Time Travel: Yin Hua

Time Travel: Yin Hua
35. Kepekaan dan Kewaspadaan


__ADS_3

Via pun di periksa oleh tabib yang sudah dipanggil dan yang lainnya juga sudah di kamar Via.


"Gimana keadaannya" tanya raja Wang kepada tabibnya.


"Tuan putri tidak kenapa-napa yang mulia hanya kakinya memar dan terkilir, kalau begitu saya permisi untuk membuat obatnya yang mulia" kata tabibnya dan dianggukkan nya.


Untuk Arsya dia sudah pergi setelah mengantar Via.


"Hua'er kasih tahu kakek kenapa bisa kamu ikut perlombaan, kata Putra Mahkota Zhou Lan kamu lagi tidak enak badan?" tanya kakeknya.


"Sebenarnya....." kata Via menceritakannya dari awal.


"Baiklah jika itu yang terjadi sekarang kakek akan mencari tahu kenapa semua kuda menjadi tidak terkendali dan membuat kamu terluka seperti ini dan jika ini ulah pangeran Lin kakek akan menghukumnya" kata kakeknya.


"Terimakasih kakek" kata Via.


Tabib pun datang membawa obat dan Via langsung meminumnya serta tabib juga memberi obat untuk dioleskan dikakinya. Semua pergi dari kamar Via karena mereka akan melanjutkan perlombaan yang belum terselesaikan.

__ADS_1


Saat semua sudah pergi dan hanya tinggal Via sendiri di dalam kamar sedangkan Jingmi di luar Arsya pun datang menghampirinya. Via hanya diam dan melihat Arsya datang lalu dengan cepat Arsya mengambil obat yang akan Via oleskan ke kakinya.


"Apa kamu marah sama aku" kata Via pelan.


Arsya hanya diam sambil mengoleskan obat ke kakinya dengan pelan.


"Apa kamu benar-benar mau mengabaikan ku, kalau gitu kamu keluar saja aku tidak mau lagi bicara sama kamu" ucap Via yang langsung berbaring dan menutupi mukanya dengan selimut.


Arsya yang melihat itu langsung menghela nafas panjang, sebenarnya dia tidak marah dia hanya khawatir jika Via terluka apa lagi Via tidak mau di tolong saat kuda itu tidak terkendali dan dia hanya memikirkan harus menang tidak memikirkan keselamatannya.


Arsya juga tadi langsung pergi setelah mengantar Via kekamarnya karena dia akan menghajar pangeran Lin yang sudah berani-beraninya mencelakai Via. Arsya memang melihat pangeran Lin melempar batu kecil ke arah kuda Via, tetapi Arsya hanya melihatnya dan tidak mencegah batu itu karena dia ingin melihat kepekaan dan kewaspadaan Via apakah masih bagus dan ternya itu sudah sangat menurun.


Arsya membuka selimut yang menutup muka Via, tetapi Via tetap tidak mau melihat ke arah Arsya.


"Aku tidak marah sama kamu aku hanya khawatir jika kamu terluka" kata Arsya yang sudah berbaring di samping Via sambil memeluknya.


Via menghadap ke arah Arsya" tapi kamu tadi selalu tidak menjawab pertanyaan ku dan kamu juga langsung pergi saat mengantarkan ku kekamar" kata Via dengan cemberut.

__ADS_1


"Aku menghampiri pangeran Lin untuk menghajarnya karena dia berani-berani mau mencelakai kamu" katanya.


"Dari mana kamu tahu jika itu perbuatan pangeran Lin?" tanya Via.


"Aku melihatnya dan kenapa kamu tidak bisa merasakannya, kepekaan dan kewaspadaan mu sudah menurun. Saat kaki kamu sudah sembuh kamu harus berlatih kembali bersama ku" kata Arsya sambil mencubit pipinya pelan.


Via hanya tersenyum lalu memeluk Arsya.


"Tidurlah" kata Arsya.


"Tapi aku tidak mengantuk" ucap Via


"Tidurlah" ucap Arsya.


Via pun menurut dan mereka mulai tertidur.


Maaf ya jika ada typo jangan lupa vote,like dan komen😊

__ADS_1


Salam dari author 😊sehat selalu guys❤️


__ADS_2