memerintah di Kastil Parmel.
(Fyi : Ratu Aerin membagi tubuhnya menjadi 2 raga menggunakan sihir rahasia Negeri Elf. Satu tubuh yang bijak dan elegan memerintah Negeri Elf, dan tubuh lainnya berpetualang bersama Edward mengumpulkan armada perang.)
Setelah perjalanan panjang yang ganas, Erenel akhirnya tiba di Kastil Parmel pada malam hari.
Erenel langsung terbang menuju singgasana Ratu Aerin dan membaringkan Edward tepat di depan kaki Ratu Aerin, dibawah singgasana.
Semua mata di sekitar ruangan singgasana Ratu Aerin terpaku melihat tubuh Edward yang sudah membiru dan kaku.
Melihat suaminya terkujur membiru, Ratu Aerin langsung turun dan mendekap Edward di pelukannya.
Ratu Aerin mengusap jari-jemarinya di wajah lesu suaminya, mencabut perlahan pedang yang membeku di dadanya, hingga Ratu Aerin merobekan gaun nya dan perlahan menyelimuti Edward dalam pangkuannya.
Seorang bangsawan istana mendekat padanya dan berbisik di telinga Ratu Aerin dan berkata, “Yang Mulia Ratu … dia sudah gugur.”
Ratu Aerin menoleh dan menjawab, “aku tahu. Sekarang, semua orang silahkan meninggalkan ruangan ini. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan suamiku sejenak.”
Setelah rungan itu kosong dan sepi, Ratu Aerin menangis sejadi-jadinya. Ia tidak rela seseorang yang satu-satunya dimilikinya saat ini harus pergi.
“Sayangku, hanya ada satu cara untuk menghidupkanmu kembali … yaitu dengan menanamkan segelku pada dirimu,” bisik Ratu Aerin pada telinga Edward dengan mata yang berkaca-kaca.
Benar, hanya ada satu cara untuk menghidupkan Edward yaitu dengan pengorbanan.
Dalam rahasia Kerajaan Elf, ada satu ritual yang dapat digunakan untuk menghidupkan orang yang telah gugur, yaitu dengan mantra “Tel Numra” dimana hanya sang pemimpin tertinggi yang bisa menggunakan ritual ini.
Konsekuensi dari ritual ini adalah sang pemberi ritual akan mati dan menyatu dengan tubuh orang yang ingin dihidupkan kembali.
Keuntungan dari ritual ini adalah orang yang dihidupkan akan memperoleh sedikit kekuatan dari sang pemberi ritual.
Setelah cukup lama menangis dan memikirkan keputusannya, Ratu Aerin mengaktifkan segelnya dan mulai melakukan ritual penanaman segel di tubuh Edward.
Satu hari…
Satu minggu…
Satu bulan…
Setelah mencapai satu bulan, ritual yang dilakukan Ratu Aerin akhirnya selesai.
…
Asgard, Gerbang Valhalla.
__ADS_1
Setelah terakhir mendengar suara Ratu Aerin, Edward membuka matanya dan mendapati dirinya sudah berada di dunia dan lokasi yang berbeda.
Di depannya saat ini terlihat sebuah gerbang yang sangat besar menjulang tinggi hingga ke langit.
Ketika Edward berjalan mendekat, perlahan gerbang itu terbuka. Tak lama kemudian lalu terdengar suara yang mengatakan, “selamat datang, Prajurit!”
Entah kenapa, kaki dan tubuh Edward mengikuti suara itu sehingga kini dirinya perlahan memasuki gerbang Valhalla.
Terlihat ukiran-ukiran tulisan yang aneh di sekeliling gerbang itu mengeluarkan cahaya keemasan.
Tulisan-tulisan yang mengeluarkan cahaya itu membentuk sebuah formasi yang tidak pernah dilihat Edward sebelumnya.
Setelah Edward tiba di dalam gerbang itu, terlihat sebuah aula seperti Colloseum didepannya saat ini, namun Colloseum ini sangatlah besar.
Tiang-tiangnya menjulang tinggi, dan di sekelilingnya banyak sekali para Valkyrie yang menyorakinya.
“Selamat datang, Prajurit!”
“Valkyrie baru telah tiba!”
“Sang Putra dari Dewi Valkyrie tiba. Hormat!”
Edward menadahkan pandangannya ke tengah arena Colloseum itu dan ia melihat sosok Ibunya sedang berdiri sambil memegang sebuah perisai besar dan pedang yang bernyala-nyala.
Ketika Edward mendekat untuk menghadap ke sosok Ibunya, semua Valkyrie yang ada di aula itu langsung mengangkat pedang mereka menandakan penghormatan kepada Edward.
“Anakku, kau akhirnya tiba disini. Itu berarti dirimu yang fana telah mati.” Ibu Edward berdiri dari singgasananya dan memeluk Edward dengan tangisan seorang ibu yang merindukan anaknya.
“Aku sudah mati?”
“Apa yang terjadi? Aku tidak mengingat apapun.”
Setelah Edward menjawab perkataan Ibu nya, dari Gerbang Valhalla terlihat seorang wanita Elf dengan telinga yang runcing berlari terengah-engah seperti mengejar sesuatu.
Semua Valkyrie di ruangan itu terkaget-kaget karena melihat ada orang lain yang bisa menembus benteng Gerbang Valhalla dengan mudah.
“Edward!!!” teriak wanita itu memanggil Edward dari kejauhan.
Edward melepas pelukannya di tubuh sang Ibu lalu berbalik menatap wanita yang memanggilnya.
“Edward, kemarilah! Pegang tanganku! Cepat, waktuku tidak banyak!”
Edward merasa aneh melihat wanita itu, karena ia tidak mengingat apapun setelah ia mati, termasuk wanita yang memanggil-manggil namanya saat ini.
“Aku tidak mengenalmu. Pergilah!” teriak Edward dengan tatapan asing kepada wanita itu, lalu berbalik badan dan mengikuti Ibu nya meninggalkan Aula Colloseum.
Semua Valkyrie di aula itu langsung mengepung dan memenjarakan wanita itu.
…
Malam hari, di Kota Asgard.
Saat ini, Edward sedang duduk di gudang senjata dan menatap keluar jendela.
Diluar jendela, Edward melihat bentangan galaxi dan nebula-nebula yang bertebaran.
__ADS_1
Entah kenapa, Edward tiba-tiba teringat kepada seorang wanita yang memanggilnya tadi. Ia merasa ada yang aneh dengan wanita itu, seperti ada sesuatu padanya yang harus dilakukan.
Selama duduk dan menatap keluar, Edward merasa sangat gelisah dan gundah. Ada sesuatu yang sangat salah sedang terjadi dan jawabannya seperti ada pada wanita itu.
Dengan rasa yang kuat bergejolak dalam pikirannya, Edward berlari keluar menuju penjara Valkyrie.
Setibanya Edward disana, ia melihat kedua tangan dan kaki wanita itu diikat dengan rantai yang ketat.
Bahkan lehernya pun ditahan dengan ring belapis baja sehingga wanita itu terlihat sangat kesulitan bernapas.
Entah kenapa, Edward tiba-tiba menjadi sangat marah dengan apa yang terjadi pada wanita itu, sehingga sel tahanan yang menghalanginya langsung diremukkan berkeping-keping olehnya.
Setelah menghancurkan sel, Edward langsung melepas seluruh rantai yang membelegu wanita itu dan memberikannya air minum.
“Uhuk … uhuk … Edward, waktuku tidak lama lagi. Kumohon, percayalah pada apapun yang kukatakan.”
Wanita itu langsung meletakkan kedua tangannya di pipi Edward dan berkata, “dengan sentuhan ini, ritual ku akhirnya tergenapi. Uhuk … uhuk. Edward, aku mencintaimu ….”
Tiba-tiba tubuh wanita itu langsung berubah menjadi abu dan terjatuh ke tanah.
Entah apa yang dimaksudkan wanita itu, namun Edward sepertinya sangat mempercayai apa yang wanita itu katakan.
Edward menundukkan badannya dan mengumpulkan abu itu dalam saku celananya.
Tanpa ia sadari, air mata seorang Edward akhirnya menetes.
Tak ada alasan kenapa ia menangis, tak ada alasan kenapa ia merasa kehilangan, ia hanya merasakannya tanpa mengerti apa maksudnya.
Setelah beberapa saat menangis tanpa bisa ia kendalikan, Edward duduk di dalam sel tahanan itu hingga tertidur disana.
*****
Albama, Amerika Serikat.
Salju turun disertai badai petir, angin yang kencang, dan riuh pepohonan yang bertabrakan seakan menjadi saksi kekejaman sang cuaca.
Gwen telah lama berdiri di depan pintu rumah Steph, namun tetap tak ada jawaban sama sekali disana.
Lampu rumah Steph juga padam, seperti tak ada kehidupan. Pahadal, mobil dan sepatunya masih terparkir rapi di depan rumahnya.
Karena tidak ada pilihan, Gwen berusaha masuk melalui jendela yang terbuka di depan rumah Steph.
Perlahan Gwen memasuki rumah yang gelap itu, seluruh ruang ia sudah jelajahi, namun tak ada tanda-tanda kehidupan disana.
“Mobilnya ada, kursi rodanya juga terparkir rapi di kamarnya … Steph, kau dimana?”
..."*Semua orang mungkin berpikir bahwa aku adalah...
...orang yang hebat. Namun aku adalah aku, aku adalah seorang manusia yang bisa menangis, sakit, dan hancur*."...
...-Aerin Parmel-...
__ADS_1