
Langit biru, matahari meninggi, dan perjalanan Putri Gwen kini ditemani oleh hamparan padang gandum milik Kerajaan Hirendel.
Putri Gwen memilih untuk berjalan kaki, karena Putri Gwen memberikan kereta kudanya untuk para prajuritnya yang kelelahan atau sakit.
Sambil melangkahkan kakinya melalui rerumputan di jalan setapak, Putri Gwen menadahkan pandangannya keatas sambil memikirkan tentang Pangeran Edward.
Dalam benaknya, Putri Gwen berkata,
Kelak kita akan menjalani hidup kita masing-masing,
Menempuh lembar putih tanpa ada bayangan dirimu atau diriku,
Menjalani cerita dengan seberkas senyuman,
Walaupun senyuman itu palsu.
Bukan tentang bagaimana perasaanmu terbalaskan,
Bukan tentang bagaimana kau mendapatkan apa yang kau inginkan,
Namun tentang bagaimana bahagia terlukis pada birunya semesta.
Kau dan aku … takkan pernah menyatu.
Putri Gwen menarik nafasnya dalam, dan tersenyum menatap ke sekitarnya.
Kapten Jones yang sudah mengenal dengan baik Putri Gwen, menyadari jika saat ini perasaan Putri Gwen sedang begitu menderita.
Itu terlukis dari senyuman tulusnya yang menyembunyikan sebuah semesta yang berisi kesedihan.
Perlahan, Kapten Jones mendekat kearah Putri Gwen lalu bertanya padanya, “Putri, lihatlah ke atas.”
Sebuah bentangan biru langit yang cerah benar-benar ada diatas kepala mereka.
“Apa yang Tuan Putri lihat diatas sana?” tanya Kapten Jones ketika melihat Putri Gwen menadahkan pandangannya ke langit biru.
“Sebuah langit.”
“Bukan hanya langit, diatas sana ada miliaran bintang dan planet indah yang saat ini tidak terlihat karena terhalangi cahaya matahari. Itu artinya dibalik semua hal yang kita lihat, semua masalah yang ada di depan kita, ada sesuatu yang indah menunggu dibaliknya. Tuan Putri hanya perlu bersabar.”
“Jones, kau benar. Terima kasih.”
Kapten Jones melihat Putri Gwen mulai berlarian sambil merentangkan tangannya.
Putri Gwen juga menyempatkan dirinya untuk memeriksa kondisi para prajuritnya yang sedang sakit, di dalam kereta kudanya.
Kecantikan, keanggunan, dan ketulusan semua itu dimiliki Putri Gwen sangat membuat orang-orang disekitarnya menjadi menyayangi Putri Gwen.
Sehingga seluruh rakyat Kerajaan Victoria sangat menyayangi Putri Gwen.
…
Malam sebelumnya, di Kerajaan Empress, Kota Saint’s Haven.
*Srek!
Sebuah belati dari assassins itu kini menancap di dada Edward, dan menembus hingga ke paru-paru Edward.
Setelah terkena serangan tepat ke paru-parunya, Edward merasakan bahwa nafasnya perlahan-lahan menjadi tidak teratur.
Dalam keadaan yang mencekam itu, tiba-tiba Ratu Aerin dan Penny muncul dari depan gang sambil menenteng barang belanjaan mereka.
“Pegang itu, Ratu. Biar aku yang urus.” Penny memberikan barang belanjaannya pada Ratu Aerin dan berlari menembus gelapnya gang disana.
*Wush
Penny melompat dengan lincah menuju asal suara yang bergerak-gerak diatasnya sesaat Penny masuk ke dalam kegelapan.
*Bruk!
Tangan kanan Penny berhasil mengenai wajah seseorang yang sedang mengintai diatas.
*Bruk!
__ADS_1
Lagi-lagi hempasan kaki kanan Penny menendang tubuhnya hingga assassins itu terlempar ke depan gang, tepat dibawah kaki Ratu Aerin.
Ratu Aerin mengangkat cincinnya keatas, dan sebuah cahaya biru menerangi gang yang gelap itu.
Terlihat puluhan assassins tergeletak, dan seseorang yang tersungkur memegangi dadanya.
“Edward!” teriak Ratu Aerin dan berlari menghampiri Edward yang masih memegangi dadanya.
Terlihat banyak darah bercucuran keluar dari sela-sela jari Edward.
Ratu Aerin langsung memeluk Edward dan berusaha menyembuhkan luka yang terbuka lebar di dada Edward.
Penyembuhan Ratu Aerin hanyalah untuk orang yang masih hidup, Ratu Aerin tidak dapat menghidupkan orang yang sudah mati.
Ratu Aerin merasakan belati itu menusuk paru-paru Edward hingga paru-paru Edward menjadi bocor.
“Gawat! Semoga masih sempat!” gumam Ratu Aerin dengan konsentrasi penuh memusatkan sihir penyembuhannya ke tubuh Edward.
Meskipun cerewet dan konyol, Ratu Aerin bukanlah sosok yang cengeng atau penakut.
Bahkan saat melihat Edward tidak memiliki waktu banyak, Ratu Aerin tetap bisa tenang dan mengontrol emosinya agar proses penyembuhannya semakin cepat.
Tiba-tiba, saat sedang berusaha menyembuhkan Edward, gerombolan assassins lainnya kembali muncul dari depan gang.
“Ratu, fokuskan dirimu untuk menyembuhkan Edward. Aku akan menghadapi mereka semua!” ucap Penny menatap Ratu Aerin dan bersiap untuk maju.
“Berhati-hatilah, mereka berjumlah 50 orang!” balas Ratu Aerin setelah merasakan dari sihir sensoriknya.
“Bahkan 1000 orang pun bukan masalah bagiku!”
*Wush
Dengan kecepatan penuh, Penny menerjang kedepan tanpa rasa taku sedikitpun.
“Mari kita lihat kehebatan kalian!” gumam Penny sambil mengayunkan tangannya menuju wajah para assassins itu.
*Bruk!
Satu orang assassins terkena pukulan tangan Penny sehingga membuatnya terpental beberapa meter.
Sebuah belati tajam sedang mengarah ke leher Penny dari arah belakangnya.
*Bruk!
“Mundur kalian semua!” teriak salah seorang assassins yang bertubuh besar muncul dari balik barisan.
“Dia milikku!” lanjutnya sambil mengepalkan tangannya menghadap ke arah Penny.
“Berisik!” gumam Penny sambil melompat dengan keatas dengan tangannya yang menuju kearah wajah pria kekar itu.
*Bruk!!!
*Wush!
Pukulan tangan kanan Penny mendarat tepat di wajah pria itu, namun pria itu sama sekali tidak terpental atau goyah.
Angin yang dihasilkan Penny ketika mendaratkan pukulannya di wajah pria itu berhembus kencang.
“Apa?!” pikir Penny dalam benaknya saat melihat pukulan kekuatan penuhnya sama sekali tidak menggoyahkan pria itu.
*Tap
Pria itu menangkap leher Penny dan mengangkatnya keatas.
“Pukulanmu sangatlah menyakitkan! Ini pertama kalinya aku menerima pukulan sekuat ini! Tapi sayang sekali, kau tidak ada apa-apanya bagiku!” teriak pria itu menatap Penny dengan amarah.
*Bruk!
*Wush!
Penny menendang wajah pria itu sehingga tubuh Penny terlepas dari genggamannya.
*Tap
Penny kini mendarat di tanah dan berusaha mencari celah untuk menumbangkan pria kekar ini.
__ADS_1
Sebelum Penny menyelesaikan analisanya, pria itu berlari kearahnya secepat angin yang berhembus.
*Wush
Sebuah pukulan dengan daya rusak yang luar biasa berhasil Penny hindari dengan menyamping.
*Duar!
Hembusan angin yang dihasilkan pukulan pria itu menghancurkan tembok batu di belakang Penny.
“Jika seluruh tubuhnya sekuat besi, maka hanya ada 1 kelemahan rahasia semua pria di dunia ini,” gumam Penny dalam hatinya setelah berhasil menghindar.
*Wush
Lagi-lagi pria itu melompat kearah Penny.
*Krak!
Tiba-tiba pukulan tangan yang memiliki daya rusak luar biasa dari pria itu ditangkis oleh seseorang.
“Penny, mundurlah dan lindungi Ratu Aerin yang sedang menyembuhkan Edward. Laksanakan, ini perintah!”
Penny melihat seorang pria yang sebenarnya adalah wanita menangkis serangan mematikan itu hanya dengan satu tangannya saja, memberikan perintah padanya.
“Baiklah, Kapten Lucius!” Penny berlari ke belakang dan berusaha melindungi Ratu Aerin.
Selagi Penny bertarung dengan assasins biasa di belakang, Kapten Lucius mencengkram tangan pria itu dengan kuat.
“Kekuatanmu boleh juga. Aku tersanjung,” ucap Kapten Lucius sambil tersenyum menatap pria bertubuh kekar itu.
Semua assassins dan pria itu terkejut melihat bagaimana kekuatan yang dimiliki Kapten Lucius yang menangkis dengan mudah serangannya.
“Aku memberikanmu 1 kesempatan lagi untuk mengayunkan pukulanmu kearahku,” ucap Kapten Lucius setelah melepaskan cengkramannya dari tangan pria itu.
Pria itu mundur beberapa langkah dan mempersiapkan pukulannya lagi.
*Wush!!!
Angin kencang mengikuti ayunan tangan pria itu mengarah ke wajah Kapten Lucius.
*Wush
Kapten Lucius menghindar dengan santai sambil mengayunkan satu serangan ‘kecil’ kearah perut pria itu yang sekeras besi.
*Bruk!!!
*Wush!!!
Tendangan ‘kecil’ Kapten Lucius mendarat tepat di perut pria kekar itu, dan membuatnya terpental jauh ke belakang.
“Lemah.” Kapten Lucius tersenyum dan berjalan dengan santai untuk membantu Penny bertarung.
Namun sayangnya, assassins itu tiba-tiba ketakutan dan mundur setelah melihat Kapten Lucius menghempaskan pemimpin mereka hanya dengan satu pukulan santai.
Sementara itu, Ratu Aerin perlahan merasakan bahwa paru-paru Edward mulai kembali pulih dengan normal setelah Ratu Aerin menyembuhkannya.
Namun karena mengobati organ dalam itu membutuhkan tenaga yang besar, Ratu Aerin perlahan pingsan sesaat setelah Edward kembali pulih.
*Hap
Edward menangkap lembut tubuh Ratu Aerin dalam dekapannya.
Sambil tersenyum menatap istrinya, Edward berbisik di telinga Ratu Aerin mengatakan, “terima kasih. Aku mencintaimu, Aerin.”
Ratu Aerin yang awalnya hendak pingsan, tiba-tiba langsung tersadar setelah mendengar dengan samar-samar apa yang Edward katakan padanya.
“Apa … apa yang kau katakan barusan, Edward?” tanya Ratu Aerin dengan pipi yang memerah menatap Edward yang sedang mendekapnya.
“Tidak ada. Ah, aku baru ingat bahwa aku membelikanmu sebuah hadiah,” jawab Edward berusaha mengelak.
“Hua! Edward kau bercanda lagi! Kalau begitu aku pingsan lagi saja! Bye!” Ratu Aerin langsung pingsan dalam dekapan Edward.
Ratu Aerin benar-benar pingsan karena kelelahan menyembuhkan organ dalam Edward.
__ADS_1
...Visual Captain Lucius...