Throne Of Valor

Throne Of Valor
Small Gift


__ADS_3


“Apa … apa maksudmu … Ed … Edward?!”


“Ya, istriku yang cantik, imut, dan lucu!” jawab Steph dengan kode rahasianya demi memancing reaksi Aerin yang biasanya langsung tersipu malu, bahkan kadang kejang-kejang.


“Kya!!! Ini mustahil!!!” teriak Anna dengan girang. “Jatah! Aku mau jatah sekarang!”


“Dasar bodoh! Kita ini belum menikah!” Steph meletakan telapak tangannya di kepala Anna yang sedang menunduk di depannya.


“Tapi … bagaimana mungkin kau mengetahui mimpiku?”


“Besok akan kujelaskan semuanya dibantu oleh seorang temanku, dia adalah seorang praktisi spiritual yang hebat.” Steph membalikkan kursi rodanya meninggalkan Anna yang sedang kebingungan.


“Sampai bertemu, jatahku!” Anna membalikkan badannya kembali ke kafe.


“Ciuman pertamaku, Steph.”



Malam yang sunyi kini menemani Steph yang sedang duduk di depan tungku rumahnya.


Badai salju juga perlahan menderu dengan kuat, menghempas apapun yang menghalangi jalannya.


Steph membuka ponselnya, di layarnya saat ini terpampang foto dirinya dan Gwen yang latar belakangnya adalah konser Morgan dan Vivian.


Dalam foto itu terlihat wajah Gwen dan dirinya yang begitu bahagia dapat bertemu sang idola, meskipun hanya dari kursi penonton.


*Drttt


Sebuah pesan masuk, dari Gwen Carolina.


“Hai Steph, kau sudah tidur?”


“Belum. Bagaimana denganmu?”


“Sebentar lagi akan tidur. Aku mungkin akan memasuki masa lalu lagi dan memerankan Putri Gwen.”


“Hm, ya sama sepertiku. Ada apa kau menghubungiku?”


“Steph, jika kau menjadi Edward ... sebelum aku menikah dengan Pangeran William, aku ingin setidaknya melihat wajahmu satu kali saja.”


“Aku akan mengusahakannya, Gwen. Sampai bertemu di masa lalu. Selamat malam.”


“Baiklah. Selamat malam, Steph.”


Steph perlahan merebahkan dirinya di karpet hangat, di depan tungku api.


🌨️🌨️🌨️



Matahari yang hangat telah terbit menyinari daratan berumput luas yang tertutup salju di Kerajaan Empress.


Edward perlahan membuka matanya.


Ia merasakan sayap bulu hangat yang nyaman menutupi tubuhnya semalaman.


“Erenel … terima kasih.” Edward perlahan membuka bentangan sayap Erenel.


Terlihat sekelilingnya sudah dipenuhi dengan tumpukan bunga salju yang cukup tinggi.


“Sebelum aku mengunjungi Putri Gwen, aku akan memenuhi panggilan Ratu Vonsgarl untuk melawan Raja Para Naga itu,” batin Edward ketika melangkahkan kakinya menaiki tubuh Erenel.


*Wush


Kepakan sayap Erenel langsung membawa Edward terbang tinggi.


Kini Edward sudah berada di atas lautan Dragon’s Cross untuk menyusul pasukannya yang berada di Kota Dwarfhold.


Karena begitu hening, Edward mengaktifkan cincinnya untuk berkomunikasi dengan Ratu Aerin yang ada di Kota Dwarfhold.

__ADS_1


“Aerin, kau disana?”


“Kemana saja kau?! Tadi malam aku menghubungimu namun tak ada jawaban!”


“Ada apa Aerin, hm?”


“Cepatlah kembali! Selain harus memenuhi panggilan Ratu Vonsgarl, kau juga harus memenuhi panggilanku!”


“Jenis panggilan apa itu, Aerin?”


“J A T A H!” Ratu Aerin mengejakan kata itu satu per satu demi mempertegas maksudnya.


“Bukankah kemarin malam sudah kuberikan pada dirimu yang ada di Kota Arendel?”


“Ish! Diriku yang ini belum! Cepatlah kembali, aku menunggumu di kamarku!”


Ketika sedang berbincang-bincang dengan Ratu Aerin melalui cincinnya, Edward memandang ke bawah.


Di bawah sana terlihat sebuah kapal milik Kerajaan Britania Raya sedang di hadang oleh 2 kapal bajak laut.


*Wush


Edward membawa Erenel menukik ke bawah untuk membantu kapal Kerajaan Britania Raya.


*Tap


Kini Edward baru saja melompat dari Erenel dan berpijak di atas kapal milik Kerajaan Britania Raya.


Edward melihat dirinya dikelilingi oleh pasukan kerajaan sambil ditodongkan pedang.


“Tenang, saya adalah Pangeran Edward dari Victoria! Saya ingin membantu!” teriak Edward dengan tegas sambil menurunkan pedang dan perisai Ultima dari tangannya.


Mendengar nama Pangeran Edward, seorang kapten kapal itu langsung tunduk padanya dan meminta bantuannya.


“Maafkan kelancangan kami, Paduka Edward dari Victoria! Saat ini kami sedang di kepung, dan pasukan ku kalah jumlah. Mereka kelelahan setelah satu minggu mengarungi lautan. Mohon Paduka Edward membantu kami!” pinta sang kapten kapal itu ketika badannya tertunduk di depan Edward.


“Bangunlah! Angkatlah pedang kalian! Berperanglah demi Kerajaan Britania Raya!” Edward mengangkat kembali pedang Ultima dan menyorakkan semangat kepada para pasukan kerajaan.


Dua kapal bajak laut itu sudah bersandar di kedua sisi kapal kerajaan.


“Aku akan menghadang sebelah kiri, kalian semua menghadang sebelah kanan! Laksanakan!” perintah Edward lalu melompat ke kapal utama bajak laut yang berisikan 70 pasukan bajak laut.


Sedangkan di sebelah kanan hanya berisi 30 pasukan bajak laut, setara dengan jumlah pasukan kerajaan yang menyerang ke sana.


*Wush


Edward melompat sambil mengarahkan pedang Ultima miliknya ke lambung kapal utama bajak laut.


“Hiya!!! Matilah!!!”


*Duar!!!


Hembusan pedang Ultima mendarat di lambung kapal, dan berhasil membelah kapal itu menjadi 2 bagian.


Tancapan pedang Ultima semakin menggila, karena dari pedang itu diisi dengan kemurnian hati dan keberanian sejati milik Edward.


Semua mata terbalak kaget melihat kekuatan yang mengerikan dari Edward.


*Krak!!!


Kapal bajak laut utama yang terkena tebasan pedang Edward mulai terkoyak menjadi 2 bagian.


“Hm, ternyata inilah kekuatan kemurnian dan keberanian hati,” batin Edward sambil melompat kembali ke kapal kerajaan.


70 bajak laut itu kini terombang-ambing di tengah samudera yang luas.


Kini hanya tersisa 1 kapal berisi 30 orang bajak laut yang ada di sebelah kanan.


“Pasukan! Mundur!” teriak Edward sambil mengangkat tangannya ke atas untuk memanggil Sword Of Light.


*Tap-tap

__ADS_1


30 pasukan kerajaan berlarian kembali ke kapal kerajaan, diikuti dengan para bajak laut yang ketakutan.


“Sword Of Light … hancurkan!!!”



*Duar!!!


Sambaran petir dari langit yang terlihat cerah menghancurkan kapal bajak laut itu menjadi berkeping-keping, bersama dengan pasukan bajak laut yang belum sempat berlari ke kapal kerajaan.


“Inikah kekuatan Edward yang legendaris itu?! Sangat mengerikan!” gumam sang kapten kapal melihat kekuatan Edward yang berhasil menghancurkan 2 kapal besar itu seorang diri.


Edward menarik napasnya dalam-dalam dan menutup matanya untuk berdoa bagi jiwa para bajak laut yang ia renggut hari ini.


“Semoga jiwa para penjahat ini diampuni,” batin Edward.


Para prajurit langsung menawan 5 orang bajak laut yang sempat menyelamatkan diri dengan melompat ke kapal kerajaan.


*Tap!


Seluruh prajurit kerajaan berbaris di depan Edward sambil menghentakkan senjata mereka tanda bersiap.


“Kerajaan Britania Raya berutang kepada Pangeran Edward dan Kerajaan Victoria!” teriak sang kapten kapal berdiri menghadap Edward.


“Santai saja.” Edward duduk di anjungan kapal itu dan diikuti oleh seluruh pasukan kerajaan yang ada di sana.


“Apa kalian sudah mendengar pernikahan antara Pangeran William dan Putri Gwen?” tanya Edward ketika duduk menghadap para pasukan kerajaan.


“Benar, Paduka. Kapal ini membawa harta kekayaan milik Pangeran William yang akan dijadikan mahar untuk melamar Putri Gwen.”


“Hm, kalau begitu sampaikan ucapan selamat ku pada Pangeran William dan Putri Gwen. Juga, tolong berikan hadiah kecil ini pada Putri Gwen.” Edward berdiri, lalu menyodorkan sebuah jepit rambut dari batu zamrud yang telah ia beli di Kota Saint’s Haven beberapa waktu lalu.


Edward menyerahkan jepit rambut itu pada sang kapten kapal.


“Baiklah, kalau begitu aku akan melanjutkan perjalananku.”


“Tunggu Paduka! Ini sebagai tanda terima kasih dari kami!” Sang kapten kapal menyodorkan batu permata yang sangat berharga.


“Tidak perlu.” Edward langsung menaiki punggung Erendel dan kembali melayang di udara menuju Kota Dwarfhold.


Semua pasukan kerajaan itu terkagum-kagum akan sikap Edward.


Dibalik kekuatannya yang mengerikan, ternyata Edward adalah sosok yang rendah hati tanpa pamrih.


Hari itu, seluruh pasukan kerajaan mulai menyebarkan berita tentang kehebatan Edward.




Kamar Ratu Aerin, Kota Dwarfhold.


“Sayang, kenapa lama sekali?! Aku sudah menunggu jatahku selama 5 jam disini!” sapa Ratu Aerin setelah melihat Edward nya memasuki kamarnya.


“Ada sedikit urusan kecil di perjalanan.”


“Kemarilah, Edward ku,” panggil Ratu Aerin dengan tatapan menggoda.


Edward langsung membuka zirahnya dengan ganas, merobek pakaiannya, dan melompat ke ranjang Ratu Aerin.


*Hap


“Aerin, pijatkan punggungku sakit sekali di bagian sini!” perintah Edward setelah tengkurap di samping Ratu Aerin yang pipinya memerah melihat keganasan Edward membuka pakaiannya.


Ia mengira Edward akan langsung tancap gas di tubuhnya.


“Berandalan! Ku kira kau akan langsung menghantam tubuhku!!! Hua, menyesatkan!” erang Ratu Aerin memendam kekecewaan yang mendalam.


..."Braveheart Is A Power!"...


...-EDWARD, THE SAVIOR-...

__ADS_1


NEXT CHAPTER > VALHALLA : HALL OF VALKYRIE


__ADS_2