
Bibir Pantai Dragon’s Cross, Belahan Dunia Bagian Selatan.
“Jatuh cintanya nanti saja Edward. Sekarang ada beberapa bandit yang harus ditumbangkan!” Putri Sophia berdiri dari tubuh Edward, dan berusaha membangunkan prajurit Edward yang nampaknya kelelahan setelah perjalanan ditambah menyiapkan material tadi malam.
“Sophia, jangan bangunkan mereka. Aku bisa menghadapi para assassins ini seorang diri!”
Edward langsung berlari menembus embun pagi yang masih berhembus dingin.
*Wush
Edward melompat kearah semak-semak, namun para assassins disana sudah menyadari kehadiran Edward.
Mereka menyiapkan belati untuk diarahkan ke tubuh Edward setibanya Edward di semak-semak itu.
*Bruk!
Edward mendarat dan menangkis ayunan belati mereka dengan armor yang hanya terpasang di tangannya.
“Siapa yang mengutus kalian?! Kenapa kalian terus-menerus mengikuti kami?!” tanya Edward memandang para assassins yang sudah mengepungnya.
*Argh!!!
Auman seorang Orc terdengar menggelegar, semua assassins itu seketika gemetar ketakutan.
*Tap-tap
Ternyata Guntar terbangun dari tidurnya setelah menyadari Edward sedang berhadapan dengan 20 orang assassins.
*Wush!
*Bruk!!!
Guntar melompat dan menancapkan kepalan tangannya di tanah, hingga tanah itu bergetar dan retak-retak.
“Apa kita harus menghabisi mereka, Bos?” tanya Guntar dalam bahasa Orc sambil mempersiapkan tangannya untuk memukul para assassins itu.
Edward mengangkat tangannya keatas mengisyaratkan tunggu sebentar!
“Katakan, apa yang kalian inginkan atau kami akan menghabisi kalian disini!”
Dengan kaki yang gemetaran, salah seorang bandit itu berkata pada Edward, “Ed … Edmud memerintahkan kami untuk menghabisi kalian!”
“Edmud?! Berarti dia tahu keberadaan kami!” Setelah mendapatkan informasi dari para bandit itu, Edward memberikan mereka masing-masing 1 kantong perak dan meminta mereka pergi.
…
Langit kini membiru, hamparan angin laut kini menerpa bibir pantai yang dipenuhi dengan pepohonan pinus.
“Para pasukan! Semuanya berbaris!” perintah Edward ketika semua pasukannya sudah terbangun dan sarapan.
*Tap-tap
Semua pasukan Edward kini berbaris rapi berjejer, tak terkecuali Ratu Aerin pun diwajibkan bergabung dalam barisan.
“Aku mendapatkan informasi dari para bandit yang menyerang tadi pagi, bahwa mereka diutus Edmud untuk menyerang kita! Tidak mungkin sampai saat ini Edmud mengetahui dimana lokasi kita!”
“Paduka, itu artinya ada penyusup?” Kapten Lucius memandang Edward dengan perasaan yang cukup terkejut.
“Benar, Lucius! Kita harus pastikan bahwa orang-orang kita ini benar-benar setia kepada Kerajaan Victoria. Jika ketahuan berkhianat, maka sesuai hukum militer Kerajaan Victoria bahwa siapapun yang berkhianat akan langsung dieksekusi mati didepan para prajurit!”
“Sekarang, siapa yang berani mempertanggung jawabkan pengkhianatannya silahkan maju ke depan untuk di eksekusi mati!” Edward berjalan mengelilingi para pasukannya.
__ADS_1
*Tap-tap
Seorang prajurit elit maju ke depan dengan gagah berani.
“Paduka, saya adalah orang yang berkhianat itu! Saya yang menjadi mata-mata yang diutus Edmud!” teriak salah seorang pasukan elit itu.
Sebenarnya ia berbohong bahwa ia adalah mata-mata, demi menyelamatkan rekannya yang merupakan mata-mata sebenarnya.
Edward langsung berlari ke barisan depan itu lalu menampar dengan keras wajah prajurit itu.
*Plak!!!
Suara tamparan tangan Edward menggema di sepanjang pantai itu, demi mengingatkan kesalahan yang dilakukannya.
“Kau pikir aku bodoh?!” bentak Edward memandang dengan penuh amarah.
“Mata-matanya bukan kau! Namun aku, Edward, tetap akan menghukum mati dirimu karena berani membela yang salah!” Edward mengambil pedang Ultima yang memiliki panjang 2 meter, dengan berat lebih dari 60 kilogram itu dari punggungnya.
*Srek!
Bunyi pedang Ultima Edward membelah kepala salah satu pasukannya yang maju tadinya.
“Penny, bersihkan mayat dan kepalanya.” Edward kembali memandang para pasukannya yang tersisa 13 orang, ditambah dengan beberapa Orc, Arthemis, Putri Sophia, dan Ratu Aerin.
“Aku bertanya sekali lagi, siapa yang berkhianat! Maju ke depan! Jika kau tidak ingin mati, maka kau harus berduel denganku! Jika aku kalah, maka bawalah kepala ku kepada Edmud!” Edward membusungkan dadanya didepan para pasukannya tanda keseriusan dari seorang pimpinan.
*Tap-tap
Salah seorang pasukan elit milik Edward yang benar-benar mata-mata langsung maju ke depan.
“Aku adalah orangnya! Aku menantangmu berduel dengan pedang! Aku pastikan akan membawa kepalamu kepada Edmud!” teriak salah satu pasukan elit yang sudah bersumpah mati demi kesetiaan kepada Kerajaan Victoria.
*Bruk!
*Plak!!!
“Lucius! Biarkan kami berdua menyelesaikan tugas kami sebagai sesama lelaki! Formasi duel maut!” Edward meminta para pasukannya membentuk lingkaran mengelilingi mereka berdua, dengan tombak yang siap menancap jika salah satu dari mereka mundur sedikit.
Pasukan elit bukanlah pasukan biasa. Tentunya setiap individu yang menyandang gelar Pasukan Elit sudah memiliki prestasi tertentu.
Ada yang pernah membantai 1000 goblin, membantai 100 Orc, hingga seperti Kapten Jones yang pernah membunuh seekor naga hitam.
Maka dari itu, masing-masing pasukan elit tentunya sangat ahli bahkan bisa disamakan dengan 100 pasukan biasa.
Setelah membuat lingkaran, Edward melepaskan zirahnya dan memegang sebuah pedang biasa.
Begitupun dengan sang pengkhianat.
Ratu Aerin, Arthemis, dan Putri Sophia ketakutan melihat sisi kejam dari Edward.
Ketiga wanita tulen itu bersembunyi di barak sambil berbincang-bincang mengenai sisi kejam Edward yang baru mereka temui hari ini.
Namun bagaimanapun itu adalah wajar, karena Edward adalah pemimpin tertinggi disana.
“Kedua peserta, sudah siap?!” Kapten Lucius berdiri ditengah untuk memastikan tidak adanya kecurangan disana.
Dalam formasi duel maut, tidak ada yang namanya kasta tinggi atau rendah karena mereka semua disamakan ketika masuk ke dalam formasi duel maut.
“Siap!”
“Siap, Lucius!”
“Mulai!”
__ADS_1
*Wush
Edward dengan gagah berani langsung melompat dengan amarah, diikuti dengan pedangnya yang terarah ke atas kepala sang pengkhianat.
*Ting!
Ayunan pedang berkekuatan penuh dari Edward berhasil ditangkis dengan mudah oleh sang pengkhianat.
*Wush
Edward menghindari serangan balik yang terayun dari samping kirinya.
“Sudah kukatakan, aku benci pengkhianat!” teriak Edward sambil mempersiapkan satu serangan pamungkasnya agar dengan singkat mengakhiri pertempuran itu.
“Hiya!!!” Ayunan pedang yang sama kuatnya ketika melawan Edmud kini dikeluarkan Edward.
Sebelumnya, ayunan pedang yang dapat membelah batu besar itu hanya dapat dihasilkan menggunakan Sword Of Light pemberian Sang Valkyrie, Ibu Edward.
Namun dengan pedang biasa yang digunakan Edward, maka ayunannya hanya diikuti oleh hembusan angin yang kuat.
Ketika pedang itu sedikit lagi menyentuh tubuh sang pengkhianat, tiba-tiba Edward mendengar tangisan dari Ratu Aerin dari cincinnya.
Seketika Edward langsung kehilangan kendali atas pedangnya, dan pedangnya terlepas dari tangan Edward terpental mengenai perisai besi di formasi duel maut itu.
*Ting!!!
*Bruk!!!
Bunyi kepalan tangan berhasil mendarat dengan kekuatan penuh di wajah Edward, ketika sang pengkhianat menyadari Edward sedang lengah.
“Si konyol selalu saja menyusahkanku. Sial!” gumam Edward dalam hatinya setelah menerima tamparan itu di wajahnya.
“Harus kuakui, kau layak menjadi pasukan elitku yang hebat. Namun karena pengkhianatanmu menodai sumpah suci kami, aku takkan pernah memaafkanmu!” Edward mengambil pedangnya yang terpental, dan kembali memperisapkan kuda-kudanya untuk mengakhiri pertempuran itu dengan sekali serangan.
*Wush!
Sang pengkhianat langsung mengayunkan pedangnya kearah Edward.
*Tak!
Edward menangkisnya dalam genggaman tangannya, sehingga pedang itu berhenti dalam kepalan tangan Edward, dan membuat tangan Edward terluka hingga hampir terbelah.
“Hiya!!!” Sambil memegang pedang musuhnya dengan darah yang bercucuran keluar dari tangannya, Edward mengeluarkan serangan terakhirnya dari pedangnya kearah sang pengkhianat.
*Srek!!!
Ayunan pedang Edward berhasil membelah tubuh sang pengkhianat itu menjadi 2 bagian.
“Inilah yang kau dapatkan jika berkhianat!” teriak Edward sambil melepaskan pedang yang menancap di telapak tangannya.
Menyadari tradisi para lelaki zaman itu telah usai, Ratu Aerin, Putri Sophia, dan Arthemis berbondong-bondong mendatangi Edward dengan tatapan cemas.
“Edward!!!” teriak ketiga wanita itu dengan histeris setelah melihat tangan Edward tertancap sebilah pedang.
“Padahal hanya tertancap pedang, namun mereka bertiga histeris dengan kompak,” gumam Edward dalam hatinya setelah ketiga wanita itu mencecarnya dengan ribuan pertanyaan.
..."Real Warrior Faced Their Own Problems!"...
...-Edward, The Highness Knight-...
@artstation
__ADS_1