
Keesokan harinya Via merasa sangat malas dan dia juga tidak mengerjakan apa apa hingga malam dia hanya berbaring di tempat tidur dia merasa sudah kangen dengan Arsya dan ingin bertemu dengannya padahal baru kemarin dia bertemu tapi sudah kangen dan juga nanti kalau ayah dan kakaknya tahu dia keluar lagi tanpa ijin pasti kena hukum dan juga percuma kalau cuma sebentar di sana.
Via terbangun dari pikirannya karena dia merasakan ada seseorang yang datang dan benar saja tiba tiba ada sekelompok orang sekitar empat datang ke kamarnya lewat jendela dan langsung menyerang Via.
Melihat dari itu Via langsung membalas serangannya menggunakan pedang dan juga sambil mengamati orang itu dan ternyata mereka adalah pembunuh bayaran dari klan darah terlihat dari tato mereka yang ada di leher bagian belakang.
"Jadi kalian mau main main sama aku ya" ucap Via dengan tersenyum karena dia dapat mainan sebagai penghiburnya.
"Main-main" pikir mereka "Nona cantik siapa yang mau main main sama kamu kami disini mau membunuhmu" kata salah satu dari mereka yang terlihat seperti bosnya.
"Membunuhku tapi apa salahku dan siapa yang menyuruh kalian" kata Via pura pura takut dan bersikap sok lugu.
"Nona cantik aku tidak akan mengatakannya siapa yang menyuruh kami" katanya dengan menggoda Via.
"Jijik" dalam hati Via melihat tingkah mereka
"Bos gimana kalau kita cicipi dulu badannya sebelum membunuhnya sayang kan gadis cantik seperti ini tidak kita coba" ucap salah satu lagi kepada bosnya.
"Benar juga katamu" jawab bosnya.
"Tuan jika kalian mau membunuhku maka silahkan tapi kalian harus memberitahuku siapa yang menyuruh kalian" ucap Via dengan wajah datarnya.
"Tidak karena kami setia kepada yang menyuruh kami kalau kami tidak akan memberitahu siapa yang menyuruh kami" ucap bosnya.
" Tapi tuan tuan kan mau membunuh saya dan juga jika saya mati kan tidak akan ada yang tahu siapa yang membunuh tuan putri ini dan kalian juga akan aman" ucap Via dengan lembut.
"Bener itu bos, kasih tahu aja lagian kita kan mau membunuhnya" ucap bawahannya.
"Yang menyuruh kami adalah selir An" ucap bosnya
__ADS_1
"Selir An" pikirnya " Jadi kamu mau main main denganku" ucap dalam hatinya.
Ditempat lain di kediaman selir An mereka sedang bahagia karena sebentar lagi putri buruk rupa itu akan mati.
"Ibu apakah mereka akan berhasil membunuh ja**ng itu" ucap putri Jia Na.
" Jangan khawatir anakku ibu yakin mereka akan berhasil dan jika dia mati tidak akan ada lagi penghalang kamu untuk menjadi putri satu satunya di kerajaan Qin dan dapat menikah dengan putra mahkota dari kerajaan lain" kata selir An yang tidak tahu bahwa dirinya akan menyesali perbuatannya itu.
Kembali lagi di kediaman putri Yin Hua
"Kalian mau membunuhku jangan harap" ucap Via dengan tatapan kejamnya dan membuat mereka mengglidik takut.
" Kenapa tiba tiba dia jadi menyeramkan" pikir mereka tapi mereka tetap harus membunuhnya dan mereka pun menyerang Via bersamaan.
Via pun langsung menebas kepala mereka saat mereka menyerangnya karena dia sudah mendapat siapa yang menyuruh mereka tapi dia menyisakan bosnya agar bisa di interogasi saat mereka kesini dan menangkapnya.
Via hanya membuat bosnya itu pingsan dan juga mengambil sebuah racun yang terselip kan di giginya karena Via tahu pasti jika pembunuh bayaran akan menyelipkan racun di giginya untuk berjaga jaga jika mereka tertangkap karena mereka lebih baik mati dari pada mengkhianati tuan yang membayar mereka.
"Ah sakit juga " kata Via setelah menusuk perutnya dan pedang tersebut di jatuhkan nya dan memanggil Jingmi.
"Jingmi" kata Via pelan tapi terdengar olehnya.
Mendengar tuannya memanggil Jingmi langsung masuk dan saat sudah masuk dia tercengang melihat keadaan kamar Via yang sudah penuh dengan darah dengan orang orang yang sudah tergeletak dan Via yang sedang memegang perutnya yang terus berdarah.
Jingmi langsung menghampiri Via " Nona apa yang terjadi, dan perut nona berdarah saya akan panggil tabib nona bertahan ya" ucap Jingmi tidak menyebutnya jie jie karena saking khawatirnya.
Jingmi tidak mengetahui perkelahian mereka karena saat via sedang berkelahi jingmi sedang di dapur melihat makanan untuk Via apakah sudah siap atau belum.
"Aku tidak apa apa nanti aku jelasin semuanya tapi kamu harus bersandiwara bersamaku" ucap Via pelan karena memang dia merasakan sakit diperutnya.
__ADS_1
"Bersandiwara apa nona" ucap Jingmi dengan nada bingung.
"Sekarang kamu panggil yang mulia raja Qin beserta gege Yuwen agar kesini tapi kamu memberitahunya dengan wajah yang harus benar benar khawatir " kata Via.
"Nona apakah kamu tidak melihat kalau sekarang saja aku sudah sangat khawatir denganmu" ucap Jingmi tapi dalam hatinya saja.
"Tapi nona ini mereka ini siapa" tanya Jingmi yang tidak henti hentinya yang membuat Via jengkel.
"Mereka ini pembunuh bayaran yang mau membunuhku dan mereka disuruh oleh selir An" jawabnya " Ya sudah cepet sana kamu mau melihat aku mati kekurangan darah" lanjut lagi dan membuat Jingmi langsung pergi.
Ruang kerja raja Qin
"Ada apa ayahanda kayaknya ayahanda lagi tidak enak badan" ucap pangeran Yuwen yang kebetulan ada di situ.
"entahlah rasanya perasaanku tidak enak tiba tiba zen mencemaskan putri Yin Hua" jawab nya.
Saat mereka berbicara Jingmi pun tiba tiba masuk dengan tergesa gesa dan muka khawatirnya.
"Salam yang mulia dan putra mahkota, maaf yang mulia saya mau memberi kabar jika putri Yin Hua terluka" ucap Jingmi tergesa gesa dan dengan khawatirnya.
"Apa" teriak raja Qin dan langsung pergi dengan tergesa gesa bersamaan dengan pangeran Yuwen yang juga ikut pergi.
Saat sampai di depan pintu kamar Yin Hua, raja qin dan pangeran Yuwen berpapasan dengan seorang tabib karena memang sebelum Jingmi ke tempat raja Qin dia terlebih dulu memanggil tabib.
"Salam yang mulia dan putra mahkota" ucap tabib itu dan diangguk kan oleh mereka.
Dibukalah pintu itu dan mereka tercengang dengan apa yang mereka lihat karena kamar Via sudah penuh dengan darah dan orang orang yang tergeletak dengan kepala terpisah dan dengan via yang sudah pingsan.
**Maaf ya kalau ada typo dan jangan lupa vote, like, dan komen😊
__ADS_1
Salam dari author😊sehat terus guys**