
Pagi hari telah tiba dan Via masih istirahat sedangkan arsya dia sudah pergi dari sejak subuh karena tidak ingin ada yang mengetahui keberadaannya. Jingmi masuk kedalam kamar via untuk membersihkan badan Via.
Jingmi hanya mengelap badan via dengan handuk karena Jingmi kira via belum sadar dari pingsannya jadi dia tidak membangunkan Via. Saat baru menempelkan handuknya ke tangan Via tiba tiba Via terbangun karena merasa terganggu.
"Nona...nona sudah bangun" kata Jingmi kaget ternyata nona nya sudah sadar.
"Mei mei bukanya aku sudah bilang suruh panggil aku jie jie" ucap Via.
"Maaf nona tapi panggilan itu masih terasa susah di mulut saya jadi saya panggil nona saja ya dan juga jika ketahuan sama baginda raja saya pasti akan dihukum" jawab Jingmi.
"Ya sudah terserah kamu saja" kata Via.
"Dan juga semoga nona mau memanggil saya Jingmi agar lebih mudah saja" kata Jingmi.
"Jingmi sebenarnya itu terserah saya mau memanggil orang dengan sebutan apa dan ayahanda juga tidak akan dapat memarahi saya tapi itu juga terserah kamu jika kamu mau memanggil saya seperti itu" ucap Via.
"Nona, nona tidak mau memberitahu kepada saya bagaimana bisa nona terluka bukannya nona punya penjaga bayangan yang menjaga nona, dan juga maafkan Jingmi karena Jingmi tidak bisa menjaga nona" ucap Jingmi.
"Tidak apa apa Jingmi ini sebenarnya rencana ku untuk menghukum selir jahat itu dan sebenarnya luka ini aku yang menusuknya sendiri dengan pedang" ucap Via.
"Apa" kagetnya " Kenapa nona melukai diri sendiri kan tidak harus melukai diri sendiri jika mau menghukum mereka" ucapnya dengan kesal.
"Kenapa kamu kesal sama aku " kata Via.
"Bu..kan begitu nona saya hanya tidak mau nona terluka" kata Jingmi menunduk.
"Iya iya aku tahu enggak usah menunduk begitu" ucap Via tersenyum lembut.
Sementara di aula kerajaan semua sudah berkumpul termasuk selir An dan anaknya karena raja Qin akan mengintrogasi orang yang ingin membunuh Via.
Sedangkan selir An beserta anaknya merasa panas dingin apakah mereka akan ketahuan bagaimana bisa mereka kalah dari dia yang tidak memiliki kekuatan pikirnya.
"Cepat katakan siapa yang menyuruhmu untuk membunuh putri Yin Hua" ucap pangeran marah yang membuat semua mentri ketakutan dan untuk selir An dan anaknya semakin takut.
"Ibu apa kita akan ketahuan" bisik putri Jia Na.
__ADS_1
"Diam" bentaknya membuat putri Jia Na diam.
Orang itu hanya diam tidak mau menjawabnya hingga membuat raja Qin marah.
"Cepat katakan siapa yang menyuruhmu" ucap raja Qin dingin dengan mengeluarkan aura menekannya yang membuat mereka semua yang ada di dalam aula menjadi merinding takut.
Dan saat itu juga tiba tiba via datang ke aula dan mengejutkan mereka. Via datang karena ingin mengetahui bagaimana nasib selir An nantinya.
Via masuk dengan di papah oleh Jingmi dan juga Via salah satu tangannya memegang perutnya sebenarnya sudah tidak sakit tapi jika tidak berpura pura mereka akan curiga bagaimana lukanya sudah sembuh secepat itu karena paling lama satu minggu.
Melihat Via datang raja Qin langsung berdiri dari kursi singgasananya dan juga untuk pangeran Yuwen dia menghampiri Via.
"Mei mei kanapa kamu datang bukannya istirahat didalam kamar" ucapnya khawatir.
"Gege aku hanya ingin melihat siapa dalang dari semuanya yang mau membunuhku" ucap Via.
"Ya sudah ayo duduk nanti lukamu terbuka lagi" ucapnya.
Via pun berjalan dan saat didepan raja Qin dan ingin memberi hormat raja Qin langsung menyuruh Via untuk tidak memberi hormat dan langsung duduk saja.
" Baik ayahanda" jawab Via.
"Cepat katakan siapa yang menyuruhmu" ucap pangeran Yuwen melanjutkannya lagi tapi dia tetap diam dan akhirnya pangeran Yuwen menyuruh prajuritnya untuk mencambuknya.
"Prajurit cambuk dia sampai dia mau mengaku" teriak pangeran Yuwen.
Dia pun langsung dicambuk tapi dia tetap tidak mau berbicara.
" Jika kamu tidak mau mengaku maka keluarga kamu akan saya hukum mati " ancam Raja qin yang membuat orang itu langsung membuka mulutnya.
" Ampun yang mulia saya mohon jangan hukum keluarga saya, saya akan mengaku" mohon nya kepada raja Qin "sebenarnya yang menyuruh saya adalah selir An" ucapnya sambil menunjuk kepada selir An.
Melihat dirinya ditunjuk selir An langsung takut dan memohon kepada raja Qin.
" Yang mulia itu pasti tidak benar, dia pasti berbohong dan mau memfintah hamba" ucap selir An sambil memohon.
__ADS_1
" Yang mulia ini bukti bahwa selir An yang telah menyuruh saya" ucapnya sambil memperlihatkan sebuah kantong yang berisi uang dan kantong uang itu juga gambarnya seperti yang dimiliki selir An dan juga sebuah gelang giok yang ada tulisan nama selir An.
Melihat itu selir An menyesali telah menyuruh mereka sekarang habislah dia pasti dia akan dihukum mati.
Raja Qin pun sangat marah bagaiman bisa selirnya begitu kejam. Via pun berdiri dan pergi ke hadapan selir An.
"Ibunda selir apakah benar itu, kenapa kamu tega mau membunuhku, apa salah ku" ucap Via dengan drama menangis nya.
"Bukan begitu saya tidak ingin membunuh putri" ucapnya tergagap.
" Tapi semua bukti telah ada" kata Via.
" Kamu jangan pernah memfitnah ibuku" teriak putri Jia Na.
"Berani sekali kamu berteriak pada adik ku" teriak pangeran Yuwen yang tidak terima.
"Gege aku tidak apa apa" ucap Via lembut " Siapa yang memfitnah ibunda selir itu memang kenyataannya kan dia mau membunuhku" ucap Via kemudian dia mendekat dan berbicara pelan " Kalian mau membunuhku jangan harap karena kalian tidak akan bisa dan kalian akan mati" katanya pelan dan hanya didengar oleh putri Jia Na
Mendengar itu putri Jia Na menjadi kesal dan tiba tiba mendorong Via. Tapi sebenarnya itu hanya dorongan kecil tapi Via sengaja mementalkan dirinya hingga jatuh dan membuat luka tusuknya berdarah.
Raja Qin dan pangeran Yuwen langsung mendekat ke Via.
"Apa yang kau lakukan" teriak raja Qin kepada putri Jia Na.
" Yang mulia itu tidak seperti apa yang dilihat, dia sengaja menjatuhkan dirinya" ucap putri Jia Na ketakutan.
Via hanya memegang perutnya yang berdarah dan sedikit meringis kesakitan. Sebenarnya itu dia lakukan agar melempar satu batu langsung terkena dua.
"Bawa putri Yin Hua kedalam kamarnya dan panggil tabib cepat" teriak raja Qin " Dan untuk selir An dan putri Jia Na hukum pancung kepalanya dan gantung di alun alun kota agar mereka tahu siapa yang mau melukai anggota kerajaan akan bernasib sama seperti mereka dan juga untuk dia masukkan kedalam penjara" teriaknya raja Qin.
Untuk Via dia sudah dibawa oleh pangeran yuwen ke kediamannya.
" Yang mulia maafkan kami" teriak selir An dan putri Jia Na saat diseret oleh prajurit.
**Maaf ya kalau ada typo dan jangan lula vote, like, komen😊
__ADS_1
Salam dari author😊sehat terus guys❤️**