
“Baiklah! Sekarang saatnya sebelum benda itu dimasukkan ke tubuh Ratu Aerin!”
Dengan gagah berani, Kopral Penny mendobrak paksa gerbang emas itu dengan kakinya sehingga semua hadirin yang mengintip di belakangnya terlihat oleh Edward dan Ratu Aerin yang sedang bertindihan.
*Bruk!!!
“Edward! Kami akan menyelamatkanmu! Kapten Lucius, maju!!!”
Tanpa Penny sadari, saat ini yang maju ke arah Edward hanyalah dirinya sendiri, sedangkan Kapten Lucius hanya berdiri mematung mencerna situasi sekitar.
*Hap
Kini Penny begabung bersama Ratu Aerin menindih tubuh Edward.
“Paduka!!! Maafkan aku! Ini demi keselamatanmu!” teriak Penny sambil menutup mata dan perlahan-lahan mulai melakukan manuver itu pada tubuh Edward.
“Penny! Aku datang!” teriak Kapten Lucius lalu berlari kearah mereka bertiga.
*Hap!!!
Tubuh Kapten Lucius yang menggunakan jubah besar mendarat juga di dada Edward.
Sedangkan Ratu Aerin, Edward, dan seluruh hadirin disana terhayal melihat apa yang mereka berdua lakukan.
Semua orang disana terbalak kaget ketika menyadari bahwa Penny dan Lucius mulai melakukan manuver itu didepan mata mereka.
“Ah! Edward! Sakit!”
*Plak! Plak!
…
“Apa kalian sudah gila?!” bentak Edward memarahi Lucius dan Penny setelah Edward membawa mereka berdua kembali ke kamp pasukan elitnya.
“Maafkan kami Paduka. Kami pikir Paduka terkena kutukan itu,” jawab Penny dan Lucius serentak dengan kepala yang menunduk ke bawah.
“Kalian merebut keperjakaanku dari Ratu Aerin dan Putri Gwen! Apa kalian tahu sekeras apa aku berusaha menjaganya?!” Edward mengerutkan keningnya sambil membentak mereka berdua dengan emosi.
“Sudahlah Edward, tak apa. Aku bisa memahami mereka melakukan itu demi menyelamatkanmu,” bisik Ratu Aerin lembut di telinga Edward untuk menenangkan suaminya.
“Ya! Aku memang terkena kutukan itu. Namun Ratu Aerin sudah melepaskan kutukan itu ketika aku tiba di kamarnya. Dia memintaku memilih apapun yang kuinginkan, lalu aku meminta bantuan prajurit Elf nya untuk membantuku!” Edward lagi-lagi membentak mereka berdua.
“Dengan syarat harus menikahiku.” Ratu Aerin tersenyum sambil menggandeng lengan suaminya.
“Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Hanya kali ini aku akan memaafkan kalian karena maksud kalian adalah mulia.
Kemasi barang-barang kalian, kita akan berangkat besok pagi-pagi sekali.”
Selagi pasukannya bersiap, Edward menemani Ratu Aerin untuk tidur dengannya malam ini sebelum mereka berpisah besok di kamar pengantin kerajaan.
Dalam perjalanan kembali ke kamar pengantin dengan menunggangi Eagle Spartan milik Ratu, Edward merasakan kedua lengan Ratu Aerin kini melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
Dagu Ratu Aerin juga bersandar di pundak Edward dengan lembut.
“Aku mencintaimu, Edward.”
“Besok pastikan kau mulai memimpin negara ini dengan bijaksana.”
“Bolehkah aku ikut denganmu, suamiku?”
“Jika kau ikut, lalu siapa yang memerintah kerajaan yang sangat besar ini?”
“Apa kau lupa bahwa aku ini ahli dalam sihir? Tentu saja aku bisa membagi 2 tubuhku. Satu tubuhku akan ikut denganmu, dan satunya lagi akan memerintah di istana. Bagimana menurutmu, sayang?”
“Tidak!”
Mendengar Edward menolak permintaannya dengan tegas, Ratu Aerin seketika menangis berharap Edward akan iba dan membolehkannya ikut berkelana menjelajah dunia selatan.
*Hiks
“Aerin, apa kau menangis?” Edward mengalihkan pandangannya ke mata Ratu Aerin dengan dagu yang masih bersandar di pundaknya.
“Edward jahat!”
“Baiklah-baiklah, berhenti menangis. Kau boleh ikut, namun aku takkan bertanggung-jawab dengan masalah kerajaanmu.”
*Cup
Sebuah ciuman dari bibir Ratu Aerin mendarat di pipi Edward.
Malam itu dihabiskan mereka berdua di kamar pengantin dengan menyusun beberapa rencana agar Ratu Aerin dapat pergi dengan tidak ketahuan, sementara tubuh satunya akan memerintahkan kerajaan.
“Suamiku, semuanya sudah selesai kan? Berarti besok kita tinggal menjalankan rencana ini.” Ratu Aerin memandang wajah Edward yang sedang serius menatapi peta.
“Ya,” jawab Edward dengan pandangan yang masih terfokus pada peta itu, karena besok ia akan memimpin pasukannya melewati satu kota milik Kerajaan Empress.
Kota itu bernama Saint Haven, dimana disana banyak sekali assassin, priest, dan kota itu juga terkenal sebagai pusat militer milik Kerajaan Empress.
“Suamiku, sudahlah.” Ratu Aerin perlahan berjalan mendekat ke arah Edward, lalu mulai memberikan gigitan cinta di leher Edward.
“Ratu, jangan sekarang. Aku harus meneliti rute-rute ini dengan baik, menyusun rencana, dan mencari solusi terbaik untuk kita melewati kota itu tanpa ketahuan.” Edward menutup kembali pakaiannya yang sudah dibuka oleh Ratu Aerin.
Mendengar tolakan dari Edward, Ratu Aerin tahu apa yang harus ia lakukan agar keinginannya terwujud.
“Hua!!! Edward jahat!” Ratu Aerin mengerang dengan tangisan keras agar Edward mau melakukan itu dengannya.
Melihat Ratu Aerin yang lucu itu menangis, Edward langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Aerin dan mencium bibirnya dengan lembut.
*Cup
“Ratu, hari ini cukup satu ciuman dariku saja ya. Lain kali aku akan memberikan apa yang kau inginkan,” bisik Edward sambil menarik kembali bibirnya dari bibir Ratu Aerin.
*Deg-deg-deg
__ADS_1
Jantung Ratu Aerin berdebar dengan kuat ketika mendapatkan ciuman pertama yang resmi dari Edward.
“B … baiklah. B … bolehkah aku tidur di pundakmu, suamiku? Aku mulai mengantuk.”
“Kemarilah,” balas Edward lalu meletakkan sebuah bantal di pundaknya agar leher Ratu-nya dapat tidur dengan nyaman.
Setelah Ratu Aerin mulai terlelap di pundaknya, Edward segera menyelimuti tubuh Ratu Aerin yang hanya tertutupi kain tipis yang tembus pandang.
Ketika melihat Ratu-nya tidur di pundaknya, Edward tersenyum melihat sorotan wajah menggemaskan itu tidur.
Entah kenapa, ia tiba-tiba teringat akan seorang wanita yang sudah lama dicintainya.
“Putri Gwen … maafkan aku,” gumam Edward dalam hatinya sambil mengelus kening Ratu Aerin.
“Sayang, siapa itu Putri Gwen? Kenapa kau minta maaf padanya?” balas Ratu Aerin yang tiba-tiba terbangun setelah mendengar kata hati Edward.
“Ah kau terbangun? Tidak, Putri Gwen hanyalah seseorang yang cukup berharga bagiku.”
“Apa aku berharga juga untukmu?”
“Tidak.”
“Apa kau bilang?!”
“Aku hanya bercanda. Sekarang tidurlah … istriku.”
“Apa kau baru saja mengucapkan ‘istriku’ padaku?!” Wajah Ratu Aerin seketika memerah karena untuk pertama kalinya Edward memanggilnya sebagai seorang istri, yang artinya Edward perlahan menerima Ratu Aerin sebagai istrinya.
*Cletak!
Bunyi jitakan Edward mendarat di kening Ratu Aerin.
“Tidurlah … istriku!”
“Kya!!! Aku sudah menjadi seorang istri! Baiklah, selamat malam … suami … ku.”
Kini Ratu Aerin mulai kembali tertidur di pundaknya.
Sebenarnya Edward cukup terhibur dengan kehadiran dan kekonyolan Ratu Aerin.
Tak pernah selama hidupnya, Edward bertemu dengan wanita yang begitu manja, lugu, dan polos seperti Ratu Aerin.
Sehingga saat pertama kali mengenali Ratu Aerin, Edward merasakan sesuatu yang berbeda darinya, dan hal itulah yang membuatnya perlahan menerima Ratu Aearin sebagai istrinya.
Lalu bagaimana dengan Putri Gwen dan Penny? Tentu saja mereka akan memiliki kemistrinya pada Edward nantinya.
Setelah masa-masa yang tenang ini, Edward tahu bahwa akan ada pertempuran-pertempuran epic, pertumpahan darah yang masif, dan air mata menanti di perjalanan-perjalanannya dalam mengumpulkan armada.
Edward juga menebak bahwa saat ini Edmud pasti akan bertambah kuat, dan mengumpulkan armada pasukannya sendiri untuk berperang melawan Edward.
Next chapter > Battle of Saint’s Haven : The Lighting Storm
__ADS_1
Thanks to @Zipcy & @Mariposa for this amazing artwork.