Throne Of Valor

Throne Of Valor
Battlefield : War Of The South


__ADS_3


..."I'm Not Fear Of Death, I Fear To Be Lose!"...


...-EDWARD, THE DRAGON SLAYER-...


*Boom


Dari alun-alun Istana Jotunheim, terdengar ledakan yang luar biasa hingga mengguncang seisi Kota Dwarfhold yang berada di langit.


“Paduka! Kami mendapatkan informasi bahwa terjadi ledakan dahsyat di Gunung Rock!” teriak Penny dengan tergesa-gesa berlari mendatangi Edward.


“Apa?! Siapa yang menyebabkannya?!”


“Terakhir sebelum kejadian, kami melihat Ratu Aerin dan Erenel terbang ke bawah!”


“Sial! Ini dapat memancing amarah seluruh suku Naga! Cepat cari Ratu Vonsgarl dan para Panglima, beri tahu mereka untuk memajukan rencana!” teriak Edward lalu berlari ke kamp militer untuk menggunakan peralatan perang nya.


Ketika mempersiapkan zirahnya di ruang komando, Edward melihat Kapten Lucius dan rombongan Panglima di kamp militer sedang memberi arahan pada seluruh pasukan militer di sana.


“Aerin! Selalu bertindak semberono!” batin Edward lalu segera pergi menemui Kapten Lucius.


“Edward! Rupanya kau ada disini. Kita akan mempercepat rencana kita lebih awal karena bencana yang barusan terjadi!” perintah Ratu Vonsgarl ketika melihat Edward baru tiba di sampingnya.


“Baiklah, Yang Mulia! Aku sudah siap!” Edward memposisikan tubuhnya berjejer dengan para Panglima kerdil yang gagah itu.


Ratu Vonsgarl berdiri dari takhtanya, mengangkat pedangnya keatas dan berseru, “hari ini kita akan buktikan bahwa Bangsa Dwarf adalah bangsa yang tangguh!


Kita akan berperang demi tanah air kita!


Kita akan membela apa yang kita lindungi!


Tak ada kata takut! Tak ada kata mundur bagi seorang prajurit!


Hari ini, kita takkan pulang jika tidak membawa kepala para Naga itu!


Hidup Bangsa Dwarf!”


“Hidup Bangsa Dwarf!!!” seru semua prajurit disana.


Setelah memberikan arahan, semua prajurit itu dibagi menjadi 4 kelompok yang masing-masing kelompok akan dipimpin oleh Panglima Dwarf.


Dan bagi pasukan Edward sendiri akan dipimpin oleh Kapten Lucius. Mereka akan menjadi penyerang utama yang akan maju setelah 4 penyerangan itu diluncurkan.


Strategi ini adalah agar para pasukan Elit penyerang utama tidak mengalami kewalahan, sehingga dapat fokus untuk membuka jalur bagi Edward agar dapat berduel dengan Vrogh.


Dalam tradisi yang sudah dijalankan selama ribuan tahun, memang diharuskan Raja Para Naga akan berduel dengan seorang utusan dari Bangsa Dwarf.


Tradisi ini begitu suci hingga kedua belah pihak menyediakan tempat khusus untuk berduel.


Namun tentunya masing-masing pihak akan menggunakan cara apapun agar salah satu utusan tidak dapat tiba di lokasi berduel, demi mendapatkan kemenangan mudah.


Jika kedua utusan sudah berdiri di arena duel, maka apapun yang terjadi mereka tidak boleh diganggu hingga salah satu pihak tewas di tempat dalam kata lain adalah menerima kekalahan.



Siang hari yang terik dan membara di belahan bumi bagian selatan.


Para pasukan Dwarf itu kini berhamburan turun ke bawah dengan menaiki kapal-kapal terbang.


Selama perjalanan turun ke bawah, Edward sama sekali tidak melihat keberadaan Ratu Aerin di sekitarnya sehingga sempat membuat Edward merasa cemas.


Khawatir dengan Ratu Aerin, Edward langsung mengaktifkan cincinnya dan menghubungi istrinya itu.


“Aerin, kau ada di mana?!”


“Oh Edward, aku sedang mandi air panas di kamarku. Ada apa?”


“Tidak.”


“Apa kau mengkhawatirkanku? Uh romantisnya suamiku! Kemarilah!”

__ADS_1


“Berisik!”


“Kudengar banyak kapal terbang yang turun ke bawah, memangnya kalian akan kemana, Edward?”


“Tidak perlu tahu. Nikmatilah pemandianmu.”


“Ok, jangan melirik wanita lain ya!”


Edward merasa lega setelah mendengar suara Ratu Aerin yang cukup membuatnya khawatir itu.


Meskipun Ratu Aerin sangat kuat, namun di mata Edward ia tetaplah seorang wanita yang polos dan manja.


Setelah 15 menit mengarungi ketinggian, kini Edward melihat begitu banyak Naga yang berkumpul di bawah.


Mereka bahkan membentuk formasi pertahanan untuk melindungi teman-teman mereka yang terluka akibat serangan dahsyat dari Ratu Aerin tadi.


Ratu Aerin sudah menyingkirkan 100 ekor Naga, dan kini masih tersisa ribuan ekor Naga.


Meskipun itu cukup sedikit, namun bantuan brutal dari Ratu Aerin sudah cukup untuk membuat para Naga itu gemetar ketakutan.


*Wush-wush-wush


Suara misil dari api, air, es, dan petir yang dilepaskan para Naga itu kini sedang mengarah ke kapal terbang prajurit Dwarf.


“Ada serangan! Semuanya aktifkan perisai!!!” teriak Ratu Vonsgarl dari atas singgasana kapal terbangnya.


*Slurp-slurp


Semua kapal terbang itu kini terlindungi perisai, namun kapal terbang yang hampir tiba di tanah tidak sempat mengaktifkan pelindung, sehingga 10 dari 1000 kapal terbang itu hancur berkeping-keping bersama dengan para prajurit yang ada di atasnya.


“Paduka, kami akan melompat!” teriak Kapten Lucius yang mengkomandokan 14 pasukan Elit.


“Sial, aku takut ketinggian tapi prajuritku mengajak untuk melompat!” batin Edward dengan kakinya yang gemetar dengan ketinggian.


“Ya! Silahkan! Bukakan jalur untukku, aku akan segera menyusul nanti!”


“Baik Paduka!”


*Wush-wush-wush


Edward begitu merasa ngeri melihat para pasukannya yang tidak kenal takut.


“Argh sial! Aku tidak boleh mempermalukan diriku sendiri!” batin Edward sambil mempersiapkan dirinya untuk melompat ke bawah.


Edward melihat ke dek kapal itu, semua pasukan Dwarf menatap kearahnya dengan tatapan aneh.


“Apa yang kalian lihat, hm?!!!” teriak Edward dengan kaki yang gemetar.


“Aku ragu apakah dia yang akan berduel dengan Raja Para Naga.”


“Ya! Dia saja takut dengan ketinggian!”


“Cih jangan berbicara begitu, aku sudah pernah mendengar kehebatannya di medan tempur.”


Suara bisikan para pasukan Dwarf yang didengar samar oleh Edward.


*Tap


Kini kapal yang ditumpangi Edward sudah mendarat dengan kasar di atas bebatuan tajam.


Semua prajurit Dwarf sudah menyusun formasi dari 4 arah mata angin.


Edward langsung berlari dari arah Selatan untuk menyusul pasukan Elit nya yang terlihat sedang berlari kearah kerumunan formasi pertahanan para Naga.


*Boom


*Duar


Terdengar ledakan dimana-mana yang dilepaskan oleh para Naga dan para sorcerers dari pasukan Dwarf.


Seekor Naga setidaknya memiliki tinggi 20 meter dan bentangan sayap hingga 30 meter.

__ADS_1


Kini ada ribuan Naga yang akan menjadi musuh dari Edward dan Pasukan Dwarf.


“Paduka! Kami akan membuka jalan menuju Arena Valhalla!!!” teriak Penny setelah melihat Edward mulai menyusul mereka.


“Bentuk formasi Serigala!” Edward dan Kapten Lucius langsung berdiri di pusat formasi berbentuk Segitiga itu, dan pasukannya menyamping hingga ke belakang.


4 orang pasukan Elit yang berada di belakang akan menjadi Support, termasuk Arthemis yang berdiri di tengah.


Sedangkan Edward dan Kapten Lucius akan menjadi ujung tombak karena mereka memiliki daya serang dan daya bertahan yang terkuat.


Sisanya akan menghalau serangan dari samping kiri dan kanan.


Ini adalah formasi Segitiga Serigala yang pernah digunakan ketika 15 orang pasukan Elit Edward melawan 100.000 Pasukan Kerajaan Empress.


Para Naga masih tidak tahu bahwa yang akan menjadi utusan dari Bangsa Dwarf itu kini sedang berlari mendekat ke Arena Valhalla yang terdapat di puncak Gunung Reign, dengan lahar membara di sekelilingnya.


Arena Valhalla adalah sebutan untuk arena duel yang digunakan selama ribuan tahun oleh Bangsa Dwarf dan Bangsa Naga.


*Wush


Terlihat sebuah bola api yang besar sedang tertuju kearah Edward dan pasukannya.


“Lucius!”


*Slurp


Sebuah perisai dari Kapten Lucius dan diperkuat oleh regu Support kini melindungi formasi Segitiga Serigala itu.


Kapten Lucius memandang kearah Gunung Reign, disana terlihat ada seekor naga berukuran raksasa sedang melepaskan bola-bola es kearah mereka.



“Paduka! Yang di atas puncak Gunung Reign itu sepertinya adalah Vrogh!” teriak Kapten Lucius.


“Benar! Aura yang dimilikinya sangat kuat sekali!”


“Paduka, perisai kita takkan betahan lebih lama lagi setelah serangan es ketiga dari Vrogh diluncurkan!”


“Ubah formasi pada serangan kedua! Gunakan formasi serangan torpedo!”


“Paduka, apakah Paduka yakin?!!!”


“Tidak ada pilihan lain!” Edward melihat serangan kedua menghantam perisai magis milik pasukan Elit nya dan kembali memberi komando mengatakan, “Formasi Torpedo, sekarang!!!”


Para pasukan Elit Edward kini mulai berpencar dengan abstrak.


Setelah formasi nya dilakukan, Edward langsung melompat ke atas seekor naga yang sedang menembakkan api di depannya.



*Wush


*Tap


Edward kini mendarat di sayap Naga itu dan langsung berlari ke lehernya lalu menancapkan pedang Ultima miliknya di leher Naga itu. Namun sayangnya pedang Ultima tidak mampu menembus sisik tebal berusia ribuan tahun yang digunakan Naga itu sebagai zirahnya.


Menyadari hal itu, Edward langsung mengayunkan tubuhnya untuk masuk ke dalam mulut Naga itu.


*Tak!!!


Kini Edward menahan mulut Naga itu dengan pedang Ultima miliknya.


Edward mengangkat tangannya keatas dan memanggil Sword Of Light miliknya.


“Sword Of Light, aku memanggilmu!”


*Slurp


Edward menatap pedang Sword Of Light di tangannya dengan aneh, karena Sword Of Light itu tiba-tiba berubah menjadi kecil, sekecil belati yang digunakkan Assassins.


“Apa?!!!”

__ADS_1


..."Real Warrior Fight For The Truth!"...


...-CAPTAIN LUCIUS, THE LEGENDS OF VICTORIA-...


__ADS_2