Throne Of Valor

Throne Of Valor
Infiltrating To Saint's Haven


__ADS_3


Pagi hari yang hangat, gugusan gunung-gunung belahan bumi utara yang dingin kini mulai disinari cahaya matahari.


Putri Gwen perlahan membuka matanya, setelah selama 3 hari berjalan menyusuri teritori liar untuk kembali ke Kastil Hirendel.


Aroma khas pagi diiringi kicauan burung dan bunga-bunga yang mekar menyambut Putri Gwen ketika sang Putri berjalan keluar tendanya.


Melihat sang Putri keluar dari tenda, Kapten Jones dengan sigap langsung berdiri di samping sang Putri dan mengikutinya berjalan ke sebuah sungai kecil.


“Jones, binatang apa itu?” Putri Gwen mengarahkan telunjuknya ke seberang sungai kecil yang dipenuhi dengan ikan-ikan salmon.



“Gawat! Tuan Putri, itu adalah beruang! Mohon Tuan Putri mundur!” Kapten Jones dengan sigap berdiri membelakangi Putri Gwen ketika melihat beruang yang begitu besar menatap kearah mereka.


*Grrrrr!


Suara auman beruang itu ketika melihat ada Kapten Jones yang melakukan kontak mata dengannya.


*Roar!!!


Beruang itu tanpa takut langsung berlari menuju kearah Kapten Jones, karena merasa terganggu dengan kehadiran mereka.


“Putri, mohon lari ke tenda.” Setelah melihat Putri Gwen berlari kembali, Kapten Jones mempersiapkan kuda-kudanya untuk menerima serangan dari sang beruang.


*Bruk!


Bunyi tubuh beruang itu mendekap tubuh kekar Kapten Jones.


*Wush


Kapten Jones membanting tubuh beruang seberat 300kg dengan mudah kearah sungai kecil di depannya.


“Kemarilah, teddy bear!” teriak Kapten Jones lalu segera melompat dengan kecepatan tinggi kearah sang beruang yang baru saja terhempas ke sungai kecil itu.


*Bruk!


Pukulan tangan kosong dari Kapten Jones mendarat tepat di perut sang beruang itu, sehingga langsung membuat beruang itu pingsan.


“Teddy bear seperti ini hanyalah mainan untukku! Hahaha!” Kapten Jones mengecap pinggangnya, lalu mengangkat tubuh beruang itu kembali ke tenda mereka untuk menjadi sarapan para pasukannya.


Kapten Jones adalah prajurit elit terkuat yang pernah dimiliki oleh Kerajaan Victoria.


Dalam peperangan kerajaan-kerajaan pada masa penaklukan beberapa tahun yang lalu, Kapten Jones pernah berduel satu lawan satu melawan King Midas dari Bangsa Sparta.


Hasil pertarungan mereka seri, sama-sama terluka dan kelelahan setelah pertarungan selama seharian di lembah Grayback, di dekat Kota Athena.


Tubuh King Midas dan Kapten Jones sama-sama memiliki berat 120kg dan dilengkapi dengan otot-otot kekar di sekujur tubuh mereka. Tinggi mereka juga hampir sama, yaitu 2 meter.


Sejak hari itu, nama Kapten Jones kian dikenal di seluruh kerajaan-kerajaan barat dan utara.


Sambil memasak ditemani oleh Putri Gwen, Kapten Jones bertanya pada sang Putri mengatakan, “Tuan Putri, kenapa Tuan Putri terlihat murung beberapa hari ini?”


“Ah tidak, Jones. Aku hanya merindukan seseorang.” Putri Gwen tersenyum sambil memutar-mutarkan daging beruang itu di atas api unggun.


“Maafkan ketidaksopanan hamba, siapakah orang beruntung itu, Tuan Putri?”


“Pangeran Edward. Aku mendapat kabar dari Kapten Lucius bahwa Edward telah menikah dengan seorang Ratu Elf.” Masih dengan senyuman, Putri Gwen berusaha terlihat baik-baik saja padahal didalam hatinya terasa seperti tertusuk.


“Paduka Edward adalah Pangeran yang luar biasa teladan. Paduka selalu menghormati musuhnya ketika berada di medan perang dengan mengubur semua jasad yang telah dibunuh olehnya,” jawab Kapten Jones sambil berusaha menyelipkan kayu api.


“Ya, dia adalah orang yang hebat.”


“Tuan Putri, hamba sudah mengenal Paduka Edward lebih dari 10 tahun. Paduka Edward pasti memiliki alasannya sendiri kenapa dia melakukan itu.”


“Ya, tentu saja. Namun, aku harap Edward akan bahagia dengan istrinya sekarang.”


Sambil berbincang-bincang dengan Kapten Jones, Putri Gwen membagikan makanan yang ia siapkan untuk para prajuritnya yang kelelahan, mengobati mereka dengan tangannya sendiri, bahkan Putri Gwen menjahit pakaian-pakaian para prajuritnya yang robek akibat membawa beban berat selama perjalanan kembali ke Kastil Hirendel.


Berbeda dengan Ratu Aerin yang konyol, Putri Gwen seperti sosok ibu yang memiliki belas kasih dan penuh dengan rasa sayang kepada apapun yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Dulu sebelum pengkhianatan Edmud, Putri Gwen dan Pangeran Edward dijadwalkan akan menikah setelah musim dingin, tepatnya di musim semi.


Namun semua itu sudah tidak mungkin terjadi karena sekarang Kerajaan Victoria telah direbut melalui pembunuhan Raja Julien, yang dipelopori oleh anak bungsunya Edmud Collins.


Meskipun begitu, Putri Gwen setiap harinya selalu mengambil kesempatan untuk menyendiri dan mulai berdoa untuk keselamatan Pangeran Edward dalam mengumpulkan armada militernya.




Belahan bumi yang berbeda di pagi yang sama.


Beberapa kilometer dari Kota Saint’s Haven.


Matahari kini terbit perlahan, menandakan hari yang menegangkan akan segera dimulai.


Didalam tenda, Ratu Aerin lebih dulu terbangun dari Edward sehingga ia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan rutinitasnya pada tubuh Edward.


“Hehe, sekarang saatnya mencicipi sosis besar ini!” gumam Ratu Aerin tersenyum dengan jahat sambil memandangi tubuh kekar suaminya yang sangat menggoda.



Ketika Ratu Aerin perlahan menaiki tubuh Edward, tiba-tiba Kapten Lucius memanggil Edward untuk segera mendengar kesaksian 3 orang mata-mata yang kemarin baru saja mereka kirimkan untuk menyelidiki jalur masuk.


“Paduka! 3 orang mata-mata kita telah kembali, mohon Paduka bergabung dengan kami mendengar kesaksian mereka!” teriak Kapten Lucius dengan lantang agar membangunkan Edward dari tidurnya.


Mendengar namanya dipanggil, Edward langsung membuka matanya.


Alangkah kagetnya Edward saat melihat Ratu Aerin akan melakukan sesuatu pada sosis besarnya.


“Ratu, jangan sekarang! Aku harus pergi!” bisik Edward lalu memasangkan semua pakaiannya, dan langsung menyusul Kapten Lucius keluar.


“Ish! Aku hanya ingin minta jatah saja susah sekali! Huaaaaa!” erang Ratu Aerin dengan cemberut sambil memasangkan pakaiannya dan menyusul Edward keluar.


“Padahal aku sudah memenuhi semua yang dia mintakan! Sudahlah, pokoknya malam ini aku harus mendapatkannya! Tidak boleh tidak, atau akau akan meledakkan Kota Saint’s Haven!”


Ratu Aerin akhirnya tiba di tenda komando.


Di tenda ini berisi Edward, Kapten Lucius, Kopral Penny, dan 3 orang mata-mata.


Hanya dengan memandang Edward berbicara saja, pipinya menghangat dan Ratu Aerin menjadi salah tingkah.


Karena sudah begitu kepanasan, Ratu Aerin perlahan berjalan mendekat pada Edward.


Sambil melihat Edward menjelaskan dari dekat, Ratu Aerin sesekali menggelitik paha Edward hingga tangannya terus naik dengan nakal.


“Aerin!!! Kenapa jari-jarimu memegang ‘sosisku’?! Lepaskan atau aku akan marah!” bisik Edward dalam komunikasi rahasia mereka dengan tatapan yang masih fokus kepada peta.


“Ish! Makanya berikan jatahku!” Ratu Aerin mengecap pinggang dengan cemberut menatap Edward yang sibuk dengan urusannya.


“Tunggu aku di kamar.”


“Benarkah? Huaaa!!! Akhirnya! Jika kau tidak datang aku akan meledakkan Kota Saint’s Haven!”


Ratu Aerin langsung berlari dengan girang ke kamarnya.


Ia bahkan menyiapkan lilin padahal masih pagi, menyiapkan wine, dan merapikan kasurnya.


Setelah menyiapkan semuanya dengan begitu teliti, Ratu Aerin lalu berbaring di kamarnya dan menunggu Edward.


Ketika Ratu Aerin menunggu dengan girang, tiba-tiba terdengar sebuah auman dari sangkakala yang begitu besar.


Ratu Aerin langsung berlari keluar dengan pakaian yang tipis untuk melihat asal suara itu.


“Erenel!” panggil Ratu Aerin melalui cincinya.


Seketika itu juga Erenel muncul dari balik awan dan langsung menukik kearah Ratu Aerin.


“Aerin, tolong kau lihat apa yang terjadi di depan!” teriak Edward saat melihat istrinya sudah menaiki Erenel.


“Baiklah, suamiku! Kalian bersiaplah siapa tahu akan ada serangan lagi!”

__ADS_1


*Wush


Kepakan sayap dari Erenel mengibas dengan kekuatan penuh langsung terbang menuju asal suara itu bersama dengan Ratu Aerin di punggungnya.


Dari pantauan udara setelah terbang selama beberapa menit, Ratu Aerin melihat armada pasukan yang begitu besar sedang berkumpul di tengah-tengah Kota Saint’s Haven.



Sepertinya armada pasukan dari Kerajaan Empress itu sedang bersiap untuk melakukan peperangan.


“Mereka bersiap berperang? Namun dengan siapa? Tidak mungkin mereka sampai mengerahkan armada pasukan sebanyak itu hanya untuk melawan Edward!” gumam Ratu Aerin sambil terbang diatas Kota Saint’s Haven dari ketinggian yang tidak dapat dilihat dari bawah.


Karena penasaran dengan siapa Pasukan Kerajaan Empress akan berperang, Ratu Aerin terbang jauh ke arah timur Kota Saint’s Haven.


Sekitar 10 kilometer arah timur Kota Saint’s Haven, Ratu Aerin melihat ada armada pasukan lain yang sedang bergerak menggunakan kuda-kudanya.


“Erenel, gunakan mata elangmu untuk melihat bendera apa yang mereka bawa!”


*Roar-roar!!!


“Bendera Kerajaan Persia?!”


Menyadari bahwa Kerajaan Empress akan berperang, Ratu Aerin langsung menghubungi Edward melalui komunikasi rahasia mereka mengatakan, “Kerajaan Empress akan berperang melawan Kerajaan Persia di arah timur Kota Saint’s Haven! Jika ingin menyusup masuk ke kota mereka, inilah saat yang tepat!”


“Baiklah! Kami akan langsung berangkat sekarang!”


“Aku akan menunggu kalian di dalam Kota Saint’s Haven. Terkhusus untukmu, suamiku, aku akan menunggu di kamar penginapan!”


“Berhati-hatilah, istriku. Aku tak ingin melihat ada satu goresan pun di tubuhmu!”


“Edward … nanti setelah kita aman di penginapan, apakah aku akan mendapatkannya?”


“Mendapatkan apa?”


“Ish! Apa kau lupa lagi?!”


“Ah tentu saja. Persiapkan jari-jarimu untuk memijat punggungku lagi!”


“Edward! Serius!!!”


Sembari terbang menuju Kota Saint’s Haven, Ratu Aerin tidak mendengar lagi jawaban dari Edward yang artinya mereka sedang menyusup ke Kota Saint’s Haven melewati terowongan.




Terowongan bawah tanah di Kota Saint’s Haven.


“Sejak aku tiba disini, aku merasakan bahwa ada beberapa orang sedang mengikuti kita,” bisik Penny pada telinga Edward sambil berjalan menyusuri terowongan yang memiliki begitu banyak cabang.


Benar saja kecurigaan Penny terbukti setelah Kapten Lucius memberikan sinyal ‘A’ yang dalam sandi kemiliteran Kerajaan Victoria berarti bahaya, ancaman, atau mata-mata.


Mendapatkan sinyal dari Kapten Lucius, semua pasukan Edward langsung mematikan obor yang ada di tangan mereka, lalu berjalan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Seperti penyamaran biasanya, Edward dan Penny akan berpura-pura menjadi sepasang suami-istri.


Penny sempat mengulum senyuman saat akan kembali memerankan peran itu, sehingga ia dapat mengambil keuntungan dari tubuh kekar Edward lagi.


Namun dengan adanya Arthemis dalam penyamaran kali ini, maka Arthemis akan bergabung menjadi istri Edward juga.


Yang artinya Edward akan mengaku membawa dua orang istrinya.


Hanya Ratu Aerin yang tidak tahu dengan formasi penyamaran ini, sehingga mungkin akan timbul kesalahpahaman diantara para wanita itu.


Setelah satu jam berputar-putar dan berpura-pura tersesat di terowongan itu, Kapten Lucius merasakan bahwa para assassins itu sudah kehilangan jejak mereka jauh di belakang.


Menyadari mereka sudah aman dan hanya perlu naik melalui tangga yang ada di depan mereka, Edward memberi arahan pada pasukannya untuk bertemu kembali dalam 3 hari di Bukit Selatan.


Mereka harus membeli stok makanan, stok senjata perang, dan beberapa kebutuhan lainnya sebelum mereka akan tiba di pesisir pantai lautan Dragon’s Cross.


Next Chapter > Arthemis : Fall In Love With Edward.

__ADS_1


... Ilustrasi Kota Saint's Haven...



__ADS_2