Time Travel: Yin Hua

Time Travel: Yin Hua
52. Pangeran Aming


__ADS_3

Acara selanjutnya pun tiba para putri dan permaisuri pergi melihat bunga prem yang sudah bermekaran.


"Wah lihat lah bunga ini sangat indah dan harum" ucap salah satu putri.


"Iya" ucap putri yang lainnya.


Di sisi lain putri Hui sedang menjalin hubungan dengan para putri untuk mencari perhatian semuanya.


"Wah putri Hui begitu cantik ya" ucap putri lain nya.


Putri Hui yang mendengarnya hanya tersenyum.


"Iya bener banget" ucap putri di sebelahnya.


"Putri-putri ini juga cantik kok" ucap putri Hui.


Mereka mengobrol dengan baik dan santai sedangkan putri Jing hanya sendiri tidak ada yang mau mengobrol dengan nya karena insiden saat dia menari membuat semua putri tidak ingin berteman dengan nya dan juga sifatnya yang sombong juga membuat dia di jauhi.


Putri Dima menghampiri putri Jing karena dia merasa kasihan tidak ada yang menemaninya mengobrol. Walaupun mereka sempat berkelahi putri Dima tetap mau menghampirinya.


"Mau saya temani putri" kata putri Dima dengan baik hati.


"Mau apa kesini lebih baik sana pergi aku tidak mau di temani sama kamu" jawabnya dengan judes.


Putri Dima pun langsung pergi, dia tidak mau lagi berurusan dengannya.


"Sudah rela aku mau menemaninya eh malah dia nya bilang begitu ya sudah lebih baik pergi dari pada dia nya ngamuk terus kaya orang gila lagi" ucap putri Dima saat berbalik badan dan mau pergi.


"Apa kamu bilang" ucap nya karena mendengar ucapan putri Dima.


"Oh denger ya" kata putri Dima berhenti berjalan dan menghadap putri Jing lagi.

__ADS_1


Putri Jing pun langsung mendorong putri Dima hingga dia terjatuh.


"Berani sekali kamu bicara seperti itu" ucap putri Jing.


Putri Dima sebenarnya berani melawan tapi karena ini bukan di tempatnya dia menahannya karena itu akan mempengaruhi reputasinya.


"Awas saja kalau bukan di sini kamu sudah ku hajar sampai habis" pikir putri Dima.


Mendengar keributan para putri pun melihat nya termasuk juga Via, putri Xiang dan juga permaisuri.


"Ada apa ini" kata permaisuri.


"Itu yang mulia, putri Jing mendorong saya" ucap putri Dima dengan lembut menyembunyikan sikap ganasnya.


Ketika putri Dima ingin bangun kakinya ternyata terkilir jadi sedikit sakit.


"Aww" ucap putri Dima saat mau bangun.


Via yang melihat pun langsung menghampiri putri Dima.


Via membantunya karena melihat dia sama sekali tidak di temani seorang pelayan satu pun. Putri Dima tidak ingin ada pelayan jadi tidak membawa pelayan.


"Mengapa putri ini mendorong nya?" tanya permaisuri.


"Itu permaisuri putri Dima berbicara tidak sopan kepada saya" jawab putri Jing.


"Bukan begitu, saya tadi hanya ingin menemani putri Jing tetapi putri malah memarahi dan mendorong saya" kata putri Dima dengan tampang sedihnya.


"Bukan begitu yang mulia" bantah putri Jing.


"Ada apa ini" tanya seseorang yang baru datang.

__ADS_1


"Pangeran Aming" kata para putri yang baru melihat pangeran Aming.


"Salam ibunda, salam kakak ipar" ucap pangeran Aming dihadapan mereka.


"Gege kenapa kesini?" tanya putri Xiang.


"Gege kesini karena mendengar keributan" jawabnya.


"Ternyata itu pangeran Aming" pikir putri Hui dengan wajah penuh arti nya itu.


"Oh itu..." putri Xiang menjelaskannya.


"Ming'er tolong bantu putri Dima. Kakinya terkilir" ucap permaisuri Niulen.


Permaisuri sudah memutuskan jika dia kan menjodohkan pangeran Aming dan putri Dima.


"Tidak yang mulia saya bisa sendiri" ucap putri Dima.


"Baik ibunda" ucap pangeran Aming.


Pangeran Aming pun membantu putri Dima. Dia memandang putri Dima dan sepertinya dia ada getaran-getaran di hatinya.


Semua putri yang melihatnya hanya iri dengan putri Dima yang dapat bersama pangeran Aming.


Acara pun selesai semua kembali ke kerajaan nya masing - masing.


Di malam hari Via sedang duduk sendiri sembari memikirkan Arsya.


"Sayang kamu kangen ya sama ayah" ucap Via sambil mengelus perutnya.


"Putri ayo masuk nanti masuk angin" ucap Jingmi.

__ADS_1


Via pun masuk dan istirahat.


Jangan lupa dukung author dengan like,komen,dan vote๐Ÿ‘


__ADS_2